Belajar Qur’an Kok Dipersulit

Peringatan Penulis: Ini tulisan jumat yang panjang, pastikan anda punya cukup waktu (sekitar 7 menit), oksigen dan energi untuk mengoperasikan otak sebelum membacanya. Perlu juga sedikit benwit tambahan kalau ingin melihat sendiri ayat-ayatnya. Oh, satu lagi, ini bukan tulisan satir kok, baca apa adanya aja.

Begini, semalam tadi saya sempat didakwahi oleh Wak Abu Aqil Al-Atsy, menurutnya, untuk menafsirkan Al-Qur’an itu harus memenuhi syarat-syarat seperti berikut ini, sebagian saya kutipkan dari tulisan di blognya beliau yang full moderated dan penuh ancaman, saya juga tebalkan dan warnai di beberapa bagian supaya lebih mantaf:

  1. Beraqidah shahihah, karena aqidah sangat pengaruh dalam menafsirkan Al-Qur’an.
  2. Tidak dengan hawa nafsu semata, Karena dengan hawa nafsu seseorang akan memenangkan pendapatnya sendiri tanpa melilhat dalil yang ada. Bahkan terkadang mengalihkan suatu ayat hanya untuk memenangkan pendapat atau madzhabnya.
  3. Mengutamakan menafsirkan al-Quran dengan al-Qur’an, kemudian setelah itu menafsirkannya dengan as-sunnah, perkataan para sahabat dan perkataan para tabi’in.
  4. Faham bahasa arab dan perangkat-perangkatnya, karena al-Qur’an turun dengan bahasa arab. Mujahid (murid Ibnu Abbas sang ahli tafsir) berkata; “Tidak boleh seorangpun yang beriman kepada Allah dan hari akhir, berbicara tentang Kitabullah (al-Qur’an) jikalau tidak menguasai bahasa arab“.
  5. Memiliki pemahaman yang mendalam agar bisa mentaujih (mengarahkan) suatu makna atau mengistinbatkan suatu hukum sesuai dengan nas syari’ah. Inilah yang tidak dimiliki oleh mereka orang-orang bodoh lagi berlebihan, yang berusaha menafsirkan Al-Quran namun tidak mengarahkannya kepada makna yang dimaukan oleh ayat tersebut.
  6. Faham dengan pokok-pokok ilmu yang ada hubungannya dengan al-Qur’an seperti ilmu nahwu (grammer), al-Isytiqoq (pecahan atau perubahan dari suatu kata ke kata yang lainnya), al-ma’ani, al-bayan, al-badi’, ilmu qiroat (macam-macam bacaan dalam al-Qur’an), aqidah shaihah, ushul fiqh, asbabunnuzul, kisah-kisah dalam islam, mengetahui nasikh wal mansukh, fiqh, hadits, dan lainnya yang dibutuhkan dalam menafsirkan. [Jami’ Ulumul Quran Kary. Manna’ Al-Qaththan hal 329]

Poin awal-awal masih santai dan sepakat, tapi masuk poin 4 dan selanjutnya membuat saya terperanjat, tapi ga sampe manjat-manjat sih. Lha saya dah terlanjur mempelajari dan ngomong tentang kitab, padahal ga ngerti bahasa arab!!! Apalagi setelah ditaburi dengan segala ancaman dan hadis-hadis horor. Walahhh, resah gelisah dan basah lah pokoknya… eits, basahnya bukan karena horny lho, tapi keringat dingin!

Tapi kemudian… hari ini, dasar jiwa anak-anak dalam diri ini masih belum mati, makin dilarang malah makin penasaran: Apa iya Qur’an TIDAK bisa dipelajari lewat bahasa-bahasa lain? Misal Indonesa atau Inggris? Sebenernya ini kitab terbit untuk mempersulit atau mempermudah sih? Akhirnya saya nekat juga, buka-buka lagi itu kitab terlarang… siapa tahu bisa menjawab kenapa sih kok para ustat segitu takutnya Qur’an dipelajari oleh semua orang?

Hasilnya saya malah menemukan hal-hal menarik, tapi psssst, jangan bilang2 Wak Abu abu yach! Apalagi Wak Makassariy, tar bukan cuma dicap jahel, bisa-bisa saya dianjing2in lagi.

Berikut ini saya coba mengaji (atau mengkaji?) Yang mau ikut terlibat silahkan klik untuk baca lanjutannya, tapi ingat, ini pengajian, dalam arti mencoba mengkaji, sama sekali BUKAN penganjingan yang berarti menganjing-anjingkan lho. Disini saya juga berusaha memudahkan anda untuk MEMBUKTIKAN SENDIRI bagaimana bunyi ayatnya dengan link-link langsung ke ayat yang dimaksud. Dengan cara ini anda lebih aman, karena saya tidak bisa bohong atau memutilasi atau memelintir ayat :) Kalau perlu siapin kitab versi DepAg deh buat verifikasi.

Jaman sekarang (sebenernya dari dulu) memang banyak orang bersenjata ayat, terutama ayat yang termutilasi untuk mempersulit hidup manusia. Padahal, TERNYATA, Al Qur’an itu diterbitkan diturunkan malah untuk mempermudah, BUKAN untuk mempersulit manusia (20:2).

Dan ternyata lagi, Allah sudah membuatnya sedemikian rupa jadi lebih mudah diingat, dipelajari dan dipahami (54:17, 22, 32, 40). Dan itu pernyataan diulang mulu sampai setidaknya 3 (tiga) kali lho, berarti serius banget kan? Makanya itu, kita pelajari yuks! Tapi anda gak harus pindah agama kok, karena ini kitab ditujukan untuk semesta alam, untuk seluruh umat (38:87, 68:52).

Tapiii…. hehe, emang ada tapinya sih, Qur’an itu ditujukan untuk orang-orang yang (maaf) BISA MIKIR (38:29). Jadi kalo kita termasuk yang ga punya otak, atau gak mau mikir, atau malah mengharamkan aqal, tak perlu memaksa diri. Lha baca tulisan satir di blog aja sulit, gimana mau mencerna teks-teks dalam kitab?

Kalo emang males, ga mau atau emang ga bisa mikir, kemungkinan kita memang bukan segmen yg dituju Qur’an. Lebih baik kita copy paste aja fatwa2 instan dari para pemelintir dan mutilator ayat atau opini para pengarang hadis, langsung telen, praktis abis, ga perlu mikir. Kita cukup bersikap “aku dengar dan aku taat,” lalu luruskan kedua tangan ke depan, dan mulailah loncat-loncatan gaya vampir. Loncat-loncat terus sambil merapal… aku dengar… aku taat… aku zombi… aku vampirrr… aku deng… Ups.. fokus!! fokusl!!! *benerin serbet sorban*

Oks oks, kembali ke Goa.

Lalu gimana itu yang katanya harus belajar bahasa arab dulu? Ya itu bagus. Tapi ga semua orang punya waktu dan niat belajar bahasa arab, bagi mereka yang namanya abu-abuan memang tidak masalah, namanya aja sudah arab, otak dan lidahnya mungkin juga arab, mereka langsung lancar jaya. Tapi buat kita yang orang Indonesia? Kalau memang sulit ya jangan maksain, kelamaan bung!! Bisa-bisa Anda keburu mampus sebelum sempat mengetahui dan mengamalkan petunjuk-petunjuk yang ada di Qur’an.

Tahukah anda? Allah sebenarnya sudah merekayasa supaya isi Qur’an itu sampai pada kita melalui bahasa yang kita mengerti (44:58). Beliau menggerakkan hati banyak orang-orang baik untuk menterjemahkan pesanNya ke berbagai bahasa dunia. Supaya apa? Ya tentu saja untuk mempermudah penyampaian pesanNya (19:97). Allah tuh ga bego, Dia tuh ngerti macam-macam bahasa, lha semesta ini milikNya je. Jangan percaya sama orang yang bilang bahwa Allah hanya ngerti bahasa arab. Allahnya dia doang tuh yang bego, jangan disembah yg kayak gitu sih.

Trus trus, Setiap utusanNya juga pake bahasa yang beda-beda, tergantung bahasa kaum yang dituju (14:4). Jadi perumpamaannya tuh, kalo untuk umat yang gawul, utusannya juga bakal pake bahasa gawul :P Makanya itu, dalam kasus Muhammad SAW, bahasa yang dipake adalah bahasa arab, tahu kenapa? Masih gak tau? Jawaban ada tuh di 41:44 dan sekitarnya.

Mmmh.. apa lagi ya…

Ya gitu, mari kita pelajari ini kitab, biar kita ga dibodohi dan diadudomba melulu sama tukang pelintir dan tukang mutilasi ayat. Janggut boleh kayak domba, otak dan kelakuan jangan.

Tapi…. Lagi-lagi tapi… Jangan lupa aturannya belajarnya yang sesuai dengan petunjuk Qur’an. Bacanya pelan-pelan, santai (73:4), pelajari yang mudah-mudah dulu (73:20), dan JANGAN BERISIK!!! (7:205). Kita gak perlu pake gigaphone atau supertoa buat jerit-jeritan, apalagi sampe bikin ayam tetangga yang lagi flu kena serangan jantung.

Ayo dong para ustadz yang aseli, para pakar yang ngerti, manfaatkan teknologi untuk mencerahkan. Jangan sampai para pemelintir dan mutilator ayat sukses mendeface Islam dan menjadikannya berwajah buas, sadis, dungu dan biadab. Kitab ini kan petunjuk untuk semua orang, masa cuma jadi mainan dan senjata para ahli kitab aja?

Mungkinkah ada yang tertarik menggelar sesuatu semacam “pengajian online” atau apa gitu? Demi Islam yang damai, yang jadi berkah bagi semesta alam, islam yang menyejukkan bagi semua mahluk. Bukan Islam yang melulu hujat-hujatan, sesat-sesatan, bid’ahkan ini itu, dan halal-halalan darah.

Mungkin para sesepuh punya masukan? Bu Ev? Mbok V? Bu Lita? Bu May? Pak Tajib? Kang Kombor? Pak Urip? Cak Moki? Pak Agor? Mbah Dipo yang mambu lemah? (Maaf buat para sesepuh yang ga kelempar ping, kesebut, bukan saya pengen kurang ajar, tapi daftarnya kepotong nih… yang pasti masukan anda tetap diharapkan).

Atau malah anda-anda yang muda-mudi dan kreatif? Atau siapa kek….. hehe. Tapi kalo yang menggelar pakar penganjingan saya ga ikut dah. Ini serius lho, bukan cuma lempar trekbek sembunyi tangan ala antobilang, lagian ini ping bukan trekbek (beda kan?).

Ok, sekian dulu, CMIIW. Kapan-kapan tulisan ini mungkin akan ada kelanjutannya :)

—–Update—–

Beberapa taut menuju ayat quran diatas sekarang tewas, mungkin situsnya lupa bayar hosting. Tapi jangan khawatir, anda masih bisa mengecek sendiri ayatnya di quran.kawanda.net, Terimakasih pada Sempeite untuk pemberitahuannya.

130 Responses to “Belajar Qur’an Kok Dipersulit”


  1. 1 Mr. Geddoe 30 Maret 2007 pukul 8:59 pm

    Komentar pertama kah? ^^
    Ah, mengamankan posisi dulu. Sedang dibaca dan diresapi.

    Tumben tidak satir? Aha, kalau begini, kontroversi dakwahnya bisa menurun… Ada baiknya juga…

  2. 2 manusiasuper 30 Maret 2007 pukul 9:12 pm

    Kenapaaa keduluan dia terruuussss..???

    *ngubur mr. geddoe hidup-hidup*

    Mantabb hell!!!

    Kereeen…

    Cewe saya juga bilang dirimu keren..!

    Saya juga kerenn..!!

    Pokoknya puwas dah baca posting kali ini…

    Semoga bisa difahami dengan hati, bukan emosi…

  3. 3 Mr. Geddoe 30 Maret 2007 pukul 9:32 pm

    Ternyata Oom Wadehel yang terlebih dahulu ‘mengalah’ dan memperbaiki tutur bahasanya. Dan hasilnya, tulisan yang sangat bagus. Summary tentang sifat Al-Qur’an yang mudah dipahami, mencerahkan, menyejukkan, renyah, tapi tetap dengan serpihan gaya Oom Wadehel yang kritis dan menyentil.

    Bisa-bisa Anda keburu mampus sebelum sempat mengetahui dan mengamalkan petunjuk-petunjuk yang ada di Qur’an.

    Ini dia alasan yang benar-benar susah dibantah!
    Ayo memberanikan diri membaca Al-Qur’an!

    Ayo dong para ustadz yang aseli, para pakar yang ngerti, manfaatkan teknologi untuk mencerahkan. Jangan sampai para pemelintir dan mutilator ayat sukses mendeface Islam dan menjadikannya berwajah buas, sadis, dungu dan biadab. Kitab ini kan petunjuk untuk semua orang, masa cuma jadi mainan dan senjata para ahli kitab aja?

    Betul. Sayangnya, ustadz yang nyeleneh seringkali dapat perhatian berlebih. Ada yang pernah bilang (Jusuf Kalla, ya? Lupa.) kalau seribu muslim yang shalat dan berbuat baik, nggak bakal masuk koran. Tapi satu muslim saja berbuat ‘aneh’ (katakanlah melempar telur ke dubes US), langsung masuk koran. Makanya.

    Demi Islam yang damai, yang jadi berkah bagi semesta alam, islam yang menyejukkan bagi semua mahluk. Bukan Islam yang melulu hujat-hujatan, sesat-sesatan, bid’ahkan ini itu, dan halal-halalan darah.

    Wah, kata-kata yang bijak ^^

  4. 4 antobilang 30 Maret 2007 pukul 9:44 pm

    bukan cuma lempar trekbek sembunyi tangan ala antobilang

    hm…. *elus2 jenggot*

  5. 5 Lita 30 Maret 2007 pukul 9:48 pm

    Halah halah halah, kok bawa-bawa diriku sih.
    Mengaji, Hel. Dari kata kaji diberi awalan me- (kayanya AMD lebih mahir nih soal ginian).

    Sebetulnya sih aku ngga antipati ya dengan yang disampaikan abu.. siapa itu tadi? Ya, itu. Mempelajari Qur’an memang sebaiknya dibimbing guru. Selain kendala bahasa (grammar, dialek, dll), masalah penafsiran juga dapat dipengaruhi oleh sebab turunnya ayat. Jadi ngga semua bisa langsung comot, walaupun apa adanya. Ada konteks yang tepat, mungkin begitu.

    Selain itu, aku serahkan pada yang lebih ahli saja. Berhubung saya saat ini berstatus penikmat sejati (maksudnya milih ndengerin doang). Gimanapun, aku lebih menyukai cara kalem. Tenang, terkendali, tidak kasar (siapapun itu yang dihadapi, kita kan hanya ber’tarung’ dengan teks di jagad blog ini toh?).

    Selanjutnya, adalah yang tidak berhubungan langsung dengan topik pengajian.

    Kalau sedang emosi, jangan langsung nulis. Selain tulisannya jadi sangat emosional, bisa-bisa salah ketik, salah kutip, salah ngerti, atau alur logika yang dipake ngawur atawa gak nyambung. Sumpe, gak enak banget kan? Nyesel. Malu (eh kalo malu, sih).

    Daripada harus menarik/menghapus apa yang sudah dikatakan di publik internet, lebih baik pikirkan masak-masak. Kita sudah dewasa (sudah kan?). Daripada cari-cari alasan dan dalih yang terkesan mengada-ada dan gak mau berusaha. Tahu bagaimana berlaku bijak, menyesuaikan diri untuk setiap jenis pembaca yang berbeda.

    Ini gak hanya melulu soal posting yang bertopik agama. Yang kusindir bukan cuma para abu (hah, suamiku kan ‘abu’ juga, abu Daud, abu Ibrahim hehehe… ), tapi juga empunya blog ini.
    Wadehel, yo! Bangun, nak! Jangan tidur waktu aku ngomong, heh! Tampaknya kau perlu banyak berlatih untuk menulis dengan gaya yang tetap tajam namun tetap santun. Ya ya… sopan yang tidak sekadar gak-pake-nama-binatang. Kau tahu lah maksudku.

    Sudah. Cukup sekian. Hayuh, bangun! Itu ilernya dilap masing-masing ya!

  6. 6 Lita 30 Maret 2007 pukul 9:51 pm

    Eh iya lupa memuji. Betul kata mr. Geddoe. Ini bisa jadi ciri Wadehel yang baik dan patut dipertahankan. Lebih enak gini, Hel. Meminimasi salah kaprah. Nyok, belajar bareng nyok…

  7. 7 Abu Aqil Al-Atsy 30 Maret 2007 pukul 9:52 pm

    Mas, anda salah !!! bukan belajar quran yang harus memenuhi persyaratan, tapi menafsirkan alquran yang harus memenuhi persyaratan. Terlalu tendensius tu..!! Bisa bedain gak mana belajar mana yang dimaksud dengan menafsirkan ?
    Coba Tolong temen2nya mbok ya di ajari wedehel ini untuk memahami kata tersebut. kayak gini kok mau menafsirkan Quran, wes ra pantes tenan..!!
    Nah, belajarlah AlQuran tp jangan nempatin ayat seenak perutmu ya..!! Gak dilarang kok belajar AlQuran yang dilarang itu menafsirkannya tanpa ilmu yang mendukung penafsiran tsb.
    *geleng geleng pala sambil mikir, tukang plintir kok nuduh orang mlintir*

  8. 8 manusiasuper 30 Maret 2007 pukul 10:06 pm

    halah… ngeles lagi bapak di atas saya ini…

    baca dulu pak, baru protes..

    sekarang bapak punya tafsir apa lagi terkait ay-ayat yang di-link dehel? bisa nge-kliknya kan? bahasa inggris lo pak, bukan bahasa arab…

  9. 9 Andhika Nugraha 30 Maret 2007 pukul 10:31 pm

    Salut buat om Dehel!

    *bungkam mulut, cari narasumber dulu*

  10. 10 Mr. Geddoe 30 Maret 2007 pukul 10:34 pm

    Maaf, kalau menurut pandangan saya, yang namanya belajar itu, mesti separuh menafsir. Maksudnya, tentunya, kalau tidak bisa berbahasa Arab, mengambil tafsiran-tafsiran, membanding-bandingkan, lalu berpikir, ayat ini maksudnya apa, relasinya dengan ayat lainnya apa, begitu. Jadi, memang mesti ‘menafsir’ juga. Tentunya tafsir untuk pribadi, beda dengan tafsir yang dilakukan ulama.

    Jadi, kalau kita menerbitkan ‘Tafsir Al-Qur’an’ dengan pemahaman kita, baru perlu berhati-hati, dan mawas diri, apa sudah pantas. Kalau mencari kebenaran dengan mencari arti yang lebih di dalamnya, itu baru generasi yang berpikir.

    Kalau cuma membaca tanpa niat mencari arti yang lebih di dalamnya, saya rasa sama saja Pak, dengan membaca buku PPKn… Berbuat baik, jangan jahat sama orang, dan seterusnya.

  11. 11 antobilang 30 Maret 2007 pukul 10:38 pm

    anda salah!!!???

    pokoknya™ salah….
    titik….

    repot dah kalo urusannya udah beginian mah….

  12. 12 wadehel 30 Maret 2007 pukul 10:39 pm

    @Mr Geddoe & Manusiasuper, ga harus paling atas deh :-? yg penting udah baca dulu sebelum komen :)

    *kebangun karena komentar bu Lita, langsung lapin iler atas bawah*
    Iya bu, tar latihan lagi.. makasih… hiks… hiks…

    @Abu Aqil, saya belum bisa bedain nih :-? Emang bisa gitu belajar tanpa menafsirkan maknanya? Kalo cuma baca-baca aja pake nada sih bukan belajar, tapi nyanyi. Jelasin dong. Trus penempatan ayat yang salah yang mana lagi nih? Koreksi jangan nanggung dong. Kan dibawah udah ditulis itu gede-gede CMIIW.

  13. 13 dewo 30 Maret 2007 pukul 11:00 pm

    Luar biasa. Wadehel itu ustadz pembaharuan. Mendobrak tradisi. Teruskan perjuanganmu. Aku kabur dulu…

    (** Nyalainkomporteruskabur **)

  14. 14 peyek 30 Maret 2007 pukul 11:06 pm

    barusan adem, apinya nyala lagi

  15. 15 Mr. Geddoe 30 Maret 2007 pukul 11:08 pm

    Saya jadi bertanya-tanya nih. Mengaji itu mesti baca ayat Arabnya pakai lagu?

    Soalnya kalau mengaji bahasa Arab yang mendayu-dayu begitu saya mungkin tidak terlalu sering. Paling sehabis shalat di saat-saat tententu. Tapi, kalau baca tafsir saya cukup sering, dari berbagai versi tafsir malah. Hmm, itu dihitung mengaji juga tidak?

  16. 16 mathematicse 31 Maret 2007 pukul 12:02 am

    Wah, saya jadi pengamat aja deh…

    Tapi, saya ga suka saling menjelekkan….

  17. 17 venus 31 Maret 2007 pukul 12:35 am

    wah, pengajian online ya? kalo konsultasi gratis kayak yg malem2 itu, boleh laahh…tapi pengajian? rasanya, i’m not the right person deh, hel. daripada gw jadi the next anjing of the blog, mending ga bikin2 yg begituan. takut salah. berat, euy…

  18. 18 venus 31 Maret 2007 pukul 12:37 am

    walah, kenapa nyebut nama binatang itu ya? maap…duh!!

  19. 19 deKing 31 Maret 2007 pukul 1:57 am

    POKOKNYA yang namanya BELAJAR Qurán ya MEMBACA itu alias istilah kerennya MENGAJI (walaupun tidak meng-kaji)…
    Kalian yang penting BISA BACA saja…gak usah tahu artinya juga gak papa. Kalau masalah tafsir POKOKNYA itu hanya urusan para kyai…
    Wong gak tahu apa2 kok mau mentafsirkan? Bisa rusak agama ini …
    Pokoknya kalau kalian mengikuti para kyai maka dijamin masuk surga dech…
    POKOKNYA ya POKOKNYA…tidak usah ngéyél…

  20. 20 Evy 31 Maret 2007 pukul 2:33 am

    Kereeen… Mantaf… ini baru anak mama… hehehehe :)
    Thanks ya dehel artikel-nya. Islam itu Rahmatan Lil Alamin, diturunkan untuk semua bangsa tidak hanya untuk bangsa Arab.

    Ini kutipan dari buku yang kubaca mengatakan “Sekarang ini banyak da’i yg mengajarkan hal2 yg menyimpang dari Al Qurâan dan As Sunnah. Fungsi mereka sekarang tidak hanya berdakwah melainkan juga bertindak sebagai tuhan-tuhan kecil. Artinya mereka membuat perubahan, menambah, atau mengurangi Nash Al Quran dan As Sunnah, kalo perlu malah menghilangkannya. Bahkan mereka berani memakai hadist2 palsu. Mereka seolah tidak takut dan mengabaikan ancaman Allah yg akan mengadzab 2x lipat kutukan yg besar (QS.33:67-68) karena telah menyesatkan umat”.

    Wah…, gawat juga jadinya.. Kita yg ngga tau apa2 bisa kena getahnya… ini kalo kita juga ngga’ mau cari tau…. Dalam arti tidak mau belajar dan menelaah isi Al Quran dan As Sunnah. Kalau kita tinggal nerima yang di ceramahin tanpa mengkaji-nya mak lhheeeb… aja(koyok iklannya sosis) kita telan bulet2….padahal kita udah dibekali akal untuk berfikir, ini bener ngga’ yo…?

    So belajar Al-Quran sama2 dan saling mengingatkan serta sharing akan sangat berguna buat kita begitu khan anak2 cakep dan baik..? Lanjut yuuk…dehell dan yg lain2 juga..belajar agama dan mengulas Al-Quran-nya….

  21. 21 rajaiblis 31 Maret 2007 pukul 2:55 am

    halaaahhhhhh … quran udah bener …
    gak perlu dikaji-kaji dan dibahas-bahas lagi serta ditafsir-tafsir!

    gak perlu pinter bahasa arab koq buat ngerjain nasehat quran!
    eNTe … para manusia yg “ngerasa” punya akal tinggal ngerjain aja nasehat yg ada di quran !
    seperti kata wadehel, “bacanya pelan2” … maka mulailah dari mengerjakan nasehat yg paling gampang … sholat lima waktu … ada ato gak ada duit, wajib ngasih makan anak yatim … bangun malam … dan yg paling penting “dekati utusan” masing2 … dan jaga akal lisan hati …

    ntar … kalo dah rutin … allah akan kasih paham ! otomatis … seiring dengan banyaknya nasehat yg telah diamalkan dalam perbuatan sehari-hari maka begitu baca quran paham sendiri koq!

    “sampaikan meski hanya tahu satu ayat”
    artinya … kerjakan dengan perbuatan nyata dalam kehidupan sehari-hari bila telah tahu perintah dari satu ayat tersebut …
    maka … sampaikanlah ayat itu dengan “tindakan” dengan “amalan”
    (amal itu bahasa arab … kalo diterjemahkan atau “ditafsirkan” kepada “orang indonesia” maka artinya menjadi pekerjaan atau tindakan atau apa yg harus dilakukan)

    dan … ayat itu harus “diwiridkan”
    artinya … bukan dibaca-baca hingga berjuta-juta kali sampe mulut berbuih ! namun “wiridkan” – rutinkan makna (pesan, nasehat, perintah) dari ayat tersebut dalam tingkah laku sehari-hari!

    halaaaaahhh …
    iblis koq kasih wejangan …
    tapi … wajar koq … wong iblis paling hebat untuk urusan beginian!
    kalo kata “shawni” iblis dah ratusan ribu tahun beribadah kepada tuhan …

    percaya ma omongan iblis … ?

    wakakkakakaaa …

  22. 22 agorsiloku 31 Maret 2007 pukul 9:05 am

    Menjadi ahli bahasa biar puluhan tahun jadi orang Indonesia dan ngomong bahasa Indonesia, sama sekali tidak berarti jadi ahli bahasa.

    Untuk judul ini, saya menaruh apresiasi tinggi sama Wadehel dan juga tanpa mengurangi rasa hormat saya yang lain yang mengingatkan beliau Wadehel.

    Salah satu hikmahnya adalah judul di atas…..

    QS 25. Al Furqaan 44. atau apakah kamu mengira bahwa kebanyakan mereka itu mendengar atau memahami. Mereka itu tidak lain, hanyalah seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat jalannya (dari binatang ternak itu).
    QS 43. Az Zukhruf17. Sesungguhnya atas tanggungan Kamilah mengumpulkannya (di dadamu) dan (membuatmu pandai) membacanya.

  23. 23 abdulsomad 31 Maret 2007 pukul 9:38 am

    assalamualaikum.. wr wb
    Wadehel jadi DA’I, amien YA RABB….
    Teruskan

  24. 24 Mr. Geddoe 31 Maret 2007 pukul 10:27 am

    Tambah wejangannya, Oom Wadehel ^^

  25. 25 ברתולומאוס 31 Maret 2007 pukul 10:35 am

    Kok tidak menggunakan gaya satir yang biasanya?? kapok Di-a****g-kan??

    Pokoknya™ salut buat Kang (atau Oom?? atau Bang??) Wadehel.

    Tapi jangan bawa-bawa (apalagi seret-seret)saya ya….hehe….

    “BGM: Lari terpingkal-pingkal”

  26. 26 toim the shinigami 31 Maret 2007 pukul 10:38 am

    sebenernya gak sulit2 amat koq, kan udah ada terjemahannya, tp klo nerjemahin hal2 yg gaib itu yg kudu ati2…seperti kejadian kiamat, trus kejadian alam barzach..
    tp klo kejadian manusia di surat (apa ya, lupa) masa gak bs ngerti, kann udah ada terjemahannya yg cukup jelas, bahkan sama dgn di buku2 biologi dan kedokteran

  27. 27 ddewa 31 Maret 2007 pukul 11:00 am

    Mas, anda salah !!!
    Waduh.. repot nih klo main salah2an. Siapa sih yg mau dibilang salah? Saat mendeklarasikan kalimat itu.. sudah dipastikan mindsetnya merasa paling benar dan tidak ada kata kompromi.

    Da’wah mbo’ ya pake sabar dikit.. toh dulu Islam jaya ga dlm hitungan hari kok. Sejarah sudah membuktikan kejahilan ga bisa hilang dlm waktu singkat.

    Mari qt posisikan dulu diri qt masing2 pada posisi orang yg qt nasehati.. Toh.. mrk pasti punya alesannya sndiri knp bs brprilaku sperti demikian. wadehel jg dah wanti2 sebelum qt baca tulisannya kan..

  28. 28 Fast 31 Maret 2007 pukul 11:57 am

    Yang dimaksud belajar bukan (cuma) baca kan?
    @ Abu Aqil,maaf sebelumnya, pahamilah kata-kata orang sebelum kau memberi pendapat.
    udah dulu ah n’tar komennya di moderasi lagi.

  29. 30 passya 31 Maret 2007 pukul 12:22 pm

    wakakakakak……
    akhirnya wadehel kepancing juga ngeluarin sebagian jurus-jurus andalannya….
    hel…hel…hel…kok bisa kecolongan gitu…

  30. 31 Andhika Nugraha 31 Maret 2007 pukul 2:18 pm

    Bagaimanapun tafsiran kita, yang tahu isi asli Al-Qur’an hanya Allah.

    Al-Qur’an itu sangat puitis, maka tentunya banyak arti tersembunyi.

  31. 32 joesatch 31 Maret 2007 pukul 2:35 pm

    kayaknya memang semakin jelas ya, SIAPA YANG SEBENARNYA SUKA MEMULAI KERIBUTAN…
    udah mulai adem2, dipanas2in lagi. sini..sini..yang sukanya manas2in mari kemari…

    *sambil ngasah tombak* :P

  32. 33 Odi 31 Maret 2007 pukul 2:55 pm

    Maaff OOT bung wadehel.Dulu pernah ada buku ‘Al-Quran berwajah Puisi’ karya alm.HB Jassin. Kalau tidak salah isinya tafsiran puitik Jassin akan Al-Quran. Katanya sih dilarang karena bisa membawa orang beranggapan kalau Al-Quran hanya sekadar puisi bukan Kalam Ilahi.
    Ada yang tahu dimana bisa mendapatkan buku tersebut ?

  33. 34 sora9n 31 Maret 2007 pukul 3:17 pm

    @ wadehel

    Cara membalas yang sangat elegan. Salut! :)

    Dan ente dapet temen baru nih, ‘rekan’ kita yang baru balik dari perjalanan 40 hari. ;)

  34. 36 jejakpena 31 Maret 2007 pukul 4:34 pm

    Wanna see what will happen next, mudah2an keadaan menjadi lebih baik ya sesudah ini…

  35. 38 Sugeng Rianto 31 Maret 2007 pukul 5:11 pm

    Karena saya bergaul dengan teman2 yang non-muslim di sini, sudah pasti saya juga dianjingkan disalahkan. wislah melu pasukane si joe wae.

    kayaknya memang semakin jelas ya, SIAPA YANG SEBENARNYA SUKA MEMULAI KERIBUTAN…
    udah mulai adem2, dipanas2in lagi. sini..sini..yang sukanya manas2in mari kemari…

    *sambil ngasah tombak* :P

    Joe…!!! pinjami saya tombak’e, masa saya pegangannya cuma bambu runcing… :lol:

  36. 39 Sugeng Rianto 31 Maret 2007 pukul 5:13 pm

    uppss!!! ada yg kurang neh, comment saya diatas cuma maen game CS versi jadul lho!!! :-)

  37. 40 Andhika Nugraha 31 Maret 2007 pukul 6:14 pm

    eh, kalo om dehel ngebales perihal ini di blog lain, kasih tau yah!

  38. 41 telmark 31 Maret 2007 pukul 8:34 pm

    Pokoknya kambing, walaupun bersayap. (kekekekk..) Gue bukannya ngedukung buta wadehel. (kan `ga ada yg blng dia kambing. yg ada istilah penganjingan). :) Yg jelas, wadehel menanggapi komen Pak Abu yg berapi2, dgn dingin. dan kerennya, dia masih bisa ngasih smile. DEMI ISLAM YG DAMAI, YG JD BERKAH BAGI SEMESTA ALAM, ISLAM YG MENYEJUKKAN BAGI SEMUA MAHLUK. BUKAN ISLAM YG MELULU HUJAT2-AN, SESAT2-AN, BID`AHKAN INI ITU, DAN HALAL2-AN DARAH.

  39. 42 telmark 31 Maret 2007 pukul 8:39 pm

    wah kok keputus ? sorry, jd disambung dikit.
    (ga tau kepencet kali). kalimat ajaibnya wadehel, Islam yg menyejukkan bagi semua mahluk…(dst). kalimat ini tepat, disaat mana Islam dianggap menjadi biang teror di Negara2 maju. dan, bagi saya, pemikiran2 modern spt inilah yg bisa memajukan Islam. bukan pemikiran sempit spt : Pokoknya kambing, walaupun bersayap. :)

  40. 43 antobilang 31 Maret 2007 pukul 8:44 pm

    oi!!! perang pindah kesini!!!

    wakakakakakakak

    *kabur secepat ninja*

  41. 44 Mr. Geddoe 31 Maret 2007 pukul 9:30 pm

    Lightsaber, lightsaber, beli satu dapat dua…
    Beli dua dapat satu…

    Hahaha, tambah wejangannya dong, jadi suka sama gaya Wadehel yang baru :D

  42. 45 cK 31 Maret 2007 pukul 9:35 pm

    ya sudaah…bagaimana kalau semua blogger pada kopi darat janjian ketemuan meeting besar atau apalah…untuk meluruskan masalah ini. *mikir lagi* eh…kopdar kayaknya lucu juga tuh… *ga peduli perang* :P

  43. 46 wadehel 31 Maret 2007 pukul 10:04 pm

    @Mr.Geddoe, sekarang nyanyi sama dengan ngaji. Menurut saya, mungkin efeknya ada bagusnya juga, nyanyi kan melembutkan jiwa. Kalo hasilnya jadi kayak FPI, ga tau deh nyanyinya kayak apa.

    @Venus, ya konfrensi waktu itu kan juga termasuk pengajian :)) Cuma yang dibahas ayat-ayat yg ga tertulis di kitab :P

    @deKing, hehe. Btw pak, guru sekolah juga ga seneng ya klo muridnya ngeyel :P

    @Evy, injih bu, setuju :)

    @Agorsilaku, waw, yang seperti binatang ternak itu siapa pak? Kok ga sekalian berbagi penafsirannya?

    @ברתולומאוס, nggak tuh, masih mending dianjingkan daripada di-s****y-kan. Ga akan nyeret2, nyebut namanya aja sulit.

    @Toim, cuma baca judul nih ya :-?

    @Fast, dalam tulisan diatas tentunya ya bukan cuma baca, apalagi skimming :P

    @Passya, kepancing gimana? Jurus2 andalan apa? Kalo lempar ping sembunyi tangan itu jurus saya pelajari dari posting amd dan antobilang kok.

    @Joesatch, itu tombak ujungnya dikasih kondom tidaks? sadis amit :-?

    @Odi, saya ga ngerti tuh. Baru denger malah. Coba aja tanya ke forum-forum.

    @Sora9n, terimakasih, tapi ini bukan pembalasan kok.

    @Helgeduelbek, emang tenang adem dan ayem pak, tapi yang cuma nonton banyak pada kipas-kipas. Ga ada saran yang berbau reaksi kimia nih pak?

    @Jejakpena, keadaan akan selalu jadi lebih baik kok.

    @Sugeng Rianto, di CS ga ada tombak deh, yg tajem-tajem gitu paling cuma pisaw komando gituan. eh, iya ga sih.

    @Andhika Nugraha, belum ada niat sih, tapi jangan kuatir, mekanisme alam akan memastikan anda dapat pesan-pesan yang anda butuhkan kok *halah*

    @Telmark, amiiin, semoga ini menular.

    @cK, soal ide gathering itu hubungi mbok V deh, beliaw lebih pengalaman.

  44. 47 venus 1 April 2007 pukul 12:26 am

    eh, ada yg ngajakin gathering. lha kok gw lagi, hel? cape deeee…

    eh, eh, tapi tapiiii….hayuuuuu…syapa takut?? just tell me when n where. atau cK bisa hubungi saya, japri aja. kita bikin huru hara. yuuuuuk….

  45. 48 bluedee 1 April 2007 pukul 9:34 am

    betul itu. Al-Qur’an diturunkan bukan untuk mempersulit hidup manusia justru mempermudah.

  46. 49 kw 1 April 2007 pukul 9:49 am

    ada yang bilang, al quran itu “hanyalah” kitab kering. sehingga jangan mengesampingkan “kalbu” yang merupakan kitab basah.

    ibaratnya al quran itu lilin, penerang hati. jadi setiap melakukan tindakan apapun tak harus merujuk pada al Quran. ( saya tak mengatakan belajar al Quran tak penting). lha orang sepertiku yang tak pernah mengkaji Al quran, kan gak punya rujukan dari sana.

    namun karena saya punya hati (dan otak)saya tak akan melakukan tindakan-tindakan yang membuat saya gelisah dan tak tenang, apalagi sampai merugikan orang lain. titik. berpegang pada itu, aku yakin aku tak tersesat.

    aku tak perlu sibuk-sibuk mencari ayat atau hadis sahih dulu untuk mengetahui apakah tindakan saya benar atau salah. kita lihat saja “output”nya. kalau positip ( menyenangkan) orang di sekitar, berarti tindakan itu sudah benar.

    saya pikir semua orang sudah tahu itu. yang menjadi masalah adalah mau ngga mereka melakukan!

    benar hel, sibuk mengkaji ayat, kapan pakteknya? :)

  47. 50 Rizma Adlia 1 April 2007 pukul 10:27 am

    Mau nanya,, kalo emang nafsir itu perlu kompetensi Ma setuju, apalagi tafsir yang digunakan bukan buat diri sendiri,, tapi siapa yang nentuin kompetensi?? hehehe,, :)

  48. 51 wadehel 1 April 2007 pukul 10:29 am

    @Venus, hehe, bukannya mbok V pakar gathering? Tapi paling ga serius kok mbok, tar kalo ada ledakan bom gimana :P Gathering online kayak waktu ntuh.

    @Bluedee, ya katanya sih gitu. Entah kenapa kok malah banyak yang menggunakannya untuk mempersulit, memperbodoh dan mengadudomba.

    @KW, tergantung darimana anda melihat. Bagi yang bisa baca ayat-ayat yg bertebaran di muka bumi sih emang banyak. Tapi ga semua orang bisa mikir lho. Ada banyak manusia yang sedikit-sedikit perlu pembenaran dari ayat tertulis. Malah banyak yang menuhankan ayat atau tafsir ulamanya. Blogwalking sedikit deh pak ke link-link yang ada disini, tar pasti terkaget-kaget. Ada yang sampe yakin banget kalo matahari mengelilingi bumi, dan keyakinan itu menurutnya berdasarkan tafsir.

    Setuju pak, jangan sibuk mengaji doang, apalagi sampe jerit-jeritan tanpa diikuti oleh pengamalan.

  49. 52 wadehel 1 April 2007 pukul 10:32 am

    @Rizma Adlia, yang pasti, yang nentuin kompetensi bukanlah orang-orang yang berfaham Pokoknya™ Kami Yang Paling Benar!

  50. 53 Heri Setiawan 1 April 2007 pukul 11:12 am

    Kalo emang om wadehel mo belajar qur’an, ajak-ajak saya yah… :)

  51. 54 Mr. Geddoe 1 April 2007 pukul 11:22 am

    Huee, agak sejuk ya belakangan ^^

  52. 55 Anjaz 1 April 2007 pukul 12:07 pm

    hm….saya kira syarat diatas memang harus dipenuhi untuk menafsirkan alquran,tp jika cuma untuk belajar membaca alquran, saya kira itu tidak perlu.
    dalam hal menafsirkan sesuatu yang bersifat umum kita memang harus lebih banyak menguasai sesuatu yang dibutuhkan dalam penafsirannya. misalnya penafsiran undang2, penafsiran kitab suci, penafsiran terhadap faham-faham tertentu. apalagi jika hasil penafsiran kita di ungkapkan atau dipublikasikan ke public dan akan menjadi konsumsi public, sangat fatal akibatnya jika ternyata penafsiran kita melenceng dari tafsiran yang dianggap benar oleh orang banyak.

    dan ketika melihat pemahaman anda bahwa “semua hal di semesta ini bisa benar tergantung dari sudut mana si pengamat melihat ” maka saya harap anda tidak usah mempermasalahkan komentar atau tulisan orang lain karena apa yg ia tuangkan atau apapun anggapan mereka tentang anda adalah bisa benar menurut sudut pandang mereka sendiri. jadi sekali lagi anggapan mereka terhadap anda, itu bisa benar bagi mereka juga.

  53. 56 mbah keman 1 April 2007 pukul 3:55 pm

    Bhasan yang beraat untuk otak seperti simbah ini, duh, maklum simbah pendidikanya gak tinggi… hik.

    satahu simbah tidak ada yang mempersulit dalam Islam kecuali manusia itu sendiri.

    contoh begonya buat sambel… buat sabel kan simple, cuman cabek. garam ,bawang. udah selesai tapi yang namanya manusia ada aja kurangya ya kahirnya di tambah2in dan di lebih2hin, ada sambal bawang, sambal tomat, sambal ijo. sambal petis dll. begitu juga dengan penyajianya

    intinya, kalau mau paham Al QURAN, pelajari sesuai prosedur tapi kalau cuman tau, terjemahanya banyak kok, bahasa arab yang baik itu untuk penafsiran dan pnterjemhana ke basa lain, jadi jangan menterjemahakn bahasa yang kita tidak ketahui… itinya seperti itu gak usah di perpanjang peacee… man.

    salam mbahmu keman,

  54. 57 clukindahose 1 April 2007 pukul 5:49 pm

    Apa ini topik sebelum april mopan?
    *sinetron mode:on*
    jgn2 abis semua ini selesai hel ama abu & sekutunya ngelisong bareng.. hehehe..

    *kabur*

  55. 58 Mr. Geddoe 1 April 2007 pukul 6:23 pm

    satahu simbah tidak ada yang mempersulit dalam Islam kecuali manusia itu sendiri.

    Sangat sangat benar.

  56. 59 abdulsomad 1 April 2007 pukul 7:07 pm

    AL-QURAN itu panduan, petunjuk agar selamat di Dunia yg sementara ini dan di Akherat yag selama – lama nya, jadi kalo mau selamat, ya dibaca donk;

    baca novel ato baca postingan Wadehel aja di bela-bela in, apa lagi baca KITAB yang akan menyelamatkan kita di DUNIA dan di AKHERAT, kenapa gak mau???

  57. 60 dewa 2 April 2007 pukul 9:46 am

    waduh rame sekali yo
    niatnya mau nyari keterangan account si R***d [buat mausuah/ensiklopedi aja] eh kecemplung di medan perang.
    lagi seru-serunya lagi…. untung kagak jadi pelanduk ‘couse setiap saat selalu waspada n ngati-ati.
    assalamu’alaikum semua …
    boleh kan kasih ungkapan isi hati … waduh …
    dewa jadi pelanduk di tengah-tengah kemelut perang
    ya sementara si pelanduk berpikiran demikian, karena setelah melihat rujukan-rujukam yang ada ternyata kick-off nya udah lama … gak satu lapangan lagi n suporternya nggak kalah inovatif …
    pelanduk mah kagak tau siapa duluan yang mengayunkan belalai n mengadukan gadingnya, walau demikian pelanduk nggak pengen mencari selamat sendiri n meninggalkan kedua gajah bertarung mati-matian mempertahan kejantanan [dengan tidak melihat siapa yang salah or siapa yang benar] pelanduk pengen semua slamet-slamet aja untuk menempuh migrasi melintasi benua mencari padang rumput bersama-sama.
    Karena sekelompok kafilah nggak bakal sampe tujuan kalo toh penumpang n sopirnya n yang laen pada ribut sendiri.
    Pelanduk melihat kedua kubu nie ..
    kalo ada kedua belah pihak saling bertentangan, maka salah satu diantara mereka membawa kesalahan n dan salah satunya sebaliknya, mungkin juga kedua-duanya membawa kesalahan karena kebenaran absolut hanyalah milih الله semata dan kedua belah pihak tersebut hanya bermodalkan prasangka. Yang pasti kedua beka pihak tidak saling membawa kebenaran karena apabila ini terjadi maka pertentangan tidak akan terjadi[ingat : kemungkinan tersebut tidak berlaku kepada hal yang laen, hanya kondisi sekarang].
    persoalan inti:

    1. Beraqidah shahihah, karena aqidah sangat pengaruh dalam menafsirkan Al-Qur’an.
    2. Tidak dengan hawa nafsu semata, Karena dengan hawa nafsu seseorang akan memenangkan pendapatnya sendiri tanpa melilhat dalil yang ada. Bahkan terkadang mengalihkan suatu ayat hanya untuk memenangkan pendapat atau madzhabnya.
    3. Mengutamakan menafsirkan al-Quran dengan al-Qur’an, kemudian setelah itu menafsirkannya dengan as-sunnah, perkataan para sahabat dan perkataan para tabi’in.
    4. Faham bahasa arab dan perangkat-perangkatnya, karena al-Qur’an turun dengan bahasa arab. Mujahid (murid Ibnu Abbas sang ahli tafsir) berkata; “Tidak boleh seorangpun yang beriman kepada Allah dan hari akhir, berbicara tentang Kitabullah (al-Qur’an) jikalau tidak menguasai bahasa arab“.
    5. Memiliki pemahaman yang mendalam agar bisa mentaujih (mengarahkan) suatu makna atau mengistinbatkan suatu hukum sesuai dengan nas syari’ah. Inilah yang tidak dimiliki oleh mereka orang-orang bodoh lagi berlebihan, yang berusaha menafsirkan Al-Quran namun tidak mengarahkannya kepada makna yang dimaukan oleh ayat tersebut.
    6. Faham dengan pokok-pokok ilmu yang ada hubungannya dengan al-Qur’an seperti ilmu nahwu (grammer), al-Isytiqoq (pecahan atau perubahan dari suatu kata ke kata yang lainnya), al-ma’ani, al-bayan, al-badi’, ilmu qiroat (macam-macam bacaan dalam al-Qur’an), aqidah shaihah, ushul fiqh, asbabunnuzul, kisah-kisah dalam islam, mengetahui nasikh wal mansukh, fiqh, hadits, dan lainnya yang dibutuhkan dalam menafsirkan. [Jami’ Ulumul Quran Kary. Manna’ Al-Qaththan hal 329]

    Sebenarnya point-ponit diatas sungguh sangat jelas. Point tersebut adalah pokok-pokok aturan yang dengan maksud aturan ada maka akan di inginkan hasil yang baik ….
    aturan ada tentu setelah terjadi permasalahan, pelanduk yakin kalo aturan-aturan tersbut diadakan untuk menetralisir permasalahan yang ada.
    setahu pelanduk, dalam Islam aturan-aturan tersebut memang telah dibukukan n dibakukan hal ini untuk membedakan apakah aturan tersebut adalah asli atau rekayasa.
    Maka permsalahan baru akan terjadi di masa n tempat diluar mana Islam itu diturunkan, karena degradasi penyebaran pengetahuan. satu pihak permasalah terjadi kepada orang-orang yang tidak mengetahui asas dan asal muasal sebab[klasik: tidak or belum berpengetahuan].
    maka apakah tidak ada kompromi ???
    secara azaz memang tidak ada kompromi namun secara pelaksanaan mungkin, namun dengan syarat dengan melihat konteks keadaanan kondisi dan laen2.
    seperti ponit ke empat dan seterusnya ..
    menurut pelanduk ,untuk menafsirkan dalam bahasa laen bisa – bisa saja namun ada tapinya dan point ke empat sudah mencukupi syarat ini.
    so jadi bagemana kao orang awam pengen mengetahui tafsir sedang dia tidak paham kaedah dan maksud bahasa dasarnya[bahasa quran diturunkan].
    ya dengan serta merta diharap ia mau mencari tahu kepada orang yang mengerti dan faham.
    Boleh ia merujuk kepada literatur dari dengan bahasa langsung yang diinginkan namun dipastikan bahasa tersebut memenuhi standarisasi dan sesuai dengan gaya pemahaman bahasa asal.
    Demikian pula untuk penerjemahan.
    coba bandingkan kalimat sederhana di bawah.
    “kunduran bis”>> bahasa jawa

  58. 61 dewa 2 April 2007 pukul 10:03 am

    lanjutan ….

    “kunduran bis”>> bahasa jawa
    kalo diartikan dalam bahasa indonesia menjadi
    “kebelakangan bis”
    maka akan menjadi rancu apabila kalimat tersebut diterjemahkan oleh orang yang tidak mengerti n paham bahasa jawa. apalagi untuk ditafsirkan.
    padahal maksud kalimat tersebut adalah kecelakaan yang terjadi akibat korban tertabrak ato terlindas oleh bis yang berjalan mundur dengan sebab yang tidak jelas.
    Demikian analogi sederhana yang akan terjadi apabila Quran ditafsirkan dengan sembarang orang dan ato paham.
    Maka pelanduk menginginkan semua slamet-slamet aja tuk bermigrasi bersama melintasi benua.
    pelanduk berharap masig-masing pihal untuk tabayyun dan berdiskusi bersama dengan hati dan otak yang dingin. Kalo perlu dalam sebuah diskusi nyata. sehingga hal-hal ini tidak akan mengakibatkan permasalahan baru yang lebih besar.
    contoh: betapa lebar ketawa orang-orang nashoro n yahuud melihat orang-orang isalam saling baku hantam. saling pihak mengangap pihak yang bertentangan yang pertama dibasmi sebelum membasmi nashoro dan yahuud.
    pelanduk kira cukup sekian , apabila ada benarnya itu memang pelanduk yang inginkan. apabila ada yang salah pelanduk menyadari bagemana situasi pelanduk ditengah-tengah gajah yang sedang seru-serunya bertempur.
    paling tidak ini menjadi rehat ato istirahat untuk mempersiapkan pertempuran yang lebih dasyat.[lho …. semoga tidak]
    oelanduk tidak ingin lisan ini menjadi bagian yang pantas untuk dikobarkan api neraka.
    jadi pelanduk minta maaf bila tidak berkenan.
    yang jelas pelanduk lebih menyenangi kebenaran, walau itu pahit untuk diungkapkan. namun pelanduk tidak menyenangi orang yang tidak mengerti n tahu kapan kebenaran itu tepat n pas n benar untuk diungkapkan.

  59. 62 orido 2 April 2007 pukul 10:08 am

    udh berapakali khatam Qur’an?

  60. 63 bayuleo 2 April 2007 pukul 10:57 am

    mending minum lapen …damai….belajar cuman bikin pusing.

  61. 64 tukangkomentar 2 April 2007 pukul 12:03 pm

    Maaf pelanduk,
    membaca komen anda kok saya jadi pingin tanya:
    1. “contoh: betapa lebar ketawa orang-orang nashoro n yahuud melihat orang-orang isalam saling baku hantam.”
    Nggak keliru, nih? Kok, kalau ada apa-apa selalu orang nasrani dan yahudi yang kena tonjokan sampingan? Tahukah anda, nahwa banyak orang-orang tersebut yang prihatin, karena melihat kaum muslim sedang hobi-hobinya tonjook-tonjokan dan bom-boman sendiri? Nggak tahu? Nah, saya beri tahu dengan ini.
    Dasarnya? Gampang kok: kemanusiaan.
    Oh, jadi dalam pengertian anda itu orang nasrani dan yahudi harus dibasmi? Dari mana anda belajar ini? Apakah anda pasti, bahwa tafsiran yang anda kuasai atau anda terima itu betul?
    Kompleks, kan?
    2. a. Berapa banyak (menurut anda) ulama atau kaum terpelajar muslim Onesia yang mengerti dan memahami bahasa Arab (sekali lagi: mengerti dan menguasai = memahami) sehingga mereka memenuhi kriteria tersebut di atas dan bisa menterjemahkan (dan mentafsirkan) Al Qur’an??
    b. Berapa banyak dan siapa cendekiawan muslim Indonesia yang (bodoh atau tidak, berlebihan atau tidak), yang memiliki pemahaman sebegitu tinggi, sehinggan memenuhi kriteria tersebut? Bukankah pemahaman ini mengandung unsur pentafsiran pribadi juga, yang tergantung latar belakan sosial/pendidikan/kejiwaan (dsb) dari yang bersangkutan? Apakah tidak mungkin pemahaman si A dan si B berbeda (biarpun kriteria untuk diijinkannya mereka mentafsirkan sudah dipenuhi). Kalau berbeda bagaimana? Siapa yang benar?
    3. Apa sih kebenaran itu? Siapakah yang menentukan, bahwa pentafsiran atau pemahaman Al Qur’an itu betul atau tidak? Bukankah banyak aliran dalam Islam yang mempunyai pentafsiran yang berbeda-neda? Yang mana yang benar?
    Terima kasih sebelumnya atasa jawaban anda. Dan kalau bisa jangan memberi jawaban berupa kutipan ayat-ayat suci, tetapi yang berdasarkan pemikiran anda sendiri.

  62. 65 Irwan 2 April 2007 pukul 12:41 pm

    Anda mempelajari Alqur’an untuk memahami isinya atau mo cari2 kelemahannya?
    Niatnya yg bener dong.

  63. 66 Pembaca blog biasa 2 April 2007 pukul 12:57 pm

    Nah gini kan enak om dehel, bacanya juga enak, adem, ga pake acara menahan emosi sambil sesekali menahan tawa juga sih, kadang satir-satirnya sekali-kali diganti gituh, ngerti sih cuma bahasanya agak2 (kalo menurut saya) vulgar gituh

  64. 67 dewa 2 April 2007 pukul 1:18 pm

    pelanduk hanyalah pelanduk, dan pelanduk ingin menjadi dirinya sendiri. tak kan hidungnya sepanjang belalai gajah ato telinganya selebar telinga gajah, boro-boro badannya.
    paling tidak pelanduk bermaksud menyampaikan hati nurani, tidak lebih. Apalagi pelanduk tak terbetik untuk menjadi kubu yang berlawanan tiga arah dengan kedua gajah. walo toh sebelah gajah telah roboh, maka pelanduk tetap berada ditempatnya.
    @tukangkomentar
    mungkin ini nurani pelanduk yang terakhir, selesai ato tidak pertempuran ini. pelanduk tidak ingin serta merta mengasah tanduk. harus ada yang keluar dari medan laga. menang ato kalah, damai ato berlanjut.
    jikalau anda memegang kitab pegangan anda dan anda percaya maka point pertama tidak usah dirisaukan karena semua itu sudah tertulis sebagai rangkaian cerita hingga selesainya dunia. mungkin juga termasuk laga ini.[peladuk tidak menyebut pertempuran, namun sebagai tukar nasehat].[apalagi jika anda telah melihat suratan “the davinci code” pelanduk anggap sudah mengerti].
    “Basmi” adalah ungkapan yang menyangatkan dari kata “tunduk”, walau antara salah satu dengan yang laennya tidak berkaitan. Hal ini digunakan semata untu mencari efek perhatian lebih.
    pelanduk berterima kasih telah ada yang teliti.
    Sebenarnya tidak butuh banyak ulama untuk menjadikan sebuah kaum tunduk terhadap sebuah ketetapan.
    Sepengetahuan pelanduk, الله menjanjikan 1 ulama dalam beberapa puluh kurun untuk membuat kehidupan seluruh kaum itu berbarokah. dimana kehidupan didalamnya penuh dengan damai dan jauh dari fitnah.
    maka kaum akan membentangkan sayapnya sebagai wujud hormat akan kepribadian dan keilmuwannya.
    pemahaman yang berlainan niscaya terjadi, karena masing-masing mempunyai karunia akal sendiri-sendiri yang tidak mungkin untuk disamaratakan. namun dari semua pemahaman tersebut harus mengacu kepada pedoman yang satu yang telah dibakukan dalam hal ini harus ada doktrinasi karena inilah pembeda bahwa tuntunan itu dibawa oleh seorang utusan ato dibawa oleh selainnya.[tiruan ato jiplakan ato palsu ato kutipan ato yang sejenisnya].
    Pedoman yang satu itu telah dicontohkan oleh yang berwenang dalam hal ini dan telah dipraktekkan !! [baca:diwujudkan dengan sempurna].
    maka dari pemahaman yang ada bisa dirujuk kembali kepada pedoman tersebut. Dan hanya dengan hati nurani yang jernih dan ilmu yang bersih maka akan dengan mudah mewujudkan hal diatas.
    yang biasanya terdapat pada diri orang-orang yang ihlas lagi hasan.
    yang biasanya tidak terdapat pada diri orang-orang yang gemar bermaksisat lagi penuh sendau gurau.
    Kebenaran hanyalah milik الله dan rosulnya dan orang yang dengan baik didalam mengikutinya.
    [nurani yang terakhir dari pelanduk]

  65. 68 murid kencing berlari 2 April 2007 pukul 2:23 pm

    gue setuju sama ustat dewa. Orang Nasrani, Yahudi, dan Gajah emang harus di-bantai tuh semuanya. Hidup Pelanduk!!

  66. 69 gak bingung lagi 2 April 2007 pukul 2:37 pm

    mantab bang wadehel, tanda org yg masih hidup itu yg masih mikir n selalu menggunakan akalnya =)

    gw pribadi selalu yakin manusia dilahirkan dgn kitab suci yg buit in dihati dan otaknya, jadi dia selalu tau apa yg dia lakukan benar atau salah. Nah, kl ada org nanya kl gitu buat apa ada kitab suci yg dibukukan…yaa itu buat sebagian org yg hati n otaknya udh keruh, atau males digunakan =)
    tapi buat sebagian yg laen….yaa cuman jadi referensi tambahan malah penentu kalau hati n otak kita lagi bimbang….

    lah kalo yg bilang hati n akal itu kan ada batasnya…memang..tapi mana batasnya??? yg jelas..yg selalu mencari batas dari akal kita itu org yg akan selalu maju..n yg selalu bilang tidak akan percaya pada hati n akal…wah…kayaknya bakal main terbelakng…

  67. 70 Mr. Geddoe 2 April 2007 pukul 3:21 pm

    Halah, orang-orang yang rasis, sok eksklusif, brutal, sedikit-sedikit teriak Yahudi, Nasrani, Amerika… Kok kayaknya nggak meresapi ajaran Al-Qur’an, ya :(

  68. 71 daripada 2 April 2007 pukul 4:35 pm

    Kalau menurut saya, menafsirkan Alqur’an itu harus orang yang ahli, pinter, jujur, cerdas, bersih, ngerti sastra Arab dan ilmiah *Sorri ikutan nimbrung, warga baru..*
    Jangankan tulisan Al-Qur’an yang notabene dari Allah langsung, Kitab jawa aja “Honocoroko” yang buatan manusia jawa susahnya minta ampun dipelajari.
    oleh karena itu *&@%#&%(*^& *ups error kayaknya pertanda ga boleh diterusin* garuk2*

  69. 72 tukangkomentar 2 April 2007 pukul 6:24 pm

    Bung Pelanduk (alias mas Dewa),
    memeang saya mengertinya komen anda itu bukan sebagai serangan, tetapi sebagai “urun rembug”, seperti juga komen saya (sering-sering :) ).
    Saya harap anda tidak tersinggung dengan pertanyaan saya di atas, karena memang kata membasmi itu terlalu tajam dan bengis.
    Mengenai buku pegangan, ya itu, buku pegangan saya ya Al Qur’an, ya Injil, ya Vedas dll, tetapi juga “buku kehidupan” (terutama buku kehidupan tiang jawi). Semuanya itu saya usahakan untuk saya temui inti sarinya dan maknanya.
    makin lama saya berusaha memperdalam semuanya, saya makin bingung, kenapa manusia yang sudah dianugerahi oleh Kanjeng Gusti pedoman-pedoman yang indah dan jelas itu kok masih berantem terusss dan saling memusuhi.
    Pedoman saya terutama ialah sanubari saya. Dan saya harapkan, bahwa nurani saya berkembang terus.

    Murid kencing berlari,
    saya maafkan anda (biarpun saya bukan nasrani, yahudi, apalagi gajah! :) )

  70. 73 cakmoki 3 April 2007 pukul 3:21 am

    Perbedaan pendapat (khilafiyah) dalam menafsirkan nash sudah ada sejak dulu. Menurut saya yang diperlukan adalah tarohum (asah,asih, asuh) dalam pembahasan agama. Bisa saja tidak ada kata sepakat dalam menentukan sesuatu ketetapan kendati memakai nash yang sama tersebab perbedaan tafsir atau perbedaan lainnya. Jika ini terjadi, bukan berarti bermusuhan.

    Saya sependapat bahwa Qur’an tidak untuk menyulitkan. Menurut sejarahnya, Qur’an awalnya tidak ber-harokat. Bisa dibayangkan bagaimana rumitnya jika baca gundulan.
    So mari sama-sama belajar dan sedapat mungkin menahan diri dari saling menyesatkan. Bisa kan ? :)

    Btw:
    Mana cukup 7 menit ?

  71. 74 aLe 3 April 2007 pukul 8:53 am

    Suer mesthi dijamin cuapek deh bacanya :P hehe…
    mampir nampang aja teruss.. anak baru g berani koment yg bginian.
    takut di hujat dan di halalkan darahnya ^_^ slm kenal

  72. 75 wandira 3 April 2007 pukul 9:50 am

    “Demi Islam yang damai, yang jadi berkah bagi semesta alam, islam yang menyejukkan bagi semua mahluk.”

    Salut buat Om Wadehel, kritisnya om wadehel yang saya lihat menawarkan ajakan untuk membuat kedamaian.

  73. 76 Nova 3 April 2007 pukul 5:32 pm

    om Wadehel untuk link menuju langsung ke ayat suci Al-Quran, saran saya seperti contoh ini An-Nisaa’ : 1 dan itu lebih enak dibaca dibanding dengan link yang om bikin dengan bahasa Inggris cape deh bacanya

  74. 77 Suluh 3 April 2007 pukul 6:10 pm

    Cuma sempet baca tulisannya… koment2nya belum…

    Sebagai seorang mantan pengagum salafi (4-5 tahun yang lalu, khususnya di jogja yang berafiliasi ke “Abu Nida” bukan “Jakfar Umar Tholib”, bisa dibedakan dengan majalah As Sunah untuk golongan pertama, dan majalah Salafy untuk gololongan yang kedua), saya cukup tergetar dan terperangah juga membaca koment dan postingan dari para penganut “salafiyah”.
    Keras, dan Keras! Mungkin seperti karakternya Umar bin Khottob yang juga Keras!(Ini sejauh pengetahuan sejarah sahabat saya, mohon dikoreksi kalau salah)

    Saya pernah dan sedang bergaul dengan para pemeluk salaf (terutama karena di keluarga saya juga banyak penganut salaf, rujukannya Syeh Bin Baz almarhum, atau Nasirudin Al Albani), dan sejauh pergaulan dan perkenalan saya, jarang yang sekeras para “blogger salaf”. Mungkin karena karakter yang melatarbelakanginya yang masuk ke dalam diri mereka, atau bisa juga karena hal lain.

    Dengan demikian saya mohon, walaupun para blogger salaf cukup keras dalam koment maupun artikel di blog mereka, jangan lalu menyama-ratakan atau menggeneralisir bahwa itu terjadi di dunia nyata atau dunia sehari-hari. Masih banyak pengikut manhaj salaf yang santun dan sopan dalam berdakwah. Seperti terjadi di lingkungan saya contohnya. Mereka santun dan tidak memaksa sejauh yang saya ketahui (9 tahun mengenal dan bergaul dengan mereka). Bahkan tiap jumat ada giliran khutbah dari khotib kalangan salaf. Masjid yang berdiri di dusun saya (Sewan, SEdayu, Muntilan, Magelang) juga merupakan salah satu sumber dana awalnya dari kalangan mereka (36 juta dari 150 juta total)

    Semoga dimengerti…
    Salam Haru dalam Damai

    Haqiqie Suluh

  75. 78 Mr. Geddoe 3 April 2007 pukul 9:56 pm

    Hasil blogwalking, ada referensi cepat tentang dualisme salafi ini. Resensi sih, jadi kalau tertarik beli saja bukunya :P

  76. 79 Andhika Nugraha 3 April 2007 pukul 11:54 pm

    Apakah Islam mengajarkan untuk membantai?

    Apakah Nabi mengajarkan untuk membantai?

  77. 80 Salat SMART 4 April 2007 pukul 4:28 am

    Sering orang-orang berdebat tentang suatu istilah dengan definisi yang berlainan di benak masing-masing. Kalau begini, debat kusirlah jadinya.

    Saya tidak bersangka buruk bahwa perdebatan ini debat kusir belaka. Saya hanya bertanya-tanya, apa yang ada di benak kita masing-masing ketika menyimak istilah “belajar”, “menafsirkan”, “salafi”, dll. Sama persiskah?

  78. 81 WEDhusgEmbHEL 4 April 2007 pukul 8:33 am

    Rasululloh memerintahkan kepada muadz bin jabal untuk berdakwah kepada suatu kaum[min ahlil kitab] “Ajarkanlah kepada mereka لا إاله إلا الله apabila mereka tunduk patuh dan taat, maka ajarkanlah untuk menetapi kewajiban sholat lima waktu [beserta rukun-rukun] dan apabila tunduk patuh dan taat, maka ajarkanlah untuk menunaikan zakat yang diambil dari kelebihan harta mereka kemudian ditunaikan kepada kaum miskin dan yang membutuhkan, kemudian muliakanlah golongan orang-orang yang lemah dari mereka, karena hubungan diantara mereka dengan robbnya tidak berpenghalang.
    metode ini diterapkan sebagai langkah pertama dalam dakwah nabi, maka sebagian dari mereka tunduk patuh dan taat sedang sebagian yang lain tidak.
    proses dakwah memang sungguh panjang.
    lihatlah proses hingga sampai saat seperti terjadi peristiwa khoibar.
    berapa ratus kepala menggelinding dari para penentang, dan ini bukanlah mistake karena nabi pun menyertai disana.
    wallohu al musta’an.

  79. 82 tukangkomentar 4 April 2007 pukul 12:02 pm

    SalatSMART,
    anda betul. Seharusnya kalau kita menyimak kata “belajar” atau “mentafsirkan”. apalagi dalam konteks agama (baca: kitab suci, apapun: Al’Qur’an, Injil dsb.), seharusnya yang ada dalam benak kita hanya: ,menghormati yang Maha Kuasa, damai, saling menghargai.
    Saya kira mas Wadehel mengajak kita untuk berfikir ke arah situ, ia bukan mau mentafsirkan.
    :)

  80. 83 clukindahose 4 April 2007 pukul 6:37 pm

    huss–huss… udah basi kok masih dibahas.. ndeso.. wkakakaka.. peace..

  81. 84 chielicious 5 April 2007 pukul 4:41 pm

    Ketinggalan banget nieh gue ada beginian..

    Hel ..menghindari celaan dari abu2 itu gimana klo nulisnya kek gini aj..klo satire mah ..segelintir orang doank yang ngerti -__-

  82. 85 Mr. Geddoe 5 April 2007 pukul 4:55 pm

    Jangaaan… Pertahankan satirnya, sekali-sekali… o_o

  83. 86 Budi 5 April 2007 pukul 6:29 pm

    whoii.. kok pada pasang foto makhluk hidup siy ?
    HARAM Tuh. Pada ngga dengerin omongan pak uztad ? dasar para calon penghuni neraka !! :p

    Ah, kok kitab suci jadi ruwet begitu ya ? saya malah lebih sreg berdoa dengan bahasa daerah saya, bahasa masa kecil saya. rasanya tuhan begitu dekat. daripada teriak2 pake bahasa yang –belum tentu– saya mengerti maknanya.apakah dengan begitu, saya nanti dikirim ke neraka ?

    ah, itu mungkin tuhan sebagian orang yang berlaku bengis. tuhan saya, adalah tuhan penuh cinta. hanya orang2 bengis yang gemar memuja tuhan yang bengis. meneriakkan nama tuhan diiringi tebasan golok.

    peace.
    berjuang terus, mas dehel.

  84. 87 pramur 6 April 2007 pukul 4:25 pm

    Numpang nimbrung nih Mas…
    Wah,semua yang sudah mau saya komenkan, telah dijadikan komen orang-orang terdahulu.
    .
    Mas, maaf, tapi untuk soal tafsir, saya setuju dengan Abu Aqil. Seperti yang sudah saya bicarakan di komentar sebelum ini (di posting Anda soal pengan***gan klo ga salah), CUPU seperti SAYA TIDAK MUNGKIN MENAFSIRKAN QURAN. Alasannya? Menurut saya, seperti yang sudah dikatakan orang-orang terdahulu, MENAFSIRKAN BERBEDA DENGAN HANYA SEKADAR MEMBACA.
    .
    Mohon untuk dimengerti Mas…
    CMIIW

  85. 88 pramur 6 April 2007 pukul 4:33 pm

    Numpang nimbrung nih Mas… (lagi)
    Kalo bisa, diajak ngomong bareng2 aja, biar cepet selesai persoalan ini dan tidak berlarut-larut. Btw, inget nggak kalo ada temen kita yang berantem, yang laen cuma keplok-keplok sambil berteriak menyemangati “Ayo! Ayo! Ayo!”, sambil keplok-keplok (tepuk tangan) lagi.

    Apa bedanya kita sama anak kecil? CMIIW

  86. 89 Zulkarnaen Arsi 7 April 2007 pukul 2:07 pm

    kalo kita bisa sampai pada satu “titik keseimbangan” bahwa kita bukan apa2 n bukan siapa2, hanya hamba Allah, Allah akan menuntun kita untuk hidup sesuai al-quran dan sunnah.

    jadi hidup islami itu gak sulit n gak njelimet, yang bikin njelimet itu adalah “kaca mata kuda”

  87. 90 sempeite 8 April 2007 pukul 11:31 pm

    cuman mo kasih tahu mas wade nih, link (tautan2) ayat2 Quran dari _http://www.islamawakened.com………. itu udah gak jalan lagi mas. mohon diperbaharui. Yg quran.kawanda….itu masih jalan.
    Thx salam

  88. 91 zal 11 April 2007 pukul 6:05 pm

    Koq semua ngedukung wedehel sih…, aku mo protes aja sama wedehel…, hel ente itu salah, menulisnya terlalu benar.., jadi sulit terbantahkan…, mbok ya gayamu tetap aja…rajaiblis aja ngedukung dengan arif…, jadi susah mendapat tkg protes…he..he

  89. 92 almuhandis 18 April 2007 pukul 10:29 am

    ASS….
    gA SEMPAT SELesain baca commentnya terlalu banyak. tapi Insya Allah. Tulisannya udah…

    Good2….
    Sekarang saya ajak teman2 yang masuk di blog ini.. untuk berkahayal.. Bang/kang Wadehel.. ga usah ya…
    “bayangin kalo mas wadehel adalah sosok mausia yang berada di garis terdepan sebagai orang2 yang memperjuangkan Islam…” betapa dahsyatnya dunia maya….
    Ya caranya.. manut aja.. sama comentnya mba Evy.. terus Comentnya RAJA IBLIS.. (Ini yang paling berkualitas).. terus komennya Abdulsomad…
    ;-)
    Insya Allah. saya yakin Mas Wadehel sudah coba caranya mas RAJAIBLIS… Kalo belum dicoba.. coba dulu.. begitu juga dengan saya.. karena terang saya masing amat sangat banyak kekurangannya….

    Tulisan yang bagus.. Chayo…

  90. 93 rajaiblis 18 April 2007 pukul 12:02 pm

    jadilah bintang …
    minimal buat diri sendiri sehingga mampu memberi sinar meski tak banyak!

    cuma memang …
    bintang ma bin*tang hanya beda satu karakter …

    wakkakakkaaaa …

  91. 94 ari 22 April 2007 pukul 11:08 am

    ya kita memang orang yang lagi berada di gua.. bisa melihat mereka, tapi mereka tidak bisa melihat kita.

  92. 95 zal 24 April 2007 pukul 6:13 pm

    Hel, aku rasa tulisan ini bagus, kalau berkenan dibuat versi 2nya, paling tidak dapat mempertemukan api dan kayu bakar yang sebenarnya menyimpan api, sehingga dengan api akan ada cahaya…, kalau kepanjangan begini mungkin kawan-kawan yang bertamu menjadi bosan menscrollnya….sorry bukan nyuruh…

  93. 96 kurtzain 30 April 2007 pukul 4:16 pm

    mas wadehel, kalau dalam dunia seni grafis anda itu sebagai animator. Seorang animator bisa merubah gambar begitu indah dan enak dilihat. Islam dianimasi itu tidak akan membosankan. Jika teks faktual diaktualkan oleh para animator, jadinya sangan dinamis,optimis, praktis, sedikit berkumis… beda jauh dengan di tangan para copipaster…

    mengenai “kajian animasi” aduuh seneng banget kalau ada… apalagi di sini banyak ahli berseliweran dengan tulisannya… jika dikombor-komborin atau didahel-dahel atau diantobilang-bilang dipermanis dengan se-evi-evianya wah kontan deh bakalan rame.

    wis lah kesuewan.. jeh

  94. 97 jisascoli 2 Mei 2007 pukul 10:28 am

    Menurut ane sing penting, masih bisa makan, bisa coli, tidur tenang. Ngapain ribut. Toh baca ato ga baca, tetap aje Quran slalu lestari. Wong kita juga ga rugi kalo ga baca. Emang dengan baca ato tafsirin Quran, bisa jamin kalo tiba-tiba kejatuhan duit sekarung? mending Qurannya juga disimpen di almari ajeh. gitu aja kok reput. sinting deh..

  95. 98 jisascoli 2 Mei 2007 pukul 10:32 am

    Oh iya, nambah dikit om Dehel. wah ane s-lapan tuh. Orang2 s-nting yg sok paham tafsir tuw dilempar *ai ajeh. Ga pantes idup dibumi. seharusnya yg pantes idup di bumi ini ya kita2 yg paham bahwa semua agama milik Allah. smua agama tu sama. ga ada yg beda. islam kek, kristen kek, n kek2 yg lain, intinya nyari psk disorga. jadi ya nape juga ribet2 mikirin tafsir koran. ya ga? ya ga?

  96. 99 kudilihat_Dia 2 Mei 2007 pukul 11:24 am

    Assalamu’alaikum wR wB

    Subhanallah, saudaraku… mbok kalo beri komentar sing bener. Ingat saudaraku, apa yang dikau tulis itu telah tercatat jelas, di kitab yg ditulis oleh atid. Ingat saudaraku semoga Allah mengampunimu. Jangan hanya karena segelintir orang berijtihad keras, lantas dirimu menghardik seluruh orang yg berusaha berdiri dan berjalan lurus tertatih. Ingat saudaraku. Allah lebih menyukai hamba pendosa yg mengakui kekhilafan dirinya dan bertaubat segera, ketimbang hamba yg gengsi untuk mengakui kesalahannya. Semoga Allah SWT senantiasa membuka pintu taubat-Nya pada kita semua. Amin ya Robbal Alamin

  97. 100 kudilihat_Dia 2 Mei 2007 pukul 11:28 am

    astaghfirullah…!!! saya sadar ternyata nama saudara di atas menghina nabi Isa!! Jisascoli, setelah saya tela’ah perlahan, saudara baru sadar. Bertaubat saudaraku..!! taubat!!. Sebagai bahan penjelas buat saudara yg lain ini klarifikasi saya buat saudara jisascoli.

    menurut penela’ahan saya. jisas, adalah pelafalan dari kata “jesus” yg sedikit dipelintir. sedang coli, yg saya tahu adalah.. maaf. “onani” dalam bahasa gaul betawi.

    istighfar sobat istighfar…

    trim’s

  98. 101 Ricky Setiawan 3 Mei 2007 pukul 5:29 pm

    Ahhh benar2 posting yang sangat bagus. Keren. Saya pasti akan sering mengunjungi blog ini (baru pertama dateng ke sini :D). Salam kenal.

  99. 102 yonno 4 Mei 2007 pukul 3:18 pm

    Islam itu mudah, tidak mempersulit. Yang paling tahu tentang agama islam itu Rasullullah, Sedangkan nabi Muhammad telah menjelaskan semuanya kepada para sahabatnya tidak ada yang tertinggal sedikit pun, baik masalah aqidah sampai masalah ke wc. Agar tidak berubah ajaran islam ini kita kembali kepada pemahaman para sahabat dan tiga generasi sesudahnya, Insya Allah islam itu menjadi mudah. Karena yang akan dinilai oleh Allah itu yang paling baik amalnya (sesuai ajaran Nabi yang telah disampaikan kepada sahabat )bukan yang paling banyak amalnya lihat Qs al mulk:2. Insya Allah islam itu menjadi mudah.

  100. 103 zal 4 Mei 2007 pukul 5:43 pm

    Mas Yonno, wah syukurlah ada juga yang sudah mendapat pencerahan, tolong donk, bocorannya, bagaimana menurut Allah bentuk amal yang paling baik, kan enak kalau sudah jelas yang Allah suka dari perbuatan kita, dan bentuknyapun jelas, wuiii sedap…, tolong dishare ya…

  101. 104 yonno 5 Mei 2007 pukul 9:13 am

    Islam ini dibangun dengan dua yaitu Qur’an dan Sunnah, yg paling baik amalnya yaitu harus sesuai dengan Qur’an dan Sunnah. ( Harus ditekan kan dulu yang dimaksud Sunnah disini bukan dikerjakan mendapatkan pahala ditinggalkan tidak apa apa tapi Sunnah disini adalah syariat/hukum Allah yang penjelasannya tidak terdapat dalam Al-Qur’an akan tetapi melalui Rasullullah atau sabda Rasulullah contohnya seperti tatacara sholat) Jadi Qur’an dan Sunnah itu wahyu,walaupun sunnah berasal dari sabda Rasulullah tapi hakikatnya adalah dari Allah jadinya Rasulullah itu ma’sum bersih dari dosa kalau bersalah pasti ditegur oleh Allah langsung.

    Banyak yang mengaku sesuai dengan Qur’an dan Sunnah, Qur’an dan sunnah menurut pemahaman siapa ? Dijelaskan dalam Al-qur’an :100 orang yang selamat itu orang yang pertama masuk islam yaitu kaum muhajirin dan anshar, disini dijelaskan kaum muhajirin dan anshar itu tidak lain yaitu sahabat ra, lalu orang orang yang mengikuti mereka dengan benar. Jadi Allah memberikan jaminan surga kepada para sahabat dan orang orang yang mengikuti mereka dengan benar sampai hari kiamat.
    Jadi kita memahami Qur’an dan sunnah itu harus sesuai dengan pemahaman para sahabat.

    Kita harus mengambil hikmah pada kesesatan kaum Yahudi dan Nasrani, mengapa mereka sesat ? padahal Allah telah memuliakan mereka sebelumnya. Yahudi bisa sesat karena mereka tahu ilmu tapi mereka tidak mau mengamalkannya dalam arti menyembunyikan ayat, sedangkan nasrani sesat karena mereka memahami kitabnya dengan akal pikiran mereka, akhirnya jatuh pada merubah ayat ayat karena tidak lagi sesuai dengan zaman sekarang.

    Amal yang paling baik adalah amal yang dilakukan sesuai dengan Qur’an dan Sunnah sesuai dengan pemahaman para sahabat.
    Jadi Islam itu mudah tidak mempersulit,kita tidak usah susah susah mentakwil ayat oleh pikiran kita itu namanya mempersulit. Walaupun kita disebut copy paste tapi kita copy pastenya kepada Rasulullah kepada sumber aslinya.

    Mudah mudahan bermanfaat buat saya dan semuanya khususnya buat mas zal, maafkan bila ada kata kata yang salah.

  102. 105 mibu shinobi 6 Juni 2007 pukul 6:32 am

    hehehe shinobi salut dengan tulisan ente. ente benar2x nulis dengan ekspresi!!!!

    ane tidak bisa bicara banyak. ane hanya geleng2x kepala n stressing karena ane pegal2x baca ini lantaran malam hari ampe ngantuk hehehe

    keep spirit!!!!

  103. 106 Putih 15 Juni 2007 pukul 11:02 pm

    Wadehel said:
    “Bisa-bisa Anda keburu mampus sebelum sempat mengetahui dan mengamalkan petunjuk-petunjuk yang ada di Qur’an.”

    Apalagi belajar dan tafsirin sendiri dengan pemahaman sendiri, mau selesai kapan? Masalah shalat saja, silakan dech ditelusuri sendiri dan ditafsirkan sendiri. Sudah banyak tuh yang seperti itu, hasilnya ada yang bilang shalat 3 waktu, ada yang bilang 5 waktu, bahkan ada yang bilang 6 waktu.

    Mau jadi apa umat ini. Kalau engga tau, tanya dong sama yang tau. Gitu aja repot. Kalau setiap orang, mulai dari petani, pemulung, pedagang, sampai orang kaya, harus nafsirin sendiri berdasarkan pemahaman sendiri, weleh weleh…

  104. 107 HolySpirit 13 Juli 2007 pukul 9:13 am

    Yup, aku setuju banget kalo belajar quran emang nggak sulit.
    Tapi ada banyak yang harus kepertanyakan nih?
    – Dengan fakta bahwa Indonesia adalah mayoritas muslim, kan orang islam harus pake quran? ya kan? kalo ada orang islam ga pake quran, apakah disebut orang islam?
    – Quran pasti ngajarin benar, apakah pernah Allah ngajarin salah/buruk?
    – Seharusnya Indonesia yang mayoritas muslim jadi baik dong, kan pake quran.
    – Faktanya, Indonesia sekarang gimana, baik or buruk?
    – Ayo jangan naif, buka mata, buka telinga, sadar nggak sih kita?? Jangan Mabok!!
    – Berarti gimana nih, apakah benar kita udah ber-quran? apakah benar mayoritas muslim indonesia udah pake quran?
    – Kalo belum, setuju nggak kalo TERNYATA : MAYORITAS RAKYAT INDONESIA BUKANLAH MUSLIM??

    Salam kepada temen-temen yang udah pake quran…
    04020103

  105. 108 alfiqri 29 Agustus 2007 pukul 1:39 pm

    assalamualaikum wr wb.
    wadehel pemikiran kalian sungguh dah menyimpang dari yang di ajarkan Allah swt.tutur sapa kalian kata-kata kalian begitu kasar dan tak jarang di bubuhi kata yang kotor.apakah pikiran kalian sekotor kata-kata kalian sendiri,sehingga kalian tetap keras kepala dan tetap menyimpang dari sunnah tullah.kami beri peringatan atau tidak kami beri peringatan sama saja bagi kamu.

  106. 109 blueberry 11 Desember 2007 pukul 7:21 pm

    [quote]Abu Aqil Al-Atsy
    [i]”Mas, anda salah !!! bukan belajar quran yang harus memenuhi persyaratan, tapi menafsirkan alquran yang harus memenuhi persyaratan. Terlalu tendensius tu..!! Bisa bedain gak mana belajar mana yang dimaksud dengan menafsirkan ?”[/][/quote]

    hahaha… pak abu ini seperti orang yang ga pernah baca quran aja, Allah aja dah bilang secara jelas bahwa quran itu untuk DIBACA, dan BUKAN untuk ditafsirkan.

    Tuhan tuh ga pernah nyuruh kita nafsirin quran, coba cari sendiri ayatnya ada gak yg nyuruh kita nafsirin??

    ngelaksanain perintah aja kok susah, [b]disuruh baca malah nafsir[/b], haduh haduuuh……

  107. 110 anama 6 Juli 2008 pukul 6:00 pm

    saya setuju sekali dengan wadehel!!!belajar bahasa arab juga susah..dimana ya tempatnya???

  108. 111 Abu Iqbal 16 Agustus 2008 pukul 8:59 pm

    Assalamu alaikum warahmatullahi wabarakatuh

    Mas, Abu Aqil Al-Atsy.
    Tidak usah menanggapi kata2 yang ada di blog ini mas, banyak mudharatnya. Mereka2 yang ini hanya bisa bicara tanpa ilmu yang benar. Dari kata2 mereka sudah terlihat bahwa mereka hanya mengandalkan akal & nafsu mereka. Saya sarankan pada mas wadehel, mengajilah pada ustazd yang punya ilmu, banyak ustad di negeri ini yang paham masalah2 Hadist, tafsir quran, atau fiqih.Itu juga kalo anda mau belajar ilmu tanpa mengedepankan hawa nafsu.

    Saya setuju sama mas Alfiqri.

    Saya katakan Kalau wedehel & temen2nya ga menerima bahwa kalau mau menjadi muffasir banyak syaratnya mungkin mereka sudah terbiasa menafsirkan Alqur’an menurut selera mereka sendiri, Jadi tidak aneh kalo bahasa dan pemahaman mereka sangat jauh dari apa yang dicontohkan oleh Rasulullah sholallahu alahi wassalam, para sahabat dan generasi pengikut mereka.

    Jangankan wedehel dan temen2nya ini, banyak tokoh2 kesesatan yang menafsirkan Qur’an menurut ra’yu & nafsu mereka. Sehingga agama ini dikerjakan menurut selera masing2, naudzubillah. Semoga kita dijauhkan dari hal demikian.

    Lihat saja judul blok di atas “semua hal di semesta ini bisa benar tergantung dari mana si pengamat melihat” betapa jauh nya dari aqidah islam yang shohih. padahal kebenaran adalah apa yang di firmankan Allah dan di sabdakan RasulNya. sedangkan manusia bisa salah bisa bener.

    “semua hal di semesta ini bisa benar tergantung dari mana si pengamat melihat” Apakah anda berarti membenarkan orang2 nasrani yang menganggap Nabi isa anak Allah? karena mereka menganggap ini kebenaran dari pengamatan mereka.
    Apakah orang2 kafir juga dalam kebenaran karena mereka menganggap mereka benar?
    Apakah anda membenarkan orang2 yang tidak beragama?
    Apakah anda juga membenarkan paham orang2 komunis?

    Jadi kebenaran bukan menurut anggapan manusia (termasuk kata2 mas wedehel & temen2) belum tentu kebenaran.

    Buat mas2 yang mau menimba ilmu saya sarankan tinggalkan bloq2 tanpa ilmu seperti ini, yang jumlahnya sangat banyak di internet.

    Kalo mau belajar datang ke majelis ta’lim dengan ustasd yang keilmuan & amalannya shohih.

    Salah satu website yang insya Allah bermanfaat :
    http://www.radiorodja.com/

    Wassalamu alaikum warahmatullahi wabarakatuh

  109. 112 rifki 26 Januari 2009 pukul 10:50 am

    klo masalah penafsiran mang butuh banyak hal kayak gitu,,
    penafsiran yang kayak gini mang disebarkan,
    tapi kita mau memahami alquran sendiri dengan kemampuan kita yang cuma segini ja ya g pa2,g da yang melarang, tapi kita musti mencari penafsiran dari orang yang ahli dibidang agama,,
    kayak gini ja,
    klo kita baca hasil foto RONTGEN adri rumah sakit kan boleh2 ja,
    tapi g tau bener g,
    nah hasil membaca foto itu jangan disebar luaskan kan g tau bener g,
    nah untuk biar lebih benernya kita minta bantuan dokter yang bisa membaca itu,
    baru disebarluaskan boleh,kan dah dijamin bener,walapun dokter juga manusia yang bisa salah,tapi paling g dia punya ilmunya,
    alquran diturunkan buat mempermudah,
    alquran petunjuk hidup,
    yang penting belajar trus,,

  110. 113 abu ismail 5 Maret 2009 pukul 5:45 pm

    menafsirkan Al-qur’an memang butuh ilmu khusus, aduhai seandainya tidak perlu ilmu khusus, tentulah semua orang akan sejajar dengan ulama’ahli quro'(qiro’ah sab’ah), Orang arab saja harus belajar ilmu bahsa nahwu & shorof apalagi sampean yang gak tau babar blas bahasa arab.Bahasa alqur’an itu bahasa arabnya kaum quraisy, bukan bahasa arab keseharian yang sekarang. Yang ada di tangan kita adalah terjemahan Al-Qur”an ( terbitan Depag ) bukan Tafshir.Kalau mau melihat contoh tafshir coba buka tafshir ibnu katsir. Sebagai contoh kata arrojim dlm lafadz auudzubillahi minasysyaithoonirrojiim banyak yang menerjemahkan yang terkutuk, padahal arrojim adalah yang dilempar sebagaimana dalam almulk ayat 5 rujuumalisysysayathiin sebagaimana kalau ada orang zina muhshon akan di rajam. Harus tau ilmu shorofnya arrojim-rujuum-rojam.
    “bertanyalah kepada ahlidzikr( ulama ) jika kamu tidak mengetahui”Annahl:43 & Al anbiya:7

  111. 114 sederhana 29 Juli 2009 pukul 3:21 pm

    kiraiin org pinter…hehe ternyata ada kelainan…ya maklum ahhh

  112. 115 belajar quran 5 Januari 2010 pukul 5:55 pm

    Semua pasti ada ilmunya… wong bikin sambel aja harus punya ilmunya. Tapi tidak semua orang harus atau mampu menguasai semua hal teknis. karena itulah tugas para ulama harusnya mempermudah ummat ini untuk dapat memahami al Quran dengan mudah dan benar.

  113. 116 Jabon 19 Juli 2010 pukul 4:32 pm

    saya suka mengaji dulu swaktu saya di kampung saya sering ngaji sama temen temen … namun sekarang udah jarang tapi tetep al quran di baca terus :-)

  114. 117 Jabon 19 Juli 2010 pukul 4:34 pm

    oh ya aku harap blog ini semakin di tingkatkan lagi … sangat bermanfaat

  115. 118 Jabon 20 Juli 2010 pukul 10:43 am

    @manusia super

    saya setuju dengan anda ats komentar anda sbb

    Kenapaaa keduluan dia terruuussss..???

    *ngubur mr. geddoe hidup-hidup*

    Mantabb hell!!!

    Kereeen…

    Cewe saya juga bilang dirimu keren..!

    Saya juga kerenn..!!

    Pokoknya puwas dah baca posting kali ini…

    Semoga bisa difahami dengan hati, bukan emosi…

  116. 119 jabon 21 Agustus 2010 pukul 2:27 pm

    by jabon

    kang wedehel kapan ni posting baru lagi


  1. 1 eh,serius ini blog gue. :: megang mana ? :: March :: 2007 Lacak balik pada 1 April 2007 pukul 2:09 am
  2. 2 Satu | dari album dewa « Who am I Lacak balik pada 2 April 2007 pukul 11:23 am
  3. 3 Saya, Kita dan Keresahan Itu « All That I Can’t Leave Behind Lacak balik pada 2 April 2007 pukul 4:51 pm
  4. 4 .: Thoughts :. » Anda bingung karena dibid’ahkan? Lacak balik pada 5 April 2007 pukul 2:25 pm
  5. 5 Tanggapan untuk Pak/Mas Herianto (tentang Wadehel) « sora-kun.weblog() Lacak balik pada 31 Mei 2007 pukul 9:22 pm
  6. 6 Manusia dan akalnya « Catatan Harian Soe Genk Gie Lacak balik pada 4 Juni 2007 pukul 8:51 am
  7. 7 Yang Menghambat Kemajuan Umat Islam! « Parking Area Lacak balik pada 6 Juni 2007 pukul 9:38 pm
  8. 8 Faktor Penghambat ISLAM Maju « Adefahrun’s Weblog Lacak balik pada 7 Agustus 2007 pukul 10:47 pm
  9. 9 Saya, Kita dan Keresahan Itu « A Sort of Homecoming Lacak balik pada 17 Februari 2010 pukul 4:02 pm
  10. 10 Belajar Qur’an Kok Dipersulit « frimitzon Lacak balik pada 2 Desember 2011 pukul 4:42 pm

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




JANGAAAN !!!

Jangan membaca isi blog ini, sebelum memahami semua woro-woro di halaman PERINGATAN.
Unek-uneg, pertanyaan atau komentar yang TIDAK berhubungan dengan posting, silahkan anda sampaikan di Ruang Tamu.
Boleh juga memasukkan kritik dan saran ke dalam kotaknya.
Posting yang tidak pada tempatnya, terlalu OOT atau terlalu kotor, kemungkinan besar akan saya serahkan pada akismet.
Satu lagi, tak perlu kuatir kalau komen anda tak langsung muncul, kadang akismet suka terlalu curiga, saya akan lepaskan begitu saya online :) Terimakasih

Cap Halal

RSS Sumber Inspirasi

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

Kampanye

Petisi Mendukung Pembubaran IPDN

Aku Nggak Korupsi

Kulkas

free hit counter



%d blogger menyukai ini: