Macam-macam Tuhan

Macam-macam tuhan dan kesan yang muncul di benak saya saat mendengar namanya.

YHWH: tuhan yang aneh, namanya kok ga niat. Entah karena nonton film apa, saya jadi ngerasa kalo itu nama alien. Kalo tak salah, itu tuhannya Yahudi (belum googling). Kalau memang benar, pasti beliau bermusuhan dan sangat benci pada tuhannya orang Nazi. [updated]

Bapa di Surga: Kalo dengar itu, yang terbayang langsung orang dipaku, disalib berdarah-darah. Romawi, yudas. Holly grail, dan perempuan yang katanya perek tapi baik hati. Dan satu lagi: Dan Brown :D

Buddha: Botak, buncit, sepertinya humoris. Kerjaannya duduk merem di bawah pohon bodhi. Entah ngelamun apaan. [updated. katanya, beliau memang bukan tuhan]

Hyang Widhi: Serem, pake sarung kotak-kotak. Tangannya banyak, matanya melotot. Harus dikasih sajen.

Gusti Alah: Ini pasti sembahannya orang tertindas. Di film-film jadul nan basbang, setiap kali orang yang lagi ketimpa sial, misalnya waktu di pukulin rentenir, pasti teriak “aDuh Gustiiiii…!”

Pangeran: Ini tuhannya orang-orang yang kalo malem suka cari-cari kitab mini sama keris-keris kerdil yang bentuknya udah ga jelas.

Allah: Ini yang paling sering saya denger. Banyak yang bilang kalau beliau ini pemarah. Gampang murka, mengutuk dan hobi melaknat. Selain itu juga suka memberi azab. Siksaannya juga pedih. Mungkin karena itulah para penyembahnya jadi hobi pake kekerasan. Untuk memanggilnya, anda harus naik menara dan teriak sekeras-kerasnya pake megaphone. Budeg? Husss!!! Sebaiknya anda JANGAN KURANG AJAR.

Aloh: Baru-baru ini makin sering disebut. Bila yang tuhan lain hanya mengambil satu rusuk dari setiap laki-laki untuk bahan baku bikin wanita, beliau malah mengambil 4 (empat). Tak heran bila namanya sering disebut-sebut oleh para pendukung poligini.

Oloh: Yang ini pastilah gawul abis. Nama beliau sering disebut-sebut oleh anak-anak maupun blogger gawul. Jangan-jangan beliau juga doyan dugem dan nongkrong ga jelas.

Auloh: Beliau ini tuhan tapi jadi korban permusuhan. Meski penyembahnya sama-sama keturunan Ibrahim. Penyebutan namanya harus dibedakan. Cuma biar beda doang!! Ck ck ck..

God: Kalo ini sering banget disebut-sebut oleh para kafir dalam film-film sesat. Jadi inget otak atik gathuknya seseorang [lupa]: “God dibalik jadi Dog. Dan memang nyatanya Tuhan hanya seperti Anjing buas piaraan para penguasa agama, selalu mudah digunakan untuk menggigit siapapun yang dianggap musuh.

Cuma segitu, lainnya saya lupa. Mungkin karena mereka kurang berkesan.

Anda sendiri bagaimana, nama apa yang anda gunakan untuk menyebut tuhan?
Bagaimana gambaran atau kesan anda tentang beliau?
Sudah pernah ketemu langsung atau baru berdasarkan konon dan kata orang?
Trus, menurut anda, tuhan itu ada berapa eko… eh.. ora… eh… mmmh… kalau ngitung tuhan pakenya satuan apa ya?

Tambahan pertanyaan dari tukang komentar:

Tuhan mana yang paling bagus?
Tuhan mana yang paling kuat (baca: paling berkuasa)?
Tuhan mana yang paling bijaksana?
Tuhan mana yang paling betul?
Tuhan mana yang paling ada?

Diupdate karena koreksi dari Ferthobades dan tambahan pertanyaan dari Tukang komentar.

Iklan

137 Responses to “Macam-macam Tuhan”


  1. 1 Kang Adhi 10 Januari 2007 pukul 8:21 pm

    Kira-kira, BELIAU yang kamu omongin ini kasih comment apa ya HEL? Ada yang tahu?

  2. 2 renjanabiru 10 Januari 2007 pukul 8:28 pm

    Kalo anda mendengar kata TUHAN itu sendiri apa kesan anda …?

    kok tidak termasuk dalam daftar ?

  3. 3 helgeduelbek 10 Januari 2007 pukul 10:12 pm

    wah… tuhan itu kalao di balik suku katanya jadi hantu… ih ngeri

  4. 4 giffari 10 Januari 2007 pukul 10:17 pm

    hati-hati, nanti kualat lho pak wadehel…. :)

  5. 5 fertobhades 10 Januari 2007 pukul 10:41 pm

    Ternyata Wadehel penggemar black anekdot (walaupun belum tentu kulitnya item) :-) Selalu menertwakan diri sendiri sambil ngelirik kanan-kiri kira-kira siapa yg merah kupingnya.

    sekedar koreksi, YHWH itu nama Tuhannya Yahudi.

  6. 6 fulan 10 Januari 2007 pukul 11:11 pm

    Rasanya ada yang kurang … para hamba yang suka bakar sesuatu di tungku, didampingi tengkorak dan burung hantu … bertuhan pada siapa ?
    Adalagi lagi yang menyembah “danyang”, ga ngerti apa danyang itu sudah termasuk apa belum.

  7. 7 kikie 10 Januari 2007 pukul 11:31 pm

    YHWH memang tuhannya Yahudi. kalau nggak salah, namanya sendiri katanya gag boleh disebut secara lisan ya.

    “para penulis Ibrani hanya menulis huruf mati YHWH dan kemudian mereka memutuskan bahwa siapa saja yang mengucapkan kata itu akan disambar petir”

    baca di …. serial Kartun Riwayat Peradaban I by Larry Gonick :B

  8. 8 Anang 10 Januari 2007 pukul 11:44 pm

    aduh kok bahas hal yang sensitif gini sih..

  9. 9 Hedi 11 Januari 2007 pukul 2:13 am

    kira-kira Tuhan atau tuhan yang disebut di atas bakal ngisi komentar ga ya :D

  10. 10 Tukang Ngedit 11 Januari 2007 pukul 2:16 am

    Satu lagi Om: Ingkang Murbaing Dumadi, sering diucapkan para dalang.

  11. 11 dani 11 Januari 2007 pukul 2:22 am

    sependek yg saya ketahui.. :)
    punya banyak nama..tgt ‘departemen’nya..
    ada dimana-mana..[yg ‘bohong2’ pasti ketauan..bs nerima ‘akibat’nya ntar lg, besok, atau di ‘kehidupan mendatang’..]

    yg gak percaya Beliau:
    mau syukur ke siapa/mana ya..
    hidup buat apaan..[buat nge-blog..] :)

    kadang lbh gampang blg ooh s**t..spt tulisan di http://madeandi.blogspot.com/2006/10/menyebut-nama-tuhan.html

  12. 12 tukangkomentar 11 Januari 2007 pukul 2:46 am

    Fulan,
    “Danyang” itu bukan diTuhankan, tetapi dihormati sebagai nenek moyang. Yang di sembah sebagai Tuhan ya tetap agamanya masing-masing. Banyak kok muslim atau kristen yang nyembah (baca: menghormat) danyang. Kalau orang kejawen ya nyembah Tuhan: Sang Pangeran, Ingkang Maha Kuasa atau Allah, Ingkang Maha Suci atau simpel: Tuhan.Untuk kami: Tuhan diberi nama apa saja ya tetap Dia.

    Mas Wadehel,
    Budha itu sebetulnya nggak dianggap sebagai Tuhan lho. Hanya jaman sekarang pengertiannya agak ngawur. Kalau di agama/kepercayaan saya, Sang Budha itu dihormati sebagai seorang yang sudah dapat enlightement dari Sang Hyang Tunggal (ini satu lagi namaNya).

    Wah, kok serius kali jadinya saya ini. Monggo.
    Oh, ya, pertanyaan-pertanyaan ini belum ditulis:
    1. Tuhan siapa yang paling bagus?
    2. Tuhan siapa yang paling kuat (baca: paling berkuasa)?
    3. Tuhan siapa yang paling bijaksana?
    4. Tuhan siapa yang paling betul?
    5. Tuhan siapa yang paling ada?
    6. dst., dst.

  13. 13 Kenzt 11 Januari 2007 pukul 3:47 am

    Aku pernah membaca sebuah buku berjudul “Tuhan Sejati dan Tuhan-Tuhan Palsu”. Isinya jauh melenceng dari daftar Tuhan yang disebutin sama Wadehel. Bukan itu. Kalo yang di daftar aku nggak berani singgung, soalnya takut.

    Buku itu menjelaskan bahwa terkadang selain Tuhan yang nyata katanya kita anut itu, sebenernya tiap manusia (nggak semua) punya Tuhan lain yang bahkan bisa mengalahkan kekuataan Tuhan dari agamanya sendiri. Itulah Tuhan palsu. Masalahnya kebanyakan dari yang memiliki Tuhan palsu itu, secara nggak sadar, lebih menuhankan keberadaan Tuhan Palsu tersebut, daripada Tuhannya sendiri sama yang asli.

    Kira-kira Wadehel menuhankan siapa/apa coba kalo suka nulis-nulis beginian? :-)

  14. 14 Arif Kurniawan 11 Januari 2007 pukul 5:04 am

    Huahuahua….

    Hel, bentar lagi gue nulis mengenai lo deh. Hebat deh lo :D. Coba deh sebarin tulisan ini di depan masjid kebon jeruk JKT, tempat nongkrongnya laskar jihad? Atau di pure dalem agung, Bali.
    Huehuehue…

    Tambahan… JAH, tuhannya para kaum rastafari. Rastafari adalah suku di Jamaika, ciri-cirinya; berambut gimbal mirip Uruk-Hai di Lord Of The Ring, berbahasa patois, gabungan antara broken franch, broken english dan afrika serta menganggap Bob Marley salah satu nabi mereka.

  15. 15 Arif Kurniawan 11 Januari 2007 pukul 5:06 am

    Hel, yang menciptakan tuhan-tuhan definisi kamu itu siapa?
    hehehe

  16. 16 Amd 11 Januari 2007 pukul 7:12 am

    Bukan hanya Tuhan-Tuhan yang anda sebut itu yang sering disembah manusia. Berikut beberapa hal yang kerap di”Tuhan”-kan manusia:
    – uang & harta benda
    – agama
    – partai
    – tuan guru/imam/pemuka agama
    – mazhab/golongan/aliran
    – akal (menurut antosalafy)
    – yang paling parah, menuhankan DIRI SENDIRI

    CMIIW

  17. 18 wadehel 11 Januari 2007 pukul 8:40 am

    @Kang Adhi: Tanya langsung aja sama BELIAU :)

    @Renjanabiru: Hmmm… itu sesuatu yang sama tapi sering disebut dengan banyak sekali nama.

    @Giffari: Paling kualat sama Giffari :) kalo tuhan yang saya percayai, maha humoris kok.

    @Fulan: Ga pernah denger tuh. Apa buhul2 ya? :P

    @Kikie: Ooow. Ok. dah terupdate tuh.

    @Anang: Sensitif untuk umat dari tuhan yang mana?

    @Hedi: Mungkin saja. Kalau memang maha kuasa, apa sih yang ga mungkin.

    @Tukang Ngedit: Wah, baru denger tuh, thx sir. Btw, pak pol kok ada disini :P

    @Dani: link yg bagus. sayang sulit dikomentari *oh sh*t*

    @Tukangkomentar: Oooh, gitu ya. Yah, maklum, itu diatas kan cuma buddha yang ada di persepsi saya :) Nanti persepsinya saya update.

    @Kenzt: Yang pasti tidak menuhankan Kenzt :P

    @Arif K: JAH? Hmm tuhan yang menarik. Btw, FPI pasti menuhankan Allah yang pemurka ya? :P Kalau yang menciptakan definisi, mungkin ya semua informasi yang saya serap secara ga sengaja, sebagian dari prilaku penyembahnya, juga dari ceramah2 agama. Kalau anda mau jujur, pasti juga punya gambaran mirip seperti itu kan. Setidaknya waktu kecil dulu.

    @Amd: Menuhankan yg bukan tuhan?… itu nanti topik lain lagi :) anda saja yang bikin gimana.

    @Manusiasuper: Alhamdulillah….

  18. 19 asbindro 11 Januari 2007 pukul 9:05 am

    ooh jadi memang tuhan itu ada banyak ya?
    apa nggak saling bersaing ya?
    kalo tuhan kita saling berantem trus kita ngapain? nonton? nyorakin? ato malah bantuin?
    tapi katanya Tuhan mu dan Tuhan ku maha kuasa, maha segalanya. lha kalo udah maha segalanya, kenapa ada banyak tuhan ya?
    sueeeeer pusing nih…

    eh, yuuk kita kenalin Tuhan mu dan Tuhan ku!

  19. 20 kw 11 Januari 2007 pukul 9:07 am

    waduh .. hel itu kan sebutan aja. orang dayak (hindu kaharingan) menyebutnya Ranying Hatalla. nobu, temanku yang dari jepang menyebutnya amaterasu omikami. penganut parmalim ( batak) memanggilnya: Tuhan Debata Mulajadi Nabolon.

    tak begitu pentinglah. yang lebih penting mungkin pemahamannya. aku juga belum paham si..

    Jesus juru selamat, blum dimasukin, kelupaan atau tak berani?

    :)

  20. 21 Neng Indie 11 Januari 2007 pukul 9:44 am

    Kalo Tuhan saya .. ehmmm ..
    Dia itu penuh cinta pastinya dan bukan yang gampang tersinggung dan suka ngasih2 azab dan kepedihan ituhhh …

    Lagian kata ibuku TUHAN itu cuma satu kok. Buktinya tuh semua menungso modelnya sama. Jumlah panca indranya sama. Kalo Tuhannya banyak kan pasti bersaing lah boooo. Semua Tuhan pasti mau jadi yang ter”TUHAN”.

    Dalam hal penciptaan manusia, yang satu bikin manusia hidungnya dua biar bisa bernapas lebih lega. Tuhan yang lain lagi mungkin bikin manusia yang matanya 2 di depan dan 2 di belakang jadi kalo mo lihat cewek2 semok semlohai bisa maksimal. Tuhan lainnya mungkin bakalan bikin manusia yang tangannya 10 jadi copet2 di Metro mini bisa dapet hasil lebih banyak .. hihihi

    Tapi nyatanya? Semua makhluk yang berjudul Manusia di dunia ini standar tuh .. “Dua Mata saya .. Hidung saya satu .. Dua kaki saya pakai spatu baruuuu … Dua telinga saya yang kiri dan kanan .. Satu mulut saya tidak berhenti makaaaan ….”

    Dan kelihatannya di dunia ini kaya2nya nggak ada tuh terdeteksi adanya “Perang Antar Tuhan” Yang ada orang2 yang merasa memiliki TUHAN paling benar itu yang saling perang nggak juntrungan … huhhh …

    Jadi sebenernya buat apa ya ngeributin Tuhan siapa? Siapa Tuhan? Tuhanmu? Tuhanku? Siapa yang paling Tuhan? Tuhan siapa yang paling layak jadi Tuhan? .. ihhh capekkkkkk

    Sekiaaaaaaaaaaaaan ngeblognya ….

  21. 22 -maynot- 11 Januari 2007 pukul 9:55 am

    Kalau Tuhan gw panggil YAYANG, marah nggak ya? Kedengeran SKSD gak ya? Hehehe..

  22. 23 budi 11 Januari 2007 pukul 9:59 am

    He.. he.. kurang ajar mas dehel. tuhan gw dibilang pake sarung kotak2. menghina banget. gw halalin darahnya baru tau rasa… :p
    sebenernya gw dah mo ngasah golok, tp untungan tuhan gw dateng sambil senyum2 dan bilang gini “ngga usah diambil hati. saya yang digambarkan macem2 itu aja asik2 gini, ngapain kamu marah2?” yah.. saya bersyukur memiliki tuhan yang bijak gitu.

    Mas dehel sendiri, kl lg berdoa memejamkan mata (kl pernah berdoa loh ya) membayangkan apa ? mudah2an ngga membayangkan selangkangan hikss….

  23. 24 budi 11 Januari 2007 pukul 10:12 am

    Kl binatang, peraya ama tuhan nggak ya ?
    saya pelihara ayam, matanya suka merem2 juga. lagi bedoa apa ngantuk, saya ga tau… tp kelihatannya khusuk juga :).. lagian, meski ga mengenal toa, dia juga suka tereak. kukuruyuuukkkkkk…. pekk.. pek.. pek…. kukuruyuuukkk………….

    he.. he..

  24. 25 The Sandalian 11 Januari 2007 pukul 10:26 am

    @TukangKomentar & Wadehel
    Budha memang bukan Tuhan. Setahu saya, Budha adalah istilah untuk orang yg udah dapat pencerahan dari Tuhan. Makanya kadang ada sebutan Budha Anu, Budha A, Budha B dsb. Bahkan saya kadang bepikir, kalau Muhammad dulu mengetahui tentang Sidharta, bisa jadi beliau memasukkan Sidharta kedalam daftar para nabi.

    eh, btw diri kita bisa disebut Tuhan ga? apalagi ketika udah mencapai tingkat manunggaling kawulo gusti :D

  25. 26 petroek 11 Januari 2007 pukul 10:35 am

    menurut anda, Tuhan anda sendiri yg mana nih??
    apa mungkin bikin postingan kayak gini and minta komen nyang laen biar anda sendiri yakin dengan Tuhan pilihan anda ???
    atau mungkin…anda tidak ber-Tuhan ya….hayo ngaku….
    wess…

  26. 27 dkmfahutan 11 Januari 2007 pukul 10:49 am

    kalau tuhan anda sendri apa?

  27. 28 wongndonya 11 Januari 2007 pukul 10:57 am

    @petroek.
    Haqqul yakin, Wadehel ber-tuhan kok. Cuma aku nggak tahu tuhan macam mana yang dia sembah, atau benda apa yang dia tuhankan.

    Alhamdulillah, Tuhan saya nggak kesebut sama Wadehel, karena nggak ada gambaran yang mirip dengan apa yang say yakini sebagai Tuhan saya.

    Tuhanku untuk diriku, Tuhanmu untuk dirimu.
    Tuhan tidak menjadi rendah karena dihina, juga tidak menjadi lebih mulia karena dipuji.

  28. 30 pranala 11 Januari 2007 pukul 1:18 pm

    yang difilem-filem yang sering dipanggil2:
    “oh.. god, oh.. god, oh.. gooo.. oooohhhhhhhh…”
    itu tuhan yang mana ya ?

    ^_^

  29. 31 Mbah Keman 11 Januari 2007 pukul 1:40 pm

    Urun.. Contong.

    Hemh setelah tak baca tulisan mas wadehel…
    Tuhan yang di sebutkan di atas TUHAN dari padangan yang Buruk..
    informasi tentang TUHAN yang negatif…

    TUHAN Itu cuman Ada 1 tapi punya banyak nama
    ada nama yang menggambarkan sifat baik TUHAN
    dan ada juga nama yang menjuluki nama-nama Tuhan dengan buruk itu biasanya dari manusia dan Setan.

    Memuja dan menghina sebenarnya pada Tuhan yang sama.TUHAN dalam pikiran wadehel adalah Tuhan yang manusia ciptakan sendiri dalam keyakinan dan imajinasi,serta melihat TUHAN dari umatnya…

    semoga tidak salah dalam mengartikan Kata TUHAN.

    Tuhanku Satu, baik, pengampun,penyayang, pengasih,dan setiap kebaikan ada padaNYA.
    sedang setiap keburukan ada pada SETAN,IBLIS

    satu kata mempunyai banyak makna
    satu Tuhan mempunyai banyak Umat
    satu Nusa satu bangsa INDONESIA

  30. 32 masjek 11 Januari 2007 pukul 1:45 pm

    CERDAS!!
    dari seluruh postingan yang lo tulis hel, menurut gw ini yang paling cerdas :)

    selamat bro. anda layak menjadi tuhan.
    tuhannya orang kenthirr :))

    tapi serius. ini cerdas banget. gila, gw gak pernah kepikiran sampe kaya gini. salut.

    jadi, tuhan lo yang mana aja hel?
    tukeran yuk sekali-kali..

  31. 33 joesatch 11 Januari 2007 pukul 3:56 pm

    Setuju…
    Ohhhh…gooodddd….oooohhh….god…..yessss…faster…faster…make me cum…ooohhh….!!!
    Kakakakakaka!
    Tapi Miyabi kok nggak pernah sebrutal itu yang nyebutinnya? Bener2 hamba yang “pasrah” :D

  32. 34 manusiasuper 11 Januari 2007 pukul 4:10 pm

    Mbah keman…
    terima kasih sudah menghilangkan kegilaan saya gara2 blog gila ini…

  33. 35 passya 11 Januari 2007 pukul 4:12 pm

    retoris…

    siap2 di-gangbang sama pengikut tuhan yang anda sebut di atas…

  34. 36 Arif Kurniawan 11 Januari 2007 pukul 4:35 pm

    @Pranala dan Joesatch: Itu tuhannya Asia Carera.

  35. 37 juliach 11 Januari 2007 pukul 5:05 pm

    Hel selain sebutin, “Oh…my god,oh…it’s good…, ooh my god… pls don’t stop…pls again darling…oh I love you so much…GOD”

    ada lagi Tuhan=Dieu, “Oh…nom de Dieu, j’adore ca, oh j’a jouir….encore mon dieu….”

  36. 38 ilham 11 Januari 2007 pukul 5:32 pm

    Met kenal om, ikutan komen ya… “Sy cuma khawatir pandangan om sama dengan ikan di sebuah danau yg merasa udah mengarungi semua dunia, padahal masih ada berbagai macam perairan, laut, daratan, pulau, bahkan angkasa… Tuhan tidak sesederhana itu bukan? Itu kalo Dia memang ada :D

  37. 39 wadehel 11 Januari 2007 pukul 8:45 pm

    @Asbindro: Hehe, seharusnya kan cuma satu kan?

    @Kw: Jesus itu bukannya sama denga bapa yang di surga itu?

    @Neng Indie: Buat apa? Ya biar rame, biar penguasa agama ada kerjaan, baca deh yang bagian GOD terakhir itu. Btw, baik banget itu tuhan anda? Kenalin dooong.

    @-maynot-: banget :))

    @Budi: Hehe, maaf, itu kan cuma kesan yang ada di benak saya. Ternyata kenyataannya tidak seseram yang saya bayangkan ya. Soal si ayam, bisa jadi dia memang religius yang khusuk. Saya sendiri kalau berdoa suka mbayangkan macem-macem, kadang mesum, kadang malah ketiduran.

    @The Sandalian: Wah, bisa dipenggal kayak al halaj atau jenar atuh.

    @Petroek, Dkmfahutan, Masjek:
    Ga tau saya, blom pernah ketemu. Kalo dari yg disebut disitu sih ga ada yang sreg. Pengennya sih seperti tuhannya Neng Indie.

    @Pranala: Tuhannya Miyabi.

    @Ilham: “Harusnya” sih tidak sesederhana itu :D

  38. 40 Amd 11 Januari 2007 pukul 10:09 pm

    @ wadehel

    Wah, saya serahkan pakarnya aja deh kalau memposting hal beginian. Saya tunggu postingan berikutnya, OK?

  39. 41 fsckedp 11 Januari 2007 pukul 11:03 pm

    siddharta nongkrongnya di non theis :), buddha sesebutan untuk orang yang tercerahkan. tuhan? gak relevan karena non theis nya itu. ada jalan negatif, ada jalan positif. ah ente pan pernah saya ceritain soal itu ehhehe. tambahin satu lagi hel, the unknown. :))

  40. 42 Heri Setiawan 11 Januari 2007 pukul 11:19 pm

    Waduh… postingnya berat banget tuh….

  41. 43 ressay 11 Januari 2007 pukul 11:30 pm

    keren nih postingan.

    rencananya gw juga mau buat buletin yang gaya tulisannya seperti itu. seenak wudhele dhewe, nyentil, nyantai, sederhana. hehehe…itung2 buat mendinamisasi kampus.

  42. 44 arul 11 Januari 2007 pukul 11:59 pm

    wah anda ndak berTuhan yah? tulisan anda begitu sangat sensitif….
    mempermainkan suatu kepercayaan orang lain….

    Sadar2…..

  43. 45 Wong Edan 12 Januari 2007 pukul 1:35 am

    Wah, hebat mas/mbak wadehel ini, tapi lebih bagusnya kalau belajar lagi untuk lebih bijak dan positif thingking sama orang yang mempercayai Tuhan-nya. Kalau sikap kita malah tidak simpatik, justru kita bagian dari mereka juga. Jangan mencintai demokrasi dengan cara anarkhi, dan jangan untuk menegakkan HAM justru dengan cara yang tidak legitimate. Kayaknya, semoga tidak sih, Anda justru dangkal pengetahuannya tentang masing-masing Tuhan, so anda sendiri yang menciptakan Tuhan yang bernama WADEHEL. Lebih anda kembangkan sikap bertanya ketimbang menghakimi, sepertinya, anda memang tidak pro FPI, tapi diam-diam anda adopsi juga pola pikirnya, CUCIAN DEH LO…..

  44. 46 aRdho 12 Januari 2007 pukul 5:05 am

    hahahahah.. TOP BGT!! :)

  45. 47 Deni Triwardana 12 Januari 2007 pukul 9:16 am

    Gini Deh…

    Yang Nasrani Menyebutnya Bapak ( Tuhan Bapak Yang Disurga )
    Yang Hindu Menyebutnya Oom ( Oom Santi… Santi O..om )

    Nah.. Gimana Mas Bisa nambahin yang lain?

  46. 48 sandymc 12 Januari 2007 pukul 9:53 am

    weleh, bener tuh tuhan jaman gene bisa buat dijadiin senjata. Alhasil harga jual tuhan menurun, coba denger2 aja, udah banyak banget orang ngobral ‘demi Awloh, bukan gua, sumpe de’

  47. 49 wadehel 12 Januari 2007 pukul 10:23 am

    @Amd: Hehe, memaksimalkan performancing ya :D

    @Fsckedp: Wah, udah deh. Otak saya retak kalo udah urusan bahas dan milih jalan, sekarang malah nambah. Bahas gituan pm aja, atau di blog sendiri ya:P beraattt.

    @Ressay: Ah, pakai gaya anda saja sudah bagus kok. Tapi semangat padang pasirnya itu kalau bisa dikurangi, kalau bisa diganti dengan semangat lokal. Selain pohon kurma, pohon pepaya juga ciptaan tuhan kan. Cuma saran sih :)

    @Arul: Kalau ‘ber’ = ‘memiliki’, maka tuhan yang ‘ber’saya :P Baca sekali lagi deh, pelan-pelan. Siapin cemilan.

    @Wong Edan: Hehe, iya, jangan2 bukan saya yg seperti FPI, tapi FPI yang seperti saya :)) Cucian banget deh gw. Ide bagus nih buat posting berikutnya. Makasiiih :D

    @Deni T: Terimakasih infonya.

    @Sandymc: Dari sebanyak ini orang, akhirnya ada juga yg baca teliti sampe beres :)) ga sia-sia deh gw nulis. Anda termasuk pembaca yang harus diwaspadai.

  48. 50 bayuleo 12 Januari 2007 pukul 12:13 pm

    hahahahaha ….wadefak ehh wadehel … tulisannya begitu merdeka, selamat nak kamu telah mendapatkan pencerahan. Got ist Tot (Nietzsche). jgn lupa Rock & roll!

  49. 51 klikharry 12 Januari 2007 pukul 1:21 pm

    kalo misalnya seluruh tuhan-tuhan yang disebut oleh wadehel tadi ikutan smackdown, kira-kira siapa yang menang ya?
    he..he…

  50. 52 Irwan 12 Januari 2007 pukul 3:24 pm

    Tuhan saya cuma satu lo, tapi namanya ada 99

  51. 53 aditya darmawan 12 Januari 2007 pukul 4:06 pm

    kurasa Yang Maha Kuasa hanya tersenyum saja (itupun jika Beliau berkenan) menyaksikan mahluk mahluk bumi yang lucu melakukan :
    1. membela agama
    2. membela Dia
    3. mengajak orang masuk agama
    apakah agama itu perlu ?
    kurasa yang utama adalah kualitas hidup manusia selama bernyawa, bukan agamanya…

  52. 54 erander 12 Januari 2007 pukul 4:12 pm

    Teguh. Kali ini saya benar2 tertegun membaca isi blog-mu. Speechless. Apapun, mudah2an Engkau menemukan Tuhan-mu. Apapun itu. Karena Tuhan itu adalah kepercayaan. Bukan kata-kata. Sehingga seperti yang Irwan katakan, Tuhan cuma satu tapi namanya bisa 99 .. hmm. Yang paling penting, bukan sebutannya, tapi bagaimana perilaku kita sendiri. Apakah kita memerlukan Tuhan atau tidak?

  53. 55 Anonim 12 Januari 2007 pukul 4:28 pm

    Tuhan saya cuma satu lo, tapi namanya ada 99

  54. 56 irdix 12 Januari 2007 pukul 11:57 pm

    Tuhanku ada lima… rupa-rupa warnanya… dst..

    ehhehehe… ya.. begitulah.. mo ada Tuhan, mo ga ada mo adalima, mo sisa 4 aja.. life’s go on..

  55. 57 ctrlz 13 Januari 2007 pukul 12:51 am

    allah,kalo dimaenin hurufnya jadi HALAL lo whatthehell…..
    difoodcourt singapore,ada makanan judulnya lucu…englishnya lupa,tapi kalo diIndo in artinya,budha kecebur dalam sop…..(sejenis daging2 bulet kaya’ baso didalam sop gitu deh..)
    hahaha..

  56. 58 ctrlz 13 Januari 2007 pukul 12:54 am

    budha kan dari India,sidarta,kok…budanya jadi org china yah???

  57. 59 arul 13 Januari 2007 pukul 1:15 am

    dengan menulis tulisan ini bisa menimbulkan sara loh. anda menulis ungkapan2 yang bisa menyinggung sisi toleransi yang ada.

  58. 60 ressay 13 Januari 2007 pukul 10:22 am

    Ada Jenis-jenis Tuhan
    1. Tuhan yang bersemayam di singgasananya
    2. Tuhan yang ada di Atas langit
    3. Tuhan yang wajahnya ada dihadapan kita kemanapun kita menghadap.
    4. Tuhan yang punya tangan tapi gak bisa makan.
    5. Tuhan yang duduk di Arsy tapi gak punya pantat.
    6. Tuhan yang bisa menunjukkan betisnya
    7. dll.

  59. 61 passya 13 Januari 2007 pukul 12:56 pm

    Ya Tuhan….
    udah serame ini… :D

  60. 62 kunderemp 13 Januari 2007 pukul 8:12 pm

    Hyang Widhi: Serem, pake sarung kotak-kotak. Tangannya banyak, matanya melotot. Harus dikasih sajen.

    Setahu saya, Sang Hyang Widhi itu nama esensi, mungkin sama seperti Atman atau Brahman (bukan Brahma lho..) atau Ishvara. Alias tidak ada bentuk. Yang berbentuk patung-patung tersebut adalah perwujudan atau manifestasinya (seperti Trimurti) tetapi bukan Sang Hyang Widhi itu sendiri.

    Coba baca:
    Sang Hyang Widhi
    Atman
    Brahman
    Ishvara

    Mungkin yang beragama Hindu bisa menjelaskan lebih baik.

  61. 63 wadehel 13 Januari 2007 pukul 8:33 pm

    Sas, sorry, link seperti itu harus masuk akismet :D Disini tidak menerima link mlm atau referal2an.

  62. 64 Gabrielle 13 Januari 2007 pukul 8:42 pm

    God is simple. Tuhan itu sederhana.

    :)

  63. 65 b4df4c3 15 Januari 2007 pukul 3:42 am

    mungkin Anda perlu berkaca … dan meninju muka sendiri … terasa sakit??? itu baru pukulan tanganmu sendiri … bagaimana rasanya dipukul sama yang MENCIPTA KAMU???

  64. 66 Tuhannya Wadehel 15 Januari 2007 pukul 1:23 pm

    Dehel anakKu yang apa adanya,

    Tulisanmu sungguh membuat orang jadi berpikir, Aku ini ada atu tidak? Seharusnya kamu bersaksi bahwa Aku ada. Bukankah Aku yang memberimu segala yang kamu inginkan? Bukan ortumu, bukan temanmu, apalagi musuhmu.

    Sadarlah anakKu, sebentar lagi Aku akan memanggilmu pulang. Siapkan hatimu… siapkan hatimu….

    Pulanglah Wadehel…Aku menunggumu….pulanglah Anakku….
    Aku menantimu…

    *Hiiii….aku dadi wedi dewe…*

  65. 67 Tuhannya Wadehel 15 Januari 2007 pukul 1:46 pm

    Aku akan memanggilmu pulang dengan cara kesetrum!!! Jadi klo kamu belom mo pulang, jangan mainan listrik, jangan keluar saat hujan n petir, jangan ngecas HP, jangan ngecas laptop.

    Cuma kamu yang Aku kasih tau cara matimu, jadi berbahagialah karena kam istimewa.

    Nanti nek sudah tobat, boleh ngecas HP, boleh main listrik, jadi nek mati langsung ke sorga. Oke???

  66. 68 Paijo 15 Januari 2007 pukul 1:47 pm

    Saya tidak tahu apa yang muncul di benak saya kalau saya mendengar nama WADEHEL. Karena di tempat saya gak pernah ada yang nyebut sih, saya cuma membacanya di blog sehingga gak pernah kedengaran oleh telinga saya.

  67. 69 Haqiqie Suluh 16 Januari 2007 pukul 2:04 pm

    Tuhan?: Sinisme dalam sarkasme yang lumayan menggelitik keimanan…
    Saya sih cuma jadi penonton… :)

  68. 71 antobilang 16 Januari 2007 pukul 6:44 pm

    wah ini komen dari Tuhannya Wadehel…(sama engga ya dengan Tuhanku)

    “Aku akan memanggilmu pulang dengan cara kesetrum!!! Jadi klo kamu belom mo pulang, jangan mainan listrik, jangan keluar saat hujan n petir, jangan ngecas HP, jangan ngecas laptop.”

    Ya Tuhan(nya Wadehel), kalo wadehel ga boleh nyalain laptop/kompi trus gimana dunk..ga bisa ngeblog deh….emangnya bisa ngenet tanpa laptop/kompi/hp yang semua-muanya harus pake listrik..so…ntar bener2 mas wadehel ga mau ngeblog njuk kepiye?….Ya Tuhan(nya Wadehel), jangan kamu ngancemin si wadehel..berikanlah dia Petunjuk…

  69. 72 TUHAN 16 Januari 2007 pukul 10:01 pm

    Ah mumpung masih hangat, sekalian numpang promosi ya… silahkan Anda kunjungi blog saya di http://dihantuituhan.blogspot.com. Selamat bersenang-senang… ;)

  70. 73 antobilang 16 Januari 2007 pukul 11:57 pm

    mana ada TUHAN tukang boong…
    (tuh yang nulis komen diatas saya…)
    (coba cek linknya…kok ga bisa dibuka..)

  71. 74 chaidir 17 Januari 2007 pukul 12:07 am

    duh… ‘otak’ gw ga nyampe sini deh….

    *cuma sekedar baca n numpang lewat aja deh… :-D

  72. 75 Ferry 17 Januari 2007 pukul 11:27 am

    wakakaka…

    moga – moga wadehel bener – bener jadi inget kubur…

    * kaburr *

  73. 76 wadehel 17 Januari 2007 pukul 11:31 am

    @Gabriele: Sok tau niiiih… emang dah ketemuan?
    @B4df4c3: Tapi anda ga pengen mukul saya kan?
    @Paijo: Pak saya ada ide2/pertanyaan tentang energi alternatif, kirim kemana nih? Eh, nanti saya cari di blog anda deh.
    @Haqiqie: Tergelitik bukan goyah kan?
    @TUHAN: Anda palsu, bahkan blog anda tidak bisa diakses.

  74. 77 TUHAN 17 Januari 2007 pukul 8:55 pm

    Saya perbaiki link kemarin, ternyata ada titik di belakang “com” sehingga link-nya ngawur… kali ini semoga bisa diakses, mohon maaf

    http://dihantuituhan.blogspot.com

  75. 78 soeprie 18 Januari 2007 pukul 1:53 pm

    Tulisan anda bagus, saya baru belajar nulis disini dan tahu ternyata saya cuma kecil dari apapun. Tergantung apa anda percaya Tuhan atau tidak, tapi setidaknya anda mungkin juga perlu mencari jawabannya dari dalam hati anda… saat anda “membaca” komentar ini… bagaimana anda bisa membaca, makan, bangun lagi sesudah tidur, pernah kebayang tidur “bablas” mati -atau mungkin anda orang yang banyak nyawanya dan tidak bisa mati-…. ya entahlah… mungkin anda benar atau mungkin saya yang gila… tidak ada yang menjamin anda benar atau saya salah… tapi juga tidak ada orang yang bisa menjamin besok anda atau saya atau siapapun nulis lagi, membaca lagi komentar lagi… atau mungkin bernapas lagi…

  76. 79 Haqiqie Suluh 18 Januari 2007 pukul 2:44 pm

    wah koment juga diedit yah….:)
    seingat saya bukan “menggelitik” yang saya tuliskan
    tapi gak papa,
    mungkin itu buat kebaikan blog ini
    atau saya yang lupa menuliskan apa kemarin, sampai sampai merasa itu bukan tulisan saya…?
    dasar pelupa aku
    mohon maaf

  77. 80 dimashusna 18 Januari 2007 pukul 3:10 pm

    yee…. si padehell, kalo Alloh emang kejam dan tukang ngelaknat dari tadi ente udah disamber kereta listrik, walaupun jauh dari rel kereta.
    Gini aja deh… padehell tahan nafas selama 1 jam, baik dari hidung, mulut atau rongga manapun. trus nanti kirim email ke saya tentang Tuhan2 yang ente tulis. mana yang bener? mau…?!

  78. 81 zferry 23 Januari 2007 pukul 3:31 pm

    @ dimashusna

    Alloh sama ALLAH hebatan mana yaaaa ????

    ** bingung sembari merem **

  79. 82 goddebris 25 Januari 2007 pukul 12:17 pm

    :) very good post.
    jadi inget “god of the gaps”. tuhan yang hadir diantara hal-hal yang belum dimengerti homo sapiens. mungkin itu alasannya kenapa homo sapiens jaman dulu lebih beriman daripada homo sapiens jaman sekarang. oh iya. adalagi 1 nama yang belum disebut “flying spaghetti monster” -fsm … tuhannya orang2 yang anti intelligent-design. :p

  80. 83 Dimashusna 26 Januari 2007 pukul 11:04 am

    Maksutnya yaitu: “Masa iya sih mesti mesti mati dulu baru Percaya KaLau ALLOH itu Maha Rohman Dan Maha Rohim?!(Thanks 4 your correction).
    Dulu waktu skola gw pernah berpikir apa iya Tuhan itu ada, apa buktinya?! trus kalo emang ada kaya apa. dan di mana?
    Sampai Detik ini dosa gw buanyak banget, tapi DIA tetap memberi kesempatan gw untuk bertaubat.
    kaya isi lagunya Raihan :” TUhan dosaku menggunung tinggi, tapi RohmatMU melangit luas.”

    Tapi gw salut ama dikau, karena justru memacu orang2 bwt berpikir, merenung dan bertaubat.(memancing kebenaran dgn kontroversi).

    dikau menuliskan sifat Tuhan seperti itu karena hal itulah yang kau dapat dari omongan para pendakwah, so siapa yg salah?!
    Tapi gw juga jd inget dengan omongan guru agama wkt STM di Garut, Tuhan pada esensinya adalah sesuatu yang kita sembah(in meaning diikuti perintahnya, ditakuti dan selau diutamakan). Maka dari itu maka Tuhan bisa berbentuk syahwat, obsesi, harta, akal and etc.
    Dari definisi itu gw bisa ambil kesimpulan bahwa tdk ada manusia (kecuali yang hilang ingatan, anak bayi, orang pikun) yang tidak bertuhan, termasuk yang mengaku atheis, karena mereka sebenarnya menuhankan nafsu, syahwat dan akal mereka.

    Oh iya hel, bwt orang cerdas dan kritis kaya dikau kayanya cocok banget baca bukunya Bpk Mulyadi Kartanegara yg judulnya “Menembus Batas Waktu”. karena bisa jadi jawaban bwt tulisan kau ini.

    One last Comment, gw pernah baca di Mukhtarul Ahadis sebuah Hadis Qudsi yg lengkapnya gw ga inget, tapi yg paling gw inget cuma kalimat awalnya “Sesungguhnya RahmatKU mendahului murkaKU”.

  81. 84 hanya saya... 26 Januari 2007 pukul 4:12 pm

    Hel, kalau mau ketemu TUHAN, nanti malam berdoa ya…bilangnya begini “TUHAN, aku mau ketemu engkau saat ini,bicaralah dalam hati dan pikiranku…” DIA ada sebelum kau ada,seblom kau tanya…seblom kau binun…

    PENCIPTA yang cari ciptaan kok hel, bukan ciptaan nyari si PENCIPTA

  82. 85 ryefa n zeeee 27 Januari 2007 pukul 12:51 pm

    ASS………………

    Woiiiii………..

    klo mnrt guw, ni bacaan tuh SESAT BGT…!!!!!!!!!!!!

    coz dimana2 tuh yg namanya TUHAN cuma ada SATU di DUNIA!!!
    HARUSNYA bacaan spt itu jgn diletakan di internet….!!!!
    coz siapa ja yg membacanya PASTI TERSINGGUNG dan jg bwat PENULISNYA, , ,

    BODOH BGT LOOO………!!!!!

  83. 86 halludba72623 28 Januari 2007 pukul 9:59 pm

    pakde wadeheeeeel ini…. gemes!

    saya ngga tahu pakde ini sebenarnya mengungkapkan apa sih, apa cuma mau memuji-muji tuhan dengan cara pakde(kayak emha) atau emang mau ngehina yang sedalem-dalemnya, atau pakde penganut pluralisme beneran??? (yang terakhir jangan deh, amin)

    kalo kamu yang kesatu ya gapapa kok, saya juga ikut-ikutan pakde emha nyebut tuhan dengan mahanyeleneh kok. monggo, itu sangatlah wajar kalo udah nyampe elmu makrifat, atau sekedar ikut-ikutan saja.

    tapi kalo kamu yang kedua, ngerti dong kalo yang nyiptain pakde siapa. Tuhan yang mahakuasa bukan? kebetulan, kebetulan saya baru baca buku pakde harun yahya. Waduh tuh pak wadehel, anda harus baca. Bahwa tuhan menciptakan tubuh kita, kemampuan dan dunia secara maharumit dari yang terkecil sampai terbesar. saya harap sih mas wadehel mau baca. Dan ikuti saja nurani sendiri. bahwa tuhan memang MAHA takterbatas, sehingga manusia saja yang memandang tuhan dari sudut pandangnya masing-masing. Ada yang membuat tuhannya sendiri, ada yang menyembah dirinya sendiri, ada pula yang menyembah tuhan bikinan orang lain. ngutip pakde emha, walaupun anda menghina tuhan, beliau tak akan menjadi rendah derajatnya, dan tak akan lebih tinggi derajatnya. karena tuhan mahatakterbatas.

    Aduh kalo pakde wadehel termasuk yang ketiga, saya saranin pikir lagi deh. Saya ngga bisa bayangin nih. mudah-mudahan ngga. Amin.

    maaf klo kepanjangan ya mas wadehel… tapi ini semua ngeluncur dari otak saya tanpa bisa ditahan oleh tangan saya… heheh :)

    sing waras ngalah…

  84. 87 itkaS lotnoK 30 Januari 2007 pukul 7:46 am

    @Dimashusna
    gua udah nyoba Ritual suci yang anda beritahukan kepada gua (tahan napas 1 jam baik dari hidung, mulut atau rongga manapun), Ternyata… wahai sobatku yang beriman…. Ritual itu berhasil! Gua udah ketemu sama Tuhan, coi! Sekarang gua tau semuanya, dan tau juga Tuhan mana yang benar! Alhamdullilah…

  85. 88 dimashusna 31 Januari 2007 pukul 5:52 pm

    @halludba72623
    Weee… Ternyata kita sama, pengagumnya Mas Emha and juga baca bukunya Harun yahya toh.

    @itkas lotnok
    ?????!!!! yang bener kamu teh nok..?!!
    **sambil mulut mangap sedikit, muka dideketin ke monitor**
    Alhamdulillah kalo bener mah…,

  86. 89 wushuang 2 Februari 2007 pukul 2:21 pm

    lo ada karena siapa om ? kalo karena moyang lo, trus siapa yang nyiptain moyang lo om ? baca Quran lagi deh :))

  87. 90 abdullah 3 Februari 2007 pukul 2:34 pm

    ALLAH itu Maha SABAR dan PENYAYANG
    mau bukti?
    mas wedehel sudah mempermalukan “ALLAH”, tetapi ALLAH masih tunda “marah” NYA. ALLAH tidak tersinggung kan? ALLAH tak “turunkan AZAB buat mas Wedehel kan?

  88. 91 irdix 4 Februari 2007 pukul 11:51 pm

    sorry ga bisa quote :

    “ALLAH itu Maha SABAR dan PENYAYANG
    mau bukti?
    mas wedehel sudah mempermalukan “ALLAH”, tetapi ALLAH masih tunda “marah” NYA. ALLAH tidak tersinggung kan? ALLAH tak “turunkan AZAB buat mas Wedehel kan?”

    wah.. sebenernya tadi dah mo maki-maki nie orang..

    ALLAH ga bisa MALU dan diper-MALU-kan mas..

    terlalu kecil “ALLAH” jika anda pahami dengan “personifikas-personifikasi” yang anda kira (ndak akan bisa anda pahami dwehh..), lucu banget jika anda seolah-olah merasa “paling ISLAM” namun fact-nya justru anda yang berkata-kata konyol dengan me-MANUSIA-kan ALLAH..

  89. 92 BhambanK 6 Februari 2007 pukul 8:36 pm

    Aduu..uh jadi bingung dech…
    Tuhan…Tuhan…han…han..hantu…
    Kalo Mas Wadehel ngebalikan God jadi Dog,
    Tuhan di balik jadi Hantu do..ong…ya tho?
    Tuhan emang kaya hantu (terlepas dari apapun sebutan-Nya, gak semua orang bisa lihat dan nyadar akan keberadaan-Nya.
    cuma orang-orang yang pake otaknya (baca: berpikir.) yang bisa lihat bahwa Tuhan itu ada…
    but, Dusta besar kalo ada yang bilang dia pernah liat Tuhan (Tuhan dalam artian yang saya maksud, apapun saya menyebut-Nya), yang bisa dilihat oleh orang-orang yang saya katakan otaknya dipake, adalah ciptaanNya (logis dong, kalo ada ciptaan pasti ada yang mencipta, ada Motor Kharisma 125 cc, karena ada Pabrik HONDA dsb…(itu kata Ustadz, tentunya saya setuju..)…bla….bla…bla…

    udah ach! Gw jadi takut salah ngomong nich, takut di bilang.. apa ya..?
    whatever lah, emang biarpun ni tulisan (Macam2 Tuhan) berkesan gak ada kerjaan, tapi emang butuh otak brilian juga bwt punya ide konyol bikin tulisan kaya gini….
    ya, BT(beda tipis)lah antara gila dan Brilian, bener khan?
    so, Mas Wadehel lebih seneng di bilang Brilian apa Gila?
    OooPs! becanda….

  90. 93 IndonesianInfidel 7 Februari 2007 pukul 7:21 pm

    @ Abdullah

    Abdullah, Yesus juga Maha Sabar dan Penyayang.
    Mau bukti?
    Wadel bukan hanya mempermalukan tapi gak percaya Yesus itu Tuhan tapi Tuhan Yesus masih tunda marah-Nya. Yesus tidak tersinggung kan? Yesus tidak turunkan azab buat Wadehel kan?

    Hahaha, what a lame logic!

  91. 94 IndonesianInfidel 7 Februari 2007 pukul 7:27 pm

    @ Reyfa n zee

    HARUSNYA bacaan spt itu jgn diletakan di internet….!!!!
    coz siapa ja yg membacanya PASTI TERSINGGUNG dan jg bwat PENULISNYA, ,
    BODOH BGT LOOO………!!!!!

    Trus bacaan apa yang harusnya diletakkan di internet?
    Woi, bangun woi! Get real!
    Orang bebas bicara apa aja di internet. Mau mengkritik eksistensi Tuhan lo kek ato agama lo kek, masak gak boleh! Kitab suci lo aja mengkritik agama laen boleh kok orang enggak?! Talk about double standard!

    Mau bacaan yang lebih sesat:
    http://www.infidels.org
    http://www.daylightatheism.org
    http://www.ebonmusings.org

  92. 96 kumala 13 Februari 2007 pukul 5:48 pm

    Tuhan mana yang paling bagus?
    Tuhan mana yang paling kuat (baca: paling berkuasa)?
    Tuhan mana yang paling bijaksana?
    Tuhan mana yang paling betul?
    Tuhan mana yang paling ada?

    tuhan saya dunks ah.. dah itu doank jawaban saya. saya gak terima pertanyaan & debat. nanti aja, klo saya & anda sudah sama2 mati, baru bisa tanya-jawab, dan debat2 lagi. hehehe..

  93. 97 d3sDem0na 15 Februari 2007 pukul 1:44 pm

    semua orang boleh menghujat Tuhan, tak akan ada yang melarang bahkan tuhan itu sendiri tak akan melarang mungkin Dia hanya akan tersenyum membaca semua tulisan-tulisan busuk ini
    kita bebas berpendapat, inilah kemerdekaan yang hakiki
    benarkah ?
    bagaimana bila kukatakan bahwa pemikiranku ini adalah pemikiran Tuhan
    kehendak kita adalah kehendak Tuhan
    bukankan semua yang kita lakukan tak luput dari kuasaNya
    karena kita pada dasarnya adalah terbelenggu akan takdirNya yang itu pasti nyata
    kita adalah sebuah bagian kecil dari rencana besarNya lakon dari pentas dunia
    kita punya Tuhan sendiri, entah itu Muslim Kristen Hindu Budha atau apalah itu semua tak selanya ketika kita dalam satu aliran kita bernaunga dalam satu Tuhan tidak, itu semua tergantung pada iman yang tertanam dalam gambaran jiwa manusia
    Tuhanku hanaya satu Sang Maha dari Segala Maha
    Tuhan Yang Agung
    Maka ketika logika tak lagi sanggup untuk memberikan kita arti Keyakinan akan Tuhan tanyalah pada hati, disitu nurani tak akan pernah berbohong

  94. 98 adam 20 Februari 2007 pukul 4:01 pm

    YHWH itu maksudnya YAHWEH, ditemukan di IBRANI kuno, dan diceritakan bahwa disambar petir itu boong

  95. 99 adam 20 Februari 2007 pukul 4:13 pm

    YHWH itu adalah TUHAN YAHUDI YANG PALSU, kalo emang bener YHWH teros ALLAH nya taruh mana. ALLAH adalah tuhan asli agama langit (TAU KAN : ISLAM, KRISTEN MAUPUN YAHUDI) ITU HARUS DIINGET, TAPI YANG MURNI SAMPE KARANG MENURUT KAMI ADALAH ISLAM (dengan kitab AL-Qura’annya yang g pernah di update meskipun udah +15 abad turunnya g perti kitab lainnya)

  96. 100 apri rastafari 22 Februari 2007 pukul 5:05 pm

    Tuhan itu apa?
    Percaya itu apa?
    ada itu apa?

    Ada yang bisa jawab gk????

  97. 102 mewali 23 Februari 2007 pukul 1:47 am

    kalian semua sok tahu sich,ngurus diri sendiri aja ga becus.seharus nya di kasih solusi , jangan di biarkan bingung gitu

  98. 103 Andalusia 23 Februari 2007 pukul 9:53 am

    Anda tidak akan mampu memikirkan Tuhan, Sebagaimana anda tidak mampu memikirkan ruh/nyawa dalam diri anda sendiri…
    Kenalilah diri anda sendiri maka anda akan mengenali Tuhan anda sendiri. Kalau belum kenal Tuhan rasanya kurang afdol mendefinisikan Tuhan. (Jadi keliatan begonya). Sori Hel, gue nyasar kesini, Tapi nggak bakalan tersesat…hehehe
    Sebuah apel,
    ilmuwan : ia memandang bahwa itu mengandung vitamin
    Kyai : haram atau Tidak?
    wedehel : benda yang bisa mengenyangkan perut.

  99. 104 salimah 26 Februari 2007 pukul 1:26 pm

    tuhan di balik hantu..
    aku ga punya tuhan tapi… ” ALLoH ” asal kata alif lam berarti satu-satunya dan illah yang artinya yang ditaati. aku punya sesuatu yang satu-satunya yang menyayangiku yaitu DIA yang telah menciptakan aku dan alam semesta. itulah yang harus sama-sama kita taati.. soal tuhan, allah, alloh. pangeran dll hanyalah sebutan yang dibikin manusia. tapi alloh adalah bahasa dari sang pencipta yang kebetulan ada dalam alquran. yang di letakkan dalam alquran dengan pembawanya adalah utusan alloh sendiri yakni ahmad bin abdulloh. klo pengen tau tuhan ada dlam surat ke 17 ayat 12 yg berbunyi. robbirhamhuma kama robbayani shogiro. ada dua robb tapi penerjemah artiinnya berbeda yg pertama di artikan tuhan robb yang kedua diartikan mendidik. padal kan sama-sama robb harusnya artinya sama donk.. ngawur banget yang nerjemahin…

  100. 105 salimah 26 Februari 2007 pukul 1:30 pm

    tuhan di balik hantu..
    aku ga punya tuhan tapi… ” ALLoH ” asal kata alif lam berarti satu-satunya dan illah yang artinya yang ditaati. aku punya sesuatu yang satu-satunya yang menyayangiku yaitu DIA yang telah menciptakan aku dan alam semesta. itulah yang harus sama-sama kita taati.. soal tuhan, allah, alloh. pangeran dll hanyalah sebutan yang dibikin manusia. tapi alloh adalah bahasa dari sang pencipta yang kebetulan ada dalam alquran. yang di letakkan dalam alquran dengan pembawanya adalah utusan alloh sendiri yakni ahmad bin abdulloh. klo pengen tau tuhan ada dlam surat ke 17 ayat 24 yg berbunyi. robbirhamhuma kama robbayani shogiro. ada dua robb tapi penerjemah artiinnya berbeda yg pertama di artikan tuhan robb yang kedua diartikan mendidik. padal kan sama-sama robb harusnya artinya sama donk.. ngawur banget yang nerjemahin…

  101. 106 salimah 26 Februari 2007 pukul 1:36 pm

    tuhan asal kata tuan cuma diperhalus aj dengan sisipan ” H ” siapapun bisa jadi tuan bukan??????….. wanita, duit, dosen, orangtua,…

  102. 107 wadeparadis 1 Maret 2007 pukul 10:25 pm

    What The Hell!

  103. 108 leman 5 Maret 2007 pukul 4:12 pm

    Dalang juga kayanya termasuk tuhan yang bisa mebuat hidup prilaku wayang golek/kulit, bisa lihat di tpi.

  104. 109 hamba tuhan nan lucu dan imut 12 Maret 2007 pukul 11:42 pm

    salut dan tanpa kompromi ,,,
    ketika loe berpikiran tuhan itu telah mati cuma ada satu tuhan yang gak akan mati ,,,
    saya gak percaya tuhan,,,saya hanya percaya allah yang esa yang akan membuktikan di saat kamu mati nanti ,,,
    dan untuk sekarang saya dukung tertawa anda dan akan saya beritahukan nanti setelah kita mati ,,, apakah benar yang dikatakan anda dengan nama tuhan atau malah anda merengek meminta ampun sama tuhan karena tidak bersukur akan nikmat yang diberikan

  105. 110 rohmanaku 17 Maret 2007 pukul 10:23 pm

    Ketemu Tuhan ketika ber-Islam

    Telah banyak pemikiran berkembang yang mengkaji tentang agama. Kiranya meliputi segala aspek yang dimiliki oleh agama baik segi teologis, politik, hukum, pendidikan dan lain sebagainya. Salah satu yang menarik bagi saya adalah tulisan Asghar Ali E. tentang agama pembebasan. Satu pertanyaan besar bagiku (dulu) apakah benar agama dapat membebaskan kehidupan manusia?. Sedang asumsi selalu mengatakan, agama tetap tidak akan pernah dapat memberi kebebasan dengan segala perintah-perintah yang datang dengan seenaknya tanpa mermperdulikan latar belakang manusia yang mengikutinya. Munculnya ide agama sebagai pembebasan hanya berlaku bagi orang-orang yang takut mengkritisi Tuhan dengan perintah-perintahnya, takut masuk neraka, takut tidak kebagian jatah kavlingan tempat di surga, takut dikucilkan tetangga atau bahkan takut tidak diakui sebagai warga negara Indonesia sebagaimana telah tertuang pada pasal pertama yaitu Ketuhanan Yang Maha Esa.
    Ketakutan-ketakutan seperti itu ada, sebagai sebuah konsekuensi yang wajar atas model keberagamaan yang lahir bukan karena benar-benar sadar akan kebutuhan beragama. Agama dianggap sebagai suatu yang sempurna (absolute), tanpa melihat fungsi agama untuk siapa. Sehingga garapan Agama menjadi menyempit, dibatasi pada wilayah-wilayah mistis dan benar menjadikan agama sangat membelenggu kehidupan.
    Beragama sebagai kebutuhan, tidak akan pernah dirasakan kecuali dalam areal kampanye keagamaan seperti khutbah, ceramah atau orasi dunia ideology mistis di masjid-masjid, undangan pernikahan, peringatan hari-hari agama yang tidak lain hanya menjadi ladang mendapatkan keuntungan material penceramah, bukan berlandaskan atas memasyarakatkan kebenaran beragama.
    Itulah sekilas lalu tentang pemahaman agama yang parsial, namun kini (meskipun mending) telah menganggap agama sebagai kebutuhan dalam menjalani kehidupan dunia untuk tunduk dalam system pemerintahan Tuhan. Ketundukan ini tidak hanya didapat dari semata-mata melakukan karena kewajiban, namun harus dimulai dari jiwa kritis dalam merasakan maksud dari segala macam perintah-perintah agama. Kesadaran ini sebenarnnya sudah ada dalam diri kita. Kesadaran ini didapat jika kita benar-benar memahami konsep kemanusiaan yang menjadikan manusia hidup di dunia ini. Utuk itulah, kesadaran harus dibangun melalui berfikir benar tentang problem kemanusiaan atau apa kebutuhan dasar manusia?. Tetapi lebih awal lagi siapakah manusia? Anehnya, Islam telah menyelaraskan apa yang manusia pikirkan tentang kehidupan ini. Untuk itu, pengalaman ini aku bagi pada siapapun yang ingin menikmati petualangannya dalam kebingungan mencari Tuhan untuk mempertimbangkan apa yang aku dapatkan dalam Islam.

    A. Apa itu manusia?.
    Terlepas dari ego, arogansi dan parameter obyektifitas manusia, semua manusia sepakat bahwa manusia adalah makhluq terbaik yang ada di alam ini. Al-Qur’an juga menegaskan hal ini:
    Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka di daratan dan di lautan , Kami beri mereka rezki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan.(17:70).
    Kalangan filosof mendefinikan manusia sebagai hewan yang berakal. Dalam arti, manusia dan binatang secara kualitas adalah sama, tapi hanya dibedakan oleh akalnya. Akal bukan secara keberadaan, tapi kualitas atau fungsi akal.
    Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya. Kemudian Kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya(At-tin, 95:4-5)
    Manusia yang punya potensi, tapi tidak diberdayakan dan memilih jalan sebagaimana mahkluq lain menjalani kehidupannya, maka manusia seperti ini tidak mempunyai keistimewaan bahkan lebih rendah dari binatang. Dalam versi Al-qur’an juga menegaskan:
    Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami dan mereka mempunyai mata tidak dipergunakannya untuk melihat , dan mereka mempunyai telinga tidak dipergunakannya untuk mendengar . Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai.(Al ‘araf, 7:79)
    Dan sebaliknya, jika manusia yang memanfaatkan segala potensinya, secara naluri kemanusiaan siapapun akan kagum, menyanjung dan memujinya.
    Dengan bahasa yang berbeda, di dalam Al-Qur’an orang yang mempunyai kesadaran akan potensinya digolongkan dalam kategori orang yang bersyukur.
    Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati (akal), agar kamu bersyukur (An Nahl, 16:78)
    Akal adalah alat analisis kehidupan. Sedang ke mana arah kerja akal? dan untuk siapa akal bekerja ?, maka manusia disertai dengan potensi naluri/insting (fitrah). Manusia dapat membuat rasionalisasi segala yang tidak rasional atau malah sebaliknya, tapi manusia punya kata pilihan utama (kebenaran) mana yang akan diambil dalam kehidupannya.
    Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu, Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui. (30:30).
    Bisa saja manusia menipu jutaan manusia lainnya, tapi sebenarnya tidak ada kuasa untuk menipu dirinya sendiri. Itulah dimana keinginan manusia yang diakhiri oleh tindakannya membuat wajah kehidupan ini.
    Dan ketahuilah olehmu bahwa di kalanganmu ada Rasulullah. Kalau ia menuruti kemauanmu dalam beberapa urusan benar-benarlah kamu mendapat kesusahan, tetapi Allah menjadikan kamu ‘cinta’ kepada keimanan dan menjadikan keimanan itu indah di dalam hatimu serta menjadikan kamu benci kepada kekafiran, kefasikan, dan kedurhakaan. Mereka itulah orang-orang yang mengikuti jalan yang lurus(Al hujurat, 49:7)

    B. Harus ada Allah
    Berdasarkan pengamatan hidup di dunia, dapat dilakukan introspeksi, siapa, apa dan mana yang benar-benar mempunyai nilai kebenaran yang berkualitas tinggi/tidak sedikitpun salah. Manusia sendiri yang mengklaim sebagai mahkluq yang paling pintar dan mulya diantara makhluq-makluq yang lain, ternyata tidak dapat dakatakan sebagai cermin sumber kebenaran. Terbukti dengan banyaknya klaim-klaim kebenaran versi kelompok ataupun individu pada kehidupan manusia, meskipun mereka membahas dan mempunyai landasan yang sama tentang sebuah kebenaran. Dengan kata yang sama, manusia tidak mempercayai kebenarannya sendiri sebagai kebenaran yang perlu dijadikan pedoman dan anutan bagi kehidupan manusia. Untuk itulah, manusia tidak layak untuk dijadikan sandaran atau pedoman kebenaran. Maka harus ada kebenaran yang ideal yang bersifat universal, ideal dan absolut. Sandaran semacam ini merupakan kebutuhan yang harus terpenuhi, karena kebenaran yang ideallah yang diinginkan manusia yang dapat memenuhi kebutuhan dan sebagai alat pemuas/untuk meraih kebahagiaan.
    Proses pencarian dan pengamatan terhadap kebenaran yang mana yang merupakan sebuah parameter idealisme kebenaran?. Di sanalah harus disimpulkan bahwa sumber kebenaran tersebut harus merupakan entitas di luar kemampuan manusia sebagai makhluq dengan kualitas tertinggi. Berarti juga telah mengharuskan adanya sesuatu di luar eksistensi alam ini, karena manusia sudah tidak dipercaya oleh manusia sendiri untuk memegang peridikat pemilik kebenaran ideal.
    Pengamatan seperti ini tidak harus kita teruskan dengan upaya individual untuk menangkap eksistensi dari idealisme kebenaran. Bisa kita amati dengan apa yang terjadi di alam ini, dengan melihat fenomena manusia dalam aktualisasinya mendapatkan kebenaran yang menurut kebanyakan manusia yang itu adalah kebenaran ideal. Fenomena manusia telah mengatakan bahwa kebenaran tersebut digambarkan dan disimbolkan dengan salah satu redaksi versi Indonesia adalah Tuhan. Yang kebetulah dalam redaksi umat Islam disebut sebagai Allah. Jadi Tuhanlah/Allah-lah yang kita cari sebagai rujukan segala sumber kebenaran.
    Islam adalah agamaku sejak kecil, agama terbesar kedua di dunia. Ditinjau dari besar pengikurnya, maka tidak ada salahnya jika Islam yang aku anut sejak kecil menjadi awal pembuktian bahwa di dalamnya memang ada kebenaran-kebenaran ideal yang dimaksud. Dengan demikian Islam akan memberikan jawaban problem dasar kehidupan yang beberapa tahun aku cari. Jika yang terjadi adalah sebaliknya, Islam tidak sejalan dengan logika dan rasa dari kehidupan manusia, maka tidak ada salahnya untuk melanjutkan pencarian pada obyek-obyek selanjurnya yang telah diklaim manusia menjadi sumber segala kebenaran. Allah yang disebut-sebut sudah saatnya harus dbuktikan.

    C. Penjelasan wahyu tentang Allah
    Dalam keinginan dan kemampuan manusia untuk menginginkan kebenaran yang benar-benar benar adanya, maka perlu disadari juga kelemahan manusia dalam menjangkau sang/sesuatu kebenaran ideal mutlak tersebut. Karena keidealan sang kebenaran dan kerelatifan manusia, maka tidak mungkin manusia dapat menjangkau kebenaran mutlak (Allah). Dikarenakan manusia dengan keterbatasannya setelah mengakui kelemahan, kekurangan, (al insanu mahalul khatha wa nisya), maka tidak mungkin manusia dapat menjangkau kekuatan yang serba Maha/Allah. Manusia adalah materi dan Allah (x) materi atau bukan sesuatu yang kita ketahui, ada dan kita miliki. Manusia adalah nisbi dan Allah adalah absolute. Kalau ada atau bahkan sama seperti apa yang ada dalam dunia ini tentunya kita yakin bahwa ia bukan Allah yang kita maksud.
    dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia (Al ikhlas, 112:4)
    Di dalam kesadaran akan keterbatasan manusia memperoleh atau mencapai kebenaran Allah, maka upaya manusia dalam memperolehnya, tidak dapat dilalui dengan hanya mengandalkan potensi pribadinya (sesuai yang dimiliki manusia). Ijtihad yang dilakukan oleh manusia dengan cara apapun, tidak mungkin (sia-sia) dapat menjangkau esensi kebenaran (Tuhan) bila metode yang dilakukan adalah dengan meneropong/meraih lansung dimensi ketuhanan sebagai langkah pendekatan. Hal ini sama saja dengan tidak mengetahui atau menjadikan kebenaran tidak ideal sebagai landasan kehidupan.
    Ini telah memunculkan problem baru bagi fitrah keHanifan manusia, karena fitrahnya dia merindukan kebenaran tatapi manusia tidak dapat meraih dalam kehidupannya. Dikarenakan kebenaran ideal tidak dapat dijangkau dengan upaya manusia secara sepihak, maka dari itu manusia membutuhkan intervensi/keterlibatan langsung dari Allah dengan keinginanNya untuk menjelaskan kebenaran yang Ia maksud. Kehadiran kebenaran ini harus ada dalam kehidupan/alam manusia dan bukan lagi merupakan kebenaran itu sendiri (Allah), karena yang membutuhkan adalah manusia. Intervensi ini sekaligus membuktikan dia yang Maha, Maha Rohman dan Rohim. Intervensi kasih sayang dari Tuhan inilah yang kemudian kita sebut sebagai Wahyu .
    Dan tidak mungkin bagi seorang manusiapun bahwa Allah berkata-kata dengan dia kecuali dengan perantaraan wahyu atau dibelakang tabir atau dengan mengutus seorang utusan (malaikat) lalu diwahyukan kepadanya dengan seizin-Nya apa yang Dia kehendaki. Sesungguhnya Dia Maha Tinggi lagi Maha Bijaksana.Dan demikianlah Kami wahyukan kepadamu wahyu dengan perintah Kami. Sebelumnya kamu tidaklah mengetahui apakah Al Kitab dan tidak pula mengetahui apakah iman itu, tetapi Kami menjadikan Al Qur’an itu cahaya, yang Kami tunjuki dengan dia siapa yang kami kehendaki di antara hamba-hamba Kami. Dan sesungguhnya kamu benar-benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus (Asy syura, 42:51-52)
    Dari wahyu inilah, yang berfungsi sebagai penuntun kehidupan manusia untuk menapaki kehidupan dalam memperoleh hakikat kehidupan sebagaimana fitrah mengatakan. Untuk merealisasikannya manusia harus bekerja keras, harus berani memperlajari “iqra’’ (Qs, 96:1) dan menginternalisasi dalam kehidupannya. Dikala manusia dengan potensi fitrah yang hanief menghendaki setiap tindak-tanduknya didasarkan atas kepercayaan yang benar-benar benar, maka (klaim pribadi saya), jika ada manusia yang mengatakan telah berbuat baik dengan kerangka keiklasan (tulus) dikerenakan hanya kepada Allah sedangkan ia tidak meyakini adanya wahyu, dapat dikatakan mereka mengingkari fitrah kemanusiaan yang hanief (mencintai kebenaran) atau dapat dikatakan dusta.

    D. Fungsi Nabi
    Wahyu tidak datang/ turun dan menjelaskan dengan sendirinya (mak byuk) atau Tuhan datang sendiri kepada keseluruhan manusia dalam menjelaskan keinginan-Nya (bukan berarti menurunkan kualitas Tuhan). Karena ke-Maha-an Allah-lah, maka Dia tidak hadir dengan sendirinya. Sehingga dalam penurunan wahyu diperlukan manusia (Nabi/rosul), sebagai jembatan/komunitator tentang pesan-pesan kebenaran.
    Dan sesungguhnya Al Qur’an ini benar-benar diturunkan oleh Tuhan semesta alam. Dia dibawa turun oleh Ar-Ruh Al-Amin. Ke dalam hatimu (Muhammad) agar kamu menjadi salah seorang di antara orang-orang yang memberi peringatan. Dengan bahasa Arab yang jelas. (Asy syurra’, 26:192-195)
    Wahyu yang dikirimkan untuk manusia, maka utusannya (perantaranya) harus juga manusia, dan jelas bukan dianggap sebagai Tuhan. Hal ini sesuai dengan klaim manusia yang menduduki peran utama dilihat dari kualitas dan kemampuannya. Mustahil wahyu akan berfungsi jika perantara adalah makhluq diluar mausia. Manusia tidak akan pernah mempercayai wahyu apapun jika diturunkan kepada binatang, tumbuhan atau yang lain. karena mereka tidak mempunyai otoritas menyampaikan wasiat apapun kepada makhluq yang mempuyai kualitas di atasnya. Dan target dari komunikasi penyampaian kebenaran tidak akan tercapai.
    Dan supaya aku membacakan Al Quraan. Maka barangsiapa yang mendapat petunjuk maka sesungguhnya ia hanyalah mendapat petunjuk untuk dirinya, dan barangsiapa yang sesat maka katakanlah: “Sesungguhnya aku tidak lain hanyalah salah seorang pemberi peringatan” (An naml, 27:92).
    Sesungguhnya telah ada pada Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu bagi orang yang mengharap Allah dan hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah (al Ahzab, 33:21).
    Dan Kami tidak mengutus kamu, melainkan kepada umat manusia seluruhnya sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan, tetapi kebanyakan manusia tiada mengetahui (saba’ , 34:28).
    Dia-lah yang mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang hak agar dimenangkan-Nya terhadap semua agama. Dan cukuplah Allah sebagai saksi (Al Fath, 48:28).
    Selaku rasul-rasul pembawa berita gembira dan pemberi peringatan agar supaya tidak ada alasan bagi manusia membantah Allah sesudah diutusnya rasul-rasul itu. Dan adalah Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana (An nisa’ , 4:165).
    Sesungguhnya Kami telah mengutusmu dengan kebenaran; sebagai pembawa berita gembira dan pemberi peringatan, dan kamu tidak akan diminta (pertanggungjawaban) tentang penghuni-penghuni neraka(2:119).
    Karena semua harus selaras dengan kepercayaan manusia, tentunya bukan sembarang manusia yang berhak mendapatkan wahyu. Sudah tentu siapa orangnya yang menjadi utusan (Nabi/rosul) adalah otoritas Tuhan untuk memilih. Bukan dari kehendak dari manusia, tapi kehendak Tuhan untuk menurunkan wahyuNya.
    Dan kamu tidak pernah mengharap agar Al Qur’an diturunkan kepadamu (Muhammad), tetapi ia karena suatu rahmat yang besar dari Tuhanmu , sebab itu janganlah sekali-kali kamu menjadi penolong bagi orang-orang kafir (Al Qashash, 28:86).
    Dan demikianlah Kami wahyukan kepadamu wahyu dengan perintah Kami. Sebelumnya kamu tidaklah mengetahui apakah Al Kitab dan tidak pula mengetahui apakah iman itu, tetapi Kami menjadikan Al Qur’an itu cahaya, yang Kami tunjuki dengan dia siapa yang kami kehendaki di antara hamba-hamba Kami. Dan sesungguhnya kamu benar-benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus (As-Syura, 42:52)
    Maka bangunan kepercayaan yang benar untuk percaya kepada kebenaran yang mutlak (Allah), tidak hanya percaya kepada kebenaran wahyu, namun kita perlu percaya terhadap pembawanya (rasul/nabi). Mana mungkin manusia percaya Allah kalau tidak percaya wahyu. Mana mungkin percaya kepada wahyu kalau tidak percaya kepada Nabi.

    *****
    Aku sempat bingung dan memunculkan pertanyaan kembali, wahyu yang mana yang mengandung kadar kebenaran universal dan mutlak. Untuk membuktikan bahwa wahyu itu memang benar-benar dari Tuhan, satu-satunya jalan adalah memeriksanya dengan segala kemampuan yang dimiliki manusia dalam memutar otak dan menjalankan modal fitrah kemanusiaannya. Semua menjadi obyek kajian, meliputi kebenaran yang ada dalam wahyu, dan dari apa yang (Nabi/Rosul) perbuat sebagai percontohan (uswah) profile keidealan kehidupan manusia.
    Kembalinya kita pada kepercayaan pada kebenaran akan mampu menganalisis sebagai bentuk macam versi kebenaran yang lahir di dunia. Pembuktian ini dapat dilakukan dengan pembuktian secara histories, ilmu pengetahuan, pengalaman dan bahkan secara intuisi. Disinilah letak derajat kemulyaan manusia jika dapat menggunakan segala potensi yang dimiliki. Berarti kebenaran yang tertanamkan dalam wahyu juga harus mendukung, menghargai, membenarkan atau bahkan mewajibkan akan penggunaan potensi kehidupan manusia. Dengan kata lain, wahyu harus mendorong manusia untuk berilmu dan mencintai ilmu.
    Alquran dan sabda nabi juga tidak bertentangan dengan kaidah berfikir seperti ini. Allah memberikan apresiasi yang besar terhadap keinginan manusia untuk mencari dan membuktikan kebenaran yang ia yakini, termasuk dalam memahami ayat-ayat Allah.
    (yarfaa’illahu ladzinaamanu minkum walladzinautul ‘ilman darajat(Qs,58:11),
    Nabi juga mengatakan bahwa
    Ilmu bukan menjadi komoditi yang haram, namun justru menjadi kewajiban bagi umat beragama (faridhah ‘ala kulli muslim). Sehingga kita tiada henti-hentinya sejak lahit sampai mati (minal mahdi ilal lahdi) untuk mencari pengetahuan (ilmu) walau sampai ke negeri cina (walau bissin). Untuk lebih jelasnya, bagaimana islam memandang Ilmu akan dibahasan dalam bab tersendiri di belakang. *********

    E. Keberadaan malaikat
    Sekarang kita lanjutkan dengan sedikit mengulang penjelasan di atas. Dikarenakan kebenaran ideal tidak dapat dijangkau dengan upaya manusia secara sepihak, maka manusia membutuhkan intervensi/keterlibatan langsung dari Allah dengan keinginanNya untuk menjelaskan kebenaran yang Ia maksud. Kehadiran kebenaran ini harus ada dalam kehidupan/alam manusia dan bukan lagi merupakan kebenaran itu sendiri (Allah), karena yang membutuhkan adalah manusia. Karena ke-idealan Allah dan ke-nisbian manusia, maka pasti ada jarak anatara mansia dengan Tuhannya. Keidealan yang dibutuhkan manusia bukan keidealan itu sendiri. Artinya, proses pemberian ke-idealan kebenaran (wahyu) kepada manusia, bukan hadirnya ke-idealan sendiri kepada manusia, tapi ada sesuatu kehendakNya yang memisahkan definisi manusia dengan ke-Nisbiannya dan Allah dengan KemutlakkanNya. Sesuatu itu disebut dalam Al-qur’an dengan malaikat.
    Dan tidak mungkin bagi seorang manusiapun bahwa Allah berkata-kata dengan dia kecuali dengan perantaraan wahyu atau dibelakang tabir atau dengan mengutus seorang utusan (malaikat) lalu diwahyukan kepadanya dengan seizin-Nya apa yang Dia kehendaki. Sesungguhnya Dia Maha Tinggi lagi Maha Bijaksana. (Asy syura, 42:51)
    Proses turunnya risalah Allah ke dunia adalah dengan melibatkan malaikat, sebagai perantara hubungan manusia dengan Tuhan harus menjadi bagian dari kepercayaan. Karena yang mempunyai inisiatif penuh dalam penurunan wahyu kepada manusia juga menjadi otoritasNya. Malaikat diciptakan dengan spesifikasi wilayah kerja tersendiri. Rosul tidak mendapatkan wahyu dengan cara komunikasi lansung dengan Tuhan, melainkan melalui perantara yaitu malaikat. Sehingga bangunan kepercayaan terhadap kebenaran adalah perlunya kepercayaan yang saling bersinergi yaitu percaya kepada Allah, Wahyu, malaikat (perantara kepada manusia) dan percaya kepada Nabi/Rosul (manusia utusannya) sebagai ujung tombak penyampai atau komunikator pada umat manusia.

    F. Mempertahankan dan memupuk kepercayaan
    Sesuatu yang dicari, dibutuhkan dan telah didapatkan oleh seseorang apalagi kebutuhan itu adalah kebutuhan yang paling mendasar bagi kehidupan setiap orang, maka tidak ada jalan lain kecuali upaya untuk mempertahankan dan memeliharanya yang semata-mata digunakan untuk mendapatkan semua makna kehidupan.
    Kepercayaan yang telah ada dalam kehidupan manusia harus dipertahankan dan dipelihara dengan baik. Pemeliharaan ini untuk menjaga kualitas kemanusian, demi kebutuhan manusia yang paling mendasar dengan tujuan bahwa kegiatan kehidupan manusia selalu membawa keinginan untuk cenderung kepada yang hanief. Hal ini disesuaikan dengan kerangka menuju kebenaran mutlak (Allah) lewat penerjemahan dan Interpretasi terhadap wahyu (qouniyah dan qouliyah).
    Pemeliharaan keimanan ada dua sisi, terkait dengan dua jenis keberadan wahyu Allah yaitu qouliyah dan qouniyah yang masing-masing mempuyai spesifikasi yakni qouliyah lebih pada kerangka etis spiritual dan qouniyah pada wilayah praksis matrealis. Disamping itu landasan utamanya adalah adanya dua dimensi manusia yaitu jasmani dan rohani, yang keduanya merasakan kehausan untuk selalu dipenuhi dengan kebutuhannya masing-masing.
    Pemenuhan setiap sisi adalah keharusan dalam menjaga keseimbangan. Dua sisi tersebut adalah: pertama, untuk jasmani yang terkait dengan materi adalah prilaku yang mengatur interaksi dengan alam apakah mendapatkan, mengolah, memilihara baik cara atau tingkah laku, semua bertujuan untuk memenuhi kebutuhan dalam sisi jasmani. Seorang bisa mendapatkan, mengolah, menikmati segala fasilitas alam, maka diperlukan bagaimana cara mendapatkan, memilih, menganalisa, mengolah dan memanfaatkan dari apa yang telah menjadi tujuannya. Kemampuan seseorang untuk memilih kualitas tertinggi dalam kehidupan hanya ditentukan oleh penguasaan ilmu/pengetahuan. Semakin tinggi ilmu/pengetahuan seseorang akan semakin bagus kehidupan orang tersebut, karena dia secara selektif tahu cara memilih, memanfaatkan, mengolah dan menikmati. Jadi untuk memelihara dan melestarikan keimanan adalah dengan tidak henti-hentinnya menambah ilmu/pengetahuan.
    Kedua, untuk aspek rohani perlu adanya terapi untuk menenangkan jiwa. Hal ini dilakukan dengan kegiatan-kegiatan keagamaan (ritual)khusus. Lagi-lagi kebutuhan kepercayaan yang kita inginkan adalah benar-benar benar yang tidak lain hanya bersumber dari Tuhan. Sehingga menjadi otoritas penuh Tuhan yang tertuang di dalam wahyu untuk mengaturnya. Kita tidak dapat merubah bentuk ritual seenaknya. Tidak dapat tercapai dengan metodologi yang dirangkai sendiri, kalau tidak dituntun dengan informasi atau mekanisme dari Tuhan sendiri. Tidak salah jika kaidah fiqiyah mengatakan bahwa “asal dari ibadah adalah haram kecuali jika ada ketentuan yang mengaturnya”, sehingga ibadah yang kita lakukan benar-benar bersumber dariNya, karena Dia yang lebih tahu bagaimana metode untuk mendekatiNya. Wahyu mengatur bentuk ritual tersebut yang telah disesuaikan dengan kemampuan manusia (laayukallifullahu nafsan illa wus’aha) sehingga benar-benar akan menuju kepada kebenaran-Nya.
    Di dalam Wahyu yang dimiliki Islam ada bermacam-macam, bentuk ritual tersebut dinamakan dengan Sholat, haji, puasa, ataupun zakat. Untuk itu semua adalah wajib dilakukan manusia untuk menghubungkan keinginan manusia yang tulus kepada pemilik kebenaran.

    G. Arah keteguhan kepecayaan
    Seoarang yang telah konsisten dengan kepercayaannya yaitu memegang teguh kebenaran sejati, maka dia akan dengan mudah mendapatkan kebahagiaan kehidupan yang didambakan. Cerminan dari orang yang telah melaksanakan kehidupan hanya dengan standart kebenaran, bukan fanatisme, kebiasaan, pengalaman, keinginan, kemauan, perintah, anjuran dsb, maka orang tersebut menjadi santun prilakunya baik berinteraksi dengan sesama atau dengan keseluruhan alam. Dia telah melibat suatu dari parameter subtansi makna kehidupan.
    Dia tidak punya musuh selain kesalahan, kedholiman atau kemungkaran. Dia tidak punya musuh sejati dan kawan sejati terhadap siapapun dan apapun, karena yang ia lihat adalah siapa yang berbuat salah dan siapa yang berbuat benar. Siapa yang benar, maka bagi dia itulah yang perlu untuk diikuti dan didakwakan kepada orang lain. Dia tidak akan kaku dengan kebenaran yang ia miliki, karena dengan standart kebenaranya, dia mampu untuk meninggalkan kebenaran yang lama dengan mengambil kebenaran yang baru. Dia tidak akan lepas dengan kegiatan belajar, karena kesadaran dengan menyadari kebenaran yang dimiliki tidaklah bersifat mutlak dan masih banyak kebenaran-kebenaran yang baru yang lebih baik yang perlu dicari untuk meraih kualitas kehidupan yang lebih tinggi.
    Pecinta kebenaran tidak akan pernah menyalahkan sebelum dia tau lebih dalam tentang kesalahan, yang tentunya dengan mengecek lansung kebenaran/kesalahan yang dimiliki orang lain tersebut. Dia menjadi seorang pemberani untuk merubah setiap kesalahan, karena kegiatannya hanyalah menegakkan kebenaran. Tentunya dia telah mengetahui dan menggunakan cara yang paling benar (karena landasan hidupnya hanya pada kebenaran), apakah dengan tangan, lisan atau hati/kebencian (dzikir/berdo’a) atau mempersiapkan strategi untuk memusnahkan setiap kejahatan. Dia tidak akan membuat kerusakan (fasik), karena yang dipilih adalah selalu yang paling benar. Dia selalu terbuka akan kritik dan saran, karena dia menyadari bahwa kebenaran yang ia miliki bukanlah kebenaran mutlak.
    Pecinta kebenaran akan menjadi orang yang selalu optimis, karena dia selalu melihat didepannya ada kebaikan dan kebenaran yang tak ada putusnya. Dia tidak takut mati, karena kehidupan bukan untuk mempertahankan kehidupan atau untuk kematian, melainkan hanya untuk tegaknya kebenaran.
    Dia terbuka dengan hadirnya ilmu-ilmu baru dan tidak meninggalkan yang lama, karena baginya semua dapat menjadi sumber kebenaran. Dia tidak menjadi liberalis, fundamentalis, nasionalis, kapitalis, sosialis, marxis, atau justru fundamentalisme liberal, yang semua fanatic dengan golongan atau alur pemikiran bukan pada kelapangan diri dan hati untuk menerima setiap kebenaran. Tapi dia suatu saat bisa menjadi liberalis, fundamentalis, nasionalis, kapitalis, sosialis, marxis, dll, karena melihat kebenaran padanya. Dia juga tidak selalu ilmiah atau mistis (ghoib), karena baginya keduanya ada dalam realitas kehidupan dan dapat dijadikan sumber kebenaran.Dia hanya fanatic dengan etnis kebenaran, bukan suku, bangsa, bahasa budaya dll.
    Sebuah bayangan yang ideal memang gambaran di atas. Dari kumpulan-kumpulan individu-individu yang mempunyai kualitas seperti ini, maka akan dapat membentuk masyarakat yang madani dan Islami.

  106. 111 lambrtz 7 April 2007 pukul 2:01 pm

    ada yg pernah maen final fantasy 9 (ampun, saya maennya yg versi bajakan)
    nah Tuhan itu bentuknya kaya ozma
    bola bulet gitu
    kok tau?
    ya suka2 saya kan :p

  107. 112 kawulo 9 April 2007 pukul 3:22 pm

    Tuhan?
    Nabi Ibrahim ketika masih balita mencarinya…
    sedang kita udah bangkotan gini jg ga nyari…
    boro2 nemu nyari aja ga?…

    Tuhan sebagai penyelenggara kehidupan ini
    berhak memilih apapun wujudnya (sbb ini teritorialNYA)

    buat orang yg sudah sapai ke ‘alamNYA’
    dia hanya mengisyaratkan ‘Tuhan itu ada tapi tiada”
    loh jadi gimana tuh????

    seperti grafitasi…anda percaya ada?
    haruskah di berbentuk?..

    salam

  108. 113 Geddoe 18 Mei 2007 pukul 3:37 pm

    nah Tuhan itu bentuknya kaya ozma

    Buset, kayak bola bekel itu mah…

  109. 114 watonist 21 Mei 2007 pukul 5:57 pm

    siapa telah mengenal dirinya, dia telah mengenal Tuhannya.

    *katanya*

  110. 115 uchank 7 Juni 2007 pukul 6:24 am

    Umm,,

    TuLisan yang menarik niyyh…

    Cuz,,keyakinan ato kepercayaan itu berawaL dri ketidak-percayaan.

    Thats aLL dude..

  111. 116 gantungtas 12 Juli 2007 pukul 12:38 am

    Katanya Tuhan itu gaib, ada tapi ga ada.. sama dong kaya hantu, kan gaib juga???

  112. 117 abimono 19 Oktober 2007 pukul 12:28 pm

    ozma? kerenan one winged angel di ff VII :D :D :D

  113. 118 PembelaAllah 19 Mei 2008 pukul 6:01 pm

    HAI WADEHEL!!!!!

    MENGAPA ANDA MENJADIKAN NAMA TUHAN SAYA (ALLAH) SEBAGAI OLOK_OLOKAN ANDA!!!
    HAPUS ATAU ANDA AKAN MENERIMA AKIBATNYA!!!!!

    _PEMBELA ALLAH_

  114. 119 nunu 20 Juli 2008 pukul 11:31 pm

    gyahahahahahahaha..
    what d’hell..
    hakhakhakhakhakhakhak..

    1 yg gw minta, hapus kata “Allah” dr blog loe..
    yg lain, gw kembaliin ama yg lain..

    thx..

  115. 120 tuhan itu apa? 13 Agustus 2008 pukul 3:31 am

    wew… tuhan wadehel yang maha baiknya dah meninggal…..
    jadi gak perlu kirim2 koment lagi bro…
    percuma….=))

    R.I.P
    Juni 2006 – May 2007

  116. 121 Mi_Chan 28 September 2008 pukul 8:12 pm

    I think, maksudnya Om Wadehel bkn nya menghina. Mgkn sbg cerminan kita aja kali yaaa.

    Coba liat aja di skitar kita…ngomong Allah pun skrg g lurus lagi. Allah jd Aloh, Aulloh, Ya Oloooh…

    Astagfirullah jadi astapilulooh. Assallamualaikum jadi asam ikum. Mgkn itu yg pengen di smpaikan oleh Om Wadehel?

  117. 122 Seiya 28 Oktober 2008 pukul 10:02 am

    Wedehel dah mati to?

  118. 123 tititmeong 19 November 2008 pukul 2:51 am

    Ketemu Tuhan ketika ber-Islam

    Telah banyak pemikiran berkembang yang mengkaji tentang agama. Kiranya meliputi segala aspek yang dimiliki oleh agama baik segi teologis, politik, hukum, pendidikan dan lain sebagainya. Salah satu yang menarik bagi saya adalah tulisan Asghar Ali E. tentang agama pembebasan. Satu pertanyaan besar bagiku (dulu) apakah benar agama dapat membebaskan kehidupan manusia?. Sedang asumsi selalu mengatakan, agama tetap tidak akan pernah dapat memberi kebebasan dengan segala perintah-perintah yang datang dengan seenaknya tanpa mermperdulikan latar belakang manusia yang mengikutinya. Munculnya ide agama sebagai pembebasan hanya berlaku bagi orang-orang yang takut mengkritisi Tuhan dengan perintah-perintahnya, takut masuk neraka, takut tidak kebagian jatah kavlingan tempat di surga, takut dikucilkan tetangga atau bahkan takut tidak diakui sebagai warga negara Indonesia sebagaimana telah tertuang pada pasal pertama yaitu Ketuhanan Yang Maha Esa.
    Ketakutan-ketakutan seperti itu ada, sebagai sebuah konsekuensi yang wajar atas model keberagamaan yang lahir bukan karena benar-benar sadar akan kebutuhan beragama. Agama dianggap sebagai suatu yang sempurna (absolute), tanpa melihat fungsi agama untuk siapa. Sehingga garapan Agama menjadi menyempit, dibatasi pada wilayah-wilayah mistis dan benar menjadikan agama sangat membelenggu kehidupan.
    Beragama sebagai kebutuhan, tidak akan pernah dirasakan kecuali dalam areal kampanye keagamaan seperti khutbah, ceramah atau orasi dunia ideology mistis di masjid-masjid, undangan pernikahan, peringatan hari-hari agama yang tidak lain hanya menjadi ladang mendapatkan keuntungan material penceramah, bukan berlandaskan atas memasyarakatkan kebenaran beragama.
    Itulah sekilas lalu tentang pemahaman agama yang parsial, namun kini (meskipun mending) telah menganggap agama sebagai kebutuhan dalam menjalani kehidupan dunia untuk tunduk dalam system pemerintahan Tuhan. Ketundukan ini tidak hanya didapat dari semata-mata melakukan karena kewajiban, namun harus dimulai dari jiwa kritis dalam merasakan maksud dari segala macam perintah-perintah agama. Kesadaran ini sebenarnnya sudah ada dalam diri kita. Kesadaran ini didapat jika kita benar-benar memahami konsep kemanusiaan yang menjadikan manusia hidup di dunia ini. Utuk itulah, kesadaran harus dibangun melalui berfikir benar tentang problem kemanusiaan atau apa kebutuhan dasar manusia?. Tetapi lebih awal lagi siapakah manusia? Anehnya, Islam telah menyelaraskan apa yang manusia pikirkan tentang kehidupan ini. Untuk itu, pengalaman ini aku bagi pada siapapun yang ingin menikmati petualangannya dalam kebingungan mencari Tuhan untuk mempertimbangkan apa yang aku dapatkan dalam Islam.

    A. Apa itu manusia?.
    Terlepas dari ego, arogansi dan parameter obyektifitas manusia, semua manusia sepakat bahwa manusia adalah makhluq terbaik yang ada di alam ini. Al-Qur’an juga menegaskan hal ini:
    Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka di daratan dan di lautan , Kami beri mereka rezki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan.(17:70).
    Kalangan filosof mendefinikan manusia sebagai hewan yang berakal. Dalam arti, manusia dan binatang secara kualitas adalah sama, tapi hanya dibedakan oleh akalnya. Akal bukan secara keberadaan, tapi kualitas atau fungsi akal.
    Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya. Kemudian Kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya(At-tin, 95:4-5)
    Manusia yang punya potensi, tapi tidak diberdayakan dan memilih jalan sebagaimana mahkluq lain menjalani kehidupannya, maka manusia seperti ini tidak mempunyai keistimewaan bahkan lebih rendah dari binatang. Dalam versi Al-qur’an juga menegaskan:
    Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami dan mereka mempunyai mata tidak dipergunakannya untuk melihat , dan mereka mempunyai telinga tidak dipergunakannya untuk mendengar . Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai.(Al ‘araf, 7:79)
    Dan sebaliknya, jika manusia yang memanfaatkan segala potensinya, secara naluri kemanusiaan siapapun akan kagum, menyanjung dan memujinya.
    Dengan bahasa yang berbeda, di dalam Al-Qur’an orang yang mempunyai kesadaran akan potensinya digolongkan dalam kategori orang yang bersyukur.
    Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati (akal), agar kamu bersyukur (An Nahl, 16:78)
    Akal adalah alat analisis kehidupan. Sedang ke mana arah kerja akal? dan untuk siapa akal bekerja ?, maka manusia disertai dengan potensi naluri/insting (fitrah). Manusia dapat membuat rasionalisasi segala yang tidak rasional atau malah sebaliknya, tapi manusia punya kata pilihan utama (kebenaran) mana yang akan diambil dalam kehidupannya.
    Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu, Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui. (30:30).
    Bisa saja manusia menipu jutaan manusia lainnya, tapi sebenarnya tidak ada kuasa untuk menipu dirinya sendiri. Itulah dimana keinginan manusia yang diakhiri oleh tindakannya membuat wajah kehidupan ini.
    Dan ketahuilah olehmu bahwa di kalanganmu ada Rasulullah. Kalau ia menuruti kemauanmu dalam beberapa urusan benar-benarlah kamu mendapat kesusahan, tetapi Allah menjadikan kamu ‘cinta’ kepada keimanan dan menjadikan keimanan itu indah di dalam hatimu serta menjadikan kamu benci kepada kekafiran, kefasikan, dan kedurhakaan. Mereka itulah orang-orang yang mengikuti jalan yang lurus(Al hujurat, 49:7)

    B. Harus ada Allah
    Berdasarkan pengamatan hidup di dunia, dapat dilakukan introspeksi, siapa, apa dan mana yang benar-benar mempunyai nilai kebenaran yang berkualitas tinggi/tidak sedikitpun salah. Manusia sendiri yang mengklaim sebagai mahkluq yang paling pintar dan mulya diantara makhluq-makluq yang lain, ternyata tidak dapat dakatakan sebagai cermin sumber kebenaran. Terbukti dengan banyaknya klaim-klaim kebenaran versi kelompok ataupun individu pada kehidupan manusia, meskipun mereka membahas dan mempunyai landasan yang sama tentang sebuah kebenaran. Dengan kata yang sama, manusia tidak mempercayai kebenarannya sendiri sebagai kebenaran yang perlu dijadikan pedoman dan anutan bagi kehidupan manusia. Untuk itulah, manusia tidak layak untuk dijadikan sandaran atau pedoman kebenaran. Maka harus ada kebenaran yang ideal yang bersifat universal, ideal dan absolut. Sandaran semacam ini merupakan kebutuhan yang harus terpenuhi, karena kebenaran yang ideallah yang diinginkan manusia yang dapat memenuhi kebutuhan dan sebagai alat pemuas/untuk meraih kebahagiaan.
    Proses pencarian dan pengamatan terhadap kebenaran yang mana yang merupakan sebuah parameter idealisme kebenaran?. Di sanalah harus disimpulkan bahwa sumber kebenaran tersebut harus merupakan entitas di luar kemampuan manusia sebagai makhluq dengan kualitas tertinggi. Berarti juga telah mengharuskan adanya sesuatu di luar eksistensi alam ini, karena manusia sudah tidak dipercaya oleh manusia sendiri untuk memegang peridikat pemilik kebenaran ideal.
    Pengamatan seperti ini tidak harus kita teruskan dengan upaya individual untuk menangkap eksistensi dari idealisme kebenaran. Bisa kita amati dengan apa yang terjadi di alam ini, dengan melihat fenomena manusia dalam aktualisasinya mendapatkan kebenaran yang menurut kebanyakan manusia yang itu adalah kebenaran ideal. Fenomena manusia telah mengatakan bahwa kebenaran tersebut digambarkan dan disimbolkan dengan salah satu redaksi versi Indonesia adalah Tuhan. Yang kebetulah dalam redaksi umat Islam disebut sebagai Allah. Jadi Tuhanlah/Allah-lah yang kita cari sebagai rujukan segala sumber kebenaran.
    Islam adalah agamaku sejak kecil, agama terbesar kedua di dunia. Ditinjau dari besar pengikurnya, maka tidak ada salahnya jika Islam yang aku anut sejak kecil menjadi awal pembuktian bahwa di dalamnya memang ada kebenaran-kebenaran ideal yang dimaksud. Dengan demikian Islam akan memberikan jawaban problem dasar kehidupan yang beberapa tahun aku cari. Jika yang terjadi adalah sebaliknya, Islam tidak sejalan dengan logika dan rasa dari kehidupan manusia, maka tidak ada salahnya untuk melanjutkan pencarian pada obyek-obyek selanjurnya yang telah diklaim manusia menjadi sumber segala kebenaran. Allah yang disebut-sebut sudah saatnya harus dbuktikan.

    C. Penjelasan wahyu tentang Allah
    Dalam keinginan dan kemampuan manusia untuk menginginkan kebenaran yang benar-benar benar adanya, maka perlu disadari juga kelemahan manusia dalam menjangkau sang/sesuatu kebenaran ideal mutlak tersebut. Karena keidealan sang kebenaran dan kerelatifan manusia, maka tidak mungkin manusia dapat menjangkau kebenaran mutlak (Allah). Dikarenakan manusia dengan keterbatasannya setelah mengakui kelemahan, kekurangan, (al insanu mahalul khatha wa nisya), maka tidak mungkin manusia dapat menjangkau kekuatan yang serba Maha/Allah. Manusia adalah materi dan Allah (x) materi atau bukan sesuatu yang kita ketahui, ada dan kita miliki. Manusia adalah nisbi dan Allah adalah absolute. Kalau ada atau bahkan sama seperti apa yang ada dalam dunia ini tentunya kita yakin bahwa ia bukan Allah yang kita maksud.
    dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia (Al ikhlas, 112:4)
    Di dalam kesadaran akan keterbatasan manusia memperoleh atau mencapai kebenaran Allah, maka upaya manusia dalam memperolehnya, tidak dapat dilalui dengan hanya mengandalkan potensi pribadinya (sesuai yang dimiliki manusia). Ijtihad yang dilakukan oleh manusia dengan cara apapun, tidak mungkin (sia-sia) dapat menjangkau esensi kebenaran (Tuhan) bila metode yang dilakukan adalah dengan meneropong/meraih lansung dimensi ketuhanan sebagai langkah pendekatan. Hal ini sama saja dengan tidak mengetahui atau menjadikan kebenaran tidak ideal sebagai landasan kehidupan.
    Ini telah memunculkan problem baru bagi fitrah keHanifan manusia, karena fitrahnya dia merindukan kebenaran tatapi manusia tidak dapat meraih dalam kehidupannya. Dikarenakan kebenaran ideal tidak dapat dijangkau dengan upaya manusia secara sepihak, maka dari itu manusia membutuhkan intervensi/keterlibatan langsung dari Allah dengan keinginanNya untuk menjelaskan kebenaran yang Ia maksud. Kehadiran kebenaran ini harus ada dalam kehidupan/alam manusia dan bukan lagi merupakan kebenaran itu sendiri (Allah), karena yang membutuhkan adalah manusia. Intervensi ini sekaligus membuktikan dia yang Maha, Maha Rohman dan Rohim. Intervensi kasih sayang dari Tuhan inilah yang kemudian kita sebut sebagai Wahyu .
    Dan tidak mungkin bagi seorang manusiapun bahwa Allah berkata-kata dengan dia kecuali dengan perantaraan wahyu atau dibelakang tabir atau dengan mengutus seorang utusan (malaikat) lalu diwahyukan kepadanya dengan seizin-Nya apa yang Dia kehendaki. Sesungguhnya Dia Maha Tinggi lagi Maha Bijaksana.Dan demikianlah Kami wahyukan kepadamu wahyu dengan perintah Kami. Sebelumnya kamu tidaklah mengetahui apakah Al Kitab dan tidak pula mengetahui apakah iman itu, tetapi Kami menjadikan Al Qur’an itu cahaya, yang Kami tunjuki dengan dia siapa yang kami kehendaki di antara hamba-hamba Kami. Dan sesungguhnya kamu benar-benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus (Asy syura, 42:51-52)
    Dari wahyu inilah, yang berfungsi sebagai penuntun kehidupan manusia untuk menapaki kehidupan dalam memperoleh hakikat kehidupan sebagaimana fitrah mengatakan. Untuk merealisasikannya manusia harus bekerja keras, harus berani memperlajari “iqra’’ (Qs, 96:1) dan menginternalisasi dalam kehidupannya. Dikala manusia dengan potensi fitrah yang hanief menghendaki setiap tindak-tanduknya didasarkan atas kepercayaan yang benar-benar benar, maka (klaim pribadi saya), jika ada manusia yang mengatakan telah berbuat baik dengan kerangka keiklasan (tulus) dikerenakan hanya kepada Allah sedangkan ia tidak meyakini adanya wahyu, dapat dikatakan mereka mengingkari fitrah kemanusiaan yang hanief (mencintai kebenaran) atau dapat dikatakan dusta.

    D. Fungsi Nabi
    Wahyu tidak datang/ turun dan menjelaskan dengan sendirinya (mak byuk) atau Tuhan datang sendiri kepada keseluruhan manusia dalam menjelaskan keinginan-Nya (bukan berarti menurunkan kualitas Tuhan). Karena ke-Maha-an Allah-lah, maka Dia tidak hadir dengan sendirinya. Sehingga dalam penurunan wahyu diperlukan manusia (Nabi/rosul), sebagai jembatan/komunitator tentang pesan-pesan kebenaran.
    Dan sesungguhnya Al Qur’an ini benar-benar diturunkan oleh Tuhan semesta alam. Dia dibawa turun oleh Ar-Ruh Al-Amin. Ke dalam hatimu (Muhammad) agar kamu menjadi salah seorang di antara orang-orang yang memberi peringatan. Dengan bahasa Arab yang jelas. (Asy syurra’, 26:192-195)
    Wahyu yang dikirimkan untuk manusia, maka utusannya (perantaranya) harus juga manusia, dan jelas bukan dianggap sebagai Tuhan. Hal ini sesuai dengan klaim manusia yang menduduki peran utama dilihat dari kualitas dan kemampuannya. Mustahil wahyu akan berfungsi jika perantara adalah makhluq diluar mausia. Manusia tidak akan pernah mempercayai wahyu apapun jika diturunkan kepada binatang, tumbuhan atau yang lain. karena mereka tidak mempunyai otoritas menyampaikan wasiat apapun kepada makhluq yang mempuyai kualitas di atasnya. Dan target dari komunikasi penyampaian kebenaran tidak akan tercapai.
    Dan supaya aku membacakan Al Quraan. Maka barangsiapa yang mendapat petunjuk maka sesungguhnya ia hanyalah mendapat petunjuk untuk dirinya, dan barangsiapa yang sesat maka katakanlah: “Sesungguhnya aku tidak lain hanyalah salah seorang pemberi peringatan” (An naml, 27:92).
    Sesungguhnya telah ada pada Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu bagi orang yang mengharap Allah dan hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah (al Ahzab, 33:21).
    Dan Kami tidak mengutus kamu, melainkan kepada umat manusia seluruhnya sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan, tetapi kebanyakan manusia tiada mengetahui (saba’ , 34:28).
    Dia-lah yang mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang hak agar dimenangkan-Nya terhadap semua agama. Dan cukuplah Allah sebagai saksi (Al Fath, 48:28).
    Selaku rasul-rasul pembawa berita gembira dan pemberi peringatan agar supaya tidak ada alasan bagi manusia membantah Allah sesudah diutusnya rasul-rasul itu. Dan adalah Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana (An nisa’ , 4:165).
    Sesungguhnya Kami telah mengutusmu dengan kebenaran; sebagai pembawa berita gembira dan pemberi peringatan, dan kamu tidak akan diminta (pertanggungjawaban) tentang penghuni-penghuni neraka(2:119).
    Karena semua harus selaras dengan kepercayaan manusia, tentunya bukan sembarang manusia yang berhak mendapatkan wahyu. Sudah tentu siapa orangnya yang menjadi utusan (Nabi/rosul) adalah otoritas Tuhan untuk memilih. Bukan dari kehendak dari manusia, tapi kehendak Tuhan untuk menurunkan wahyuNya.
    Dan kamu tidak pernah mengharap agar Al Qur’an diturunkan kepadamu (Muhammad), tetapi ia karena suatu rahmat yang besar dari Tuhanmu , sebab itu janganlah sekali-kali kamu menjadi penolong bagi orang-orang kafir (Al Qashash, 28:86).
    Dan demikianlah Kami wahyukan kepadamu wahyu dengan perintah Kami. Sebelumnya kamu tidaklah mengetahui apakah Al Kitab dan tidak pula mengetahui apakah iman itu, tetapi Kami menjadikan Al Qur’an itu cahaya, yang Kami tunjuki dengan dia siapa yang kami kehendaki di antara hamba-hamba Kami. Dan sesungguhnya kamu benar-benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus (As-Syura, 42:52)
    Maka bangunan kepercayaan yang benar untuk percaya kepada kebenaran yang mutlak (Allah), tidak hanya percaya kepada kebenaran wahyu, namun kita perlu percaya terhadap pembawanya (rasul/nabi). Mana mungkin manusia percaya Allah kalau tidak percaya wahyu. Mana mungkin percaya kepada wahyu kalau tidak percaya kepada Nabi.

    *****
    Aku sempat bingung dan memunculkan pertanyaan kembali, wahyu yang mana yang mengandung kadar kebenaran universal dan mutlak. Untuk membuktikan bahwa wahyu itu memang benar-benar dari Tuhan, satu-satunya jalan adalah memeriksanya dengan segala kemampuan yang dimiliki manusia dalam memutar otak dan menjalankan modal fitrah kemanusiaannya. Semua menjadi obyek kajian, meliputi kebenaran yang ada dalam wahyu, dan dari apa yang (Nabi/Rosul) perbuat sebagai percontohan (uswah) profile keidealan kehidupan manusia.
    Kembalinya kita pada kepercayaan pada kebenaran akan mampu menganalisis sebagai bentuk macam versi kebenaran yang lahir di dunia. Pembuktian ini dapat dilakukan dengan pembuktian secara histories, ilmu pengetahuan, pengalaman dan bahkan secara intuisi. Disinilah letak derajat kemulyaan manusia jika dapat menggunakan segala potensi yang dimiliki. Berarti kebenaran yang tertanamkan dalam wahyu juga harus mendukung, menghargai, membenarkan atau bahkan mewajibkan akan penggunaan potensi kehidupan manusia. Dengan kata lain, wahyu harus mendorong manusia untuk berilmu dan mencintai ilmu.
    Alquran dan sabda nabi juga tidak bertentangan dengan kaidah berfikir seperti ini. Allah memberikan apresiasi yang besar terhadap keinginan manusia untuk mencari dan membuktikan kebenaran yang ia yakini, termasuk dalam memahami ayat-ayat Allah.
    (yarfaa’illahu ladzinaamanu minkum walladzinautul ‘ilman darajat(Qs,58:11),
    Nabi juga mengatakan bahwa
    Ilmu bukan menjadi komoditi yang haram, namun justru menjadi kewajiban bagi umat beragama (faridhah ‘ala kulli muslim). Sehingga kita tiada henti-hentinya sejak lahit sampai mati (minal mahdi ilal lahdi) untuk mencari pengetahuan (ilmu) walau sampai ke negeri cina (walau bissin). Untuk lebih jelasnya, bagaimana islam memandang Ilmu akan dibahasan dalam bab tersendiri di belakang. *********

    E. Keberadaan malaikat
    Sekarang kita lanjutkan dengan sedikit mengulang penjelasan di atas. Dikarenakan kebenaran ideal tidak dapat dijangkau dengan upaya manusia secara sepihak, maka manusia membutuhkan intervensi/keterlibatan langsung dari Allah dengan keinginanNya untuk menjelaskan kebenaran yang Ia maksud. Kehadiran kebenaran ini harus ada dalam kehidupan/alam manusia dan bukan lagi merupakan kebenaran itu sendiri (Allah), karena yang membutuhkan adalah manusia. Karena ke-idealan Allah dan ke-nisbian manusia, maka pasti ada jarak anatara mansia dengan Tuhannya. Keidealan yang dibutuhkan manusia bukan keidealan itu sendiri. Artinya, proses pemberian ke-idealan kebenaran (wahyu) kepada manusia, bukan hadirnya ke-idealan sendiri kepada manusia, tapi ada sesuatu kehendakNya yang memisahkan definisi manusia dengan ke-Nisbiannya dan Allah dengan KemutlakkanNya. Sesuatu itu disebut dalam Al-qur’an dengan malaikat.
    Dan tidak mungkin bagi seorang manusiapun bahwa Allah berkata-kata dengan dia kecuali dengan perantaraan wahyu atau dibelakang tabir atau dengan mengutus seorang utusan (malaikat) lalu diwahyukan kepadanya dengan seizin-Nya apa yang Dia kehendaki. Sesungguhnya Dia Maha Tinggi lagi Maha Bijaksana. (Asy syura, 42:51)
    Proses turunnya risalah Allah ke dunia adalah dengan melibatkan malaikat, sebagai perantara hubungan manusia dengan Tuhan harus menjadi bagian dari kepercayaan. Karena yang mempunyai inisiatif penuh dalam penurunan wahyu kepada manusia juga menjadi otoritasNya. Malaikat diciptakan dengan spesifikasi wilayah kerja tersendiri. Rosul tidak mendapatkan wahyu dengan cara komunikasi lansung dengan Tuhan, melainkan melalui perantara yaitu malaikat. Sehingga bangunan kepercayaan terhadap kebenaran adalah perlunya kepercayaan yang saling bersinergi yaitu percaya kepada Allah, Wahyu, malaikat (perantara kepada manusia) dan percaya kepada Nabi/Rosul (manusia utusannya) sebagai ujung tombak penyampai atau komunikator pada umat manusia.

    F. Mempertahankan dan memupuk kepercayaan
    Sesuatu yang dicari, dibutuhkan dan telah didapatkan oleh seseorang apalagi kebutuhan itu adalah kebutuhan yang paling mendasar bagi kehidupan setiap orang, maka tidak ada jalan lain kecuali upaya untuk mempertahankan dan memeliharanya yang semata-mata digunakan untuk mendapatkan semua makna kehidupan.
    Kepercayaan yang telah ada dalam kehidupan manusia harus dipertahankan dan dipelihara dengan baik. Pemeliharaan ini untuk menjaga kualitas kemanusian, demi kebutuhan manusia yang paling mendasar dengan tujuan bahwa kegiatan kehidupan manusia selalu membawa keinginan untuk cenderung kepada yang hanief. Hal ini disesuaikan dengan kerangka menuju kebenaran mutlak (Allah) lewat penerjemahan dan Interpretasi terhadap wahyu (qouniyah dan qouliyah).
    Pemeliharaan keimanan ada dua sisi, terkait dengan dua jenis keberadan wahyu Allah yaitu qouliyah dan qouniyah yang masing-masing mempuyai spesifikasi yakni qouliyah lebih pada kerangka etis spiritual dan qouniyah pada wilayah praksis matrealis. Disamping itu landasan utamanya adalah adanya dua dimensi manusia yaitu jasmani dan rohani, yang keduanya merasakan kehausan untuk selalu dipenuhi dengan kebutuhannya masing-masing.
    Pemenuhan setiap sisi adalah keharusan dalam menjaga keseimbangan. Dua sisi tersebut adalah: pertama, untuk jasmani yang terkait dengan materi adalah prilaku yang mengatur interaksi dengan alam apakah mendapatkan, mengolah, memilihara baik cara atau tingkah laku, semua bertujuan untuk memenuhi kebutuhan dalam sisi jasmani. Seorang bisa mendapatkan, mengolah, menikmati segala fasilitas alam, maka diperlukan bagaimana cara mendapatkan, memilih, menganalisa, mengolah dan memanfaatkan dari apa yang telah menjadi tujuannya. Kemampuan seseorang untuk memilih kualitas tertinggi dalam kehidupan hanya ditentukan oleh penguasaan ilmu/pengetahuan. Semakin tinggi ilmu/pengetahuan seseorang akan semakin bagus kehidupan orang tersebut, karena dia secara selektif tahu cara memilih, memanfaatkan, mengolah dan menikmati. Jadi untuk memelihara dan melestarikan keimanan adalah dengan tidak henti-hentinnya menambah ilmu/pengetahuan.
    Kedua, untuk aspek rohani perlu adanya terapi untuk menenangkan jiwa. Hal ini dilakukan dengan kegiatan-kegiatan keagamaan (ritual)khusus. Lagi-lagi kebutuhan kepercayaan yang kita inginkan adalah benar-benar benar yang tidak lain hanya bersumber dari Tuhan. Sehingga menjadi otoritas penuh Tuhan yang tertuang di dalam wahyu untuk mengaturnya. Kita tidak dapat merubah bentuk ritual seenaknya. Tidak dapat tercapai dengan metodologi yang dirangkai sendiri, kalau tidak dituntun dengan informasi atau mekanisme dari Tuhan sendiri. Tidak salah jika kaidah fiqiyah mengatakan bahwa “asal dari ibadah adalah haram kecuali jika ada ketentuan yang mengaturnya”, sehingga ibadah yang kita lakukan benar-benar bersumber dariNya, karena Dia yang lebih tahu bagaimana metode untuk mendekatiNya. Wahyu mengatur bentuk ritual tersebut yang telah disesuaikan dengan kemampuan manusia (laayukallifullahu nafsan illa wus’aha) sehingga benar-benar akan menuju kepada kebenaran-Nya.
    Di dalam Wahyu yang dimiliki Islam ada bermacam-macam, bentuk ritual tersebut dinamakan dengan Sholat, haji, puasa, ataupun zakat. Untuk itu semua adalah wajib dilakukan manusia untuk menghubungkan keinginan manusia yang tulus kepada pemilik kebenaran.

    G. Arah keteguhan kepecayaan
    Seoarang yang telah konsisten dengan kepercayaannya yaitu memegang teguh kebenaran sejati, maka dia akan dengan mudah mendapatkan kebahagiaan kehidupan yang didambakan. Cerminan dari orang yang telah melaksanakan kehidupan hanya dengan standart kebenaran, bukan fanatisme, kebiasaan, pengalaman, keinginan, kemauan, perintah, anjuran dsb, maka orang tersebut menjadi santun prilakunya baik berinteraksi dengan sesama atau dengan keseluruhan alam. Dia telah melibat suatu dari parameter subtansi makna kehidupan.
    Dia tidak punya musuh selain kesalahan, kedholiman atau kemungkaran. Dia tidak punya musuh sejati dan kawan sejati terhadap siapapun dan apapun, karena yang ia lihat adalah siapa yang berbuat salah dan siapa yang berbuat benar. Siapa yang benar, maka bagi dia itulah yang perlu untuk diikuti dan didakwakan kepada orang lain. Dia tidak akan kaku dengan kebenaran yang ia miliki, karena dengan standart kebenaranya, dia mampu untuk meninggalkan kebenaran yang lama dengan mengambil kebenaran yang baru. Dia tidak akan lepas dengan kegiatan belajar, karena kesadaran dengan menyadari kebenaran yang dimiliki tidaklah bersifat mutlak dan masih banyak kebenaran-kebenaran yang baru yang lebih baik yang perlu dicari untuk meraih kualitas kehidupan yang lebih tinggi.
    Pecinta kebenaran tidak akan pernah menyalahkan sebelum dia tau lebih dalam tentang kesalahan, yang tentunya dengan mengecek lansung kebenaran/kesalahan yang dimiliki orang lain tersebut. Dia menjadi seorang pemberani untuk merubah setiap kesalahan, karena kegiatannya hanyalah menegakkan kebenaran. Tentunya dia telah mengetahui dan menggunakan cara yang paling benar (karena landasan hidupnya hanya pada kebenaran), apakah dengan tangan, lisan atau hati/kebencian (dzikir/berdo’a) atau mempersiapkan strategi untuk memusnahkan setiap kejahatan. Dia tidak akan membuat kerusakan (fasik), karena yang dipilih adalah selalu yang paling benar. Dia selalu terbuka akan kritik dan saran, karena dia menyadari bahwa kebenaran yang ia miliki bukanlah kebenaran mutlak.
    Pecinta kebenaran akan menjadi orang yang selalu optimis, karena dia selalu melihat didepannya ada kebaikan dan kebenaran yang tak ada putusnya. Dia tidak takut mati, karena kehidupan bukan untuk mempertahankan kehidupan atau untuk kematian, melainkan hanya untuk tegaknya kebenaran.
    Dia terbuka dengan hadirnya ilmu-ilmu baru dan tidak meninggalkan yang lama, karena baginya semua dapat menjadi sumber kebenaran. Dia tidak menjadi liberalis, fundamentalis, nasionalis, kapitalis, sosialis, marxis, atau justru fundamentalisme liberal, yang semua fanatic dengan golongan atau alur pemikiran bukan pada kelapangan diri dan hati untuk menerima setiap kebenaran. Tapi dia suatu saat bisa menjadi liberalis, fundamentalis, nasionalis, kapitalis, sosialis, marxis, dll, karena melihat kebenaran padanya. Dia juga tidak selalu ilmiah atau mistis (ghoib), karena baginya keduanya ada dalam realitas kehidupan dan dapat dijadikan sumber kebenaran.Dia hanya fanatic dengan etnis kebenaran, bukan suku, bangsa, bahasa budaya dll.
    Sebuah bayangan yang ideal memang gambaran di atas. Dari kumpulan-kumpulan individu-individu yang mempunyai kualitas seperti ini, maka akan dapat membentuk masyarakat yang madani dan Islami.

  119. 124 bella 3 Desember 2008 pukul 8:34 pm

    pusing tenan aku wah hati2 lama stres sendiri,bukan apa apa kebanyakan tulisan,ngelu tenan!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!

  120. 125 Chomairoh 4 Desember 2008 pukul 7:29 pm

    wah hebat tulisannya tentang tuhan
    tuhan siapa yang paling hebat? yang pasti semua orang yang menganut agamanya mengatakan tuhan GW paling hebat, tuhan mana yang paling bagus? memang ada yang udah pernah liat dia guanteng kayak sekuteng atau kyk dakocan? tuhan mana yang paling bijaksana?? wah ini sih sama aja semua tuhan juga bilang gw paling bijak? tuhan mana yang paling betul ini lebih rentan lagi sama saja mengatakan agama mana yang paling betul di dunia ini? pasti mereka bilang agama gw paling betul di dunia ini… lalu tuhan mana yang paling ada? pernah merasakan angin bertiup? yang pasti semua merasakan trus pernah liat angin? yang pasti tuhan itu ada kita rasakan tapi kita tidak pernah tau ada dimana dia….

  121. 126 Phablet Hebat Huawei Ascend G7 Terbaru 21 September 2014 pukul 11:50 am

    Nokia C3-01 Touch and Type – The Nokia C3-01 is basically just an upgraded and newer version of the Nokia
    x3-02 Type and Touch. Transportable photo voltaic battery chargers and battery packs are great resources to possess to be used
    as backup energy especially for smartphone customers that use apps and functions seriously and frequently.
    Nevertheless the smartest choice even now
    continues to be with using the services of a great seo company.

  122. 127 Branden 4 Oktober 2014 pukul 7:51 am

    Stay at home and save money by playing video games with your friends.
    Additional 35 points will be added, if a player is able to form seven
    letter words in one turn. The game of racquetball is a very fast paced and challenging one, so
    it is little wonder that so many people make racquetball
    a regular part of their fitness routine.

  123. 128 pakar seo 25 September 2015 pukul 7:34 am

    Hurrah! In the end I got a web site from where I be able to really get helpful
    information concerning my study and knowledge.

  124. 129 pakar seo 13 Agustus 2016 pukul 3:32 pm

    May I just say what a comfort to uncover someone that really knows what they’re
    discussing on the net. You certainly understand how to bring a problem to light and make it
    important. A lot more people really need to check this out and understand this side of
    your story. I was surprised you aren’t more popular since you most certainly
    have the gift.

  125. 130 Zakaria 1 September 2016 pukul 3:19 pm

    Tuhan paling benar ialah allah. Kamu bohong allah bukanlah menyiksa atau pemarah allah cuma mengingatkan manusia untuk berbuat baik

  126. 131 farrel 18 Januari 2017 pukul 10:07 pm

    HEH,LOE KALAU BIKIN BLOGGG YANG BENER,BUKTIIN LOE TOH ORANG INDONESIA, PERTJAJA TOEHAN DJANGAN MANCING PERMOESOEHAN.MESKI LOE BIKIN BLOGGG INI HANYA UNTOEK BERTJANDA,TAPI LOE BIKIN ORANG INDONESIA TERSINGGOENG.


  1. 1 #fsck -y Lacak balik pada 12 Januari 2007 pukul 11:42 am
  2. 2 Serdadu Bunuh Rakyat Kecil = Demokrasi Bunuh Komunis « Parking Area Lacak balik pada 6 Juni 2007 pukul 9:42 pm
  3. 3 Yang Lebih Hebat dan MahaKuasa Daripada Tuhan « Parking Area Lacak balik pada 9 Juni 2007 pukul 6:40 pm
  4. 4 Menggugat Pancasila « Parking Area Lacak balik pada 11 Juli 2007 pukul 2:34 am
  5. 5 Operation Deicide? « RosenQueen Company Lacak balik pada 13 Juli 2007 pukul 12:53 am
  6. 6 Macam-macam Tuhan « frimitzon Lacak balik pada 2 Desember 2011 pukul 4:14 pm

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




JANGAAAN !!!

Jangan membaca isi blog ini, sebelum memahami semua woro-woro di halaman PERINGATAN.
Unek-uneg, pertanyaan atau komentar yang TIDAK berhubungan dengan posting, silahkan anda sampaikan di Ruang Tamu.
Boleh juga memasukkan kritik dan saran ke dalam kotaknya.
Posting yang tidak pada tempatnya, terlalu OOT atau terlalu kotor, kemungkinan besar akan saya serahkan pada akismet.
Satu lagi, tak perlu kuatir kalau komen anda tak langsung muncul, kadang akismet suka terlalu curiga, saya akan lepaskan begitu saya online :) Terimakasih

Cap Halal

RSS Sumber Inspirasi

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

Kampanye

Petisi Mendukung Pembubaran IPDN

Aku Nggak Korupsi

Kulkas

free hit counter



%d blogger menyukai ini: