Tukang Cukur, Pertapa dan Si Gondrong

Suatu hari seorang pertapa berjalan memasuki sebuah kampung, dia merasa sangat heran, karena setiap orang yang dilihatnya selalu gondrong berantakan dan rambutnya tidak terawat. Kemudian, menyapalah dia pada seorang pemuda gondrong yang berpapasan dengannya:

Pertapa: “Hai anak muda, tubuh adalah istana bagi jiwa, mengapa keindahannya tak kau pelihara?”
Si Gondrong: “Hah? Maksud lo?” sambil terkejut si pemuda bertanya.
Pertapa: “Kenapa kamu tak bercukur?”
Si Gondrong: “Oh, gitu dong, ngomong yang jelas, biar gw ngerti! Sejak tukang cukur berhenti praktek, gw dan semua penduduk kampung emang gak pernah cukur lagi tuh”
Pertapa: “Lho, kenapa tukang cukur berhenti praktek?”
Si Gondrong: “Dia mati kena flu burung”
Pertapa: “Ooooh….” Dan sang pertapa pun tercerahkan….

Menurut saya cerita yang satu ini agak sulit dipahami, asli garing sekali, adakah pesan yang tersirat di situ? Kalaupun ada, kira-kira apa ya?

Saya persilahkan anda (yang terseret takdir hingga terpaksa membaca kisah aneh ini) untuk memahaminya sendiri, sesuai kesadaran, kegilaan, kecerdasan maupun kebodohan masing-masing. Bila sudi, silahkan tulis pemahaman anda sebagai komentar.

Iklan

23 Responses to “Tukang Cukur, Pertapa dan Si Gondrong”


  1. 1 manusiasuper 13 November 2006 pukul 8:05 pm

    busyet, perasaan ini kemaren KOMENT posting saya ya..??
    ROYALTI!! ROYALTI!!

  2. 2 wadehel 13 November 2006 pukul 8:17 pm

    @ Manusiasuper
    Huehehehe, iya sih, itu memang terinspirasi komentarnya anda… tapi ceritanya sudah berubah total, baca dulu deh :P. Pun kemiripanya hanya pada jumlah dan karakter tokoh-tokohnya aja. Kalau dipersentase itu gak sampe 68%, jadi ya maaf, tuntutan royaltinya gak bisa dipenuhi :D *jadi ketahuan deh kalau saya yang ngarang*

  3. 3 kikie 13 November 2006 pukul 8:37 pm

    hingga sang sufi tercerahkan itu maksudnya apa? tercerahkan untuk ganti profesi jadi tukang cukur atau gimana?

    cerita yang aneh. mungkin maksud “tercerahkan” di sini adalah sebatas “akhirnya tahu kenapa..”. cuma dibuat hiperbol biar matching sama kata “pertapa” :B

  4. 4 passya 13 November 2006 pukul 9:40 pm

    Gondrong2 juga kalo dipakein jas yang rapih pantes aja…. finally I understood, that’s why they deny ‘RUU APP’ wakakakak :D

  5. 5 wadehel 13 November 2006 pukul 10:47 pm

    @ Kikie
    Itu salah saya tulis, sekarang sudah di edit, semua kata sufi saya ubah jadi pertapa. Terimakasih, salam kenal :D

    Btw, emange ada arti “tercerahkan” selain “akhirnya tahu” ?

    @ Passya
    Emang menurut yang anda tangkap, apa alasan mereka menolak RUU APP?

  6. 6 Luthfi 14 November 2006 pukul 8:41 am

    oooo, ini kisah sufistik macam Nasrudin Hoja yach :-)
    *baru nyadar*

  7. 7 kikie 14 November 2006 pukul 10:53 am

    setahuku nggak juga sih, tapi kata “tercerahkan” kesannya lebih .. gimana ya. semacam menemukan kebenaran yang sakral begitu. haha.

  8. 8 kw 14 November 2006 pukul 12:05 pm

    wong cerita sudah jelas-jelas artinya tersurat kok nyari-nyari yang gak ada. bukankah cerita itu sangat sederhana sekali?

    seorang yang bertanya kenapa gondrong lalu dijawab, tukang cukurnya mati.

    :)

  9. 9 dewo 14 November 2006 pukul 12:45 pm

    Dipahami dulu…
    Eh, kok ngga paham2 ya? Maklum, saya kan telmi (telat mikir).

    (** Kabur **)

  10. 10 wadehel 14 November 2006 pukul 9:54 pm

    @ Luthfi
    Nasrudin hoja tuh siapa, bukan tentang dia kok.

    @ Kikle
    hehe, ya kalau gitu, menurut si penulis cerita, info matinya si barber itu dah sakral banget bagi si pertapa.

    @ Kw
    Hihihi, benar banget, Itu memang yang tesurat, Pak.
    Kalau yang tersirat mungkin bisa muncul dari pertanyaan awam semacam:
    – si pemuda kok ga ngerti sapa pertama si pertapa?
    – kok sekampung nrimo aja gondrong ga jelas?
    – knp ga usaha nyukur di tempat/cara lain?
    – setelah pertapa tercerahkan, lalu apa?
    – ini yang nulis maksudnya apa? saking nganggurnya apa emang gila?

    @ Dewo
    Jangankan situ, yang ngarang itu cerita aja belum tentu ngerti maksudnya apa :))

  11. 11 kw 15 November 2006 pukul 8:31 am

    hel, kalau mau dijawab semua pertanyaan awam yang menurutmu bisa muncul, penulisnya mesti bikin sebuah cerita. minimal cerita pendek.

    lha dia kan memang maunya bikin cerita singkat. tentang tujuan penulisnya, hanya dia yang tahu. dugaanku sih biar orang yang membacanya merasa aneh dan ceritanya di perbincangkan.

    andai ya, tujuan penulis sudah nyampe bukan? :)

  12. 12 wadehel 15 November 2006 pukul 9:12 am

    @ Kw
    Bener juga ya… hmm…

    Tujuan minimal emang sepertinya sudah tercapai, banyak yang membincangkan. Sayang hanya sebatas itu, sepertinya harus belajar bikin cerita yang lebih serius dan lebih panjang. Mungkin nanti novel.

  13. 13 manusiasuper 15 November 2006 pukul 4:51 pm

    68 % itu relatif mas, he…
    Tapi sumpe, saya kaga ngerti? Ngapain itu sufi ganti jadi petapa??
    Saya juga bingung? Flu burung jenis apakah yang menyerang tukang cukur itu? Apakah dia suka nyukur bulu burung??
    Tolong diklarifikasi…

  14. 15 wadehel 16 November 2006 pukul 1:24 am

    @ Manusiasuper
    Sufi diganti pertapa cuman supaya aman aja kok. Mempertimbangkan kedekatan masing-masing dengan kelompok agama, sepertinya lebih aman kalau pertapa.

    @ Giffari
    Sama, saya juga bingung.

  15. 16 itkaS lotnoK 21 November 2006 pukul 9:06 am

    maksud ceritanye gini lho…
    kenapa sekampung gak mau cukur rambut, karena mereka mencoba menyembunyikan sesuatu!
    sebenarnya mereka sedang akan mengadakan acara pesta sex di kampung. Syaratnya, para pria harus gondrong hahaha. Ketika mereka sedang menunggu para wanita-wanita seksi dari kampung laen, eeee yang dateng malah si pertapa suci lagee. Ya jelas lah mereka harus bohong ke si pertapa itu, namun sayangnya kebohongannya kurang mantap sehingga menimbulkan teka-teki bagi si pertapa itu.

  16. 17 Paijo 30 November 2006 pukul 8:30 am

    Kalau menurut saya, pertapa itu memahami bahwa tukang cukur tersebut ketularan virus flu burung karena dia juga melayani jasa mencukur rambut di sekitar ‘burung’ penduduk kampung tersebut. Benar kagak ?????

  17. 18 wadehel 1 Desember 2006 pukul 9:20 am

    @ ItkaS
    Bwaaakakakaka.. boleh juga imajinasinya, sesuai dengan nama anda :)) Saya yakin kalau anda punya blog pasti isinya luar biasa. Ada linknya?

    Btw, anda bukan orang cilebut kan?

    @ Paijo
    Saya ga tau benar tidaknya. Itu ceritanya bebas kok untuk dimaknai. Tiap kepala boleh bikin arti sendiri. Saya sendiri ga nyangka kalau akhirnya bisa punya banyak makna terselubung.

  18. 19 bludru 11 Desember 2006 pukul 1:08 pm

    klo nga salah begini neh maknanya:
    sang petapa itu meyadari klu dia tuh dah kelamaan bertapanya..(mang berapa tau tapa nya kang??) jadi dia lupa lupa bahwa kampung itu adalah kampungnya sendiri en anak muda itu adalah tetangganya sendiri. Tukang cukur itu ternyata anak semata wayangnya yg sejak dia tinggal bertapa ternyata suka `maen’ burung sendiri pas ujan. Jadi dia kena flu pas lg ‘maen’ burungnya sendiri.

  19. 20 ivo 13 Desember 2006 pukul 10:49 am

    kenapa x? soalnya y! oh okay.

    kenapa x nggak dicari solusinya? question out of boundary.

  20. 22 awan 14 Juli 2009 pukul 6:22 pm

    asli gila ni cerita…………tapi ok………..

    sangat garing tapi membutuhkan kegilaan mengartkannya……


  1. 1 Tukang Cukur, Pertapa dan Si Gondrong « frimitzon Lacak balik pada 2 Desember 2011 pukul 3:06 pm

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




JANGAAAN !!!

Jangan membaca isi blog ini, sebelum memahami semua woro-woro di halaman PERINGATAN.
Unek-uneg, pertanyaan atau komentar yang TIDAK berhubungan dengan posting, silahkan anda sampaikan di Ruang Tamu.
Boleh juga memasukkan kritik dan saran ke dalam kotaknya.
Posting yang tidak pada tempatnya, terlalu OOT atau terlalu kotor, kemungkinan besar akan saya serahkan pada akismet.
Satu lagi, tak perlu kuatir kalau komen anda tak langsung muncul, kadang akismet suka terlalu curiga, saya akan lepaskan begitu saya online :) Terimakasih

Cap Halal

RSS Sumber Inspirasi

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

Kampanye

Petisi Mendukung Pembubaran IPDN

Aku Nggak Korupsi

Kulkas

free hit counter



%d blogger menyukai ini: