Kelakuan Baru Konsumen Yang Aneh

Tempo hari, dalam sebuah supermall yang baru selesai dibangun di atas lahan bekas(?) IPB, saya nongkrong berjam-jam di sebuah resto semi elit, supaya tidak diusir saya pesan segelas es jeruk. Ternyata harga segelas minuman dingin itu hampir membuat saya berteriak “INI PERAMPOKAN!” Untungnya saya sadar bahwa tempat itu bukanlah warteg yang biasa saya utangi, saya tak jadi mempermalukan diri sendiri. Untung sekali lagi karena teman saya yang kebanyakan duit bermurah hati untuk membayarnya. *terimakasih teman :)*

Apa hubungannya dengan judul? Anda yang sok kritis pasti mulai menanyakan ini, hehe. Begini ceritanya… Sebelum nongkrong disitu saya sempat keliling baca-baca buku di gramed, memandangi layar-layar datar di pameran barang elektronik, juga tak lupa mengagumi wanita-wanita seksi. Saat itu hari terakhir diskon 30% untuk semua barang. Selain itu saya juga sempat jalan-jalan cari sinyal, maklum supermall baru, area basement nyaris bebas dari sinyal seluler. Bom dengan picu HP akan sulit meledak bila diletakkan disitu.

Jadi….?!? Hehe, sudah tak sabar kan? Ok.. ok, jadi gini…Dari jalan-jalan dan nongkrong ga jelas itu, saya menyadari adanya prilaku baru dari konsumen yang belum pernah saya temui sebelumnya. Sebelumnya saya hanya tahu tiga golongan (yang saya kelompokkan dengan semena-mena, sok tau, tanpa survey, dan tanpa kompetensi):

  1. Melarat. Bagi mereka yang penting murah. Tak peduli pada kualitas, merek, gengsi apalagi garansi. Kalau urusan isi perut, maka yang penting kenyang, gizi persetan.
    Menjual pada mereka, yang penting harganya murah. Kita tak perlu pusing urusan kualitas. Ayam flu berat pun akan mereka beli jika harganya murah.
  2. Orang Kaya Baru. Dengan uangnya mereka akan beli apapun yang mereka mau. Dendam pada kehinaan saat dulu melarat mereka lampiaskan dengan mengejar gengsi dan kepuasan. Pada merek pun jadi sangat jeli. Karena masih seneng-senengnya menikmati duit, mereka belum terlalu peduli pada urusan kualitas. Dalam urusan perut, meskipun terlalu mahal untuk sesuatu yang merusak kesehatan, asal enak mereka tetap telan.
    Narkoba gak jelas pun akan mereka pakai bila anda berhasil meyakinkan bahwa produk anda itu nikmat, berkelas plus menambah gengsi.
  3. Orang Kaya Lama. Mirip dengan kelas sebelumnya, bagi mereka uang bukan masalah. Tapi karena orang-orang ini sudah cukup lama jadi orang kaya. Mereka sudah bosan ngurusin gengsi dan penampilan. Mereka mulai menuhankan kualitas, kenyamanan dan kepraktisan diatas segalanya. Mereka juga sangat perhatian pada kesehatan.
    Menjual pada mereka perlu menyiasati tabel ingredients. Perlu menyediakan layan antar plus garansi muluk servis surgawi. Memang cukup merepotkan, tapi mereka selalu membayar dengan pantas untuk setiap pelayanan yang memuaskan.

Nah, kemarin saya bertemu dengan kelakuan baru konsumen yang lebih rese dan lebih belagu. Untuk ini mereka saya golongkan dalam segmen baru (juga dengan semena-mena, sok tahu dan tanpa kompetensi), yaitu:

  • Orang Kelamaan Kaya, mereka ini sudah terlalu lama kaya, jadi punya cukup waktu untuk peduli pada hal-hal aneh. Dalam mengkonsumsi suatu produk, bukan hanya memperhatikan efeknya bagi kesehatan mereka. Mereka juga perhatian sampai pada siapa/apa saja yang disakiti dalam proses pembuatan. Mereka pun mau tahu siapa saja pemegang saham dan akan kemana larinya setiap keuntungan. Itu pun masih ditambah segala pertimbangan untung rugi di masa depan.

    Salah satu orang yang saya temui misalnya, dia memboikot produk Aqua yang terkenal itu, alasannya setiap pembelian akan menguntungkan sebuah perusahaan multinasional di luar negeri (Danone?). Menurutnya, tidak etis bila perusahaan –yang sebagian besar sahamnya dimiliki asing itu– menjual air yang berasal dari Indonesia ini sambil meraup untung secara keterlaluan kemudian uangnya dibawa keluar. Sepertinya sentimen kebangsaan/nasionalisme mulai merasuki mereka.

Apa gunanya untuk anda? Mungkin saja prilaku aneh dari konsumen terakhir itu bisa anda manfaatkan untuk pertimbangan dalam menjual/mencipta produk baru. Menurut kesoktahuan saya, bila anda mengincar 3 segmen pertama, maka anda berhadapan dengan RRC yang bersenjata dumping, lalu produk asing yang punya branding yang mapan, atau bersaing dengan servis ultra efisien dari monster-monster multinasional.

Nah, sentimen kebangsaan dan kepedulian pada hal-hal aneh itu bisa anda manfaatkan untuk mendapat pasar. Promosikan bahwa produk anda dikerjakan oleh tangan-tangan lokal yang kesejahteraannya akan terangkat bila produk-dalam-negeri-yang-berkualitas buatan anda bisa terjual. Promosikan bahwa keuntungan yang anda raup itu proporsional dan kembali untuk mensejahterakan penduduk sekitar, memajukan pendidikan dsb. Selama bisa anda buktikan, mereka mungkin akan jadi konsumen anda.

Meski masih sedikit, konsumen dengan prilaku aneh seperti itu cenderung punya pengaruh kuat di lingkungannya. Hal itu akan memastikan adanya pasar dan meringankan promosi bagi produk anda. Segmen pasar tanpa ancaman dari tukang dumping, merek mapan maupun monster multinasional. Asik kan? Pengaruh mereka juga akan membuat pola pikir aneh itu segera menyebar, mungkin saja beberapa saat lagi akan banyak boikot didasari semangat kebangsaan.

Kenapa saya menulis ini? Pertama untuk iseng dan membuktikan bahwa saya bisa  membual panjang kali lebar kali tinggi tentang hal yang saya sama sekali tidak berkompeten. Kedua, meski mutu pantas diragukan, saya pikir wahyu ini pantas dituliskan. Siapa tahu prilaku aneh tersebut segera menjadi trend dan saya jadi yang pertama menuliskan :) Ketiga, saya juga sedang tak enak perasaan pada seseorang. Tulisan ini pun merangkap jadi sebuah pelarian. Sebenarnya alasan terakhiri itu yang utama.

Tapi apa maksudnya beberapa paragraf pembukaan diatas? Huff, jawablah sendiri, saya sudahi dulu berakting jadi pakar gadungan. Saatnya tidur tanpa pelukan. Posting ini akan terbit jam 5 pagi. Semoga bermanfaat, setidaknya bagi saya sendiri. Kapan-kapan saya edit lagi.

Iklan

39 Responses to “Kelakuan Baru Konsumen Yang Aneh”


  1. 2 Luthfi 21 Januari 2007 pukul 6:22 am

    pertamax!!!!!!!

    *log out, pulang*

  2. 3 Luthfi 21 Januari 2007 pukul 6:24 am

    bujug dah, telat speersekian detik
    Nama IPB kesebut? Wah Musti bayar Royalti nih ….

    *nyiapin rekening buat nerima transferan*

  3. 4 Lita 21 Januari 2007 pukul 7:47 am

    Aku selalu memperhatikan tabel ‘Nutrition Facts’ dan deretan isi di ‘ingredients’. Tapi aku bukan orang kaya lama. Kayanya harus ada segmen baru deh.
    *semena-mena*

  4. 5 manusiasuper 21 Januari 2007 pukul 9:22 am

    Tambah satu kategori Guh!

    5. Melarat tapi sok kaya.
    Yang beginian, biasanya hobinya ke mall, khususnya yang baru buka. Kelayapan kesana kemari sok nyari barang, masuk2 toko, pura2 nawar padahal di dompet yang ada cuma KTP bertuliskan agama.

    Masuk cafe, mesan minuman yang namanya aneh, sok modern, pas liat tagihan langsung mikir “INI PERAMPOKAN!!”

    Ujung2nya, nulis di blog tentang pengalaman di mall itu tadi…

    *WHUSSS, kabur sebelum di lempar C4*

  5. 6 helgeduelbek 21 Januari 2007 pukul 9:50 am

    Inikah hasil perenungan 2 hari tidak nulis di blog itu?
    Mau nambahin: orang kaya yang sok melarat, morotin hak orang miskin beneran… ini gak ada hubungannya dengan mall khan?

  6. 7 Goio 21 Januari 2007 pukul 10:38 am

    Wakakakaka, numpang ketawa gara2 ngebaca komennya ‘manusiasuper’ …

    tapi mas/mbak wadehel… logika untuk alasan menulis posting yang ketiga masih menimbulkan tanda tanya neh.. kalo gak enak sama seseorang, kok jadi ngeblog? … hihihihi

    mengenai kelakuan konsumen, ada lagi yang aneh nih.. orang yang gak mampu beli, tapi ngotot mbeli lewat kredit. Tulisan yang cukup menarik bisa dilihat di sini

  7. 8 passya 21 Januari 2007 pukul 11:12 am

    apakah tulisan ini mengawali the new wadehel??
    btw, klo bikin produk mending mengakomodir semua kepentingan yang wadehel sebutkan: Murah, Bergengsi, Berkualitas dan….Lokal punya!
    ada gak? Apa kabar IGOS?

  8. 10 wadehel 21 Januari 2007 pukul 11:56 am

    @Ardho, heh? saya ini paling waras dan paling beriman, pokoknya semua yang lain kafir! :P

    @Luthfi, duh, tebar pesona di blog londo saja kenapah? :P Telat mulu gitu :))

    @Lita, hihi, berarti anda ada di diperbatasan segmen. Atau orang abnormal yang sulit di generalisasi.

    @Manusiasuper, berhasil nyambungin puzzle buat menghina, puwas hah? Fyi, itu memang sudah saya persiapkan buat mereka yang kurang bahan :P
    *lempar dinamit menyala yang udah dicap halal*

    @Helgeduelbek, hihi, jadi inget sama pejabat-pejabat laknat yang sibuk minta naik gaji kemarin :)) Itu hasil jalan-jalan pak, draft lama pak, akhirnya terbit juga karena bete plus ga ada bahan.

    @Goio, logika memang selalu penuh pertanyaan :D Kalo yang ngotot ng-abuse kartu utang itu ya mirip yang dibilang manusiasuper, melarat tapi belaga kaya, nafsu gede tenaga kurang.

  9. 11 Mbah Keman 21 Januari 2007 pukul 2:39 pm

    HUH.. panjang amooot…. tapi..tetep aja saya baca tuntas…karena tulisan wadehel memang menarik…

    dari sekian ulasan,,saya tertarik yang orang lama kaya… orang ini luarbisa.saya mendukungnya.kalau ada 50% dari penduduk indonesia seperti ini…produk asli indonesia akan majuu

  10. 12 fulan 21 Januari 2007 pukul 3:03 pm

    Saatnya tidur tanpa pelukan.

    Lho, piye ?

  11. 13 Kal El 21 Januari 2007 pukul 3:05 pm

    Makanya Hel kalo biasa makan di warteg, gak usah sok2 an pake ke dolan mall segala. Melawan kodrat tauk !!

    lagian apa kamu gak kasihan ama cleaning service mall itu,susah2 nyuci pake air –dan salah satunya hrs dicampur dengan tanah– 7x, buat bersihin semua tempat yang sempet kontak ama kamu. kekekeke2x

    *ikut2an kabur , soalnya ga yakin kalo dinamit yg bakal dilempar wadehel benar2 udah halal*

  12. 14 winerwin 21 Januari 2007 pukul 3:33 pm

    Hmmm.. jadi wadehel punya taktik pemasaran baru ya untuk penetrasi pangsa pasar di Indonesia?

    Sayangnya lebih banyak orang Indonesia yang gengsi-gengsian, pengin make produk selain ‘made in Indonesia’. Ambil contoh paling simpel; ada toko pasang papan iklan gede-gede, “Kursi dengan teknologi Jerman”… ?

  13. 15 uzi 21 Januari 2007 pukul 6:49 pm

    Ada juga konsumer berhati mujahidin tapi takut mati, jadi mereka jihad dengan “jalan mereka sendiri”, yaitu dengan tidak membeli produk-produk tertentu dengan alasan duitnya akan disalurkan ke israel atau amerika.

  14. 16 wadehel 21 Januari 2007 pukul 7:02 pm

    @Passya, sebenarnya setiap posting baru adalah awal dari the new me :)) Itu ide bagus, mengakomodir semuanya. Bisa kah?

    @Mbah Keman, terimakasih atas keyakinannya :) Enaknya bikin produk apa ya?

    @Fulan, no comment.

    @Kal El, hehehe, puwas?

    @Winerwin, ya itu, karena kebanyakan masih ada di kelas orang kaya baru.

    @Uzi, alasan konyol ya, padahal impor pear atau korma sama-sama tidak membantu industri lokal.

  15. 17 S Setiawan 22 Januari 2007 pukul 12:25 am

    Intinya, lu masuk kategori: MELARAT ya, Hel? :-” Wekeke, sama dongs.. – -;

  16. 18 DE 22 Januari 2007 pukul 6:16 am

    Tulisannya menarik, terutama yang kelamaan kaya itu. Selangkah lagi, bisa nyaingin Samuel Mulia di Kompas minggu he..he..

  17. 19 rizka 22 Januari 2007 pukul 11:43 am

    Wah…kalo diajak pergi ama wadehel, gue mikir2 dulu deh.

  18. 20 vigo 22 Januari 2007 pukul 11:49 am

    gile bngt critanya…saya bener tersanjung dengan wacana tsbt.pokok nya yang penting hidup ini jangan terlalu pelit jadi orang.. walau keadaan kita yang udah mau kiamat..

  19. 21 Irwan 22 Januari 2007 pukul 11:59 am

    Lagi males baca nih…

  20. 22 Amd 22 Januari 2007 pukul 12:56 pm

    @ manusiasuper
    hmmm… sepertinya saya kenal siapa yang no-5 itu di Banjarmasin. Kamu perasaan kalau ke mall baru buka kelakuannya juga gitu kahn?

  21. 24 Dee 22 Januari 2007 pukul 2:07 pm

    Kalau ada ibu-ibu yang kalau ke mall, berapapun harganya dibeli, tapi begitu di pasar tradisional, cepek aja ditawar, itu masuk golongan mana hel?

  22. 25 -tikabanget- 30 Januari 2007 pukul 8:45 pm

    iyah.. orang orang ituh..
    sok banyak duwit..
    sayah jadi pengen ditraktir terus kalo ginih..

  23. 26 xwoman 31 Januari 2007 pukul 7:46 pm

    Saya pernah baca judul buku (baru judulnya aja) Ketika Rupiah Berubah Menjadi Peluru Israel di Palestina, Ya begitulah kira-kira judulnya.

    Denger-denger Danone salah satu perusahaan miliknya (Israel),ssstttt katanya My zone juga…(masih Danone ya ????), maap lho kalo salah saya cuman denger-denger…

    *takut…. sambil ndredeg*

    Mungkin lho…saya juga ga pasti ini salah satu alasan “Orang kaya kelamaan”

  24. 27 iman brotoseno 1 Februari 2007 pukul 10:53 am

    kalau orang pura pura melarat gimana ?

  25. 29 christi 1 Februari 2007 pukul 7:59 pm

    weh kalo gitu pejabat konsumennya suruh baca tuh

  26. 30 christi 1 Februari 2007 pukul 8:01 pm

    orang kaya baru dan orang miskin lama biasanya sih gitu, pas pejabat uang konsumen diabisin. bagus buangat artikelnya bikin pada sadar konsumen yang kaya

  27. 31 xwoman 1 Februari 2007 pukul 9:25 pm

    kalo orang pura” melarat ya kaya para Anggota *****, yang minta tunjangan terus ……. eh itu seh keliatan kalo dulunya beneran melarat trus balas dendam

    *kabur*

  28. 33 yoyonk 26 Februari 2007 pukul 8:07 pm

    ya itu benar sebab bnyak sekarang konsumen yang apatis terhadap iklan disatu sisi, tapi dilain sisi ada yang tergila-gila dan sangat terpengaruh oleh iklan

  29. 35 Immigration Advicers in Graves end 12 Februari 2013 pukul 10:18 pm

    Very good site you have here but I was curious if you knew of any community forums that cover
    the same topics discussed in this article?
    I’d really like to be a part of online community where I can get suggestions from other experienced people that share the same interest. If you have any recommendations, please let me know. Cheers!

  30. 36 Immigration Lawyers kingston upon thames 22 Februari 2013 pukul 10:31 am

    Hello colleagues, how is everything, and what you want to say regarding this paragraph, in my view its genuinely
    remarkable designed for me.

  31. 37 Muha 28 Agustus 2014 pukul 11:35 pm

    kirain apaan. itumah ga aneh sama sekali, menurut saya.

    tapi ini posting 2007, zaman saya belum ngerti marketing :D mungkin waktu itu masih aneh ya.. zaman saya baru lulus smp.


  1. 1 Orang Kaya Baru & Orang Melarat Baru « {tulalit!} Lacak balik pada 22 Januari 2007 pukul 3:23 pm
  2. 2 Jual makanan boleh murah tapi minuman dimahalin « {tulalit!} Lacak balik pada 22 Januari 2007 pukul 3:43 pm

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




JANGAAAN !!!

Jangan membaca isi blog ini, sebelum memahami semua woro-woro di halaman PERINGATAN.
Unek-uneg, pertanyaan atau komentar yang TIDAK berhubungan dengan posting, silahkan anda sampaikan di Ruang Tamu.
Boleh juga memasukkan kritik dan saran ke dalam kotaknya.
Posting yang tidak pada tempatnya, terlalu OOT atau terlalu kotor, kemungkinan besar akan saya serahkan pada akismet.
Satu lagi, tak perlu kuatir kalau komen anda tak langsung muncul, kadang akismet suka terlalu curiga, saya akan lepaskan begitu saya online :) Terimakasih

Cap Halal

RSS Sumber Inspirasi

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

Kampanye

Petisi Mendukung Pembubaran IPDN

Aku Nggak Korupsi

Kulkas

free hit counter



%d blogger menyukai ini: