Demi Indonesia kok dibilang konyol?

Petisi konyol! Tuntutan aneh!

Mungkin itu yang dikatakan beberapa pihak yang selalu mencibir. Wajar, mungkin mereka memang terlahir untuk itu. Apalagi bila secara langsung maupun tidak, mereka akan banyak dirugikan bila IPDN bubar, tentu suara mereka akan lebih keras. Selain itu, ada juga pihak-pihak yang selalu mengatakan seperti ini:

  1. Kekerasan bukan hanya terjadi di IPDN bung! Kalau itu alasannya, berarti semua pendidikan di Indonesia harus bubar!
  2. Untuk memberantas tikus, kenapa lumbungnya dibakar? Yang salah satu kutu, kenapa kepalanya yang dihancurkan? Kan tidak semua orang terlibat?!?!?
  3. 4000 anak manusia di dalam sana mau dikemanakan? Kasihan kan?
  4. Apa gunanya cape-cape bersuara dukung pembubaran, SBY ga akan peduli kok, beliau lebih takut pada mafia kekuatan besar yang menginginkan IPDN dipertahankan!!
  5. Ah, mending juga saya ngurusin kepentingan saya sendiri, perut sendiri ga keurus kok mau mikirin bangsa. Malesss!

Kalau mengikuti pikiran mereka yang seperti itu, akhirnya saya akan memilih diam. Akan ikut cari aman dan pilih posisi sebagai penonton. Sebagai The watcher, terdengar keren, dan sepertinya tanpa resiko :) Atau kalaupun bersuara, saya malah akan tentang pembubaran IPDN. Sayangnya ada fakta-fakta seperti berikut.

  • IPDN itu sekolah GRATIS, atau malah dibayar? Dapat uang saku ya?
  • Keluar dari sana, lulusannya akan jadi pejabat, mahluk sebangsa camat atau lainnya. Yang jelas JADI PNS.
  • Telah terjadi kekerasan, pembunuhan keji, tapi mereka sangat kompak untuk bungkam menutupi. Setiakawan melindungi para pelaku pembunuhan sadis.
  • Birokrasi di Indonesia, kebanyakan busuk. Tak usah jauh-jauh, mulai dari urusan camat kroninya aja, terutama urusan KTP gimana? Silahkan menambah contoh urusan yang jadi ribet karena para PNS dan BIROKRAT yang BEJAT, LAKNAT, DAN KORUP!

Jadi….

Bangsa ini memang suka kekerasan
Sampai saat ini, kita memang masih suka kekerasan. Buktinya doktrin-doktrin agama yang penuh kekerasan masih laku kan?Acara-acara berating tinggi di TV juga kebanyakan yang mengusung kekerasan, meski temanya religius. Ok, kekerasan di kampus lain memang ada dan terjadi. Mari, semua itu juga kita perbaiki bersama-sama. Tapi tetap saja IPDN perlu dan harus dibubarkan, kenapa?

Kita Tak perlu Pejabat Bejat
Untuk apa buang-buang uang rakyat, untuk mencetak para pejabat yang nantinya pandai bungkam dan berpura-pura buta? Contoh kecil, anak-anak ini, rela dipukuli, rela menjual harga diri dengan menutupi kebusukan para pembunuh hanya demi mimpi jadi PNS. Demi kepentingannya sendiri, mereka bahkan persetan dengan nasib teman yang mati dibunuh. Akan jadi apa mereka setelah menjabat nanti? Semua akan mereka korbankan demi kepentingan pribadi. Nah, kita jelas tak perlu pejabat yang pandai menutupi kebusukan seperti itu, kita perlu pejabat yang berani mati demi kepentingan rakyat! Seragam keren, disiplin tinggi, kalau nantinya cuma jadi penindas yang mementingkan diri sendiri, buwat apa? Ini bukan latah, bukan pula tuntutan emosional: Bubaar…. Jalan!

Semua Harus Ikut Tenggelam
Lalu gimana dengan orang-orang yang tak bersalah?

Begini, bayangkan ada 10 orang, atau sekalian 4000 deh, mereka semua ada dalam sebuah perahu. Diantara mereka ada 10 orang yang SAKIT JIWA, hobi membuat lubang di lambung kapal, dan entah kenapa didiamkan oleh si kapten kapal, malah ditutup-tutupi. Dan sisanya, orang-orang yang katanya baik ini, meski mengetahui tetap memilih membiarkan. Bahkan ketika ada pembantaian terhadap beberapa yang mulai jadi korban, ribuan orang ini masih tetap bungkam. Malah cuma nonton. Bungkam cari aman demi mimpi mereka sendiri-sendiri. Jangankan aksi menentang, sedikit bersuara pun mereka enggan.

Silahkan tuduh saya menggeneralisir, tapi bila akhirnya kapal itu tenggelam, mereka semua PANTAS dan HARUS ikut tenggelam. Ekstrim? Supaya lebih ekstrim, kapten kapal juga harus DIHUKUM MATI, BERKALI-KALI!!! *sambil nunjuk-nunjuk langit* Hehe, hiperbola sih, tapi anda mengerti kan? Kalaupun ada yang selamat, apalagi kalau sampai dijadikan pejabat, mereka bukan hanya jadi sampah, tapi SAMPAH BERACUN yang hanya akan jadi jongos para pembusuk di negeri ini.

IPDN juga manusia, (tadinya) punya Otak, juga Rasa
Ok-ok. 4000 anak tercuci otak itu juga anak manusia. Kita harus peduli dengan nasib mereka. Entah nantinya IPDN jadi SLB atau apa, semoga para penguasa (atau pengayom?) negara ini segera menemukan solusi terbaik bagi mereka. Yang pasti mereka perlu rehabilitasi jiwa dulu sebelum meneruskan pendidikan atau kembali ke masyarakat. Takutnya penyakit mereka menular. Lha kemarin kan sudah digabung, rantai kekerasan sudah diputus, kok masih ada yang dibina sampai tewas? Disuntik formalin pula! Rektornya kemudian pura-pura buta, teman yang lain malah kompak bungkam dan tutup mata. Bukan hanya Jiwa, otak mereka juga kena! Harus direhabilitasi.

IPDN sebagai Tumbal
Kalau ngutip kata mas Anto, kurang lebih seperti ini:

Biarkan IPDN jadi tumbal, Supaya nanti tak ada lagi kampus yang berani mendiamkan tindak kekerasan.”

Yup, saya sangat setuju, semoga runtuhnya IPDN menjadi awal tumbuhnya kesadaran kolektif: Tak ada lagi tempat bagi kekerasan di dunia pendidikan Indonesia.

Lalu ngapain Ikut Bersuara?
Apa artinya kalo cuma satu suara? Jangan pura-pura bodoh. Masa pertanyaan seperti itu ditanyakan? Satu tambah satu kan dua, tambah terus bisa lebih dari dua ratus juta. Suara anda ikut menentukan nasib bangsa. Kita ini ada di perahu yang sama, “Perahu” Indonesia. Jadi jangan belaga gila, ayo bersuara!!!

petisi_ipdn_anto.jpg

 

Klik banner di atas atau di sidebar blog ini bila ingin ikut tanda tangan petisi. Ingat, tanda tangan SEKALI SAJA, dengan jujur dan menggunakan bahasa yang santun.

Silahkan ajak teman, pacar, anak, istri pertama sampai ke sekian (kalau poligami), budak-budak, semua karib kerabat dan siapapun yang anda kenal untuk ikut mendukung petisi ini.

Suara anda sangat berarti, mari bersuara!

Fiuuuh, semoga tulisan ini bisa menjawab semua pendapat sampai nomor 4. Untuk yang mikir seperti nomor 5… aduh, kenapa dia tidak segera berkemas dan pergi saja ya? Formalin anyone? Eh, hak dia sih, tapi saya pikir bangsa ini tak perlu orang-orang seperti itu deh.

banner buatan anto
Iklan

109 Responses to “Demi Indonesia kok dibilang konyol?”


  1. 1 Biho 18 April 2007 pukul 9:36 am

    no comment lah buat mereka yang bilang konyol begitu mah.

  2. 2 Biho 18 April 2007 pukul 9:44 am

    Link dari gambar itu salah hel, coba di edit lagi ;)

  3. 3 Biho 18 April 2007 pukul 9:47 am

    Bubarkan IPDN.

  4. 4 Biho 18 April 2007 pukul 9:48 am

    wah nggak ada orang… tumben sepi. :D

  5. 5 Rizma Adlia 18 April 2007 pukul 9:48 am

    udahan sih,, itu sih udah ada waham sndiri,, mau dibilang apa juga ga bakal ngaruh laigi,, petisi jalan terus!!

  6. 6 Kang Kombor 18 April 2007 pukul 10:10 am

    Yang konyol itu seluruh jajaran IPDN yang melakukan GTM dan juga rakyat Indonesia yang apatis terhadap permasalahan ini. Lebih konyol lagi Presiden RI yang tidak berbuat apa-apa terhadap PEMBANGKANGAN yang dilakukan JAJARAN DEPDAGRI melalui GERAKAN TUTUP MULUT IPDN. Presiden kok diam saja terhadap pembangkangan anak buahnya. Gimana mau memiliki power?

  7. 7 calupict 18 April 2007 pukul 10:14 am

    Kang Kombor: Bukannya apa2, pemimpin juga susah buat gerakan kalau anak buahnya enggak mau melaksanakan. Apalagi yang di IPDN itu sudah terstruktur, sama kayak korupsi.

  8. 8 layudhi 18 April 2007 pukul 10:23 am

    GTM berjamah itu yg konyol

  9. 9 chielicious 18 April 2007 pukul 10:27 am

    ^ Balik lagi ke korupsi ya klo gini..ujung2 na mah duid..money..hepeng..


    #5 Ah, mending juga saya ngurusin kepentingan saya sendiri, perut sendiri ga keurus kok mau mikirin bangsa. Malesss!”

    jangan salah loh..kebanyakan orang indonesia ya sperti poin5 itu.. cari aman sendiri..

  10. 10 ..:X W O M A N:.. 18 April 2007 pukul 10:45 am

    Jiwa orang2 yang ATM (Aksi Tutup Mulut) sudah terbeli dengan kemewahan neraka IPDN

  11. 11 sandymc 18 April 2007 pukul 10:49 am

    nih negara mang dah rusak moralnya sampe ke akar2nya *pcuma diooming. Jadi kalo mau di benerin, mesti di format ulang.. apus smua data, install yang baru.nanti kalo masuk virus lagi ya tinggal format ulang lagi, install lagi yang baru. Gampang.. kecuali ada yang mau jadi anti-virus, masalahnya ntu anti virus yang bikin sama dengan yang bikin virus juga? wah.. GG, saran saya, impor guru2 bule deh ke indo anti-virus yang pasti bebas virus dan trojan :) . guru2 indo di ekspor aja keluar, suruh jadi virus diantara file2 yang kebal virus.

  12. 12 gessh 18 April 2007 pukul 10:51 am

    bolak-balik liat petisi… ehem…indahnya jadi nomer 1 disana :)

  13. 13 Dee 18 April 2007 pukul 10:56 am

    Asyik, aku jadi orang konyol ke 902!!! Hidup sonyolll!!!

  14. 14 DUKUNG PAK INU! 18 April 2007 pukul 11:14 am

    Dukung Pak Inu!

    Jangan sampai Pak Dosen satu ini diberhentikan!
    Pak Inu for Rektor IPDN!

  15. 15 Lily 18 April 2007 pukul 11:32 am

    Walaupun gue bekas lulusan sekolah tinggi kedinasan juga, yang bisa jadi ikut terlikuidasi klo IPDN dilikuidasi (walau entah korelasinya gimana menurut orang2 Depdiknas itu..), gue tetap mendukung IPDN dibubarkan!

    Yang salah bukan statusnya, tapi sistemnya, dan kalau sistem tersebut sudah sedemikian parah, cara tercepat dan termudah untuk mengubahnya adalah dengan mematikannya, dan membuat yang baru, yang benar2 berbeda..

    Persoalanan anak2 itu mau dikemanakan, selalu ada jalan selama kita berpikir terbuka terhadap perubahan.

    (Ngeri bgt liat ada kuburan dan penjara di sekolah.. Sebenarnya kita masuk sekolah mau apa sih? Mau jadi birokrat atau kriminal? Atau keduanya?)

  16. 16 agus jon 18 April 2007 pukul 11:41 am

    mungkin pemerintah gak akan bubarin IPDN, tapi bukan itu masalahnya.
    yg penting apa yg bisa lu lakukan buat melawan kebusukan itu.
    ayo dukung pembubaran IPDN !!

  17. 17 abdulsomad (ga sempat login) 18 April 2007 pukul 11:45 am

    Assalamualaikum wr wb..

    Demi Indonesia..? he he he…. apa yang dijanjikan oleh Indonesia untuk mu HEL? SURGA yg Luas nya 10 Kali Lipat Dunia?

  18. 18 arezk 18 April 2007 pukul 11:50 am

    PRESENSI …
    untuk mendukung aspirasi.
    terimakasih

  19. 19 Fourtynine 18 April 2007 pukul 11:55 am

    @Abdul ga sempat login
    Endonesia menjanjikan korupsi yang lebih indahm luas dan nikmat daripada surga

  20. 20 Mr. Geddoe 18 April 2007 pukul 12:04 pm

    Kok dibubarkan? IPDN itu maunya ditambah… Kalau sampai ada tiga IPDN di Indonesia, ‘kan bagus. Sepuluh tahun lagi kita bisa memulai perang dunia…

    …Ah, tentu saja harus dibubarkan. Gigi yang membusuk mesti dicabut, sebelum ikut merusak gigi yang lain (apa hubungannya?).

  21. 21 ninoy 18 April 2007 pukul 12:18 pm

    ck ck ck….eh saya pernah tuh tanya salah satu teman saya yang pacarnya lulusan ipdn, saya tanya komen pacarnya mengenai ipdn yang mau di bubarin dan kejadian2 yang lagi heboh sekarang..dan komennya adalah ‘namanya juga sekolah gratis ya harus mau di gituin lah’ omaigot…kaget speechless deh denger komen kek gituh….-geleng2 pala-

  22. 22 gessh 18 April 2007 pukul 12:35 pm

    ‘namanya juga sekolah gratis ya harus mau di gituin lah’….

    coba aja klo sekolahnya ndak gratis+ndak digaji+ndak ada ikatan dinas….dijamin deh! ndak ada yg mau sekolah disana.

  23. 23 venus 18 April 2007 pukul 1:14 pm

    biarin aja yg celometan, hel. bisanya cuma tanya ini itu protes ini itu tapi ga ngelakuin apa-apa.

    btw, terakhir gw cek barusan udah 1012 signature. love u, hel!!!

  24. 24 Biho 18 April 2007 pukul 1:21 pm

    Love U too Mbok :D

  25. 25 cK 18 April 2007 pukul 1:28 pm

    Siapa yang bilang konyol? siapa?? siapa???
    Sudahlah mas, yang penting kita usaha dulu. Biarlah anjing menggongong, blogger berlalu…

  26. 26 calupict 18 April 2007 pukul 1:32 pm

    Dukung Pak Inu!

    Jangan sampai Pak Dosen satu ini diberhentikan!
    Pak Inu for Rektor IPDN!

    Hmm, justru menurut berita di Media Indonesia, Inu Kencana ikut melakukan kekerasan.

  27. 27 Moci Arane 18 April 2007 pukul 1:51 pm

    kyanya seh ga bakal dibubarin ya… gmn pun gw ttp dukung bwt dibubarin deh.

  28. 28 Evy 18 April 2007 pukul 1:55 pm

    Ga pa pa hel..jadi orang konyol daripada jadi orang ga punya perasaan…

  29. 29 anthonysteven 18 April 2007 pukul 2:57 pm

    Yah, mari kita dukung pembubaran IPDN.
    Selama kita masih punya hati dan bisa peduli.

  30. 30 deking 18 April 2007 pukul 3:02 pm

    Sekarang saatnya kita yang memberikan suatu kontribusi untuk bangsa kita tercinta.
    Masak kita mau kalah dengan IPDN yang sudah memberikan kontribusi begitu banyak untuk bangsa dan negara ini?
    IPDN sudah memberikan kontribusi yang begitu besar terhadap bangsa ini, mereka menyaingi program Keluarga Berencana yang dicanangkan pemerintah untuk MENEKAN LAJU PERTUMBUHAN PENDUDUK. IPDN telah berjasa besar bagi bangsa dan negara ini dengan melakukan pengurangan jumlah penduduk…melalui PEMBUNUHAN.
    Sekarang saatnya kita berkontribusi untuk bangsa ini…sekarang saatnya kita membantu penegakan hukum untuk MENGHENTIKAN LAJU PEMBUNUHAN itu.

  31. 31 abdulsomad (ga sempat login) 18 April 2007 pukul 3:53 pm

    Assalamualaikum wr wb..
    Indonesia tak bisa janjikan kita apa apa HEL…

  32. 32 MasIndra 18 April 2007 pukul 4:13 pm

    Ngga konyol kok, wajar sekali!!!
    Namun yang mesti diingat bukan hanya masalah IPDN bubar atau tidak. Namun solusinya setelah pembubaran apa?

    Pindah ke universitas lain? Hanya cukup itu?

    Liat fenomena lain mas! Penggusuran! Silahkan diliat dari kacamata anda, bagaimana? Memang beda tapi kira-kira seperti itulah yang terjadi bila IPDN di bubarkan.

    Wah…saya makin ga populer dalam budaya populis pembubaran IPDN. Gpp ah…yang penting ber opini!

  33. 33 huda 18 April 2007 pukul 4:28 pm

    mari satukan kekuatan para blogger :D..
    ngomgon2 ttg pak inu, tadi liat di koran katanya dia ngajar di Undip.. jadi dosen Undip rupanya :p

  34. 34 pedhet 18 April 2007 pukul 4:32 pm

    Siap !!! Laksanakan !!!

  35. 35 toim the shinigami 18 April 2007 pukul 4:35 pm

    sebenernya saya jg setuju ipdn dibubarin, tapi terus sisa praja yg blon lulus trus dikemanain, om? apa gak sebaiknya dilulusin semua dulu trus dibubarin gitu? dan akan lebih baik lg jika pelaku kekerasan jg diadili (nyambung gak ama komen sebelonnya?)

  36. 36 YaYaN 18 April 2007 pukul 4:36 pm

    kayaknya memang bener, orang indonesia dah seperti “didoktrin” dengan yang namanya kekerasan… terbukti kan di tivi tivi kita…
    dan sayangnya kenapa lembaga pendidikan yang nota bene hanya utk mencetak birokrat selevel camat atau setara dengan itu mesti dididik pake cara militer… ga relevan deh menurutku…
    bubarkan IPDN…

  37. 37 Death Berry 18 April 2007 pukul 4:41 pm

    Wah, jadi kata pengantar sepanjang itu untuk petisis semacam ini…? :lol: Bercanda. Btw, saya juga sudah sign di sana. Bikin post di blog, malah. :D

  38. 38 passya 18 April 2007 pukul 6:02 pm

    Saya penganut poin no 2. Kenapa? saya seorang yg stuv!t tapi optimis! bukan orang yang cerdas dan pintar tapi ambil jalan pintas tanpa usaha seperti para koruptor.
    Begini, bayangkan ada 10 orang, atau sekalian 4000 deh, mereka semua ada dalam sebuah perahu. Diantara mereka ada 10 orang yang SAKIT JIWA, hobi membuat lubang di lambung kapal, dan entah kenapa didiamkan oleh si kapten kapal, malah ditutup-tutupi
    ………….Silahkan tuduh saya menggeneralisir, tapi bila akhirnya kapal itu tenggelam, mereka semua PANTAS dan HARUS ikut tenggelam. Ekstrim? Supaya lebih ekstrim, kapten kapal juga harus DIHUKUM MATI, BERKALI-KALI!!!
    kita pun semestinya juga ikut diTENGGELAMkan karena kita membiarkan Amerika dengan semena2 membubarkan rakyat afghanistan dan irak hanya karena seorang Osama dan Saddam. Anda tahu siapa yang harus dihukum mati berkali-kali???

  39. 39 grandiosa12 18 April 2007 pukul 7:16 pm

    males gua maen analogi2.. manusia bukan tikus, manusia bukan pula kutu, ini kasus, ada manusia yang membunuh dan terbunuh, ada manusia yang mati.. eh manusia lagi yang nyuntik formalin..

    Menurut saya tiap kasus berbeda lantas kasus ini jangan dibandingkan dengan kasus amerika lah (itu lain lagi)..

    kalau ingin OPTIMIS.. maka OPTIMISlah pada suara nurani yang mengatakan bahwa semua akumulasi kejahatan di IPDN itu adalah tidak dapat ditolerir..

    ayo semua bersama2 katakan:

    bubar bubarkan saja

    (Seperti diprediksi guru spiritual bernama Agorsiloku: masalah ini akan berpolemik dalam waktu yang panjang…)

    ayo debatnya yang sehat yah… we are still big family!

  40. 40 Fast 18 April 2007 pukul 7:33 pm

    Sekali lagi, BUBARKAN IPDN!!!!! (dengan semangat membara dan kepala memerah)apa manfaat IPDN?, memang kekerasan bukan hanya di IPDN, tapi apakah wajar suatu perguruan yang nantinya dipersiapkan untuk menjadi abdi masyarakat malah dibina dengan cara mafia, dan premanisme masih tetap dipertahankan?

  41. 41 d_sall 18 April 2007 pukul 7:37 pm

    bersama kita teriakkan:ganyang kekerasan!!
    bubarkan STPDN!!!
    eman-eman banget..pantesan indonesia ga berkah terus.ada bencana di mana-mana..wong uang rakyatnya di pake buat mbunuh orang…ya mbok?sepakat mbok?!

  42. 42 antobilang 18 April 2007 pukul 7:43 pm

    Kok banyak yang mirip ama pejabat2 yah…membelokkan ke masalah lain, kalau ada masalah di depannya….

  43. 43 elpalimbani 18 April 2007 pukul 8:25 pm

    Emang KONYOL kok!!!
    Elo-elo semua emang konyol!
    Gak usah cari-cari alasan pembenaran deh. Basi tau!
    Gak usah pake galang-galang simpati cari perhatian banyak orang.

    Elo-elo mungkin kaget dibilang KONYOL!
    Makanya mikir dong lo…
    Jangan cuma bisanya cari perhatian sono sini.

    Note :
    Komentar serius saya di atas ditujukan untuk elo-elo semua. Ya, elo-elo semua yang ada di…………………….IPDN sana. Bukan buat para blogger yang udah sign di petisi online bubarkan kampus lo. Apalagi buat wadehel. Hidup wadehel!

    *clingak-clinguk…lagi merhatiin ada yang shock gak, he…3x. Kabuuurr!*

    Lam kenal buat para blogger!

  44. 44 wadehel 18 April 2007 pukul 8:51 pm

    @Biho, terimakasih sangat. Saya langsung cari warnet gara2 comment anda itu :))

    @Chielicious, iya sih, banyak yang apatis, semoga kita tidak menjadi seperti mereka :)

    @Kang Kombor, masih sukur deh mau ngirim orang buat nyelidikin. Moga2 tim investigasi bukan cuma jadi karnaval badut yang diikutin kerumunan kamera. Semoga menemukan sesuatu.

    @Dukung Pak Inu, bagi sebagian orang yang suka tikus, Pak Inu seperti tikus yang loncat dari kapal sebelum karam. Bagaimanapun juga, usaha beliau mengungkap kebobrokan perlu dihargai.

    @Lily, wah, senang masih ada anak kedinasan yang punya nurani, hehe. Sepertinya ga akan di likuidasi deh, paling juga uji ulang kelayakannya aja.

    @Agus Jon, betul, yang penting adlah apa yang bisa kau berikan untuk Konde Ibu Pertiwi, kalau hanya mawar, berikan mawar. Kalau suara, berikan suara. *halah, kerasukan sukarno* Tapi bener bung, bukan apa yang kita dapat, tapi apa yang bisa kita beri!

    @Abdulsomad, silahkan bikin thread di blog bapak sendiri tentang mengejar surga yang lebih penting daripada peduli pada kasus IPDN.

    @Ninoy, itu lah, mereka jadi terbiasa tak peduli terhadap penindasan. Mau jadi pejabat macam apa kalau nanti berhasil keluar?

    @Venus, Evy, love you too, Moms!

    @MasIndra, Saya udah coba jelaskan diatas, intinya kita tak perlu buang uang negara untuk mencetak pejabat-pejabat bejat yang pandai bungkam dan kompak menutup mata. Soal anak-anak itu, akan ditemukan nanti solusinya, yang penting hentikan dulu proses pencetakan orang-orang sakit ini. Kalau mau bahas hubungannya sama fenomena lain, misal penggusuran, atau hubungannya dengan budaya populis, gimana kalau anda angkat di blog anda?

    @Toim, baca dulu dong Tom. Kalo dilulusin, dengan kejiwaan dan mental seperti mereka, akan gimana efeknya buat indonesia. Mereka itu keluar jadi pejabat lho! Kalo cuma jadi orang ga penting sih mungkin ga terlalu bahaya.

    @Passya, whaaa *tercerahkan* jadi gimana? Gimana kalau kita bikin posting betapa tidak pentingnya IPDN kalau dibanding dengan masalah Palestina. Tapi di blog anda aja ya :) Trekbek kesini gpp deh.

    @Anto, sabar oom :P

    @Semua yang lain, maaf tak semua saya jawab (bukan pertanyaan kan? :P) Terimakasih komentarnya, jangan lupa vote di petisi :)

  45. 45 KJG 18 April 2007 pukul 9:21 pm

    @somad
    Lagi ejakulasi ya, ngomongnya surga terus….jadi kepengen:P

  46. 47 passya 18 April 2007 pukul 10:20 pm

    @grandiosa

    yup! manusia bukan tikus atau kutu. makanya bisa mikir lebih baik dari binatang itu, tidak hanya menurutkan emosi yang menggelegak. hancurnya bangsa ini salah satunya disumbang oleh kebiasaan berpikir sempit, termasuk membandingkan dalam konteks yang lebih besar.

  47. 48 telmark 18 April 2007 pukul 10:26 pm

    huahhh…
    diam dipojokan sambil menguap.
    jd ngantuk liat orang2 konyol yg ngebela ipdn.
    setuju ! ipdn dijadikan slb. :)

  48. 49 masdhenk 18 April 2007 pukul 10:41 pm

    IPDN dibubarkan aja..
    lha wong sekolah sampah..
    aku sering ketemu lulusane..
    sok sok nya amit amit… kayak gak bisa mati dan udah wah banget jadi PNS gitu..

    IPDN bubar aja, kampusnya dibuat kompleks yatim piatu, kamp pengungsi lumpur lapindo

  49. 50 MasIndra 18 April 2007 pukul 11:25 pm

    Akan ditemukan nanti solusinya ==> talk first, think later. Begitukah?

  50. 51 MasIndra 18 April 2007 pukul 11:52 pm

    @grandiosa

    Bukan bermaksud menyinggung…tapi kata

    ayo semua bersama2 katakan:

    bubar bubarkan saja

    Saya pikir itu ngga sehat deh, atau saya salah?

    Penyesalan datangnya terlambat…maka kita berpikir dulu baru beraksi.
    Jangan sampai nanti ada kata…oooo ternyata pembubaran bukan sebuah solusi, ternyata bukan itu intinya. Ada agenda yang lebih penting dari sekedar membakar “lumbung padi”.

  51. 52 grandiosa12 19 April 2007 pukul 12:28 am

    @ masindra

    wakakaka.. iconnya belum ganti? sudah masuk angin belum? jangan² anda yang ga sehat? just kidding.. bercanda mas..

    Tenang mas, saya masih sehat.. kata² itu hanya pemanis saja.. anggap saja komen bercanda..

  52. 53 Biho 19 April 2007 pukul 7:01 am

    silahkan saja yang mau berbeda pendapat, tapi hargai juga dong pendapat kami!, silahkan kemukakan beribu alasan anda. Pendapat kami murni kok dkeluar dari lubuk hati terdalam, so mari suarakan masing-masing pendapat tanpa mengurangi rasa hormat anda terhadap orang lain.
    saya tetap menyeruarakan pendapat saya : bubarkan IPDN.

  53. 54 antobilang 19 April 2007 pukul 8:06 am

    Silahkan bagi teman2 yang memiliki pandangan lain terhadap penyelesaian masalah di IPDN membuat postingan khusus tersendiri di blog masing2, sehingga setiap orang pun bisa menilai sampai sejauh mana solusi yang saudara tawarkan ketika saudara tidak setuju.
    saya yakin kok kalau saudara2 sekalian pun pasti memiliki alasan tertentu, dan itu semua tolong dibahas di blog masing2. dan jangan lupa sertakan solusinya, jangan cuma bilang gak setuju aja.

    Kemudian, menyebar komentar di berbagai blog tentang ketidak setujuan sih sah2 saja. namun apabila pendapat itu hanya disampaikan lewat komentar2 dan tanpa sebuah postingan, saya kok ragu dengan konsistensi pendapat yang saudara usung.

    dan saya yakin dalam komunitas blog tak perlulah ngomong ini populis atau tidak populis. Semua berhak berpendapat, namun sampaikan dengan cara yang baik.

  54. 55 Biho 19 April 2007 pukul 8:31 am

    Jangan marah Anto :D santai ajah ya Bro, Bubarkan IPDN.

  55. 56 toim the shinigami 19 April 2007 pukul 8:40 am

    makasi banyak om atas komen-nya, tapi gw selalu optimis pasti ada praja2 ipdn yg gak busuk spt sangkaan om, dan lg kan eman2 om, yg blon lulus trus nasib mereka dikemanain, om? apa disuruh ke universitas laen?
    klo mnrt saya, biarlah pemerintah yg memutuskan baik buruknya ipdn diapain, toh pasti pak sby gak pengen kan kejadian kemarin2 keulang maning, ya gak om? pasti ada perubahan yg signifikan di tubuh ipdn (ceile omongannya) kayak negara kita ini, indonesia, kan banyak korupsinya trus masa negaranya dibubarin?

  56. 57 calonorangtenarsedunia 19 April 2007 pukul 9:36 am

    bubar!!!

    ga ada gunanya tetep mempertahankan IPDN,,
    sama kaya kalo anda sakit kanker,,
    sudah jelas2 ganas tapi kok ga mau operasi,,
    matilah anda pelan2 dengan sukses,,

    sama kayak IPDN,,
    bakal membunuh indonesia pelan2 kalo ga dikebiri sekarang juga,,

    dan semoga semua suara kita bisa didenger presiden kalo pas dia ga lagi makan duren,,

    memang ga ada wacana bubarkan IPDN, adanya wacana makan duren,,
    *sabaaarr….*

    kalo SBY ga bisa bubarkan IPDn, ya kita saja orang2 yg peduli ini yg bubarkan,,

    gitu aja kok repot,,

  57. 58 asep1974 19 April 2007 pukul 10:23 am

    Kekerasan akan melahirkan kekerasan baru, begitulah. Hubungan senior-yunior di IPDN juga berimbas pada dunia birokrasi kita secara kongkrit. Namun kekerasan tak hanya di IPDN, bahkan di terjadi di salah satu PTN di Kota Bandung. Simak cerita saya sekira dua tiga tahun lalu di http://asep1974.blogpress.com

  58. 59 @ndesti_la_amore 19 April 2007 pukul 10:35 am

    @toim the shinigami
    BACA DONK Comments yg lainya kalo mo tau praja nyng BLOON tuh hrs di kmanain.
    ke gitu aja ko susah amat!!!
    noh rakyat yg tertindas knp ga dipikirin…
    napa lagi hrs pemerintah yg mutusin, kaga tau meh!!
    kalo mreka tuh LELET!!!
    To all blogers…semuanya juga
    mari bersuara! just sign in!!!

  59. 60 ndoro kakung 19 April 2007 pukul 11:15 am

    judul posting ini mungkin perlu ditambahi jadi “demi indonesia yang lebih baik” … :D

  60. 61 Di2K 19 April 2007 pukul 11:36 am

    Saya Berdoa Kepada ALLAH supaya mahasiwa ipdn yang ikut gerakan tutup mulut dikabulkan keinginanya untuk menjadi “BISU SELAMA-LAMANYA”….Amien !!!

  61. 62 bayuleo 19 April 2007 pukul 12:47 pm

    ipdn itu di rubah aja buat panti asuhan anak2 yatim piatu & anak2 telantar… lebih pas uang rakyat utk ngurusin fakir miskin drpd bayarin sekolah calon birokrat preman2 terminal

  62. 63 okke 19 April 2007 pukul 1:03 pm

    gue ga ikut euphoria tanda tangan segala petisi online, karena gue masih bertanya2, tindak lanjut dari petisi online tuh gimana? ;)

    aksi itu harus ada follow up, kalo ga buang2 tenaga.

  63. 64 kangguru 19 April 2007 pukul 1:55 pm

    Biar ngak lupa tulis terus IPDN kalo bisa estafet, maklum kan bangsa kita ini termasuk bangsa yang susah ingat gampang lupa, maju terus hel

  64. 65 hidayatbahri 19 April 2007 pukul 3:23 pm

    seperti kata GusDUR: “gitu aja kok repot… ” klo mo liat yang lebih melorot neh gue kasi alamatnya… dijamin seperti kata Tukul: “celana jadi smpit…”. neh alamatnya… http://hidayatbahri.wordpress.com

  65. 66 MasIndra 19 April 2007 pukul 4:01 pm

    Jadi ngga boleh komen ya?

    Ya…saya hanya menyuarakan pendapat saya mas…kalau ngga boleh sih ngga apa-apa…hehehe :D :peace:

    Silahkan baca disini ==> http://masindra.wordpress.com/2007/04/16/kumpulan-komen-saya-tentang-ipdn-sekedar-berbagi/

    Saya mencoba memberi solusi disana menjawab komennya mas Anto.

    Ya deh…saya ngga akan komen lagi. Ngga boleh sih!
    Silahkan berjuang!!
    Satu pertanyaan deh, kan saya sudah mencoba kasih solusi, trus kalau udah bubar solusinya apa dong bagi 4000 anak manusia disana.

    Kok makin panas hawanya ya…
    Semua tetep basodara kan?

    :Damai: :D

  66. 67 jokotaroeb 19 April 2007 pukul 4:16 pm

    Pro dan Kontra IPDN ????

  67. 68 antobilang 19 April 2007 pukul 4:50 pm

    Bukan ngga boleh komentar, tapi coba buatkan solusi untuk semua.
    Komentar saya bukan saya khususkan untuk mas Indra kok, tenang aja.

  68. 69 passya 19 April 2007 pukul 5:17 pm

    hehehe…nyang punya project gak terima, komentar kan buat ngomentarin tulisan ini bos…

  69. 70 antobilang 19 April 2007 pukul 5:30 pm

    Kemudian, menyebar komentar di berbagai blog tentang ketidak setujuan sih sah2 saja.

    jelas?

    ini project bareng2 kok, nyante aja.

  70. 71 Calvin Michel Sidjaja 19 April 2007 pukul 6:05 pm

    jangan dibubarkan, tapi diubah. Bagaimanapun juga, agak terlalu radikal jika institusi harus dibubarkan, pikirkan orang-orang tidak bersalah yang juga bekerja di tempat tersebut. Jika sepuluh orang bersalah, saya rasa tidak adil jika mengajak 1000 lainnya ke neraka bersama2.

  71. 72 irdix 19 April 2007 pukul 6:22 pm

    Hmmm.. kok baru kpikir sekarang yah ?

    -untung dulu pas wawancara jawab jujur kalo pernah pake ganja, kalo engga, bisa2 jadi masuk ke STPDN dulu- amin..3x

  72. 73 mbah keman bersabda 19 April 2007 pukul 6:25 pm

    Solusi dari 4000 praja IPND

    Masukan ke Itenas, yang suka Main film ix ix xi
    Masukan ke IAIN Sunan kalijogo yang suka Demo
    Masukan ke Akmil yang suja Kekuatan fisik
    Masukan ke Trisakti yang suka Revolusi
    Masukan ke Kubur yang protes
    Masukan ke Warnet yang suka ngblog
    Masukan ke Penjara yang suka korupsi

  73. 74 mathematicse 20 April 2007 pukul 5:49 am

    Demi Indonesia kok dibilang? Tolol?! Iya ya…?

  74. 75 venus 20 April 2007 pukul 9:15 am

    @ indra : solusi buat 4000 sekian praja yg masih ada di sana? ada, kok, di salah satu poin petisi kita. baca deh, ndra. kamu belom apa2 udah apriori duluan siihhh…

    soal teknisnya, ya biar pemerintah yang nyari solusinya. masa kita2 yg bukan siapa2 ini yg harus mikirin 4000 praja sakit jiwa itu sih? ya mereka doooong…. kita bisanya kan cuma ngasi masukan. kita gak digaji buat ngurusin negara, lho..hehehe… justru ini PR buat pemerintah, ya gak sih? kita mah bukan siapa2…cuma sekelompok blogger yg kebetulan udah pengen muntah darah liat segala macam kebusukan yg dibiarkan puluhan taun *brenti dulu. ngos2an*

    peace, epribodi!!!

  75. 76 chielicious 20 April 2007 pukul 9:23 am

    ^iya mba venus, temen2 aku yang ga setuju pembubaran ipdn langsung nyinyir duluan sebelum liat isi petisinya .. :(

  76. 77 lambrtz 20 April 2007 pukul 11:55 am

    aku ga ikut petisi itu, krn memang masih bingung, apakah pembubaran ipdn itu efektif apa ga, atau pemerintah masih butuh ipdn atau ga.
    alokasi mhs ipdn ke univ lain, aku setuju. apalagi yg no 4, aku setuju sekali, krn otomatis ospek kampus harus diubah formatnya :))

    ups…harusnya komen di antobilang ya?
    biarin lah :p

  77. 78 rusle 20 April 2007 pukul 2:13 pm

    sayang sekali ya, duit rakyat dari hasil pajak itu dipake untuk membiayai para praja yg katanya berhasil mengabdi itu?
    mengabdi or cuman meneruskan tradisi kultural birokrasi indonesia?

  78. 79 Bang As 20 April 2007 pukul 4:17 pm

    Petisi bukan solusi, dab!

  79. 80 antobilang 20 April 2007 pukul 7:17 pm

    # atas saya
    silahkan berpendapat, toh ini kan negara demokrasi.
    sampaikan bagaimana usulan anda di posting blog anda sendiri, secara rinci dan jelas, sehingga pembaca sekalian mampu memahami maksud anda yang berkomentar :”Petisi bukan solusi, dab!”
    Terima Kasih.

  80. 81 cakmoki 21 April 2007 pukul 12:35 am

    Duhhhh, ketinggalan barisan. Habis sudah semua kata, … sesama konyol dilarang saling mendahului :D

  81. 82 sitinurbaya 21 April 2007 pukul 11:01 am

    Yang salah harus di”adili” dong…

  82. 83 -may- 21 April 2007 pukul 12:09 pm

    Hel, gw pakai blogspot, kayaknya deeplink gak bisa lacak balik dari sini. Eh, deeplink-nya udah ada kok.. di link yg kedua, bukan yg “Wadehel”.. kalo yg “Wadehel” mah emang ke alamat blog, bukan alamat topik ;)

  83. 84 wadehel 21 April 2007 pukul 12:17 pm

    “Dab” itu maksudnya apa sih? Dableg? Atau panggilan mesra? eeuuhh…

  84. 85 gessh 21 April 2007 pukul 2:55 pm

    Petisi bukan solusi

    Lantas solusi seperti apa menurut pandangan anda Bang As?

  85. 86 Paijo Marpaung 21 April 2007 pukul 3:38 pm

    Ngomong apa sih kau lay?? Camkan ini: PERAHU INI SUDAH TERLALU BANYAK LUBANG, BERAT UNTUK DIPERBAIKI. ADA KAPAL LAIN YANG SIAP MENAMPUNG KITA, KALAU KITA MAU. KALAU TIDAK BIARLAH ORANG-ORANG ITU MENJADI SEPERTI KERABAT YANG MENENTANG NABI NUH. Penggenapan kitab sudah di depan mata, kita hanya menjalankan seperti apa yang telah dinubuahkan.

  86. 87 Bang As 21 April 2007 pukul 8:27 pm

    @antobilang
    Nanti saya tuliskan di blog saya, makasih inspirasinya
    @wadehel
    “dab” itu panggilan akrab dan gaul ala jogja. kalo di bandung/sunda ada “euy”, kalo jatim/sby ada “cak” di jkt 95-an populer “coy”. cmiiw
    @gessh
    Solusinya: bubarin ipdn tak hanya dengan petisi. petisi belum punya kekuatan kongkrit. Cara yg lebih efektif: Demo di istana negara, bikin rilis, bikin kampanye gede2an, iklan di kompas satu halaman warna: bubarin IPDN dan Bulog karena punya watak yang sama dengan cara yang berbeda

  87. 88 Alumni PTS Ngetop JKT 23 April 2007 pukul 12:59 pm

    Hehehe… enakan gue dounk kuliahnya. Ceweknya wangi-wangi, dosennya asik-asik, ngga pake dipukulin. Ospeknya aja di diskotik….
    Maklum calon boss konglomerat…
    Alumni IPDN? paling tanda tanganin KTP, ntar gw bayar 25rb titip sama pembantu gw sekalian kalo dia belanja ke pasar.

  88. 89 chiwimudz 1 Mei 2007 pukul 7:45 pm

    waw…jangan dibubarkan dong, mas wadehel…
    Lha kalo dibubarkan,temen2 saya yang sekolah disana mo dikemanain?
    dipindahkan ke Univ2 lain yang berhubungan? Wah…jangan Mas…
    kalo saya yang di ITS mah, tenang aja…(masa calon camat disekolahin ke Teknik, camat kan bukan calon teknisi, ya nggak?)
    Lha, gimana kalo temen2 saya yang mantan IPDNis itu dipindahkan ke Unair, kampus tetangga saya, yang notabene banyak dihuni cewe2 cakep itu, terus, dia jadi cikal bakal kekerasan di Unair?wah…kasian Unair donk…
    jadi, sekalian aja…kejam dikit gapapa…tuntaskan ‘pembersihan’ di IPDN…
    hehehe

  89. 90 Johans 3 Mei 2007 pukul 4:39 pm

    Pinginnya sih IPDN dibubarkan. Tapi percaya deh nanti juga kalau isu ini udah senyap, rencana tinggallah rencana. Sampai korban berikutnya… (ihik ihik)

  90. 91 ikut nimbrung 14 Mei 2007 pukul 7:14 pm

    tiada kata lagi, BUBARKAN IPDN
    *ngos-ngosan*

  91. 92 alfaqier 10 Agustus 2007 pukul 8:19 pm

    BUBAR = LARI
    BUBAR bukan SOLUSI
    BUBAR mungkin karena terbatasnya wacana yang argumentatif dan solutif
    BUBAR hmm… kayanya tindakan kontra produktif yang mungkin justru dan bahkan bakal menstimulus IPDN-ipdn laen (lebih parah mungkin_ed)
    BUBAR konspirasi makin berkoar dong!!??
    BUBAR solusi jitu buat bikin makar, kalo ada yang ga beres ya tinggal “BUBAR” (hmm mungkin ga ya bakal menciptakan paradigma penyelesaian yang dangkal bagi mental bangsa??,uhk uhk bangsa ni ye)
    BUBAR = KURANG PINTAR (huh,goblok kale maksudnya_ed)
    jadi tanda tanganilah petisi ini dan telanjangi semua opsi,,
    BUBAR pikiran dangkal manusia yang malas belajar.

    ciptakan solusi hadapi birokrasi

  92. 93 Jabizri 8 Oktober 2007 pukul 4:06 pm

    mehhhh….

    lihat sisi terangnya…
    IPDN juga buatan manusia… :P

    *kita yang bikin, kita yang bubarin… :P *

    Namanya juga manusia… :P

    kekekekekekkkk…..

  93. 95 dedydedoy 29 Juli 2011 pukul 12:59 am

    setuju, saya pernah jadi korban kekerasan di sekolah dan saya menyesal karena hanya bungkam, andai saya bersua saat itu pasti semua pem-bully itu sudah masuk kantor polisi dan tidak ada lagi kekerasan di sekolah.

  94. 97 Pulau Tidung 5 Oktober 2012 pukul 10:29 pm

    Bangsa ini memang serba “kekurangan” .

  95. 98 marthaa 14 Desember 2012 pukul 10:34 am

    Kenapa kalian hanya nuntut IPDN dibubarkan..
    Yang terbongkar itu ya cuma IPDN..masih bnyak kok skolah kedinasan lain yang keras..bahkan lebih parah..
    cuma ya mereka lebih tertutup daripad IPDN sampe gak ketahuan..
    gak usah sebut merek yaa…sumpah semua sekolah kedinasan itu harus keras dulu biar ada mental…ngerti gak kalian yg komen2 itu..
    biar mereka ada beda sama PTN biasa yang suka demo diluar sana…

    kehiduan disana disiplin dan keras…tegap2 dan mantap..
    saya curiga yang komen2 ini kayaknya pernah daftar di ipdn trus gagal kale ya…
    who knows..
    haha..
    hidup IPDN…!!

    • 99 Zilca 14 Desember 2012 pukul 10:36 am

      Setuju setuju…
      saya salah satu dari mhsiswa skolah kdinasan lain..
      sekolah kami dekat dgan IPDN dan mereka terbuka da ramah kok..
      mngkin yang komentar belum terlalu tau aja..

      semangat buat IPDN

  96. 100 Sewa Mobil Semarang Murah 22 Juni 2013 pukul 9:28 am

    Keren sekali tulisannya. Mencerahkan :)


  1. 1 Aksi Pembubaran IPDN (Suatu Tinjauan Matematis) « manusia biasa Lacak balik pada 18 April 2007 pukul 4:17 pm
  2. 2 Blog keren saat ini >> IPDNMania !! « Chaos Region Lacak balik pada 18 April 2007 pukul 7:43 pm
  3. 3 Alasan rasional dong!!! « SENYUM itu SEHAT Lacak balik pada 20 April 2007 pukul 1:37 pm
  4. 4 Untuk Ibu (Masih soal IPDN) « All That I Can’t Leave Behind Lacak balik pada 20 April 2007 pukul 9:22 pm
  5. 5 Gosib Pemula « A Journal of A Not-Superman Human Lacak balik pada 23 April 2007 pukul 5:26 pm
  6. 6 beenden Sie das Schweigen…hören Sie die Gewalt auf « Jurig Cantik Lacak balik pada 27 April 2007 pukul 9:17 am
  7. 7 Déjà vu… (IPDN lagi) « O-Mai-Gat! Lacak balik pada 24 Juli 2007 pukul 1:40 am
  8. 8 Untuk Ibu (Masih soal IPDN) « A Sort of Homecoming Lacak balik pada 17 Februari 2010 pukul 4:13 pm
  9. 9 Demi Indonesia kok dibilang konyol? « frimitzon Lacak balik pada 2 Desember 2011 pukul 4:45 pm

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




JANGAAAN !!!

Jangan membaca isi blog ini, sebelum memahami semua woro-woro di halaman PERINGATAN.
Unek-uneg, pertanyaan atau komentar yang TIDAK berhubungan dengan posting, silahkan anda sampaikan di Ruang Tamu.
Boleh juga memasukkan kritik dan saran ke dalam kotaknya.
Posting yang tidak pada tempatnya, terlalu OOT atau terlalu kotor, kemungkinan besar akan saya serahkan pada akismet.
Satu lagi, tak perlu kuatir kalau komen anda tak langsung muncul, kadang akismet suka terlalu curiga, saya akan lepaskan begitu saya online :) Terimakasih

Cap Halal

RSS Sumber Inspirasi

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

Kampanye

Petisi Mendukung Pembubaran IPDN

Aku Nggak Korupsi

Kulkas

free hit counter



%d blogger menyukai ini: