Cara Menjauhkan Umat dari Kitab

Bagi beberapa dari anda, hari jumat tanpa ayat mungkin rasanya kurang nikmat. Sayangnya Jumat ini saya juga tidak membahas ayat. Tapi justru bagaimana cara menjauhkan umat dari ayat, dari kitab, menjauhkan mereka dari pesan-pesan Allah yang tertulis didalamnya..

Meski anda sudah benar-benar muak dengan agama, tak ada salahnya terus membaca, siapa tahu setelah ini anda jadi tertarik membuka kitab suci, dan suatu hari nanti akhirnya berkata “waah, ternyata ajaran agama tidak sebusuk itu toh!! Jadi yang orang-orang praktekan itu ajaran sesat siapa ya?!?”

Atau, jika anda adalah ulama yang suka membodohi dan menakut-nakuti umat, yang suka memecah belah umat dengan menebar kebencian, yang suka membagikan cap kafir atau malah cap halal atas darah musuh-musuh anda, nanti setelah membaca jangan lupa memberi masukan ya, saya yakin anda masih punya banyak trik yang bisa ditambahkan ;)

Berikut ini cara-caranya…

  1. Sakralkan ayat-ayat dalam bentuk tulisan Arab
    Semua ayat HARUS dibaca, dipelajari dan dipahami dalam bahasa Arab. Tanamkan keyakinan bahwa bahasa arab itu adalah bahasa terbaik, terhebat, terwahwah. Kalau perlu, tanamkan juga keyakinan bahwa para malaikat, bahkan Allah sendiri hanya mampu mengerti bahasa Arab. Semua bahasa selain arab hanyalah bahasa hina, dan kitab tidak pantas dituliskan atau dipelajari melalui bahasa lain. Yakinkan umat bahwa untuk memahami kitab, harus belajar bahasa Arab dulu.
    Tujuan:
    Selain untuk mempersulit agar tidak sembarang orang bisa mempelajari, juga memudahkan umat untuk MENGKULTUSKAN orang-orang yang faham dan fasih menyanyikan tulisan arab dalam dakwahnya. Arabisasi? Komersialisasi? Kenapa tidak.
  2. Sibukkan umat dengan berbagai kontes menyanyikan ayat
    Usahakan agar umat lebih tertarik dengan bagaimana menyanyikannya dengan merdu, atau kalau tidak bisa merdu yang penting keras. Yang penting bagaimana menyanyikan atau meneriakkannya.
    Tujuan:
    Membuat umat lebih sibuk MENYANYIKAN AYAT, lebih memperhatikan kemerduan dan cengkok-cengkoknya. Bukan bagaimana memahami esensi pesannya, bukan bagaimana mengamalkannya.
  3. Terapkan prosedur super rumit untuk menyentuhnya
    Harus menciumnya dulu, harus bersuci dulu, harus melakukan senam aneh dulu, harus bebas dari datang bulan, atau apalah. Yang penting harus rumit. Tanamkan rasa sangat berdosa dan keyakinan akan masuk neraka bila membacanya tanpa sesuai prosedur yang anda buat-buat.
    Tujuan:
    Membuat orang yang terbatas waktunya jadi MALAS BELAJAR. Karena tak mengerti dan atau tidak tertarik pada tetek bengek tata cara menyentuh tulisan arab. Juga membuat perempuan malas mempelajarinya, hingga akhirnya tak pernah dapat apa pesannya. Ini perlu, karena perempuan yang mengerti akan sangat berbahaya dan sulit dibodohi. Mereka juga akan melahirkan anak-anak pintar dan sulit dikendalikan oleh para calo surga.
  4. Terapkan tatacara ribet untuk membacanya
    Panjang pendeknya, tinggi rendahnya, titik koma dan segala tetek bengek menyanyikan ayat harus sempurna dulu sebelum mulai mempelajari artinya. Salah sedikit saja, kutuki mereka dengan neraka.
    Tujuan:
    Mencegah umat dari memahami apa pesan dari ayat-ayat itu. Daripada harus repot melalui prosedur yang aneh, mereka akan lebih memilih TAFSIR INSTAN, tahu beres, hasil pelintiran penafsiran para juru tafsir yang maha benar, tanpa pernah ingin memeriksanya sendiri. Pokoknya “aku dengar dan aku taat seperti zombi.”
  5. Tanamkan keyakinan bahwa mengerti kitab itu sulit luar biasa
    Hanya para ulama yang berhak mencoba memahami artinya. Yakinkan umat bahwa orang biasa selain ulama tidak mungkin bisa mengerti. Mereka hanya boleh nurut pada tafsir para ulama. Ancam dengan neraka dan azab pedih dari Allah.
    Tujuan:
    Membuat umat TAKUT dosa bila lancang melangkahi ulama dan mempelajarinya sendiri. Umat akan memilih menyerahkan tanggung jawab pada para juru pelintir. Umat jadi malas berpikir, tidak kritis dan hanya bisa membebek buta pada para penafsir. Tapi semakin bodoh semakin baik, karena lebih mudah dikendalikan.
  6. Potong-potong ayat sedemikian rupa
    Lalu ekspos hanya potongan yang sulit dimengerti atau kontekstual. Terutama bagian yang mengesankan kebiadaban, terror dan kekerasan.
    Tujuan:
    Selain supaya mudah dijadikan pembenaran dalam setiap aksi pembodohan, kekerasan dan pengerusakan. Hal ini juga membuat kitab suci tampak seperti KITAB NAJIS berisi ajaran sesat teroris barbar yang penuh dengan ajaran pecah belah, kebencian, kekerasan dan kebiadaban. Tuhan yang mewahyukannya juga jadi tampak seperti psikopat tukang siksa yang doyan mengazabi siapa saja yang berani melawan ulama. Kebanyakan umat normal jadi tidak tertarik mempelajari, sudah ill feel duluan. Dan para juru pelintir pun bisa lebih leluasa mengarang tafsir.
  7. Silahkan menambahkan…

Semua cara itu akhirnya akan menjauhkan umat dari kitab. Umat tak akan pernah tahu apa pesan yang sebenarnya. Apalagi mengamalkannya. Yang mereka amalkan sebenarnya tak lebih dari perintah para gembala juru pelintir. Pantas saja banyak orang yang katanya beragama, tapi bukannya lebih lembut dan damai, malah lebih beringas, brutal, penuh kebencian, rusuh dan penuh semangat membunuh.

Sekian. Bila ingin menambahkan atau berbagi pikiran, silahkan.

112 Responses to “Cara Menjauhkan Umat dari Kitab”


  1. 1 Putri Khadijah 23 Maret 2007 pukul 6:45 am

    Hehehehe…absen om:D
    Wah…Putri jadi yg pertama nih.
    Om wadehel lagi2 membuat sensasi dengan tulisan yang hanya bisa dicerna oleh orang2 yang cerdas dan berhati bersih;)
    Nambahinnya ntar aja deh kalo dah pada ramai, sembari cari inspirasi dulu. Keep on om ama ‘dakwah’ nya;)

  2. 2 peyek 23 Maret 2007 pukul 7:19 am

    he…he….he….
    pesannya mengena, mempelajari ayat dan kitab suci jadi semakin menyenangkan dan penuh tantangan, om dehel cara anda menyemangati untuk belajar kitab suci sangat mengesankan.

    Jadi semakin mengerti kenapa aku terbuai dengan calo surga, ulama dan pemelintir ayat dengan sangat sadar.

  3. 3 rajaiblis 23 Maret 2007 pukul 7:54 am

    loh … koq disuruh menjauh … ?
    lhaaa … ya ndak bisa tho …
    wong kitab itu sudah menjadi tuhan mereka …

    setiap habis sholat …
    mereka wajib “melantunkan” bacaan kitab semerdu mungkin bahkan bila perlu hingga kering air mata !
    dan itu bisa menghabiskan 1 hingga 2 jam ..

    mo makan … ? cari duit … ? gak perlu … !
    tuhan mereka akan “melayani” kebutuhan mereka …
    karena tuhan mereka tahu persis akan kebutuhan mereka …
    jadi … gak perlu ngoyo dan repot2 … !

    wakkkakakaaaa …

  4. 4 Andhika Nugraha 23 Maret 2007 pukul 8:58 am

    Sebuah bentuk kritikan atas apa yang orang lakukan dengan kitab suci, atau…?

    Nomor 6 mengingatkan saya pada sebuah kampanye yang menyatakan bahwa ada agama yang mengajarkan terorisme.

  5. 5 Mr. Geddoe 23 Maret 2007 pukul 10:17 am

    Wah, poin kelima ini yang saya paling suka satirnya.
    Setiap kali ada yang menafsirkan kitab suci dengan ide yang berbeda, pasti dihalalkan darahnya… ^^ v

  6. 6 erander 23 Maret 2007 pukul 10:19 am

    Gaya bahasa sinisme :) boleh juga .. Jadi kalau umat sudah jauh kitab, kira2 apa yang mas Teguh harapkan. Apakah justru dunia akan lebih damai? atau .. tau ah gelap.

  7. 7 dewo 23 Maret 2007 pukul 10:32 am

    Hahaha…

    *** Tertawa terbahak-bahak sambil guling-guling multiorgasme ***
    (Nyontek istilahnya Wadehel)

  8. 8 kw 23 Maret 2007 pukul 10:33 am

    7. tunjuk hanya satu lembaga “resmi” yang berhak menecetak dan mendistribusikan kitab suci yang halal. tujuannya agar menjual dengan harga tinggi sehingga hanya umat yang berdaya beli tinggi yang punya akses untuk memiliki kitab.

    8. ….

  9. 9 Mr. Geddoe 23 Maret 2007 pukul 10:40 am

    Intinya sih yang menakutkan itu pengeksklusifan kitab suci. Kitab suci yang sepatutnya terus-menerus dikaji, hanya dibaca-baca dan dicocokkan interpretasi kelompok tertentu.

  10. 10 deckie 23 Maret 2007 pukul 10:43 am

    Salam indonesia,
    rajaiblis: bacalah dan cerna maksudnya om dehel .. hehehe..saya yakin maksudnya bukan itu :)
    info!
    aku baca di majalah hidayatullah, anak usia 6 tahun sudah menjadi penghafal al-quran, wow .. jadi makin semangat untuk lebih belajar :)
    masa kalah ama anak kecil?
    om dehel : jadi berkunjung?

  11. 11 pedhet 23 Maret 2007 pukul 11:03 am

    jujur, saya salut ama om “wadehel”. percis bisa menggambarkan apa yang ada dalam hati nurani saya selama ini. percis sperti kang “Kayon” yang pernah saya temui di salah satu milist di yahoogroups. Keep posting and salam kenal.

  12. 12 helgeduelbek 23 Maret 2007 pukul 11:13 am

    bikin tutorialnya sekalian dengan gambar atau screen shootnya dong.
    tujuannya: biar mantab saja sih

  13. 13 venus 23 Maret 2007 pukul 11:20 am

    wah, keren iniiiii… asli, keren ! wadehel banget, hehehe…

  14. 14 Hedi 23 Maret 2007 pukul 11:40 am

    Kalo gitu saya mau menjauh dari kitab suci ah, jadi postingan om berhasil hehehe

  15. 15 joesatch 23 Maret 2007 pukul 1:43 pm

    mas, bakal ada tulisan tentang anda lagi lho…
    siap2 saja.
    kali ini mungkin berupa fatwa bahwa darah anda itu halal dan sangat berkhasiat :D

  16. 16 Death Berry 23 Maret 2007 pukul 2:02 pm

    Usahakan agar umat lebih tertarik dengan bagaimana menyanyikannya dengan merdu, atau kalau tidak bisa merdu yang penting keras. Yang penting bagaimana menyanyikan atau meneriakkannya.

    Waktu itu wadehel menyarankan bahwasannya jangan menyembah Tuhan yang tuli. Agar tidak ada agama yang berisik.

    Nah…

  17. 17 Mr. Geddoe 23 Maret 2007 pukul 2:05 pm

    *duduk tenang menunggu yang bawa ‘fatwa’*

  18. 18 manusiasuper 23 Maret 2007 pukul 2:27 pm

    *gulung-gulung lengan baju – siap-siap berantem mempertahankan fatwa*

    Ada ga seh Rasul menyuruh umat mengadakan musabaqah tilawatil Ayat?

  19. 19 Death Berry 23 Maret 2007 pukul 2:39 pm

    *Menunggu orang berantem untuk mempertahankan fatwa*

  20. 20 rajaiblis 23 Maret 2007 pukul 2:43 pm

    @deckie
    sepertinya eNTE yg perlu memahami makna dari komentar aNE …

    wakakakakkaaa …

  21. 21 rajaiblis 23 Maret 2007 pukul 2:53 pm

    @deckie
    iblis menantang eNTE …
    juga buat semua yg MERASA TERTANTANG …

    silahkan sampaikan satu ayat …
    bahkan bila perlu seluruh isi kitab yg biasa eNTE baca !
    dan … apabila ayat tersebut dibacakan …
    maka semua kehendak terlaksana …
    termasuk untuk mengusir keberadaan iblis !

    DAN …
    jangan lupa …
    bacalah juga dengan penuh perasaan …
    bahkan bila perlu sambil terisak dan sesegukan …
    hingga kering air mata !
    atau bahkan berteriak sekalipun …
    hingga putus pita suara …

    DAN …
    jangan lupa sertakan pula …
    sholat eNTE yg khusuk … infaq eNTE yg berlipat … sujud malam eNTE yg sempurna … puasa eNTE yg paling afdol … serta haji eNTE yg mabrur …

    DAN …
    kumpulkanlah 40 orang yg seperti itu …
    bahkan bila perlu 400 … 4000 … 400 juta penduduk indonesia …
    atau bila perlu … ajaklah sekian milyar penduduk dunia …
    untuk bersama-sama anda melakukannya !

    DAN …
    bila eNTE tak juga mampu …
    maka aNE berani sampaikan kepada eNTE …
    saat ini juga eNTE tak akan pernah bisa menggerakkan seluruh anggota tubuh eNTE … hingga ajal menyambangi eNTE …

    adakadbra …

    wakakkakakkaa …

  22. 22 mbah keman 23 Maret 2007 pukul 2:56 pm

    benar mas teguh, selama dakwah mas teguh ini demi kebaikan dan kemajuan umat gak masalah, tapi sya takut tujuan mas teguh bukan seperti yang saya maksud, he he —syariat agama itu perlu dijalankan untuk memahami level yang lebih tinggi dan bilang:

    Saya ini Allah, yang bicara ini Allah, setiap perkataan saya adalah Allah, dan perbuatan saya adalah perbuatan Allah, jadi jangan panggil saya mbah keman panggil Allah,…

    Anda boleh mengklim seperti itu jika telah menemukan alasan dan pendukung untuk statement tersebut,

    Apa yang mas teguh, sampaikan benar tapi tidak benar jika di jalankan semua umat…

  23. 23 Mr. Geddoe 23 Maret 2007 pukul 3:18 pm

    Belum ada yang bawa ‘fatwa’, tuh.

    Apa mungkin sudah ada ‘fatwa’ dari kalangan mereka untuk tidak berdialog dengan ‘ahli neraka’ seperti kita? :D

  24. 24 rajaiblis 23 Maret 2007 pukul 3:54 pm

    @mbah keman
    mendukung wadehel ?
    jangan … berat … ntar malah rata ma tanah …

    wakkakakaaa …

    @Mr.Geddoe
    Fatwa … ?
    husssshhh … orang dah “pensiun” … dibicarain …

    wakakkaakaaa …

  25. 25 Death Berry 23 Maret 2007 pukul 4:16 pm

    DAN …
    jangan lupa …
    bacalah juga dengan penuh perasaan …
    bahkan bila perlu sambil terisak dan sesegukan …
    hingga kering air mata !
    atau bahkan berteriak sekalipun …
    hingga putus pita suara …

    DAN …
    jangan lupa sertakan pula …
    sholat eNTE yg khusuk … infaq eNTE yg berlipat … sujud malam eNTE yg sempurna … puasa eNTE yg paling afdol … serta haji eNTE yg mabrur …

    DAN …
    kumpulkanlah 40 orang yg seperti itu …
    bahkan bila perlu 400 … 4000 … 400 juta penduduk indonesia …
    atau bila perlu … ajaklah sekian milyar penduduk dunia …
    untuk bersama-sama anda melakukannya !

    DAN …
    bila eNTE tak juga mampu …
    maka aNE berani sampaikan kepada eNTE …
    saat ini juga eNTE tak akan pernah bisa menggerakkan seluruh anggota tubuh eNTE … hingga ajal menyambangi eNTE …

    Dan saat itu agama tersebut dicap berisik dan terlalu pamer.

  26. 26 Ma 23 Maret 2007 pukul 4:38 pm

    tapi di poin poin itu (terutama 2 dan 4) ga cuma dari satu sudut pandang kan,,
    Ma pribadi ngajinya ga lancar dan bagus banget, tapi suka banget denger orang baca do’a atau Qur’an yang bagus,, jadi Ma bisa baca artinya sambil dihayati,, Kan ada macem2 cara buat kita bicara sama yang paling kita sayang,, dan selama ga lupa sama esensi Qur’annya, ga’ papa ga sih,,?

    btw, ini hiperbola kan,,??

  27. 27 Ma 23 Maret 2007 pukul 4:40 pm

    tapi di poin poin itu (terutama 2 dan 4) ga cuma dari satu sudut pandang kan,,
    Ma pribadi ngajinya ga lancar dan bagus banget, tapi suka banget denger orang baca do’a atau Qur’an yang bagus,, jadi Ma bisa baca artinya sambil dihayati,, Kan ada macem2 cara buat kita bicara sama yang paling kita sayang,, dan selama ga lupa sama esensi Qur’annya, ga’ papa ga sih,,?

    btw, ini hiperbola kan,,??

  28. 28 xwoman 23 Maret 2007 pukul 5:02 pm

    Top bgt skl (top banget sekali cup cup uah uah), wadehel sekaleeh

  29. 29 telmark 23 Maret 2007 pukul 5:34 pm

    duh… dasar wadehel. idenya segudang. point no. 5 emang bnyk bgt yg ngalaminnya.

  30. 30 calonorangtenarsedunia 23 Maret 2007 pukul 5:57 pm

    om wadehel..
    wa de hell is in ur brain?
    wikikik47x…
    seru sekali ini..
    kok blm ada komen yg panas2 ya..
    kan udah ancang2 nonton ni..

    *megang popcorn sambil nunggu di kursi plg depan*

  31. 31 Mr. Geddoe 23 Maret 2007 pukul 6:57 pm

    Lha ‘kan sudah saya bilang, barangkali sudah ada fatwa yang melarang berdialog sama ‘ahli neraka’ seperti kita ini… :D

    Beh, popcornnya habis… :)

  32. 32 wadehel 23 Maret 2007 pukul 7:28 pm

    @Erander, kalau udah jauh? Lha sekarang ini udah jauh pak :P

    @Deckie, untuk apa kalau hanya menghapal? Radio tape juga lancar kalau menghapal. Semoga saja hapalan anak2 itu disertai dengan pemahaman dan pengamalan yang tidak merusak :)) Soal berkunjung, tidak :) Mungkin kapan-kapan teman yang tertarik akan mampir atau malah berguru. eh.. oot di ruang tamu dong.

    @Pedhet, salam kenal juga

    @Helgeduelbek, skrinsut apanya ya? Orang dakwah berbusa2 sambil nunjuk-nunjuk langit? Tidak mantab ah :))

    @Joesatch, jangan nakut2in ah.

    @Mbah Keman, oalah mbah mbah, sopo sing arep dadi Allah? Apa ada indikasi saya mau mengklaim seperti itu? Mbah aja gimana, mau?

    @Ma, terserah, sesuai pemahaman yang mbaca aja.

    @Semua yang mengira akan ada tontonan menarik, ini pesan serius, bukan ceramah jumat yang cuma boleh ditonton sambil ngantuk. Mumpung boleh urun pikiran, jangan cuma nonton deh.

    @Semua yang menambahkan ide, terimakasih banyak :D

    @Semua yang yang memuji, terimakasih, tapi tolong hentikan, ego bisa meledak nih klo dipuji mulu.

  33. 34 passya 23 Maret 2007 pukul 7:41 pm

    bageeeeeeesssssssss…..!!

  34. 35 ak 23 Maret 2007 pukul 8:21 pm

    I swear wadehel is my idol!

  35. 36 Mr. Geddoe 23 Maret 2007 pukul 8:36 pm

    Woi, sudah bungkus popcorn ketiga, nih! -_-

  36. 37 arul 23 Maret 2007 pukul 8:46 pm

    bahasannya agama terus… apa gak ada perbandingan lain dan apa gak ada topik lain…

  37. 38 Mr. Geddoe 23 Maret 2007 pukul 9:28 pm

    Lha, kemarin ‘kan Oom Wadehel ini membahas emulator, toh? :P

  38. 39 mathematicse 24 Maret 2007 pukul 12:35 am

    Tambahan: Kitab hanya boleh dibaca kaum berjenggot nabi…

  39. 40 daus oh daus 24 Maret 2007 pukul 1:40 am

    weleh, gak bosen apa omz postingannya kaya gini mulu???
    bisanya kok cuma nyindiiiir aja..

    :lol:

  40. 41 madsyair 24 Maret 2007 pukul 8:09 am

    numpang lewat,mas.
    ndak apa2 ya? boleh minta tanda tangan?

  41. 42 Mr. Geddoe 24 Maret 2007 pukul 10:14 am

    Betul, Oom, tambahkan, tidak boleh menafsirkan kitab suci sebelum punya jenggot :D

  42. 43 rizko 24 Maret 2007 pukul 10:37 am

    hehehe, sekalian deh menangis meraung-raung sambil berzikir rame-rame, padahal Nabinya aja gak ampe sebegitunya n zikirnya sendiri-sendiri… n jualan ayat lewat SMS… coba deh mereka dikirim ke daerah pedalaman, gak bakalan mau deh mereka…

  43. 44 toim the arrancar 24 Maret 2007 pukul 11:08 am

    wah, jangan gitu dong, om dehel…biar bagaimanapun, kitab kan perlu jg, sbagai pedoman hidup dan penunjuk arah supaya gak kesesat (tumben alim)
    om dehel kan jg kadang butuh baca, kan mbaca kitab aja berpahala apalagi mengamalkannya

  44. 45 Mr. Geddoe 24 Maret 2007 pukul 11:42 am

    Lha, itu ‘kan memang yang dikhawatirkan. Umat cuma menganggap kitab suci yang merupakan mukjizat itu sebagai ladang pahala yang memberikan pahala ketika dibaca.

    Jadi, lupa mengkaji isinya yang luar biasa manfaatnya.

    Yang punya hak mengeruk manfaat dari kandungan isinya, dieksklusifkan menjadi hanya para UBN…

    Hasilnya, umat malas baca kitab pakai tafsir.

  45. 46 CLO 24 Maret 2007 pukul 11:48 am

    Wah tulisan yg memesona…
    Hikmahnya dengan mengetahui Cara menjauhkan Umat dari kitab, maka kita bisa mengantisipasinya dan mengerti pula cara agar umat dekat dengan kitab…ngono tho mas…

  46. 47 Mr. Geddoe 24 Maret 2007 pukul 12:12 pm

    Berarti, dengan membalikkan entry satir ini, didapatlah cara supaya umat dekat dengan kitab;

    1. Bedakan Islamisasi dengan Arabisasi.
    2. Selain keindahan bacaan, perhatikan isi.
    3. Sering-seringlah ‘bergaul’ dengan kitab suci.
    4. Jangan paranoid dengan tata cara baca.
    5. Rajinlah mengkaji dan menginterpretasi kitab suci!
    6. Pahami kitab secara keseluruhan.

    Nah, itu :)

  47. 48 kebunceri 24 Maret 2007 pukul 1:11 pm

    Thanks mas Teguh, pesannya sampai! Kami di holaqoh terinspirasi untuk nerapin metode ala mas Guh ini. Teruskan dakwahnya mas Guh!

  48. 49 bayuleo 24 Maret 2007 pukul 2:46 pm

    7. Hell …drpd pusink gak karuan mending becinta aja…damai …ato jalan2 plesir & gak usah ngurusin agama….orang2 nya banyak yang ruwet bikin mumet.

  49. 50 Naviri 24 Maret 2007 pukul 2:52 pm

    mudah2an orang jadi paham maksud kamu ya hell…anak baiik (sambil tepuk2 pundakmu….). Bahwa kitab suci itu untuk di kaji dan di pahami, makanya namanya mengaji… jadi dehel selama ini absen itu belajar Al-Quran to? mbok aku di bagi hasil mengaji-nya hell… gantian to hell, mosok kamu tok sing tak ajari….hihihihi…

  50. 51 Evy 24 Maret 2007 pukul 2:53 pm

    Halaah aku lagi di dashboard anakku… itu hell… sorry…

  51. 52 Death Berry 24 Maret 2007 pukul 3:35 pm

    Kaum murtad bertambah tuh.

    bahasannya agama terus… apa gak ada perbandingan lain dan apa gak ada topik lain…

    Lah, Topik VisualBoyAdvance (VBA) sebelumnya apa dong….

  52. 53 Mr. Geddoe 24 Maret 2007 pukul 4:06 pm

    Malah kalau oom Wadehel membahas VBA jadi aneh… -_-‘
    Blog Wadehel adalah markas tulisan satir penuh makna yang hanya bisa dicerna orang berpikiran luas!

  53. 54 Death Berry 24 Maret 2007 pukul 4:49 pm

    Tulisan itu sepertinya bertujuan untuk me-refresh otak. Btw, Om Hel pernah membahas seputar Linux dan Firefox.

  54. 55 Mr. Geddoe 24 Maret 2007 pukul 4:57 pm

    *itu juga sepertinya buat merefresh* :)

    Nah, kayaknya entry ini belum ada ‘kerusuhan’nya… -_-
    Penonton kecewa… :P

  55. 56 belalang kupu-kupu 24 Maret 2007 pukul 6:50 pm

    betul itu, coba di baca baik-baik dan di-tela’ah dengan cermat buku manualnya. Atau kalau gak ngerti bahasanya cobalah usaha cari terus terjemahannya. Nanti kalian akan sadar sendiri deh, dan akhirnya tau kenapa Mr. Wadehel bisa membuat postingan ini. Karena aku yakin Mr. Wadehel pasti sudah membaca buku manualnya. Sesuai kata pepatah dunia cyber : RTFM !!!

  56. 57 fujiwarayuuki 24 Maret 2007 pukul 6:55 pm

    Hehehehe betoel…
    dulu waktu masih jadi bocah cebol nan ingusan, gue ikut TPA Al-Muhajirin. Berhubung karena faktor usia murid, guru-guru ngaji disana lebih menekankan ke yang-penting-baca-dan-ngerti, belum njelimet kayak Tajwid dsb. Gue lebih have fun & semangat.

    Pas gue SMP & privat,
    ..segala macem aturan & pesan2 mengerikan dihujamkan ke gue (oleh si guru ngaji).. salah dikit bakal ini itu lah, panjang pendek (gue lebih akrab dng istilah ‘tempo’ *mentang2 les musik ceunah ahiahaha*), dsb malah bikin gue jadi…males.

    Hehehehe…

  57. 58 Mr. Geddoe 24 Maret 2007 pukul 7:20 pm

    Hehehehe betoel…
    dulu waktu masih jadi bocah cebol nan ingusan, gue ikut TPA Al-Muhajirin. Berhubung karena faktor usia murid, guru-guru ngaji disana lebih menekankan ke yang-penting-baca-dan-ngerti, belum njelimet kayak Tajwid dsb. Gue lebih have fun & semangat.

    Pas gue SMP & privat,
    ..segala macem aturan & pesan2 mengerikan dihujamkan ke gue (oleh si guru ngaji).. salah dikit bakal ini itu lah, panjang pendek (gue lebih akrab dng istilah ‘tempo’ *mentang2 les musik ceunah ahiahaha*), dsb malah bikin gue jadi…males.

    Hehehehe…

    Maka tidak heran, anak-anak banyak yang lebih paham esensi Qur’an daripada orang dewasa. Buktinya?

    Buktinya, anak-anak pada damai, yang gontok-gontokan cuma orang dewasa :P

  58. 59 juliach 24 Maret 2007 pukul 8:17 pm

    @ bayuleo

    gw setuju ama eloe.
    victoria siempre

  59. 60 fourtynine 24 Maret 2007 pukul 9:59 pm

    Tambahan:
    Bentuk persepsi umat bahwa kitab adalah jimat yang bisa ngusir setan,jin,kutilanak,pocong,hantu jeruk purut,babi ngepet,siluman ular dan siluman kera. caranya:di kutip sebagian isi kitab, tulis di kain aneh warna warni dan kemudian gantung di depan pintu, dibungkus kain kuning.atau dijadikan kalung, biar bisa dibawa kemana mana.

    Tujuan: biar umat ngira bahwa kitab adalah benda gaib yang khusus ngusir makhluk gaib, bukan suatu petunjuk, bukan pula suatu panduan agar hidup menjadi damai,sehat dan sejahtera.

    Tambahan Tujuan nomor satu: Tulisan arab bisa diperdagangkan dijadikan kedok untuk mengemis dari rumah ke rumah.

  60. 61 amargiamargo 24 Maret 2007 pukul 11:07 pm

    Mas Wadehel,

    apakah ini juga berlaku untuk kitab-kitab “suci” yang lain?

    Kalau saya pribadi sih nggak perlu nomer 1 s/d 6 dst., cukup lihat penampilan dan dengar omongan mereka-mereka yang merasa sudah cukup pintar dan merasa berhak untuk menyebarkan atau mengajarkan tulisan-tulisan itu saya sudah mundur teratur. Lebih baik nongkrong minum kopi sambil dengar obrolan-obrolan mbah Karto di bawah penerangan lampu teplok (atau lampu 25 watt yang merem melek).

  61. 63 mardun 25 Maret 2007 pukul 12:51 am

    untung Ruhullah Khomeini sudah meninggal, kalau enggak kamu bakal difatwa mati kayak salman Rusdie deh hel :P .

    nambahin aja:
    9. Hiasi dengan segala pernak pernik (ukiran, emas dll) dan histori (bekas miliknya khulafa Urosiddin, ditanda tangani oleh Ahmadinejad dll) yang bisa menaikkan harga.

    Tujuan: Biar harganya makin mahal dan orang miskin makin nggak mau atau nggak bisa beli :P

  62. 64 Odi 25 Maret 2007 pukul 9:15 am

    @ Mr Geddoe
    Jangan-jangan karena memang ajaran agama banyak yang berisi ‘nasty thing’ and ‘nasty business’ makanya pas kecil kita gak dikasih tahu macem-macem Nanti saja saat sudah besar dan sudah banyak tahu dengan sendirinya, baru deh dicekoki, pasti kita lebih bisa memberi permakluman dibanding pikiran anak-anak yang masih lugu.

  63. 65 Mr. Geddoe 25 Maret 2007 pukul 10:39 am

    @ Mr Geddoe
    Jangan-jangan karena memang ajaran agama banyak yang berisi ‘nasty thing’ and ‘nasty business’ makanya pas kecil kita gak dikasih tahu macem-macem Nanti saja saat sudah besar dan sudah banyak tahu dengan sendirinya, baru deh dicekoki, pasti kita lebih bisa memberi permakluman dibanding pikiran anak-anak yang masih lugu.

    Lha, terbalik. Mestinya kalau mau menanamkan doktrin sesat, justru dari kecil, supaya sedari bocah sudah tertanam logika bahwa yang sesat itu benar.

    Nah, justru, catatan sejarah menunjukkan bahwa toleransi Islam pada zaman dulu keemasannya itu jauh lebih tinggi. Dan yang melakukannya itu bukan cuma bocah-bocah saja, dewasa juga.

    Anehnya, beberapa waktu terakhir ini, orang yang mengaku Islamnya lebih ‘dahsyat’, toleransinya malah dangkal. Jadi, bisa jadi, ini akibat malas berpikir dan hanya menyerahkan urusan tafsir pada orang yang terpelintir.

  64. 66 fourtynine 25 Maret 2007 pukul 1:27 pm

    Hel, ko komenku menunggu moderasi?

  65. 67 Mr. Geddoe 25 Maret 2007 pukul 1:52 pm

    Hwah, komentar mas mengandung carut marut barangkali? :P

  66. 68 almanfaluthi 25 Maret 2007 pukul 2:04 pm

    setudju boz….lagian apa salahnya kayak gituan..yg bener aja susah pa lagi yang salah….juga susah hehehehe…emang sehhh banyak juga sekarang yang menyesatkan.

  67. 69 calonorangtenarsedunia 25 Maret 2007 pukul 5:13 pm

    #Mr.Geddoe
    walah misteeerr..popcorn daku kok diabisin??!
    ayo dibeliin lagi,,mumpung counternya masih buka..
    *halaaah*

    #om dehel
    waktu saya kecil cuma ngincipi campe iqra’ 3,,trus sama bapak saya disuruh langsung baca qur’an, dia yang ngajarin,,katanya ga efektif di TPA..isinya dongeng yang serem2..

    akhirnya saya jadi murid bapak saya sendiri dan tetep dapet cerita2 zaman nabi tapi yang banyak hikmahnya..kalo pun diselipin yang agak horor ya setelah saya besar begini, itu jga bukan cerita tapi diskusi..

    jadi saya belom jauh dari kitab, soalnya ga dicekoki keribetan dan ketakutan..

  68. 70 Mr. Geddoe 25 Maret 2007 pukul 6:16 pm

    #Mr.Geddoe
    walah misteeerr..popcorn daku kok diabisin??!
    ayo dibeliin lagi,,mumpung counternya masih buka..

    Waduh, memfitnah itu lebih kejam daripada memberi sedekah, tahu?

    Lagipula, nggak perlu popcornlah, wong perangnya nggak jadi-jadi.

  69. 71 pramur 25 Maret 2007 pukul 8:13 pm

    Numpang nimbrung nih Mas…
    Maaf, Mas.. Saya komen menurut nomer aja ya, males kopipaste dan membubuhi blockquote…
    1. Kalau soal bahasa Arab sebagai bahasa yang kaya, menurut sepengetahuan saya memang iya Mas… Soalnya, itu bahasa-bahasa kaya semacam Hebrew (bener ga ejaannya?) dan Arab, adalah bahasa yang “paling bisa menjelaskan tentang ketauhidan”. Jadi, kalo bahasa negeri ini dijadikan bahasa kitab, ga bakal nyampe maksudnya. Namun, saya belum faham hukum mempelajari bahasa Arab, apakah wajib, sunnah, atau fardhu kifayah (satu orang njalanin, semua bebas).
    .
    2.Sebenarnya ini juga jadi dilema Mas… Kata guru ngaji saya, cengkok ala penyanyi dangdut itu biasanya difungsikan untuk kemudahan menghafal sekaligus menjadi “daya tarik tersendiri”, serta mungkin untuk orang-orang semacam saya yang sudah terbiasa “menyanyi”.
    .
    3. Waduh! Aturan dari mana tuh! Saya baru tahu.. Ga mau banyak komen di bagian ini, karena kurang ilmu…
    .
    4. “segala tetek bengek menyanyikan ayat harus sempurna dulu sebelum mulai mempelajari artinya”. Setuju Mas! Saya juga tidak suka dilarang-larang baca kitab karena hal-hal sepele seperti tidak bisa membedakan huruf. Lidah kita bukan lidah yang bisa menekuk-nekuk sedemikian rupa secara instan. Lidah kita kan perlu dilatih, dan itu butuh waktu.
    .
    5. Kalau guru ngaji saya bilang juga begitu sih. Beliau, untuk bahasa Arab, musti mengulang sekian kali. Tapi Mas, kalau buta sama sekali juga ga baik loo… Ntar jawab malaikat nanti bagaimana? Minimal kalau mau kursus, ambil kelas conversation sahaja gimana? :-)
    .
    6. Ini juga saya setuju. Yang kayak beginian, ditambah tukang mengkafirkan orang, di tempat saya banyak! Jadi males nanggepinnya. Cuma, kita juga jangan menutup mata Mas… Ada ilmu yang mereka tahu, tapi kita tidak tahu. Memangnya kita tahu prosedur sholat dari siapa? Mereka-mereka yang lebih berilmu juga kan?

    CMIIW

  70. 72 Mr. Geddoe 25 Maret 2007 pukul 8:43 pm

    Setuju sama mas Pramur :)
    Hohoho~ *ngunyah ikan teri*

  71. 73 MaIDeN 25 Maret 2007 pukul 10:49 pm

    PR buat wadehel untuk postingan selanjutnya : Kriteria Ulama Busuk

  72. 74 kakilangit 26 Maret 2007 pukul 12:29 am

    Mang om dehel udah berhasil dijauhkan dari kitab apa belom sama oknum yang om sebut2 sebagai calo surga?

  73. 75 Mr. Geddoe 26 Maret 2007 pukul 9:01 am

    Dipikir-pikir, entry yang ini satirnya lebih terbaca… Nggak menyulut kontroversi seperti entry-entry yang lama.

    Dipajang di mushalla kayaknya masih aman, nih :D
    Huahahahaha.

  74. 76 novaku 26 Maret 2007 pukul 9:16 am

    What The Hell are you writing huh????
    But i like your style man, it makes me crazy so i always keep away from a sharp object :P
    BTW what method do you like the most ??
    I like the forthth one coz in studying this HOLLY BOOK i prefer not to learn from USTADZ or KYAI or HAJI, i like to learn OTODIDAK, coz that’s right they use to make me hard on reading this HOLLY BOOK.
    Thanks for the post, i like it man

  75. 77 Mr. Geddoe 26 Maret 2007 pukul 9:35 am

    Yang mas jabarkan itu kayaknya yang nomor lima, lho.

  76. 78 trustedclikz 26 Maret 2007 pukul 12:42 pm

    om dehel, lain kali coba bikin tulisan tentang fatwa, dong. misalnya:

    – 10 tips hebat cara menciptakan fatwa yang membuat umat semakin pusing
    – 1001 cara agar fatwa ditelan mentah-mentah oleh semua orang
    – 500 fatwa sahih dan valid yang belum terungkap
    – dll

    gimana om dehel?

  77. 79 Mr. Geddoe 26 Maret 2007 pukul 5:44 pm

    Kalau yang begituan dibikin, sebaiknya semakin hati-hati akan keselamatan diri. Salah salah disumpit mati sewaktu tidur ^^

  78. 80 deKing 26 Maret 2007 pukul 11:42 pm

    lho….emangnya para umat bth kitab?Ngapain juga repot2 menjauhkan umat dari kitab lha wong mereka juga sudah tidak butuh kok sehingga otomatis mereka juga tidak pernah dekat dengan kitab.
    Yang umat butuhkan hanyalah omongan para pemuka agama yang senantiasa mengawali perkataan dengan nama Tuhan mereka…
    Pokoknya kalau ada pemuka agama yang ngomong ngakunya atas nama Tuhan maka apapun isinya dijamin para umat mengikuti tanpa memikirkannya…

    Sudahlah gak usah menjauhkan umat dari kitab karena mereka memang sudah jauh dari kitab.

  79. 81 Mr. Geddoe 27 Maret 2007 pukul 8:22 am

    Walkthrough;

    1. Pada umat ditanamkan monopoli interpretasi.
    …Ke Poin 2.

    2. Umat pada saat ini memiliki dua pilihan;
    2a. Taklid buta —> Ke poin 5.
    2b. Membaca —> Ke poin 3.

    3. Umat pun membaca. Ketika ada pertentangan ditemukan, ada dua pilihan;
    3a. Mencocok-cocokkan dengan interpretasi umum —> Ke poin 5.
    3b. Meyakini yang interpretasi hati nurani —> Ke poin 4.

    4. Dipaksa situasi dan kondisi, dicap kafir —> Ke poin 5.

    5. Ngikut kayak bebek. Thank you for playing.

  80. 82 calonorangtenarsedunia 27 Maret 2007 pukul 7:03 pm

    ini kok mr.geddoe yang nyahutin terus ya,,,yang pny rumah mana ni??

    mister, karena ga jadi perang, kita ga usah beli popcorn deh..gorengan aja ama kopi buat nonton wayang,,kan adem ayem tuh..

  81. 83 Dimashusna 27 Maret 2007 pukul 8:15 pm

    7. Buat umat menjadi miskin sehingga mereka tidak punya waktu membaca kitab (karena wkt nya habis untuk jadi budak kapitalis)

    8. hadirkan acara2 di televisi yang sangat menarik pada jam2 tertentu sehingga lebih mengkaji acara tv (kalau perlu 24 jam acara non stop sehingga waktu subuh bablas karena tidur dan langsung siap2 berangkat kerja / sekolah)

    9. Tanamkan pemikiran bahwa menyeru manusia kepada Tuhan dgn menggunakan Loudspeaker Toa atw Megaphone itu mengganggu acara anda (Untuk bangun tidur lebih siang)

    10. Sorry ga bisa lanjut, malaikat di sebelah kiri lagi nambahin catatan di buku yang kayanya udah mau penuh.

  82. 84 Mr. Geddoe 27 Maret 2007 pukul 10:32 pm

    ini kok mr.geddoe yang nyahutin terus ya,,,yang pny rumah mana ni??

    mister, karena ga jadi perang, kita ga usah beli popcorn deh..gorengan aja ama kopi buat nonton wayang,,kan adem ayem tuh..

    Mumpung lagi sering online mas. Lumayan ngejunk.

    9. Tanamkan pemikiran bahwa menyeru manusia kepada Tuhan dgn menggunakan Loudspeaker Toa atw Megaphone itu mengganggu acara anda (Untuk bangun tidur lebih siang)

    Memang betul, setuju. Tapi, ini tidak terlalu berhubungan dengan kitab.

  83. 85 robytwins 27 Maret 2007 pukul 11:47 pm

    Afalaa yatadabbaruuna alQur’an, aw ‘ala qulubihim yafqohuun?
    Apakah mereka tidak menTADABBuRI al Qur’an, ataukah hati mereka yang tertutup?

  84. 86 Hanichi Kudou 28 Maret 2007 pukul 3:32 am

    Mas ini ternyata provokatif juga ya..

    Oke saya coba pake logika aja..

    Klo Mas Wadehel dapet kitab bahasa ‘ASyiria, silahkan masnya menfasirkannya…. bisa ndak hayoo..

  85. 87 pramur 28 Maret 2007 pukul 8:32 am

    Numpang nimbrung nih Mas…
    @ Hanichi Kudou
    Kali ini saya setuju dengan Anda Mas… Mari kita beri nasehat Om Wadehel ini, tapi jangan dengan emosi ya? Kata guru ngaji saya, “Ga mungkin kamu bilang ZINA ITU HARAM dengan berteriak-teriak ke pelacur, apalagi sampai nuduh kafir. Soalnya, toh dia pun sebenarnya sudah tahu kalau zina itu haram…”. Intinya, menyeru sesuai kemampuan dan kapasitas orang yang diseru, dan kita harus tahu diri dalam menempatkan… Mohon koreksi kalo saya salah

    @ Om Wadehel
    Mas, tambahan dikit boleh ya? Saya hanya menyampaikan apa yang saya ketahui, mohon dimangapin kalo salah. Saya baca di bagian belakang kitab agama saya, sepertinya sudah dijelaskan soal “mengapa bahasa Arab yang dipilih sebagai bahasa kitab?”
    0. Bahasa Arab itu adalah bahasa yang paling “kaya” (maaf, saya ga tahu penerjemahan “kaya” ), tapi bahasa Arabnya Quran dengan bahasa Arabnya orang Arab itu sendiri, adalah BERBEDA. Artinya, kalaupun Quran diturunkan di Indonesia ( yang bahasanya Indonesia ), ga mungkin bahasa Quran itu memakai bahasa Indonesia layaknya bahasa sehari-hari kita Mas… Itu sih menurut yang saya fahami dari guru ngaji. MOhon koreksinya kalo salah…

    1. Arab dipilih karena waktu zaman dahulu, kejahiliahan itu dedengkotnya di negeri Arab semua. Jadi, supaya penyebaran gampang, dipilihlah kawasan itu sebagai target operasi Tuhan, yang berdampak pada penguasaan sebagian besar bumi oleh ummat agama ini. Cuma dalam 23 tahun…

    2. Kalo orang Indonesia zaman dahulu dikasih kitab sama Tuhan ( misalnya kitab berbahasa Indonesia ), ntar orang Arab bahlol sana bilang “Tuhan kok ngasih kitab yang ga kami ngerti sih?? Eh, Tuhan! Ente bisa becus sedikit nggak sih pegang itu jabatan? Kami ini perlu pencerahan!!”. Dan begitu pula sebaliknya. Kalo orang Arab dikasih kitab (dengan bahasa Arab), orang Indonesia mencak-mencak (misuh/marah) dan bilang “Kok orang-orang kampungan itu aja sih yang dikasih Nabi sama Kitab? Wahai Allah! Mana keMahaAdilanMu??”. Nah, untuk memecahkan masalah ini, perhitungan yang dipakai Tuhan pastilah tanpa cela. Apa yang diturunkannya, pastilah ada alasan tersendiri, dan ilmu saya untuk menjelaskan masih cetek, ga sampe situ. Intinya, seperti yang dijelaskan di bagian belakang Kitab Agama ini… (Eh, masih punya kan? Kalo hilang, pinjem tetangga kiri kanan deh… Hehehe….), kerumitan bahasa Arab itu mengalahkan bahasa lain (bahkan bahasa cina yang notabene sudah ada sejak ribuan tahun ) dalam menjelaskan ketauhidan.

    Mungkin sebegitu aja yang saya tahu. Kalo soal klenik, atau apapun namanya yang mengatakan bahwa kalo baca kitab itu harus senam yang aneh-aneh dulu, itu pastinya cuma oknum, dan menurut saya, itu ga bener… Kalo kata guru ngaji ogut, belajar baca Quran itu perlu, soalnya itu wujud pengenalan kita terhadap Tuhan. Lewat apa yang diturunkan pada kita dan lewat juru selamat yang diutus kepada ummat kita. Kalo ustad gembel yang suka mengkafirkan dan perang melulu, tapi suka juga minta-minta di depan mesjid, percayalah:itu cuma sebagian, cuma oknum. Agama ini indah kok Mas.. Santai aja, hehehe…

    Percaya sama saya Mas, dulu saya juga begitu kok.. Ngaji sulit, apalagi ditambah rumour ga bener soal mantan kafir… Tapi, kalo saya inget2 lagi, saya ini masuk Islam buat apa sih? Apa cuma dapet pujian? Semua itu sementara. Percaya sama saya Mas… Ngaji itu gampang kalo kita punya niat…(walaupun sampe sekarang saya juga ga lancar2 amat sih… ^_^ V ) Jangan pedulikan orang-orang yang bikin sakit hati dsb. Mereka ga tahu perjuangan kita seberat apa…

    Tetap semangat belajar ya?
    CMIIW

  86. 88 Mr. Geddoe 28 Maret 2007 pukul 11:23 am

    Setuju… Memang mengerti bahasa Arab tidak akan serta merta bisa memahami Al-Qur’an, sebab gaya bahasa yang dipergunakan Al-Qur’an sangat tinggi estetikanya, belum lagi kemungkinan pesan-pesan tersembunyi, yang tidak cukup dipahami dengan sekadar mahir berbahasa Arab.

    Namun, tentu, bagus sekali kalau bisa berbahasa Arab.

    Dan, betul. Kalau ada sentimen bahwa alasan penurunan firman Tuhan adalah di tanah Arab, karena keutamaan bangsa Arab, itu menurut saya terbalik. Justru karena di Arab sana dulu benar-benar rusak dan bejat. Karakter dan budaya yang ada di Arab itu keras dan kasar. Terlihat dari orang-orang keturunan Arab, Suriah, UEA, dsb yang saya temui selama ini. Karena keadilan Tuhan, maka merekalah yang diberikan hidayah-Nya.

  87. 89 tukangkomentar 28 Maret 2007 pukul 11:40 am

    Apakah betul sebuah bahasa bisa lebih “kaya” dari bahasa lain? Bahasa Arab lebih kaya dari bahasa Indonesia? Bahasa Jawa lebih kaya dari bahasa Ambon? Bahasa jangkrik lebih kaya dari bahasa semut? Apakah semut perlu mengucapkan “kriiik, krikkk!” untuk memberitahukan temannya, bahwa ada gula merah di dekatnya? Bukankah yang terpenting untuk semut itu kemanisannya, bukan warnanya?
    Bukankah inti semua ajaran agama itu ialah bahwa kita harus berusaha untuk menjadi manusia yang baik? Adakah baik Islam? Adakah baik kristen? Adakah baik Hindu? dst., dst.
    Adakah baik Arab, adakah baik Jawa? Adakah baik Jerman? Bukankah kebaikan manusia itu intinya sama?
    “Hormatilah Tuhan, hormatilah sesamamu, bantulah semua yang memerlukan bantuan, jagalah lingkungan hidupmu!”
    Apakah kita memerlukan bahsa yang “lebih kaya” untuk mengerti ajaran itu?
    Bukankah bahasa itu ungkapan kepribadian dan keperluan bangsa atau suku atau kelompok etnis yang mempergunakan bahasa itu sendiri?
    Apakah dengan bahasa Indonesia kita tidak bisa menjelaskan atau memaparkan maksud kitab suci sesuai dengan keperluan dan kemampuan kita untuk mengerti dan melaksanakan amanat yang ada di dalamnya? Bukankah Tuhan atau Allah atau Manitou atau Brahma (atau siapapun namaNya) sudah memberikan kita bahasa yang universal dan kaya sekali? Yakni bahasa sanubari, bahasa pengertian?
    Masalahnya kan kita yang sudah melupakan bahasa ini dan tidak mengerti apa mauNya tapi sering sok mengerti.
    Seperti yang ditulis oleh “Hanichi Kudou” (menurut pengertian saya lho): menafsirkan sebuah kitab hanya dengan bahasanya itu sulit.
    Apalagi tanpa menggunakan bahasa sanubari/kalbu.

  88. 90 Mr. Geddoe 28 Maret 2007 pukul 12:53 pm

    Ah, begini. Yang pasti, kitab ‘kan mesti ada bahasanya. Ya itu, dipilih bahasa Arab, bisa jadi juga karena turun di Arab. Turun di Arab karena Arab itu rusak… ^^

    Tapi, bahasa Arab memang kaya. Hal ini termasuk kajian ilmu bahasa, sejauh pengetahuan saya. Misalnya, bahasa Inggris atau bahasa Jepang lebih kaya dari bahasa Indonesia (ya iyalah, Bahasa Indonesia ‘kan sangat muda). Salah satu parameternya? Itu, sebagai contoh, kata ‘dia’ pada bahasa Inggris dipisahkan menurut gender. Atau kata ‘hujan’ yang pada bahasa Jepang dipisahkan menurut jenis dan waktu hujannya.

    Begitu. Jadi interpretasinya lebih luas.

  89. 91 tukangkomentar 28 Maret 2007 pukul 6:01 pm

    Mr. Geddoe,
    tapi, perlukah kita di Indonesia membedakan kata hujan menurut waktu jatuhnya?
    Di Indonesia kita bisa bilang: hujan rintik-rintik waktu malam atau hujan deras waktu siang atau hujan agak deras waktu pagi.
    Apakah bahasa Arab bisa sepenuhnya medeskripsikan situasi Indonesia? Dan sebaliknya?
    Bukankah, seperti yang saya tulis di atasa, kekayaan bahasa itu tergantung dari keperluan dan kepribadian bangsa yang menggunakan bahasa itu???

  90. 92 Kang Kombor 28 Maret 2007 pukul 9:04 pm

    Kata hujan, dalam bahasa Jawa ada macem-macem: kremun, grimis, udan.

  91. 93 wadehel 29 Maret 2007 pukul 12:21 am

    @Arul, Daus, ga bosen komen mulu? saya kan ga sehebat anda, makanya saya cuma bisa nyindir aja.

    @Madsyair, tidak, maaf.

    @MrGeddoe, bwtulll, poin 6 itu serius, ada ayatnya juga, jangan suka motong2 ayat.

    @Toim, ya kalo menurut saya tujuan “untuk diamalkan” itu ga boleh dihambat2 oleh hal-hal bodoh macam diatas.

    @Bayuleo, Juliach, ini termasuk “bercinta” lho. Dan menurut saya kita juga ga boleh diam, kebejatan dan pembodohan merajalela kalau orang-orang baik diam dan cari enak sendiri.

    @Evy, pantesan fotonya seksi begituh :)) Saya belajar sambil jalan kok bu:P Belajar ngajinya sama2 aja, yang lebih pengalaman yang lebih banyak ngajari. *sambil nunjuk pake jempol ke bu ev*

    @Amargiamargo, bisa jadi. Mungkin sekali tips2 pembusukan itu hasil belajar dari yang lebih “tua”.

    @Mardun, ah, saya ga yakin kalo Khomeini akan berbuat sekeji itu :P

    @Pramur, ide bagus itu, terutama yang ambil kelas conversation, buat jaga2 seandainya tuhan dan malaikat cuma ngerti bahasa arab.

    @Kakilangit, belum, ini lagi nekat deket2.

    @Hanichi Kudou, Tukang Komentar, Kang Kombor, Pramur, dan yang menyoroti masalah bahasa, kan ada ayat yang bilang kalo qur’an itu diturunkan dalam bahasamu, itu gimana penjelasannya, mbok anda aya yang mbikin posting tentang itu :D Nanti kalo saya yang bikin malah dituduh provoking lage.

  92. 94 pedhet 29 Maret 2007 pukul 3:57 pm

    boleh rekuest tentang sholat nggak pak? dari sisi hati saya yang lain berbicara…. kalau sholat lima waktu kan wajib hukumnya. trus kalau nggak dikerjakan dosa dunk? kan hukumnya wajib? trus kalau orang itu semasa hidupnya diam aja, nggak ada ngelakuin apa-apa (pokoknya ngamal mulu deh, nggak ada hal yang negatif kayak mencuri, membunuh dll) berdosa dunk gara-gara nggak sholat?
    piye pak ..?

  93. 95 Mr. Geddoe 29 Maret 2007 pukul 5:22 pm

    Mr. Geddoe,
    tapi, perlukah kita di Indonesia membedakan kata hujan menurut waktu jatuhnya?
    Di Indonesia kita bisa bilang: hujan rintik-rintik waktu malam atau hujan deras waktu siang atau hujan agak deras waktu pagi.
    Apakah bahasa Arab bisa sepenuhnya medeskripsikan situasi Indonesia? Dan sebaliknya?
    Bukankah, seperti yang saya tulis di atasa, kekayaan bahasa itu tergantung dari keperluan dan kepribadian bangsa yang menggunakan bahasa itu???

    Yang pasti, dengan kekayaan bahasa, tentunya dapat menulis dengan lebih baik, bukan?

    Nah, saya sendiri berpendapat bahwa Al-Qur’an berbahasa Arab itu karena memang diturunkannya di Arab. Kalau pakai bahasa Jepang, lambat diresapinya. Bisa habis berabad-abad.

    Kenapa diturunkannya di Arab, ya, kayaknya karena akhlak mereka…

    boleh rekuest tentang sholat nggak pak? dari sisi hati saya yang lain berbicara…. kalau sholat lima waktu kan wajib hukumnya. trus kalau nggak dikerjakan dosa dunk? kan hukumnya wajib? trus kalau orang itu semasa hidupnya diam aja, nggak ada ngelakuin apa-apa (pokoknya ngamal mulu deh, nggak ada hal yang negatif kayak mencuri, membunuh dll) berdosa dunk gara-gara nggak sholat?
    piye pak ..?

    Yah, perhitungan ‘kan yang bikin Tuhan yang Maha Adil. Saya nggak tahu, tapi menurut saya, ‘kan setelah kiamat ada yaumul hisab ya? Ditimbang, ‘kan? Ya, kita lihat saja apa pahalanya lebih berat dari dosanya? ;D

  94. 96 neri 30 Maret 2007 pukul 10:34 am

    Kakakaka, sebagai wanita saya jadi terhenyak sama tulisannya. Kebanyakan orang sibuk menempatkan kitabnya di tempat terbersih, terindah, paling jarang tersentuh tangan, di atas bantal, dll, dll. Tanpa keinginan untuk mengkaji, memahami, dan mengamalkan isinya.

  95. 97 Fast 30 Maret 2007 pukul 7:34 pm

    Wah wah wah, ngeri bener baca ini blog. Tapi emang bangsa kita kan sering juara kontes menyanyikan kitab suci, tapi kelakuannya jauh bangat dari apa yang diajarin di kitab suci.

    @fourtynine, dapet darimana tuh gambar? hat-hati loh nanti ditangkap sama orang “beragama”

  96. 98 Mr. Geddoe 30 Maret 2007 pukul 8:53 pm

    Hmm, avatar Mas 49 itu lambang komunisme, bukan ateisme.
    Tidak sama. Komunisme bisa mengakui Tuhan.

  97. 99 lambrtz 3 April 2007 pukul 1:03 pm

    @Mr. Geddoe
    di indonesia komunisme itu identik dgn atheisme
    barangkali anda hanya satu dari sedikit yg tau itu
    tapi kan lebih banyak orang yg ga tau

  98. 100 Mr. Geddoe 3 April 2007 pukul 2:47 pm

    Makanya pelan-pelan dimasyarakatkan ^^

  99. 101 Aspal 9 April 2007 pukul 3:10 pm

    Kok jadi ingat Kekristenan awal abad masehi ya
    Walah jgn2 ketinggalan 2000 tahun kalian

  100. 102 zal 15 April 2007 pukul 4:55 am

    hayoh…flash back ke waktu sebelum faham…, dan ayo nyanyi faham itu siapa yang punya…, agar jangan masuk keliang som…, payah keluarnya…dan kalau masih bisa kelihatan yang dibawah biasanya juga belum tinggi-tinggi amat mendakinya…kalau udah tinggi..semuanya keliahatan seperti biru…, bayangkan lautan, ombak sangar dipermukaan…dan tenang dibagian dalam semuanya lautan…entah kapan yang dipermukaan tiba-tiba sudah berada dibagian dalam, namun yang menjadi ombak tetap ada….

  101. 103 wadehel 15 April 2007 pukul 8:25 am

    @Pedhet, saya ga tau pasti pak. Kira-kira gini, kalo Tuhan BUTUH shalat anda, BUTUH persembahan dari anda, sedangkan anda tidak shalat, ya anda masuk neraka.

    @Neri, bener banget mbak. Kebanyakan memang itu buku cuma buat pajangan.

    @Fast, mungkin kontes nyanyiin kitab harus diimbangi dengan kontes pemahaman dan pengamalan?

    @Aspal, hehe… jangan-jangan karena kalian sudah maju, ulama busuk dari situ pindah kesini? *joke*

    @Zal, *flashback*
    Waks, sampe sekarang saya blum paham juga tuh… maksute? siapa yang mau terbang tinggi? apalagi sampai lupa pertiwi? Mau seneng sendiri dipinggiran sebagai penonton, atau ikut banjir adrenalin karena ikut main, itu kan cuma pembenaran, eh pilihan. Tapi bener sih, jangan sampai  kelelep. Terimakasih Pak/Bu guru :)

  102. 104 ahmad faisol 24 April 2007 pukul 2:32 pm

    setuju sih, kalo prosedurnya tidak TERLALU BIROKRATIS. tapi kalo semua prosedurnya dipermudah, dan asal aja. nanti kalo keledai ketemu kitab, maka dia bebas menafsirkan isinya sesuai dengan bahasanya (karena penggunaan bahasa arab sudah digugat), dengan penafsirannya (karena saat ini semua bebas menafsirkan, tanpa perlu proses belajar), Atau malah bisa baca sambil buang hajat (karena keladai tak perduli tempat buang hajat, dan karena prosedur kesucian sudah di anggap aneh). So,….. NGGAK USAH NEKAT DENGAN IDE SEMBARANGAN, PERCAYALAH SEBALUM ANDA SUDAH BERJUTA-JUTA MANUSIA MENCOBA CARA SERUPA. AND GUESS WHAT ? GAGAL.

  103. 105 zal 24 April 2007 pukul 6:42 pm

    Acmad faisol, sebenarnya keledai sudah ketemu kitabnya, oleh sebab itu dia tidak mudah untuk ditunggangi, dan tidak mudah untuk mengajaknya semau yang menariknya, mungkin pernah mendengar “keledai saja tidak mau masuk kelobang yang sama 2 kali”,
    Tentang penafsiran terhadap Al-Qur’an
    Mustahil ada yang salah dengan Alqur’an, sebab Allah sudah mengatakan seluruh samudera menjadi tinta dan ditambah 7 serupa saja engga cukup untuk menuliskan Alqur’an, coba renungkan ALQur’an yang mana itu, apakah dengan tulisan 6666 ayat itu, ataukah hamparan itu…
    Mungkin kita merasa sdh memedomani Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah, padahal mustahil bagi kita memahamkan semuanya, Seperti kata Rasulullah SAW, “Kepadaku telah dihamparkan bumi ini, hampir-hampir aku melihat timur dan baratnya”, apakah yang dimaksud bumi ini, menjadi rata, atau yang termaksud pada suatu kefahaman, jika yang termaksud memang bumi ini menjadi rata, sepetinya Rasul cukup memandang hamparan padang pasir, itu cukup mengagumkan, jika itu kefahaman, maka Seorang Rasul SAWpun mengatakan hampir-hampir…, berarti engga full.
    Jika Kefahaman berasal dari segala atribut pelajaran Bahasa, maka apalah makna ummi, jika Rasul dikatakan Ummi karena tributa, maka dia Bukan Ponakan orang terkemuka arab, dan akan sulit berdagang, Kata Allah, “kami jadikan engkau bisa membaca, sehingga engkau tidak lupa”, akan terbuka lah hijab antara manusia dengan qolbnya, maka apa yang tertutup…apa yang tak terlihat lagi….”kalla saufata’lamuna ‘ilmalyaqin” kall syaufata’lamunna ‘ainal yaqin” itulah keadaa Sang Rasul…..

  104. 106 arya 8 September 2007 pukul 11:02 pm

    yaa jangan langsung nyindir para ulama seperti itu ,kan nggak semua ulama punya ilmu yang rendah dan bodoh.
    saya lihat mereka ulama juga bijaksana nggak ngawur kalau
    bicara . dan sangat toleran pada agama apapun.
    dan Alloh sendiri ada karena memang keharusan dan pasti
    adanya caba kalau allah nggak ada siapa yang berani ngaku sebagai pencipta langit dan bumi. apa you yang gaya gaya
    sok pintar karena agak goblok tak lihatnya . justru dengan
    tetapnya kaedah dalam kitab suci yang tak pernah berubah
    berarti pula asli apa adanya nggak diplintir plintir oleh
    orang kecuali yang mlintir pakdemu.you juga ditantang untuk
    membuat kitab yang sempurna dengan kitab umat islam kalau bisa coba saja . kita hidup tinggal menikmati saja kok sombong . coba sediakan bahan bakar matahari kalau bisa .
    itu loo jangan merendahkan Alloh yang pasti adanya.yang
    memiliki sifat 20 puluh didalam islam gitu loo. belajaro
    yoo ojo aras arasen koyok wong kewareken popkorn

  105. 107 Halahah 10 September 2007 pukul 2:17 pm

    All Friend si faisol itu Paling ikutan salman rusdie

  106. 108 Radhana Dwi Wibowo 3 Januari 2008 pukul 10:54 pm

    Di sini saya hanya ingin menyampaikan saran buat bung wadehel, sebenarnya apa yang disampaikan beliau adalah kritik atas kesalahan sebagian kita sendiri….namu menurut saya kekurangan penyampian beliau seolah-olah semua ulama bersikap demikian, dan itu yang menurut saya salah.

    Mengenai bahasa Arab dalam hal ini bahasa Al Quran, sejauh saya pernah ngaji dan yang saya pahami, bahasa Arab memang bahasa paling tua di dunia yang memiliki struktur bahasa yang indah dan unik.

    Bahasa Arab Al Quran beda dengan bahasa Arab umumnya, justru ilmu nahwu, shorof dan tafsir mengambil hukum-hukum perubahan susunan kata lewat pembelajaran terhadap Al Quran.

    Maka dari itu, dalam nahwu shorof ada namanya fi’il madli (past tense), fiil mudlori (present or future tense), fi’il amar (perintah), perubahan bentuk dari tunggal ke jama’, dll. Perubahan struktur kata akan mengakibatkan perubahan makna.

    Penafsiran Al Qur’an pun tidak boleh sembarangan, selain memerlukan kaidah nahwu shorof untuk tata bahasa, juga memerlukan hadits untuk mempelajari sanad, hal ini untuk memahami kondisi historis yang menyebabkan suatu ayat diturunkan.

    Inilah yang membedakan tafsir dengan mungkin yang disebut hermeneutika.

    Wallahu a’lam….mohon koreksi klo ada yang salah, syukron atas kritik buang wadehel ^_^

  107. 109 Radhana Dwi Wibowo 3 Januari 2008 pukul 10:58 pm

    Maaf maksud saya syukron atas kritik bung wadehel..hehe maaf salah ketik

  108. 110 Jabon 30 Agustus 2010 pukul 4:07 pm

    wah oke lah kalau begitu …


  1. 1 Cara Menjauhkan Umat dari Kitab « frimitzon Lacak balik pada 2 Desember 2011 pukul 4:39 pm

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




JANGAAAN !!!

Jangan membaca isi blog ini, sebelum memahami semua woro-woro di halaman PERINGATAN.
Unek-uneg, pertanyaan atau komentar yang TIDAK berhubungan dengan posting, silahkan anda sampaikan di Ruang Tamu.
Boleh juga memasukkan kritik dan saran ke dalam kotaknya.
Posting yang tidak pada tempatnya, terlalu OOT atau terlalu kotor, kemungkinan besar akan saya serahkan pada akismet.
Satu lagi, tak perlu kuatir kalau komen anda tak langsung muncul, kadang akismet suka terlalu curiga, saya akan lepaskan begitu saya online :) Terimakasih

Cap Halal

RSS Sumber Inspirasi

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

Kampanye

Petisi Mendukung Pembubaran IPDN

Aku Nggak Korupsi

Kulkas

free hit counter



%d blogger menyukai ini: