Kumpulan Argumen Pro Poligami

Saudara-saudaraku penghuni blogosphere yang ‘beriman’ dan pro poligami,

Peperangan melawan para ‘kafir’ yang tidak setuju dengan poligami belum berakhir. Perang opini yang meletus sejak kasus AA Gymnastiar kemarin memang terlihat mereda, tapi hanya masalah waktu sebelum perang ini memanas lagi.

Karena itu, ada baiknya menggalang kekuatan. Mengumpulkan, mempelajari dan mematangkan argumen-argumen, yang kiranya akan efektif untuk memenangkan perdebatan. Dengan meningkatnya kualitas argumen, diharapkan para istri dan para ‘kafir’ yang kontra dengan poligami bisa dipaksa menerima.

Silahkan mempelajari argumen-argumen berikut ini…

  1. Lho, kalo memang mampu, kenapa tidak? istri pertamanya aja nerima kok! Kenapa situ yang ribut? Uruslah diri sendiri sana!
  2. Jangan munafik dan sok suci, poligami itu jauh lebih mulia dan gentlemen daripada nikah siri, perselingkuhan, perzinaan, ‘jajan’ di lokalisasi dan yang lainnya. Betul tidak?
  3. Wanita-wanita yang tidak mendukung poligami, berarti lebih suka suaminya punya simpanan!
  4. Mungkin perempuan tersakiti, tapi jangan kuatir, agama selalu memberikan jalan yang baik dan sempurna. Silahkan pelajari kembali kitab suci dan hadis.
  5. Poligami itu salah satu solusi berbagai masalah perselingkuhan yang ada di indonesia, dengan poligami wanita akan jadi lebih terhormat dibanding disebut orang tukang selingkuh.
  6. Logika manusia itu terbatas, jangan mendewakan akal!. Gak perlu meragukan aturan tuhan!
  7. Giliran pornografi dan pornoaksi dibela mati-matian, malahan difasilitasi. Poligami yang jelas syah, halal dan tidak melanggar hukum, norma dan agama malah dipermasalahkan, didiskriminasi. Yang pikirannya kotor tuh siapa? Mau dibawa ke mana negeri yang berdasarkan Ketuhanan YME ini?
  8. Yang yang anti dan menentang poligami berarti dia tidak beriman. Bereskan? Coba anda berikan solusi dari kelebihan wanita dimuka bumi ini tentang kelebihan wanita 1 : 7, bahkan sekarang 1:11??? Apa mereka mau dijadikan pelacur, janda2, lainnya? Mau bikin bank sperma? Lesbian? Apakah itu bermoral? Dan apakah anda mau keluarga anda jadi salah satunya?!?!?!?
  9. Jangan menghakimi orang lain tanpa pengetahuan. Ada jalan legal, ada jalan haram, anda pilih mana?Jangan mengharamkan yang halal!
  10. Suami yg anda kenal sebenarnya adalah orang yg pandai menyembunyikan perasaan, dia adalah orang yg jago berbohong dan munafik. Sebenarnya matanya terus jelalatan ke kanan dan ke kiri. Jika ada kesempatan buat naruh “burung” pastilah terjerumus juga. Tinggal menurut mbak, ibu, nenek2 sekalian, anda suka cara KASAR atau HALUS? Bukankah lebih baik bila sesuai aturan agama?
  11. Wong menurut agama boleh, kenapa pada ngeyel sih! Jangan ngakalin agama, nanti bid’ah! Kalau anda tidak mau mengikuti perintah agama, SILAHKAN KELUAR!

Silahkan menambahkan dan menyempurnakan agar lebih efektif untuk membenarkan poligami.

Sepertinya perlu juga membuat situs khusus / wiki poligami. Selain sebagai one stop searching, wiki poligami memungkinkan semua poligamis dan pendukungnya berkontribusi, saling menyumbang pembenaran untuk berpoligami. Sebagai ladang amal bersama yang menghasilkan banyak pahala, akhirnya tentu membuat anda masuk surga!!

Betul tidak ibu-ibu?
Betul tidak bapak-bapak?
Teteh?

Halo?

Halo…..?

Lhoo… kok jadi pada pingsan beginih?

Iklan

72 Responses to “Kumpulan Argumen Pro Poligami”


  1. 1 grandiosa12 29 Desember 2006 pukul 9:23 pm

    Kumpulan Argumen Anti Poligami sudah bikin belum mas? :-)

  2. 2 win4sure 29 Desember 2006 pukul 9:29 pm

    Tanggapan saya kalau saya jadi cewek religius:
    “Yah, saya sebagai umat Islam tidak mungkin lah menghalangi suami untuk berpoligami; karena itu kan sama saja ya dengan menolak ajaran agama? Tapi karena saya sendiri gak mau dimadu, ya saya cari aja cowok yang setia, yang bisa nahan napsu, jadinya kan gak ada masalah”

  3. 3 Tukangkomentar 29 Desember 2006 pukul 11:39 pm

    Oh, gitu ya?
    1. Ya itulah, biar sang istri pertama nggak ikhlas, tapi asal cocok dengan “ajaran” ya bisa diinterpretasikan jadi ikhlas/setuju. Lagi nerima kan bukan automatis berarti setuju, kan?
    2. Tergantung tujuan dan alasannya, dong? Kadang kan poligami juga nggak semulia itu. Apa karena “dihalalkan”, lalu automatis jadi mulia, kan nggak. Ini bukan masalah lebih mulia atau nggaknya dibandingkan sesuatu yang lain, tapi pertanyaannya ialah, apakah hal itu sendiri memang betul?
    Betul, nggak?
    3.Oh, gitu, jadi kalau menolak poligami automatis si wanita mendukung suaminya punya simpanan. Sorry, sebetulnya buang waktu ngomentari ini, tapi dangkal sekali cara berpikir yang punya argumentasi ini, kan? Arogan tapi dangkal, gitu, lho!
    4.Jadi kalau seorang wanita disakiti itu pasti ada jalan keluarnya melalui kitab suci dan hadis. Apa jalan keluarnya? Harus nerima karena sudah “kodrat” dan tertulis di situ?
    Yang bener aja, dong?
    5.Poligami salah satu solusi perselingkuhan? Wanita akan jadi lebih terhormat? Bagaimana kalau kita mulai menghormati wanita dengan menanyakan persetujuan mereka dan nggak melakukan poligami, kalau sang istri nggak setuju? Ini baru namanya menghormati. Lebih hormat lagi kalau seorang suami nggak mikir ke arah situ, kan?
    6.Jadi nurut aja terus seperti kambing congek tanpa mikir sendiri. Yang argumentasi seperti ini berarti menghina Tuhan, karena Tuhan memberi kita akal bukan hanya untuk disimpan di bawah tumpukan kitab-kitab. Dosa ini!!! Kalau buat anda (yang argumentasi lho) berpikir secara kritis sama dengan mendewakan akal, ya monggo akalnya dikembalikan saja ke pada yang memberi.
    7.Siapa sih yang membela porografi atau pornoaksi? Selama saya ngikuti blog ini kok nggak ada yang membela itu, cuma membela kebebasan berpendapat dan menanyakan definisi pornografi dan pornoaksi. Jangan nembak ngaco ke kanan -kiri, dong. Argumentasinya kok nggak ketahuan juntrungannya, sih. Kedengarannya asbun.
    Lho apakah negara ini jadi rusak dan tetap miskin karena hal-hal tersebut di atas? Menurut saya banyak lho hal lain yang lebih merusak negara tercinta yang berdasarkan KeTuhanan YME ini (kurangnya toleransi, korupsi, kurangnya pendidikan, kurangnya sopan-santun dsb.).
    8.Yang ini betul-betul asbun. Ya tentu saja nggak mau keluarga jadi pelacur dsb, nggak usah ditanyakan. Kalau orang normal ya gitu. Tapi mungkin yang argumentasi berpendapat, bahwa yang nggak setuju atau yang kritis terhadap poligami itu nggak normal.
    Mungkin harus ngaca dulu, ya????
    9. Yang ini cuma mikir hitam-putih. pokoknya menurut ajaran betul, jalan terusss, tanpa perduli yang berkaitan (istri pertama dan anak-anak) setuju atau nggak.
    10.Apakah kalau sudah poligami lalu agama menanggung, bahwa si suami yang memang sifatnya gitu nggak akan jelalatan lagi atau naruh burungnya di sembarang tempat?
    Naif sekali nih?
    11.Wah, yang ini pasti ngikuti agama sampai mentok! Tapi pada dasarnya mungkin kurang mendasar pengetahuannya/pengertiannya. Kalau memang nganggap yang menolak poligami itu nggak konform dengan agama kan seharusnya disadarkan dengan argumen yang bener, supaya yang bersangkutan nggak tersangkut lagi, kan? Bukan dengan cara gitu: Nggak mau? Keluar! Namanya apa, ya? Ah, nggak tahu ah, nanti jadi menghina orang, masuk neraka jadinya.
    Sorry mas Wadehel, jadi puanjang. Karena tergerak untuk membantu para pendukung poligami yang mulia dan saleh itu untuk lebih menyempurnakan argumentasinya, supaya yang bisa disadarkan lebih banyak.
    Monggo. :)

  4. 4 winerwin 30 Desember 2006 pukul 12:21 am

    wah tukang komentar keren komentarnya

  5. 5 Tukangkomentar 30 Desember 2006 pukul 12:44 am

    Winerwin,
    thanks.
    Saya menghormati orang yang betul-betul beragama, tapi kalau agama hanya dijadikan alasan saja. Wah, russakk, deh!
    Selamat bertahun baru. Juga untuk mas Wadehel dan rekan-rekan ngeblog yang lain, baik yang sealiran ataupun yang nggak.
    Mudahan-mudahan tahun depan kita semua lebih berhasil dalam segala hal dan lebih bisa mengembangkan toleransi kita.
    Dan mudah-mudahan Indonesia bisa meloncat maju beberapa meter lebih ke depan.
    Salam dari rantau!!!!!!

  6. 6 fulan 30 Desember 2006 pukul 1:24 am

    Wow, mau melengkapi review ya Mas …
    Saya nonton aja deh.
    Sambil *mak nyuuussss, setengah pingsan* …
    :)

  7. 7 biho 30 Desember 2006 pukul 5:48 am

    point 1 = silahkan bagi yang mampu…

  8. 8 Herman 30 Desember 2006 pukul 8:39 am

    “7 Giliran pornografi dan pornoaksi dibela mati-matian, malahan difasilitasi. Poligami yang jelas syah, halal dan tidak melanggar hukum,”

    Saya ikutan comment ya? :D

    Dalam bernegara ada hal-hal yang pribadi dan hal-hal yang melibatkan orang lain. Poligami akan dipersulit mengingat ini melibatkan orang lain, mengaddendum kontrak pernikahan, dan selain itu dalam kitab suci syarat poligami sangat sulit. Tujuan pemerintah meregulasi poligami itu seperti pemerintah meregulasi lalu lintas atau ekspor/impor: supaya semua belah pihak tidak dirugikan.

    Poligami tidak sama dengan Pornografi, sehingga tidak bisa dibandingkan begitu saja. Mengakses pornografi sendiri adalah privasi, dan setiap orang berhak mengakses segala bentuk informasi, walaupun itu porno sekali. Yang perlu diatur pemerintah adalah pembatasan siapa saja yang dapat mengaksesnya. Kata kuncinya adalah regulasi, bukan melarang.

    Menyediakan pornografi memang berpeluang merugikan salah satu pihak, sehingga pemerintah juga perlu meregulasi distribusi pornografi. Supaya konsumen, produsen, dan produsen tidak dirugikan.

    Tentu saja ada yang berargumentasi kalau pornografi merusak moral bangsa, dan mendorong indonesia ke keterpurukan. Tetapi tentu saja saya kembali bertanya: moral yang mana dan keterpurukan yang seperti apa? Jangan2 bangsa kita memang tidak bermoral? Apakah masalah yang labih serius seperti budaya oportunis, korupsi, intoleran, tidak taat hukum, juga disebabakan oleh pornografi?

    Seharusnya untuk menyelesaikan permasalahan sosial kita perlu memahaminya dengan pendekatan sosial juga. Argumen serba saklek seperti yang dirangkum wadehel, menampakkan kalau pelontar argumen melihat isu sosial dengan kacamata matematis.

  9. 9 manusiasuper 30 Desember 2006 pukul 9:09 am

    Bingung…

    Saya lebih memilih untuk memahami dulu neh…
    *buka-buka kitab*

    Nanti saya kabari lagi kalo dah dapat pilihan…

  10. 11 helgeduelbek 30 Desember 2006 pukul 1:33 pm

    *nyengir aja* no comment ah!!

  11. 12 wadehel 30 Desember 2006 pukul 2:24 pm

    @Grandlosa: Belum, anda saja yang bikin :P Nanti saya link di blog menarik.

    @Win4sure: Hihi, tapi situ bukan cewek kan?

    @Tukangkomentar: Wuihhh… bagus :D Semoga komentar anda itu dapat memotivasi para pro poligami untuk merekayasa argumen yang lebih bagus dan lebih ampuh lagi.

    @Fulan: Hehe.. bisa jadi. Semoga posting ini bisa membantu semua pihak, baik yg pro maupun kontra.

    @Herman: Hehehe, benar juga tuh. Tapi soal saklek… bukannya agama memang saklek? Jangan-jangan tuhan juga saklek ya?

    @Manusiasuper: Emang harus gitu, buka-buka kitab. Ditunggu kabarnya.

  12. 13 papabonbon 30 Desember 2006 pukul 5:14 pm

    mas wadehel, argumennya kurang banyak nih. perlu yg ditambahin ayat ayat. fatwa menurut syakh abdul azis bin baz, poligami itu sunnah, dan fatwa samsul balda, petinggi PKS, poligami itu wajib.

    bagi yang tidak setuju, silakan memiliki pendapat yang lain. namun dua itu yang paling rajih menurut Islam [ala salafy dan ala pks].

    jgn lupa darul arqam – sekarang rafiqah, juga menyunnahkan poligami.

  13. 14 kenny 30 Desember 2006 pukul 6:01 pm

    1/2 pingsan, masih bisa garuk2

  14. 15 chaidir 30 Desember 2006 pukul 9:08 pm

    “Coba anda berikan solusi dari kelebihan wanita dimuka bumi ini tentang kelebihan wanita 1 : 7, bahkan sekarang 1:11??? “

    *lagi ngebayangin nih… bentar lg mo pingsan

  15. 16 wadehel 30 Desember 2006 pukul 9:11 pm

    @Papabonbon: Mmmh, anu… kenapa ga sekalian dituliskan pak? Setidaknya linknya atuh… apa perlu dijanjikan pahala juga baru mau nulis? :)

  16. 17 telmark 30 Desember 2006 pukul 9:27 pm

    1 : 7 ? sekarang 1 : 11 ?? kudu buru2 nyariin anak perempuan aye calon mantu nih. biarpun mungkin kawinnya nanti 10-15 taunan lagi, tapi calonnya musti diseleksi. ganteng, taat beribadah, kaya dan satu lagi sarat mutlak : anti poligami.

  17. 18 Dewo 30 Desember 2006 pukul 11:25 pm

    Karena perbandingan co:ce adlh 1:7 & skrg bahkan 1:11, berarti kita bisa memiliki istri 7 s/d 11?
    Tetapi mengapa poligami dibatasi cuma 4?

    Pemikiran yg naif… Kita hrs lihat distribusinya berdasarkan golongan umur. Ternyata perbandingan ce lbh besar dr co itu pada rentang usia kanak2 & lanjut usia. Sedangkan pada usia produktif ternyata co lbh banyak drpd ce.

    Jadi para poligamis tdk bisa menggunakan angka statistik mentah spt itu utk berargumentasi. Kecuali jika dia menikahi janda usia lanjut.

    ** ikutan pingsan **

  18. 19 vergie 31 Desember 2006 pukul 4:56 am

    khusus no. 8:
    emang bener ya, co:ce udah segitu 1:7, 1:11, 1:20???? apa mungkin angka2 ini termasuk kuntilanak cewek, genderuwo cewek, mayat idup cewek, tuyul cewek dsb dll
    coba check link ini :
    http://www.census.gov/ipc/www/world.html
    lalu ke bawah, bagian world population by age and sex tahun 2006
    jadi silakan dinilai sendiri

  19. 20 Mbah Dipo 31 Desember 2006 pukul 9:28 am

    Polygami adalah ibarat piring kosong. Bagus tidaknya tergantung isinya. Jika isinya bangkai busuk, dan air comberan maka jelas jelek untuk dikonsumsi. Jika isinya makanan bergizi, halalan thoyiban, maka tentunya baik dan bermanfaat.

    Sayangnya bagi yang pro, polygami dibela mati-matian dengan agak menutup mata bahwa pada pelaksanaannya, seringkali berlaku kedholiman di sana. Bagi yang kontra, polygami dianggap identik dengan kedholiman itu sendiri. Padahal pada kenyataannya pelaksanaan polygami yang memperhatikan segi2 syar’i bisa mengeliminir kedholiman. Bahkan pada asalnya, dijalankannya polygami itu sendiri berawal dari keniatan mencegah terjadinya kedholiman.

  20. 21 wadehel 31 Desember 2006 pukul 11:51 am

    *Naro paku dibawah semua yang mau pingsan*
    *Siramin air ke semua yang pingsan*

    @Dewo: Maklum dong, biar kelihatan saintipik kan harus nyulik data statistik.

    @Vergie: Gilaaaaaw… bisa jadi. Di tipi juga udah banyak tuh yang kawin sama gendruwo. Nyiblorong juga sering nyulikin cowo-cowo ganteng.

    @Mbah Dipo:

    polygami yang memperhatikan segi2 syar’i bisa mengeliminir kedholiman. Bahkan pada asalnya, dijalankannya polygami itu sendiri berawal dari keniatan mencegah terjadinya kedholiman.

    Hehe, bener, daripada selingkuh atau zina kan mending poligami ya Mbah? :P

  21. 22 Odi 1 Januari 2007 pukul 7:34 am

    Kemarin saya dengar di radio ada pendapat unik tentang masalah rasio cowok : cewek yang menjadi salah satu argumen. Menurut komentator radio tsb, memang menurut sensus jumlah cowok lebih sedikit dari cewek. Tapi dari jumlah cewek yang buaaanyak tsb prosentasenya jauh lebih banyak yang manula dan balita. Jadi kalau mau poligami (apalagi dengan alasan-alasan yang mulia) ya silakan menikahi para manula dan balita tsb. Mungkin cuma bahan becanda. Tapi patut direnungkan

  22. 23 edratna 1 Januari 2007 pukul 8:51 am

    Yang paling sulit adalah berbuat adil…bisakah? Selagi membagi perhatian kepada anak (buat riset tentang perasaan anak thd perilaku keadilan orang tua thd anak2nya) aja susah untuk berbuat adil dilihat dari kacamata anak (walaupun ortu udah mati2an berniat melakukan keadilan).

    Buat dong riset, berapa % wanita di Indonesia yang riil melaksanakan poligami? Berapa banyak (%) wanita karir yang punya penghasilan sendiri, yang mau menerima suaminya poligami, dengan alasan agama?

  23. 24 manusiasuper 1 Januari 2007 pukul 11:08 am

    Dosen saya bilang;

    Gimana? Bisa diterima?

  24. 25 wadehel 1 Januari 2007 pukul 11:56 am

    @Odi: Menikahi b a l i t a? hmmm… kalo preteens, teens atau manula masih bisa memaksa diri untuk mengerti demi agama, tapi balita??? please deh.

    @Edratna: Setahu saya, sebuah ayat sudah menyatakan bahwa manusia (laki-laki) tidak akan bisa berbuat adil terhadap perempuan-perempuan. Diluar itu entah :P
    Riset seperti itu akan sangat menarik, tapi apa tidak merongrong kestabilan iman umat?

    @Manusiasuper: Berhubung blogspot masih juga blom bisa dikomentari, disini aja ya:”Bisa banget, penjelasan yang sangat sederhana. Jadi pada perempuan, jangan mau menikah dengan pria yang tidak baik :P”

  25. 26 abdurrohman siddiq 1 Januari 2007 pukul 12:13 pm

    Poligami hukumnya mubah dan halal di sisi Allah dan sesuai dengan sunah Rasul-Nya. maka jangan sekali-kali mengharamkannya. poligami adalah jawaban dari problem yang sering menimpa umat manusia saat ini. seperti perselingkuhan, zina, dll. jika praktek poligami menimbulkan ketidakadilan dan kesengsaraan, jangan salahkan poligaminya tapi salahkan orang yang melakukannya. Karena istri satupun banyak yang sengsara, apakah terus kita mengharamkan pernikahannya?tentu tidak.Kita salahkan saja suami yang tidak adil terhadap istri.Pelaku poligami lebih Gentle daripada pelaku selingkuh. Iya tidak?!!!!!!

  26. 27 manusiasuper 1 Januari 2007 pukul 12:20 pm

    Busyet dah, ustad di atas gue alamatnya plasa.com!

    OTT ya…?

  27. 28 wadehel 1 Januari 2007 pukul 12:35 pm

    @Abdurrohman Siddiq: Itu kan kombinasi nomer 5 dan 2, Pak Ustadz! Ayo dong bikin pembenaran yang lebih mantaf dan kreatif! Nanti saya tambahkan jadi update posting.

    @Manusiasuper: Jangan oot deeeeh.

  28. 29 Tukangkomentar 1 Januari 2007 pukul 8:11 pm

    abdurrohman siddiq:
    Oh, jadi kalau seorang laki-laki yang memang hidung belang dan “itu”nya nggak bisa diam lalu akan jadi alim kalau punya istri 4?
    (kaburr, nggak mau poligami, nggak mau jadi alimmm!!) :)

  29. 30 Ferry 2 Januari 2007 pukul 11:18 am

    @ abdurrohman siddiq

    Klo menurut ane sih poligami (Poligini) dalam ISLAM adalah salah satu wujud dari sifat ALLAH yang maha pengasih lagi maha penyayang, karena ALLAH sangat mengerti bahwa pada dasarnya manusia lemah akan kendali syahwatnya maka diberikanlah keringanan dalam menyalurkannya. Tetapi tentu ALLAH lebih menyukai orang yang bersabar akan syahwatnya, lagi pula tidak mudah bagi yang memutuskan berpoligami mempertanggung jawabkan tindakan poligaminya nanti dihadapan ALLAH.

    Saya setuju bahwa apa – apa yang telah dihalalkan ALLAH tidak ada hak manusia untuk mengharamkanya dan juga sebaliknya, bahkan dibeberapa ayat AL-QUR’AN hal ini dipertegas dengan jelas, emang kadang manusia itu pada dasarnya sok pinter bahkan merasa lebih pinter dari Tuhannya :(

  30. 31 sandal 2 Januari 2007 pukul 11:47 am

    bosen ah mbahas poligami terus. pengen sekali2 mbahas agnes monika saja ^o^

  31. 32 wadehel 2 Januari 2007 pukul 11:58 am

    @Sandal: Agnes? Banyak kok yang bahas, disini juga ada.

  32. 33 Bidadari 2 Januari 2007 pukul 12:17 pm

    Wanitaaa diiijajah priaaa sejak duluuuu….
    Sejak duluuuu wanita dijajah pria…..

    Tanya: kalo selingkuhnya ma bini orang, boleh dikawin juga gak?

    Cinta tak bisa dipaksa, n tak selalu harus memiliki. Klo dah punya satu ya nikmati aja. Naksir cewek lain?? Ya bayangin aja ndak harus dikawin too???

    Bosen ma pasangan? Lha dulu gimana milihnya, kok bisa bosen?? Introspeksi yaa (nulise dah bener belon?)

    Satu bini kurang? Over syahwat? Ya wis pake sabun aja (maksude??)

    Permisiii…..

  33. 34 toim the arrancar 3 Januari 2007 pukul 10:18 am

    banyak yg pro poligami banyak jg yg anti poligami, sebaeknya dipertemukan ajah kedua pihak biar ketemu jalan keluarnya, klo di debatin bingung jg abis semuanya ngeluarin argumen2 yg sama2 masuk akal (menurut mereka masing2 seh)
    Tp klo boleh saran, sebaeknya hal2 gini gak usah didebatin panjang x lebar, nanti bs panjang deh blog-nya

  34. 35 Irwan 3 Januari 2007 pukul 1:59 pm

    Untuk yg wnita saya bisa maklum tidak menerima poligami,
    Tapi untuk pria yang anti poligami saya khawatir ini bukan karena pembelaan terhadap kaum wanita tapi dikarenakan ia iri kepada yang bisa berpoligami sedangkan ia tidak bisa.
    Berpoligami itu bila mampu kalo kaga ya gausah aja gitu ga usah nentang2 dan ngejelekin yg poligami.

  35. 36 tukangkomentar 3 Januari 2007 pukul 7:28 pm

    Irwan,
    “Tapi untuk pria yang anti poligami saya khawatir ini bukan karena pembelaan terhadap kaum wanita tapi dikarenakan ia iri kepada yang bisa berpoligami sedangkan ia tidak bisa.”

    Iri, iri, iri, besok ikut poligami (atau poligini? atau ….?) :)
    Maaf, tapi apakah anda nggak merasa sendiri, bahwa argumentasi anda ini dangkal dan asal-asalna saja? :)
    (sambil kabur sembunyi, takut dimaki mas Irwan dan takut ditantang!?

  36. 37 dwi the vizard 4 Januari 2007 pukul 2:19 pm

    @toim the arrancar:
    kita adakan aja battle royale antara yang pro dan anti poligami biar debatnya nggak panjang.. :-D

    –>Bankai..—>kabooorrr

  37. 38 tukangkomentar2 4 Januari 2007 pukul 5:38 pm

    untuk tukang komentar : (dsini forum diskusi bukan menjudge /menilai pendapat orang lain. Emang anda malaikat!!!)

  38. 39 asal 4 Januari 2007 pukul 5:40 pm

    tukang komentar,
    benar-benar hebat komentarnya..gak salah disebut tukang komentar..tapi apakah anda sudah sebaik seperti yang anda komentari..

  39. 40 al_gasstot 4 Januari 2007 pukul 11:04 pm

    saya gak setuju poligami….
    trus..saya kafir…gitu…?
    …mengkafirkan orang muslim dosa besar lho mas…
    ati2…

  40. 41 tukangkomentar 5 Januari 2007 pukul 12:22 am

    tukangkomentar2 dan asal:
    1. apa mas Irwan itu nggak menjudge pendapat orang lain?
    2. apa hubungannya dengan malaikat atau nggak? para malaikat kan paling ketawa baca blog ini dan nggak akan ikut-ikut. Sudah terjawab pertanyaan anda?
    3. Kalau saya sudah sebaik itu, saya nggak akan ikut-ikut komentari. Yang pasti saya nggak akan poligami, karena
    – nggak ada yang mau
    – nggak mampu membiayai
    – nggak sesuai dengan kepercayaan saya
    – saya takut istri (nanti bisa-bisa dipukul centong kalau
    macem mau poligami segala)
    Monggo!

  41. 42 tukangkomentar 5 Januari 2007 pukul 12:31 am

    Mas Irwannya marah nggak sih?
    kalau nggak, saya terima kasih sejuta kali atas kemurahan hatinya.
    Kalau marah, awas ya, jangan maki-maki atau malah nantang. Soalnya saya ini pengecut sekali dan bisa-bisa lari sembunyi (kan nggak bisa ngramein blog mas Wadehel lagi, kan??)
    :)

  42. 43 Irwan 5 Januari 2007 pukul 10:28 am

    @tukang komentar
    Mo marah jg percuma, saya ga bisa nonjok, mukul dll ga nyampe sih (becanda)
    Ngapain lag harus marah2 santai aza lg.
    Saya ga bilang lo situ sendiri yang nyebut sebagai pengecut.

    Saya jg sebenarnya ga ada niat tuh untuk poligami, abis ga mampu sih.

  43. 44 antobilang 5 Januari 2007 pukul 8:40 pm

    kok pake argumen rasio cewek cowok c..
    kan jadi jiper nih…
    gimana engga..sampe sekarang aja masih ga punya pacar..huhuhu..dimanakah kau 11 wanitaku..hahaha….

  44. 45 DEI 5 Januari 2007 pukul 11:55 pm

    Allah membolehkan org untuk berpoligami walaupun dengan syarat2 tertntu.
    jadi bagi yg sudah “merasa” mampu berpoligami silahkan (karena akan mempertanggung jawabkan disisi Allah) & bagi yang belum mampu jangan sewot….ini adalah hukum Allah (walaupun tdk wajib), bagi anda yg merasa otaknya tidak dangkal jangan takabur laaaah……anda manusia yg asalnya setetes mani, kemana2 bawa ta..i..dan akan maaaatiiiiiiiii…….

  45. 46 Tukangkomentar 6 Januari 2007 pukul 12:26 am

    Jadi semua argumentasi baik pro ataupun kontra selalu ditumpulkan (?) dengan argumen: dibolehkan oleh Allah.
    Yah, memang sulit kalau mendiskusikan kepercayaan. Kalau percaya ya hal itu mutlak, kalau nggak apalagi.
    Tapi kan dalam diskusi ini ada konotasinya juga yang mempertanyakan, apakah syarat-syarat yang jelas-jelas tertulis itu dipenuhi seluruhnya atau nggak (jadi bukan hanya masalah apakah seseorang itu “merasa” sudah mampu. Kan kita tahu, bahwa manusia ini pada dasarnya takabur.).
    Kalau menurut saya diskusi disini ini bukan murni meributkan poligami ya atau nggak, kan? Tapi juga mendiskusikan kemutlakan pengijinan poligami oleh Allah. Nah, kalau kita simak lagi kan diijinkan tapi dengan syarat-syarat tertentu.
    Mungkin di antara yang “belum mampu” itu ada yang nggak mau dan nggak setuju (dengan alasan apapun).

  46. 47 ulan 8 Januari 2007 pukul 2:58 pm

    1. mampu apa nya mas? mampu produksi sperma lebih banyak?? mampu melayani gangbang?

    2. lah.. justru yang munafik itu kan justru yang berpoligami.. kalo emang mau jadi gentlemen ya enggak usah nikah siri, enggak usah, selingkuh, enggak usah zina, enggak usah jajan, bilang aja kalo enggak mampu!!!, kenapa menutupi ke-hewan-an laki² dengan menghalalkan nya..?
    mas nya sendiri mengakui kalo tujuan utama poligami hanya nafsu kan.. tuh nyatanya pake daripada-daripada..

    3. Mungkin perempuan tersakiti>>> jadi kalo perempuan yang tersakiti itu jadi halal??kalo mas nya yang disakiti mau??, Silahkan pelajari kembali kitab suci dan hadis>>> kayak nya mas nya yang harus belajar lagi.. kenapa NABI MUHAMMAD MELARANG MENANTU NYA UNTUK BERPOLIGAMI??
    kalau memang benar poligami itu dianjurkan??
    baca juga sejarah ya mas.. (sayang orang nya nggak mbaca)

    3. solusi?? penyelesaian masalah dengan menimbulkan masalah yang lebih besar??? (solusi yang aneh..).

    4. Logika manusia itu terbatas>>> tapi nafsu birahi enggak terbatas???,

    5. Giliran pornografi dan pornoaksi dibela mati-matian, malahan difasilitasi>>> wawawa..(gedek-gedek) ada ya yang bilang kalo ini bener??? .
    yang pikiran nya kotor ya orang yang punya nafsu tapi enggak bisa ngendalikan..
    negri kita (yang berdasarkan keTuhanan yang maha esa) ya enggak usah di bawa kemana-mana mas..biarin aja di 6 lintang utara dan 11 lintang selatan..

    6. wakakakaka…. (sambil guling-guling) Yang yang anti dan menentang poligami berarti dia tidak beriman>>>> kekekeke.. cetek banget om!!!
    kelebihan wanita 1 : 7, bahkan sekarang 1:11>>>> dapet data dari mana??? pasti asal sebut nih dan di blow up… hihihihi,

    7. tujuan nya dulu donk mas.. kalo untuk cari mangkuk baru “di gawe nadah peju ” ya tetep aja haram walaupun bentuk nya “poligami” mana ada sih jaman sekarang cari istri janda tua, yang udah manopouse??

    8. wah.. wah.. jadi udah nggak ada ya cowok yang setia?? so bad.. padahal aku udah mau berubah pikiran dari tidak bersuami seumur hidup, kayak nya harus ke komitmen awal nih..
    quote:Bukankah lebih baik bila sesuai aturan agama?
    Wong menurut agama boleh, kenapa pada ngeyel sih! Jangan ngakalin agama, nanti bid’ah! Kalau anda tidak mau mengikuti perintah agama, SILAHKAN KELUAR! >>>>>>> weh sampeyan to yang punya agama?? bid’ ah tuh justru kalo poligami mengandalkan nafsu!!!
    emang jaman sekarang ada poligami enggak pake nafsu?

  47. 48 ndy 18 Januari 2007 pukul 1:18 pm

    akhirnya…kita back to basic… mudah2an semua yang beragama dan meyakini bahwa ajaran agama emang betul! ” poligami “. itulah salah satu tanda akhirul zaman, banyaknya wanita dibandingkan pria. waduuhhh klo gitu dunia ini udah mau kiamat donk…

  48. 49 Ferry 18 Januari 2007 pukul 4:03 pm

    ahh ndi, ngapain ngeributin kiamat yang kaga jelas kapan datengnya. Mending kita siapin kiamat diri sendiri yang bisa aja besok or lusa …

    *lari ahhhh*

  49. 50 Saiful Adi 23 Januari 2007 pukul 3:07 pm

    Ayok siapin argumen and fakta nya, atau yang lebih bagus lagi kiat memberi penjelasan kepada istri yang belum setuju dengan poligami tetapi suami dah kebelet bgt

  50. 51 tukangkomentar 23 Januari 2007 pukul 7:35 pm

    Saiful Adi,
    sudah ada kan argumen dan fakta yang nggak bisa dibantah:
    1. Pokoknya gue mau.
    2. Faktanya gue udah kebelet.
    :)

  51. 52 uzi 24 Januari 2007 pukul 6:07 pm

    Jadi kesimpulan dari postingan ini:

    Pokoknya™ poligami itu harus dibolehkan:)

  52. 53 Saint 31 Januari 2007 pukul 11:01 am

    Sistem Masyarakat Islam dalam
    Al Qur’an & Sunnah

    oleh Dr. Yusuf Qardhawi

    POLIGAMI

    Orang-orang Kristen dan Orientalis menjadikan tema poligami ini seakan merupakan syi’ar dari syi’ar-syi’ar Islam, atau salah satu perkara yang wajib, atau minimal sunnah untuk dilaksanakan. Yang demikian ini tidak benar alias penyesatan, karena dalam praktek pada umumnya seorang Muslim itu menikah dengan satu isteri yang menjadi penentram dan penghibur hatinya, pendidik dalam rumah tangganya dan tempat untuk menumpahkan isi hatinya. Dengan demikian terciptalah suasana tenang, mawaddah dan rahmah, yang merupakan sendi-sendi kehidupan suami isteri menurut pandangan Al Qur’an.

    Oleh karena itu ulama mengatakan, “Dimakruhkan bagi orang yang mempunyai satu isteri yang mampu memelihara dan mencukupi kebutuhannya, lalu dia menikah lagi. Karena hal itu membuka peluang bagi dirinya untuk melakukan sesuatu yang haram. Allah berfirman:

    “Dan kamu sekali-kali ridak akan dapat berlaku adil di antara isteri-isteri (mu), walaupun kamu sangat ingin berbuat demikian, karena itu janganlah kamu terlalu cenderung (kepada yang kamu cintai), sehingga kamu biarkan yang lain terkatung-katung..” (An-Nisa’: 129)

    Rasulullah SAW bersabda:

    “Barangsiapa yang mempunnyai dua isteri, kemudian lebih mencintai kepada salah satu di antara keduanya maka ia datang pada hari kiamat sedangkan tubuhnya miring sebelah. ” (HR. Al Khamsah)

    Adapun orang yang lemah (tidak mampu) untuk mencari nafkah kepada isterinya yang kedua atau khawatir dirinya tidak bisa berlaku adil di antara kedua isterinya, maka haram baginya untuk menikah lagi, Allah SWT berfirman,

    “Jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (kawinilah) seorang saja…” (An-Nisa’: 3)

    Apabila yang utama di dalam masalah pernikahan adalah cukup dengan satu isteri karena menjaga ketergelinciran, dan karena takut dari kepayahan di dunia dan siksaan di akhirat, maka sesungguhnya di sana ada pertimbangan-pertimbangan yang manusiawi, baik secara individu ataupun dalam skala masyarakat sebagaimana yang kami jelaskan. Islam memperbolehkan bagi seorang Muslim untuk menikah lebih dari satu (berpoligami), karena Islam adalah agama yang sesuai dengan fithrah yang bersih, dan memberikan penyelesaian yang realistis dan baik tanpa harus lari dari permasalahan.
    Poligami pada Ummat Masa Lalu dan Pada Zaman Islam

    Sebagian orang berbicara tentang poligami, seakan-akan Islam merupakan yang pertama kali mensyari’atkan itu. Ini adalah suatu kebodohan dari mereka atau pura-pura tidak tahu tentang sejarah. Sesungguhnya banyak dari ummat dan agama-agama sebelum Islam yang memperbolehkan menikah dengan lebih dari satu wanita, bahkan mencapai berpulah-puluh orang atau lebih, tak ada persyaratan dan tanpa ikatan apa pun.

    Di dalam Injil Perjanjian Lama diceritakan bahwa Nabi Dawud mempunyai isteri tiga ratus orang, dan Nabi Sulaiman mempunyai tujuh ratus orang isteri.

    Ketika Islam datang, maka dia meletakkan beberapa persyaratan untuk bolehnya berpoligami, antara lain dari segi jumlah adalah maksimal empat. Sehingga ketika Ghailan bin Salamah masuk Islam sedang ia memiliki sepuluh isteri, maka Nabi SAW bersabda kepadanya, “Pilihlah dari sepuluh itu empat dan ceraikanlah sisanya.” Demikian juga berlaku pada orang yang masuk Islam yang isterinya delapan atau lima, maka Nabi SAW juga memerintahkan kepadanya untuk menahan empat saja.

    Adapun pernikahan Rasulullah SAW dengan sembilan wanita ini merupakan kekhususan yang Allah berikan kepadanya, karena kebutuhan dakwah ketika hidupnya dan kebutuhan ummat terhadap mereka setelah beliau wafat, dan sebagian besar dari usia hidupnya bersama satu isteri.
    Adil Merupakan Syarat Poligami

    Adapun syarat yang diletakkan oleh Islam untuk bolehnya berpoligami adalah kepercayaan seorang Muslim pada dirinya untuk bisa berlaku adil di antara para isterinya, dalam masalah makan, minum, berpakaian, tempat tinggal, menginap dan nafkah. Maka barangsiapa yang tidak yakin terhadap dirinya atau kemampuannya untuk memenuhi hak-hak tersebut dengan adil, maka diharamkan baginya untuk menikah lebih dari satu. Allah berfirman:

    “Jika kamu takut berlaku tidak adil maka cukuplah satu isteri” (An-Nisa’:3)

    Kecenderungan yang diperingatkan di dalam hadits ini adalah penyimpangan terhadap hak-hak isteri, bukan adil dalam arti kecenderungan hati, karena hal itu termasuk keadilan yang tidak mungkin dimiliki manusia dan dimaafkan oleh Allah.

    Allah SWT berfirman:

    “Dan kamu sekali-kali tidak akan dapat berlaku adil di antara isteri-isten(mu), walaupun kamu sangat ingin berbuat demikian, karena itu janganlah kamu terlalu cenderung (kepada yang kamu cintai), sehingga kamu biarkan yang lain terkatung-katung.” (An-Nisa’: 129)

    Oleh karena itu, Rasulullah SAW menggilir isterinya dengan adil, beliau selalu berdoa, “Ya Allah inilah penggiliranku (pembagianku) sesuai dengan kemampuanku, maka janganlah Engkau mencelaku terhadap apa-apa yang Engkau miliki dan yang tidak saya miliki.” Maksud dari doa ini adalah kemampuan untuk bersikap adil di dalam kecenderungan hati kepada salah seorang isteri Nabi.

    Rasulullah SAW apabila hendak bepergian membuat undian untuk isterinya, mana yang bagiannya keluar itulah yang pergi bersama beliau. Beliau melakukan itu untuk menghindari keresahan hati isteri-isterinya dan untuk memperoleh kepuasan mereka.
    Hikmah Diperbolehkannya Poligami

    Sesungguhnya Islam adalah risalah terakhir yang datang dengan syari’at yang bersifat umum dan abadi. Yang berlaku sepanjang masa, untuk seluruh manusia.

    Sesungguhnya Islam tidak membuat aturan untuk orang yang tinggal di kota sementara melupakan orang yang tinggal di desa, tidak pula untuk masyarakat yang tinggal di iklim yang dingin, sementara melupakan masyarakat yang tinggal di iklim yang panas. Islam tidak pula membuat aturan untuk masa tertentu, sementara mengabaikan masa-masa dan generasi yang lainnya. Sesungguhnya ia memperhatikan kepentingan individu dan masyarakat.

    Ada manusia yang kuat keinginannya untuk mempunyai keturunan, akan tetapi ia dikaruniai rezki isteri yang tidak beranak (mandul) karena sakit atau sebab lainnya. Apakah tidak lebih mulia bagi seorang isteri dan lebih utama bagi suami untuk menikah lagi dengan orang yang disenangi untuk memperoleh keinginan tersebut dengan tetap memelihara isteri yang pertama dan memenuhi hak-haknya.

    Ada juga di antara kaum lelaki yang kuat keinginannya dan kuat syahwatnya, akan tetapi ia dikaruniai isteri yang dingin keinginannya terhadap laki-laki karena sakit atau masa haidnya terlalu lama dan sebab-sebab lainnya. Sementara lelaki itu tidak tahan dalam waktu lama tanpa wanita. Apakah tidak sebaiknya diperbolehkan untuk menikah dengan wanita yang halal daripada harus berkencan dengan sahabatnya atau daripada harus mencerai yang pertama.

    Selain itu jumlah wanita terbukti lebih banyak daripada jumlah pria, terutama setelah terjadi peperangan yang memakan banyak korban dari kaum laki-laki dan para pemuda. Maka di sinilah letak kemaslahatan sosial dan kemaslahatan bagi kaum wanita itu sendiri. Yaitu untuk menjadi bersaudara dalam naungan sebuah rumah tangga, daripada usianya habis tanpa merasakan hidup berumah tangga, merasakan ketentraman, cinta kasih dan pemeliharaan, serta nikmatnya menjadi seorang ibu. Karena panggilan fithrah di tengah-tengah kehidupan berumah tangga selalu mengajak ke arah itu.

    Sesungguhnya ini adalah salah satu dari tiga pilihan yang terpampang di hadapan para wanita yang jumlahnya lebih besar daripada jumlah kaum laki-laki. Tiga pilihan itu adalah:

    1. Menghabiskan usianya dalam kepahitan karena tidak pernah merasakan kehidupan berkeluarga dan menjadi ibu.

    2. Menjadi bebas (melacur, untuk menjadi umpan dan permainan kaum laki-laki yang rusak. Muncullah pergaulan bebas yang mengakibatkan banyaknya anak-anak haram, anak-anak temuan yang kehilangan hak-hak secara materi dan moral, sehingga menjadi beban sosial bagi masyarakat.

    3. Dinikahi secara baik-baik oleh lelaki yang mampu untuk memberikan nafkah dan mampu memelihara dirinya, sebagai istri kedua, ketiga atau keempat.

    Tidak diragukan bahwa cara yang ketiga inilah yang adil dan paling baik serta merupakan obat yang mujarab. Inilah hukum Islam. Allah berfirman:

    “Dan hukum siapakah yang lehih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin.” (Al Maidah: 5O)
    Poligami Merupakan Sistem yang Bermoral dan Manusiawi

    Sesungguhnya sistem poligami yang diatur dalam Islam adalah sistem yang bermoral dan manusiawi. Manusiawi, karena Islam tidak memperbolehkan bagi laki-laki untuk berhubungan dengan wanita yang ia sukai di luar pernikahan. Dan sesungguhnya tidak boleh baginya untuk berhubungan dengan lebih dari tiga wanita selain isterinya. Tidak boleh baginya berhubungan dengan satu dari tiga tersebut secara rahasia, tetapi harus melalui aqad dan mengumumkannya, meskipun dalam jumlah yang terbatas. Bahkan harus diketahui juga oleh para wali perempuan tentang hubungan yang syar’i ini, dan mereka menyetujui atau mereka tidak menentangnya. Harus juga dicatat menurut catatan resmi di kantor yang tersedia untuk aqad nikah, kemudian disunnahkan mengadakan walimah bagi laki-laki dengan mengundang kawan-kawannya serta dibunyikan rebana atau musik sebagai ungkapan gembira.

    Poligami merupakan sistem yang manusiawi, karena ia dapat meringankan beban masyarakat yaitu dengan melindungi wanita yang tidak bersuami dan menempatkannya ke shaf para isteri yang terpelihara dan terjaga.

    Selain itu poligami dapat menghasilkan mahar, perkakas rumah dan nafkah. Keberadaannya juga dapat memberi manfaat sosial yaitu terbinanya bidang kemasyarakatan yang memberi produktivitas bagi ummat keturunan yang bekerja.

    Anak-anak yang dilahirkan dari hasil poligami yang kemudian hidup di masyarakat sebagai hasil jalinan cinta yang mulia sangat dibanggakan oleh seorang ayah. Demikian juga oleh ummatnya di masa yang akan datang.

    Sesungguhnya sistem poligami sebagaimana yang dikatakan oleh Doktor Musthafa As-Siba’i -rahimahullah– memberi kesempatan kepada manusia untuk menyalurkan syahwatnya dengan sah dalam batas tertentu, tetapi beban, kepayahan dan tanggung jawabnya tidak terbatas.

    Maka yang demikian itu, sekali lagi, merupakan sistem yang bermoral yang memelihara akhlaq, dan sistem yang manusiawi yang memuliakan manusia.
    Poligami Orang-orang Barat Tidak Bermoral dan Tidak Manusiawi

    Bagaimana dengan konsep poligami yang ada pada realitas kehidupan orang-orang Barat, yang ditentang oleh salah satu penulis dari kalangan mereka? Ada seseorang yang ketika berada di ambang kematian, dia mengungkapkan pengakuannya kepada dukun. Penulis itu menentang mereka jika ada salah satu di antara mereka yang tidak mau menyatakan pengakuannya bahwa ia pernah menjalin hubungan dengan seorang wanita walaupun hanya sekali dalam hidupnya.

    Sesungguhnya poligami di kalangan orang-orang Barat seperti yang digambarkan di atas merupakan perilaku hidup yang tidak diatur oleh undang-undang. Mereka tidak menamakan wanita yang dikumpulinya sebagai isteri, tetapi mereka menamakannya sahabat atau pacar (teman kencan). Mereka tidak membatasi hanya empat orang, tetapi sampai batas yang tak terhitung. Mereka tidak berterus-terang kepada keluarganya, tetapi melakukan semuanya secara sembunyi-sembunyi. Mereka tidak mau bertanggung jawab atas biaya untuk para wanita yang pernah dijalininya, bahkan seringkali mengotori kehormatannya, kemudian ia tinggalkan dalam kehinaan dan memikul beban sakitnya mengandung dan melahirkan yang tidak halal.

    Sesungguhnya mereka tidak mengharuskan pelaku poligami untuk mengakui anak yang diperoleh dari hubungannya dengan wanita, tetapi anak-anak itu dianggap anak haram yang menanggung sendiri kehinaan selama hidup.

    lnilah praktek poligami yang mereka namakan sah secara hukum. Dan mereka tidak mau menamakan ini semua dengan istilah poligami. Praktek seperti ini jauh dari perilaku moral atau kesadaran hati atau perasaan manusiawi.

    Sesungguhnya itu merupakan poligami yang memperturutkan syahwat dan egoisme dan membuat orang lari dari segala tanggung jawab. Maka dari dua sistem tersebut, sistem manakah yang paling bermoral, lebih bisa mengendalikan syahwat, lebih menghargai wanita dan yang lebih membuktikan kemajuan serta lebih baik untuk manusia?
    Kesalahan dalam Pelaksanaan Poligami

    Kita tidak mengingkari adanya banyak dan kaum Muslimin sendiri yang salah dalam melaksanakan keringanan hukum untuk berpoligami sebagaimana yang telah disyari’atkan oleh Allah. Kita juga melihat mereka salah dalam mempergunakan rukhsah (keringanan) tentang bolehnya cerai (talak). Dengan demikian yang salah bukan hukum Islamnya, tetapi kesalahan ada pada manusia dalam penerapannya, disebabkan kekurangfahaman mereka terhadap ajaran agama atau karena keburukan akhlaq mereka.

    Kita lihat ada sebagian mereka yang berpoligami, tetapi ia tidak punya cukup kemauan untuk bersikap adil sebagaimana disyari’atkan dan disyaratkan oleh Allah dalam masalah poligami, sebagian mereka ada juga yang berpoligami, tetapi tidak mempunyai kemampuan yang cukup untuk memberi nafkah kepada isteri-isteri dan anak-anaknya sebagai wujud dari rasa tanggungjawab. Dan sebagian lagi mereka ada yang mampu untuk memberikan nafkah, tetapi dia tidak mampu untuk menjaga diri.

    Kesalahan dalam menggunakan kebenaran ini seringkali menimbulkan akibat-akibat yang membahayakan keberadaan rumah tangga. Sebagai akibat dari perhatian yang lebih terhadap isteri baru dan menzhalimi isteri yang lama. Kecintaan yang berlebihan itulah yang menyebabkan ia membiarkan isteri tuanya terkatung-katung, seakan tidak lagi sebagai isteri dan tidak pula dicerai. Seringkali sikap seperti itu juga mengakibatkan anak-anak saling membenci, padahal mereka anak dari satu bapak.

    Hal ini karena bapaknya tidak mampu berlaku adil di hadapan anak-anaknya, dan tidak bisa sama dalam memberi materi dan sikap.

    Meskipun penyimpangan ini ada, tetapi tidak sampai pada kerusakan sebagaimana yang dialami oleh orang-orang barat, yaitu dengan melakukan pelecehan moral, sehingga poligami bukanlah menjadi problem di dalam masyarakat Islam pada umumnya, karena pernikahan dengan satu isteri sekarang ini pun menimbulkan banyak problem.
    Seruan untuk Menolak Poligami

    Patut disayangkan bahwa sebagian Du’at Taghrib (Westernisasi) di negara-negara Arab dan Islam memanfaatkan data dari sebagian kaum Muslimin yang melakukan penyimpangan, sehingga mereka mengangkat suara mereka (vokal) untuk menutup pintu diperbolehkannya berpoligami secara mutlak. Mereka bekerja pagi dan petang dan terus menerus mempropagandakan tentang keburukan poligami. Di saat yang sama mereka diam seperti diamnya orang yang berada di kuburan -diam seribu bahasa– terhadap keburukan zina yang mereka perbolehkan dan diperbolehkan oleh hukum internasional Barat yang berlaku juga secara defacto di negara-negara Islam saat ini.

    Beberapa mass media telah berperan aktif, khususnya film-film dan sinetron berseri untuk menanamkan kebencian terhadap poligami, terutama di kalangan kaum wanita, sehingga sebagian wanita lebih rela jika suaminya jatuh dalam perbuatan dosa besar yaitu zina, daripada harus menikah lagi.
    Satu Argumen dari Kaum Anti Poligami

    Mereka benar-benar telah berhasil -dalam misinya- di sebagian negara-negara Arab dan Islam, berupa banyaknya pembuatan undang-undang yang mengharamkan apa yang dihalalkan oleh Allah, yaitu poligami. Mereka mengikuti undang-undang Barat dan masih ada dari mereka yang terus berupaya untuk menyebarkannya di negara-negara lainnya. celakanya lagi, dalam masalah ini mereka berusaha mengatasnamakan syari’at dan berdalil dengan dalil-dalil Al Qur’an yang diputarbalikkan

    Mereka beralasan bahwa di antara hak seorang walliyul amri (pemerintah) adalah melarang sebagian hal-hal yang diperbolehkan demi untuk memperoleh kemaslahatan atau menghindarkan kerusakan. Bahkan sebagian mereka ada yang terlalu berani untuk berdalil dengan Al Qur’an atas pendapatnya. Mereka mengatakan, “Sesungguhnya Al Qur’an mensyaratkan bagi orang yang ingin menikah lebih dari satu untuk memastikan bahwa dirinya akan mampu bersikap adil di antara para isterinya. Sehingga bagi siapa saja yang takut tidak bisa adil maka cukup dengan satu isteri, sesuai dengan firman Allah SWT:

    “Jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (kawinilah) seorang saja…” (An-Nisa’: 3)

    lnilah syarat yang dijelaskan oleh Al Qur’an dalam masalah poligami, yakni adil. Tetapi Al Qur’an, menurut anggapan mereka, juga menjelaskan dalam surat yang sama bahwa adil yang disyaratkan di sini tidak mungkin bisa dipenuhi dan tidak mungkin bisa dilakukan. Itulah firman Allah SWT:

    “Dan kamu sekali-kali tidak akan dapat berlaku adil di antara isteri-isteri(mu), walaupun kamu sangat ingin berbuat demikian karena itu janganlah kamu terlalu cenderung (kepada yang kamu cintai), sehingga kamu biarkan yang lain terkatung-katung …”(An-Nisa’: 129)

    Dengan demikian (kesimpulan mereka) bahwa ayat ini menafikan apa yang sudah ditetapkan oleh ayat tersebut di atas.

    Yang benar bahwa sesungguhnya kesimpulan di atas semuanya tidak benar, dan tidak berdasarkan kritik ilmiyah yang benar, dan akan kami jelaskan satu demi satu.
    Syari’at Tidak Membolehkan Apa Saja yang Mengandung Mafsadah Rajih (Keburukan yang Nyata)

    Adapun pendapat yang mengatakan bahwa poligami itu menimbulkan kerusakan-kerusakan den bahaya-bahaya dalam rumah tangga dan masyarakat, ini merupakan suatu perkataan yang memuat kesalahan yang nyata.

    Kita katakan kepada mereka bahwa syari’at Islam itu tidak mungkin menghalalkan atas manusia sesuatu yang membahayakan mereka, sebagaimana tidak mengharamkan kepada mereka sesuatu yang berguna bagi mereka Bahkan suatu ketetapan yang ada pada nash dan penelitian bahwa syari’at Islam itu tidak menghalalkan kecuali yang baik dan bermanfaat, dan tidak mengharamkan kecuali yang kotor dan berbahaya. Inilah yang digambarkan oleh Al Qur’an dengan kata-kata yang mantap dan singkat dalam menyebutkan sifat Rasulullah SAW Allah berfirman:

    .” . . Yang menyuruh mereka mengerjakan yang ma’ruf dan melarang mereka dari mengerjakan yang mungkar dan menghalalkan bagi yang mereka segala yang baik dan menghararnkan bagi mereka segala yang buruk dan membuang dari mereka beban-beban dan belenggu-belenggu yang ada pada mereka…” (Al A’raf:157)

    Segala sesuatu yang diperbolehkan oleh syari’at Islam pasti bernilai manfaat yang murni dan segala sesuatu yang diharamkan oleh syari’at Islam pasti bernilai madharat murni atau yang lebih kuat, ini jelas sebagaimana disebutkan oleh Al Qur’an tentang khamr dan perjudian:

    “Mereka bertanya kepadamu tentang khamr dan judi. Katakanlah, “Pada keduanya itu terdapat dosa besar dan beberapa manfaat bagi manusia tetapi dosa keduanya lebih besar dari manfantnya. . .” (Al Baqarah: 219)

    Inilah yang dipelihara oleh syari’at dalam masalah poligami, sungguh Islam telah menimbang antara faktor kemaslahatan dan mufsadah, antara manfaat dan bahaya, sehingga akhirnya memperbolehkan untuk berpoligami bagi orang yang membutuhkan dan memberikan syarat kepadanya bahwa ia mampu untuk memelihara keadilan, dan takut untuk berbuat penyelewengan dan kecenderungan yang tidak sehat. Allah SWT berfirman,

    “Jika kamu takut tidak bisa berbuat adil maka (nikahilah) satu isteri.” (An-Nisa’: 3)

    Apabila kemaslahatan isteri yang pertama itu tetap dalam kesendiriannya dalam mahligai rumah tangga, tanpa ada yang menyainginya, dan dia melihat akan mendatangkan malapetaka jika tidak ada isteri yang kedua, maka merupakan kemaslahatan bagi suami untuk menikah lagi yang dapat memelihara dirinya dari perbuatan haram atau akan melahirkan seorang anak yang diharapkan dan karena sebab yang lainnya. Termasuk juga kemaslaharan isteri kedua adalah bahwa ia mempunyai seorang suami di mana ia dapat hidup di bawah naungannya dan hidup dalam tanggungannya, daripada ia hidup menyendiri sebatang kara atau menjanda.

    Juga merupakan kemaslahatan masyarakat jika masyarakat itu memelihara orang-orangnya, menutupi aurat anak-anak gadisnya, di antaranya dengan pernikahan halal di mana masing-masing lelaki dan wanita saling menanggung beban tanggungjawab terhadap dirinya, isterinya dan anak-anaknya. Daripada harus menganut free sex gaya Barat yang anti poligami model Islam, sementara mereka memperbolehkan banyak teman kencan yang merupakan poligami amoral dan tidak manusiawi karena masing-masing dari kedua belah pihak menikmati hubungan tanpa ada beban, dan seandainya hadir seorang anak dari hubungan kotor ini maka itu merupakan tumbuhan syetan, tanpa ada bapak yang merawatnya dan tanpa keluarga yang menyayanginya serta tanpa nasab yang ia banggakan. Maka manakah bahaya besar yang harus dijauhi?

    Selain itu isteri pertama juga dilindungi hak-haknya oleh syari’at dalam masalah persamaan hak antara dia dengan isteri yang lainnya di dalam persoalan nafkah, tempat tinggal, pakaian dan menginap. Inilah keadilan yang disyaratkan di dalam poligami.

    Benar bahwa sesungguhnya sebagian suami kurang memperhatikan masalah keadilan yang telah diwajibkan atas mereka, akan tetapi kesalahan orang perorang dalam pelaksanaan bukan berarti pembatalan prinsip (hukum) dasarnya. Karena jika prinsip ini tidak diterima karena hal tersebut, maka syari’at Islam akan terhapus secara keseluruhan. Untuk itu dibuatlah standardisasi yang harus dilakukan.
    Wewenang Waliyul Amri untuk Melarang Hal-hal yang diperbolehkan

    Adapun sesuatu yang dikatakan oleh mereka bahwa ada hak atau wewenang pemerintah untuk mencegah hal-hal yang diperbolehkan, maka kita katakan, “Sesungguhnya hak (wewenang) yang diberikan oleh syari’at kepada waliyyul amri (pemerintah) adalah hak membatasi sebagian hal-hal yang mubah karena kemaslahatan yang lebih mantap di dalam sebagian waktu dan keadaan atau berlaku kepada sebagian orang. Dan bukan melarang secara mutlak dan selamanya, karena larangan secara mutlak –dan selamanya–itu mirip dengan “mengharamkan” yang merupakan hak dan wewenang mutlak Allah SWT. Inilah yang diingkari oleh Al Qur’an dari orang-orang ahli kitab, yaitu:

    .”.. mereka menjadikan orang-orang alim dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan selain Allah.” (At Taubah: 31)

    Ada suatu hadits yang menafsirkan ayat tersebut, “Sesungguhnya mereka (para rahib) itu telah menghalalkan dan mengharamkan sesuatu atas kaum Ahlul Kitab, maka kaum itu mengikuti mereka (para rahib).” Sesungguhnya pembatasan terhadap yang mubah (hukum yang diperbolehkan), seperti melarang menyembelih hewan pada hari-hari rertentu, karena untuk memperkecil pemakaian, sebagaimana pernah terjadi di masa Umar RA Seperti juga melarang menanam tanaman tertentu yang telah over produksi seperti kapas di Mesir, sehingga tidak boleh secara leluasa menanamnya melebihi biji-bijian (palawija) sebagai makanan pokok.

    Seperti juga melarang para jendral atau para diplomat untuk menikah dengan wanita asing, karena takut terbongkarnya rahasia negara melalui wanita tersebut ke pihak lawan (negara lain).

    Seperti juga melarang menikah dengan wanita-wanita Ahlul Kitab apabila dikhawatirkan akan membahayakan bagi para gadis Muslimah. Demikian itu di masyarakat minoritas Islam yang relatif kecil dan terbatas penduduknya.

    Adapun kita, kita mendatangkan sesuatu yang dihalalkan oleh Allah SWT dan yang telah diizinkan secara nyata, baik oleh Al Qur’an maupun Sunnah Nabi-Nya dan dikuatkan oleh kesepakatan ummat, seperti talak dan poligami. Maka melarangnya secara mutlak dan selamanya, hal itu tidak termasuk pembatasan hal yang mubah seperti contoh-contoh yang kita kemukakan di atas.
    Makna “Kamu tidak Akan Mampu Berbuat Adil diantara Isterimu”

    Adapun berdalil dengan Al Qur’an Al Karim seperti ayat tersebut, itu merupakan pengambilan dalil yang tidak tepat dan ditolak serta tahrif (terjadi penyimpangan) terhadap ayat dari makna yang sebenarnya. Ini termasuk penuduhan buruk terhadap Nabi SAW dan para sahabatnya RA, bahwa mereka tidak memahami Al Qur’an atau mereka memahaminya tetapi mereka menentangnya secara sengaja.

    Ayat yang dijadikan sebagai dalil inilah yang akhirnya membantah mereka sendiri, kalau saja mereka mau merenungkan. Karena Allah SWT telah mengizinkan untuk berpoligami dengan syarat harus yakin dapat berbuat adil. Kemudian Allah menjelaskan keadilan yang dituntut dalam surat yang sama, sebagaimana firman-Nya:

    “Dan kamu sekali-kali tidak akan dapat berlaku adil di antara isteri-isteri (mu), walaupun kamu sangat ingin berbuat demikian, karena itu janganlah kamu terlalu cenderung (kepada yang kamu cintai), sehingga kamu biarkan yang lain terkatung-katung …” (An-Nisa’: 129)

    Ayat ini menjelaskan bahwa sesungguhnya adil yang mutlak dan sempurna terhadap para isteri itu tidak bisa dilakukan oleh manusia, sesuai dengan tabiat (watak) mereka. Karena adil yang sempurna itu menuntut sikap yang sama dalam segala sesuatu, sampai masalah kecenderungan hati dan keinginan seks. Ini sesuatu yang tidak mungkin ada pada manusia. Ia pasti mencintai salah satunya lebih dari yang lainnya dan cenderung kepada yang satu lebih dari yang lainnya. Karena hati itu berada dalam tangan Allah, dan Allah senantiasa merubah-rubah sesuai dengan kehendak-Nya.

    Oleh karena itu Nabi SAW berdoa setelah menggilir isteri-isterinya dalam masalah urusan zhahir seperti nafkah, pakaian dan menginap (bermalam) dengan doa beliau, “Ya Allah inilah pembagianku sesuai dengan apa yang aku miliki, maka janganlah Engkau murka kepadaku terhadap apa yang Engkau miliki dan aku tidak memilikinya .. . (yaitu hati).”

    Oleh karena itu Al Qur’an mengatakan setelah firman Allah tersebut (“Dan kamu sekali-kali tidak akan mampu untuk berbuat adil di antara isterimu, walaupun kamu sangat ingin berbuat demikian”) dengan firman-Nya, .”..karena itu janganlah kamu terlalu cenderung (kepada yang kamu cintai), sehingga kamu biarkan yang lain terkatung-katung.” Maksud dari ayat ini adalah bahwa sebagian kelebihan dalam masalah cinta itu dimaafkan, itulah kecenderungan perasaan.

    Yang sangat diherankan adalah bahwa sebagian negara Arab Islam ikut mengharamkan poligami, sementara mereka pada saat yang sama tidak mengharamkan zina, padahal Allah SWT berfirman:

    “Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk.” (Al Isra’: 32)

    Saya pernah mendengar dari Syaikh Imam Abdul Halim Mahmud –rahimahullah–bahwa ada seorang Muslim di negara Arab Afrika yang menikah secara rahasia dengan wanita kedua setelah isterinya yang pertama, dan ia melaksanakan aqad secara syar’i yang memenuhi syarat. Akan tetapi ia tidak disahkan oleh hukum yang berlaku di negaranya, bahkan dianggap sebagai pelanggaran hukum, sehingga membuat ia kebingungan ke sana ke mari. Akhirnya diketahui oleh polisi intelijen bahwa wanita itu istrinya, dan ia dijera pasal karena dianggap telah melakukan pelanggaran hukum.

    Pada suatu malam ia ditangkap di rumah wanita itu dan dibawa ke pengadilan untuk diverbal karena dituduh menikah dengan isteri yang kedua.

    Tetapi orang itu cerdik, maka ia katakan kepada para hakim, Siapa yang mengatakan kepadamu bahwa itu isteri saya? Sebenarnya ia bukan isteriku, akan tetapi pacarku yang aku jadikan kekasihku yang aku kunjungi sewaktu-waktu.”

    Di sinilah para hakim terkejut dan mengatakan dengan sopan, “Kami mohon maaf yang sebesar-besarnya karena kesalahfahaman kami yang terjadi, kami mengira ia isterimu, dan kami tidak tahu kalau ia sebagai sahabat saja.”

    Akhirnya mereka melepaskan kembali orang itu, karena bersahabat dengan wanita dalam keharaman dan menjadikannya sebagai kekasih itu termasuk kebebasan pribadi yang dilindungi oleh undang-undang.

    Sistem Masyarakat Islam dalam Al Qur’an & Sunnah
    (Malaamihu Al Mujtama’ Al Muslim Alladzi Nasyuduh)
    oleh Dr. Yusuf Qardhawi
    Cetakan Pertama Januari 1997
    Citra Islami Press
    Jl. Kol. Sutarto 88 (lama)
    Telp.(0271) 632990 Solo 57126

  53. 54 Ferry 31 Januari 2007 pukul 1:51 pm

    Konteks monogami adalah konteks kehidupan ala barat (* mungkin karena mayoritas mereka bukan muslim *) yang memang hendak dijadikan model keluarga di seluruh dunia. Karena memang dalam konteks pergaulan barat zina adalah hal yang biasa dan hak individu yang lumrah dan tidak melanggar hukum selama suka – sama suka dan tidak ada paksaan serta selama masing – masing sudah diatas 17 tahun. Tentu kita sebagai umat islam bukan kemudian menjadikan poligami sebagai model kehidupan berkeluarga, hanya saja tentu ALLAH lebih mengerti kelemahan kita akan syahwat sehingga walaupun pada beberapa ayat AL-QUR’AN ditekankan bahwa poligami cenderung kepada ketidak adilan terhadap istri, tetapi ALLAH dalam firmaNYA didalam AL-QUR’AN selalu menyebut istri dalam bentuk jamak (istri – istri mu…). Wallahualam…

  54. 55 xwoman 31 Januari 2007 pukul 7:30 pm

    Polygami dalam Al-Qur’an memang di bolehkan dan “halal” karena menjadi suatu “solusi”(berarti ada masalah dunk), sebagai Islam tentu saja tidak boleh mengingkari isi Al-Qur’an, karena salah satu rukun Rukun Iman adalah mempercayai Al-Qur’an

    Halal bukan berarti WAJIB, artinya baik istri maupun suami kalo salah satunya tidak/belum sanggup/mampu jangan memaksakan diri untuk berpolygami, karena mendzolimi diri sendiri atau orang lain hukumnya dosa, nah kalo polygami dilakukan bukan sebagai “solusi” tapi menambah masalah (salah satu terdzolimi, istri ga ridho, dan hanya karena nafsu red) hukumnya jadi Haram (kata guru ngaji di sebelah rumah). Ya begitulah kira-kira.

    @ papabonbon
    maaf lo pa, kalo ga salah PKS membolehkan tapi tidak wajib dan tidak juga mengingkari isi Al-Qur’an, Justreu Arqom yang mewajibkannya.

    @ Antobilang
    Bener kata mas odi saya juga denger di Radio kalo Co-Ce usia produktif itu kira-kira 4-1

  55. 56 tukangkomentar 31 Januari 2007 pukul 7:35 pm

    Ferry,
    “Konteks monogami adalah konteks kehidupan ala barat (* mungkin karena mayoritas mereka bukan muslim *) yang memang hendak dijadikan model keluarga di seluruh dunia. Karena memang dalam konteks pergaulan barat zina adalah hal yang biasa dan hak individu yang lumrah dan tidak melanggar hukum selama suka – sama suka dan tidak ada paksaan serta selama masing – masing sudah diatas 17 tahun.”
    pokoknya semua yang dari barat dibumbu-bumbui dan dijadikan jelek. Gitu, ya? :)
    Mbok kalau mau mendiskusikan poligini (bukan poligami, kan perempuan nggak boleh poliandri, toh?) ya itu yang didiskusikan, nggak usah membawa-bawa hal lain.
    Kan pada pokoknya sebagian besar yang dipertanyakan di sini kan kehalalannya, toh? Bahwa poligini itu diperbolehkan, kan memang jelas, kan sudah tertulis. Cuma syarat-syaratnya itu lho. Bisa nggak dipenuhi semua (ataukah ada pengecualian di sini?).

  56. 57 imammas 6 Maret 2007 pukul 2:09 pm

    ya bolehlah saya klop ma pemikiran sampean … tapi tolong dong tulis tentang “persatuan suami takut istri” or “arisan para istri perongrong suami” saya tunggu, bagaimana mas wadehel…

  57. 58 wadehel 6 Maret 2007 pukul 4:16 pm

    @Imammas, saya tidak tertarik menulis tentang itu. Kenapa tidak anda saja? Lumayan buat isi blog yang masih kosong, sekaligus dihubungkan untuk mendukung poligami mungkin? :))

  58. 59 Woo_LaaN. ChanTiQue 8 Maret 2007 pukul 12:47 pm

    Polygamy…. selamanya akan menjadi polemik berupa pro dan kontra,, kita harus berpikir rasional dan kritis menyikapi permasalahan ini karena berdiri di antara 2 pintu yaitu ” LOGIKA ” dan ” PERASAAN “. orang banyak yang salah menafsirkan bahwa polygami ada dalam Al- Qur’an & agama memperbolehkannya.kebanyakan di jaman sekarang polygami ini didasarkan atas ” HARTA “, mana mungkin seorang mau untuk di madu jika laki-lakinya tidak mempunyai apa-apa?
    apakah untuk melindungi martabat wanita harus dengan polygami,? apakah untuk mencari jalan ke surga seorang wanita harus rela dan ikhlas di poligamy? tidak adakah jalan lain untuk menuju surga selain mau untuk di polygami?
    kita hidup di negara ” INDONESIA ” dan aturan yang ada dalam Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 menyebutkan secara jelas dan tegas bahwa asas yang dianut adalah ” MONOGAMI “.
    tidak ada alasan untuk poligamy bagaimana kalo suami selingkuh, punya WIL, atau jajan di luar dengan PSK.
    wanita manapun tidak akan rela dan ikhlas jika cintanya di madi atau harus berbagi dengan orang lain, apalagi harus berbagi orang yang paling kita cintai dengan orang lain, batin dan perasaan perempuan mana yang akan kuat menghadapinya, penyakit yang menggerogoti dari dalam. lebih ganas dari penyakit manapun.
    apa susahnya membuat komitmen untuk saling setia, tanpa ada yang harus disakiti.
    kenapa harus memikirkan bahwa perbandingan antara wanita dan laki-laki adalah 1:7, bukankah itu rahasia Tuhan( ALLAH swt )… dalam suratan tangan manusia telah ditentukan bahwa setiap manusia tentang jodoh, kematian dan rezeki telah ditentukan ………
    ingat di jaman nabi Muhammad saw, bahwa istri yang dicintainya hanyalah Aisyah, sedangkan di jaman sekarang polygami hanya atas kebutuhan SEKS dan NAFSU, kenapa tidak bisa mengendalikan nya dengan berpuasa ato dengan ibadah lainnya ….
    Don’t SaY to Polygami ” ….. kaum perempuan harus lebih moderat, kritis, …. jangan mau kalah dengan kaum laki-laki ,, kejar masa depan dan jangan mau hidup bergantung pada orang lain( harus punya pegangan hidup sendiri) jangan mau untuk bersandar terus/hidup menggantung …..

  59. 60 cashper.com 26 Maret 2007 pukul 9:01 pm

    Ah saya sepertinya “netral” deh ttg hal ini.
    Saya punya teman yang mempunyai teman lagi…
    Dan dia cerita…

    Dulu semasa perjuangan Bung Karno dan KH Agus Salim pernah diskusi tentang ” poligami”
    Bung Karno SANGAT MENENTANG tentang Poligami.
    Sementara KH Agus mendukung ttg poligami ( Mungkin didasari hukum Islam yg sangat kuat yah )

    Beberapa tahun kemudian mereka saling bertemu lagi…
    Dan keadaannya berubah…
    Bung Karno mempunyai istri lebih dari satu
    Dan KH Agus Salim tetap HANYA mempunyai seorang istri…

    Point of view nya…balik lagi ke hati nurani…

  60. 61 wongkapitalis 5 Juli 2007 pukul 2:43 pm

    usul : gimana kalo fenomena perempuan bejilbab gak kita kaitkan ama urusan kebiadaban dan pera-adab-an.
    jilbab atau tidak, biarlah tersegmentasi dengan sendirinya dan kita serahkan saja kpd mekanisme pasar…..

    (..he..he.., lagi senyum mesum bayangin MIYABI pake Jilbab, he..he.., bakalan ini bakalan jadi komoditas yang prospektif ini..apalagi disinetronkan kayak tivi-tivi gitu…)

  61. 62 wongkapitalis 6 Juli 2007 pukul 4:57 pm

    wah sory mas dehel, komenku di atas salah alamat nih, harusnya komen inni ada di “Jilbab, Biadab”

    skali lagi sorry, he..he.., doakan juga ya smoga blogku segera muncul…

    thanks b4

  62. 63 budi 10 Juli 2007 pukul 4:11 pm

    lebih enak, selingkuh , alasan tidak repot , tidak ribut kalo sdh rumah tangga, dan yang penting sediakan Kondom atau suntik KB dulu

    Poligami Gak akan bisa deh

  63. 65 pszht 16 Agustus 2007 pukul 8:59 am

    aku ada tugas portofolio nih!!!

    waktunya mepet…

    pertanyaannya,
    manusiawi gak kalo pasangan yang udah nikah masih mengakses hal-hal yang berbau pornografi???

    sebenarnya ini bertujuan sebagai terapi supaya sang pasangan kagak selingkuh sama yang lain.

    terus kalo ngakses porno, bakal memperbaiki hubungan kagak???

    ayo dunk!!! gue butuh commentnya!!!

    kalo mu lebih lanjut bantuin gue, kunjungi aja

    pszht.blogspot.com
    pszht.blogspot.com

    inget yah!!!

  64. 66 abu Hudzafah 5 September 2007 pukul 7:57 pm

    Poligamy adalah sunnah. Faman ragaba ‘an sunnatti falya minni. Siapa yg benci sunnahku maka bukan ummatku/golonganku. kata Rasulullah salallahu alaiwasallam.
    Maka kalau tidak punya ilmu nggak usah ngolok2 poligamy. Al-Israa/:36 yg artinya. Janganlah engkau mengikuti apa yg tidak engkau ketahui dngannya, sesungguhnya penglihatan, pendengaran dan hati semua iyu akan diminta pertanggungan jawab. yaa lebih baik diamlah.

    B@r@kallahu fiikum.

  65. 67 Don Leito 6 September 2007 pukul 2:12 pm

    @Herman
    >> Apakah masalah yang labih serius seperti budaya oportunis, korupsi, intoleran, tidak taat hukum, juga disebabakan oleh pornografi?

    Tepat 80% dari 100 persen juga mas, begini ceritanya mas ada tetangga saya (ini yg taraf kecil2an ya mas) MENCURI karena dia keranjingan “selangkangan wanita” di lokalisasi, nah banyak juga PEEJABAT2 kita “memelihara” wanita simpanan yg justru biayanya lebih tinggi daripada “jajan prasmanan” di prostitusi, bukan cuma puluhan juta yg dia keluarkan tapi kadang hitungan milyar bahkan berita lagi hangat bambang trihatmojo dikilik2 dompetnya sama mayangsari sampai mendekati hitungan Trilyun. Apa ini gak dashyat, sebegitu berharganya selangkangan sampai para pejabat2 itu rela mengeluarkan uang sebanyak itu…!!!!
    Dari mana uang utk memenuhi kesenangan burung2 mereka…??? hihihi pikir ndirilah aku gak ikut2…cape deh….

    Yg saya kemukaken diatas apa itu juga termasuk taat hukum..??? halah pikir ndiri lage dah….

  66. 68 yudythbastian 24 Oktober 2007 pukul 8:56 am

    kalau Anda merasa cocok dengan poligami, berarti Anda cocok dengan zaman Jahiliah, karena poligami yang disyaratkan ISlam, yg diapresiasi oleh Islam (bukan diajarkan!!) itu untuk orang2 Jahiliah yang punya istri sampai ratusan dan nggak ada yg namanya adil. Poligami yang diapresiasi ISlam datang dengan radikal untuk membatasi poligami pada zaman utyu cuma sampai empat dan HARUS HARUS ADIL. Kalau istrinya ga bisa dan perasaannya ga terima tapi dia karena keterpaksaan teori-teori teologis ayat2 AlQUran yg katanya menganjurkan poligami, berarti terjadi ketidakadilan, mana mungkin agama mengajarkan ketidakadilan.

    Dan apa bener poligami itu dianjurkan Nabi? Nabi sendiri tidak setuju anak perempuannya dimadu oleh Ali ibn Abi Thalib.

  67. 69 yudythbastian 24 Oktober 2007 pukul 8:58 am

    Media terlalu membesar-besarkan kalau cuma wanita saja yang dibilang ga setuju poligami, BANYAK PRIA YANG GA SETUJU UNTUK POLIGAMI! DAN SALAH GA? SALAH GA? DI ALQURAN DILARANG GITU MONOGAMI?

  68. 70 saraswati 11 Januari 2008 pukul 8:46 am

    jalani hidup dng + thinking aj. suami sy poligami 3 istri bahkan, kami akur2 aj, ank2 jg lancar skolah, ekonomi berkembang baik. kwn-ttangga pada nyinyir…egp aj deh !! Damai itu indah.

  69. 71 khidhir 13 Agustus 2009 pukul 8:47 pm

    tidak perlu diperdebatkan lagi tentang poligami karna itu sudah diatur oleh syariat islam, bahkan itu merupakan ibadah yang telah dituntunkan dalam islam, kalau kita kutak katik lagi, khawatir kita tergolong orang yang membuat syariat yang baru. jadi saya himbau kepada istri – istri suruh dan dukung suamimu untuk ber poligami/multigami (asal jangan lebih dari 4) insya allah itu merupakan suatu amalanmu yang shalihah dan engkau dijanjikan dengan kenikmatan syurga Allah SWT, wa’allahu ‘alam


  1. 1 Kumpulan Argumen Pro Poligami « frimitzon Lacak balik pada 2 Desember 2011 pukul 3:48 pm

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




JANGAAAN !!!

Jangan membaca isi blog ini, sebelum memahami semua woro-woro di halaman PERINGATAN.
Unek-uneg, pertanyaan atau komentar yang TIDAK berhubungan dengan posting, silahkan anda sampaikan di Ruang Tamu.
Boleh juga memasukkan kritik dan saran ke dalam kotaknya.
Posting yang tidak pada tempatnya, terlalu OOT atau terlalu kotor, kemungkinan besar akan saya serahkan pada akismet.
Satu lagi, tak perlu kuatir kalau komen anda tak langsung muncul, kadang akismet suka terlalu curiga, saya akan lepaskan begitu saya online :) Terimakasih

Cap Halal

RSS Sumber Inspirasi

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

Kampanye

Petisi Mendukung Pembubaran IPDN

Aku Nggak Korupsi

Kulkas

free hit counter



%d blogger menyukai ini: