Tuhan Kemana? Kok Diam Saja?

Dulu pada jamannya Musa dan jaman nabi-nabi yang lain, Tuhan sangatlah amat berkuasa. Melalui berbagai mukjizat, beliau dengan seketika mampu menolong para beriman. Dan bila ada umat yang terlalu menyebalkan, dengan mudah pula bisa diselesaikan. Para bangsat, sesat, kafir dan laknat dihancurleburkan secara kaffah dan seketika melalui bencana kehancuran yang selalu dahsyat.

Sekian ribu tahun kemudian, sekarang, kenapa Tuhan tidak pernah lagi menunjukkan kehebatan yang sama? Padahal korupsi, penindasan, perkosaan, pembodohan, pemiskinan dan sebagainya terjadi disetiap sudut. Kekuasan korup dan bejat terus merajalela dan bertindak semena-mena tanpa ada yang bisa menghentikan. Siapapun bebas menjual nama Tuhan dan mengatasnamakan namaNya untuk berbagai kepentingan yang tak selalu baik.
Tuhan kemana? Kok masih diam saja?

Menanggapi pertanyaan itu, teman-teman saya punya jawaban unik berdasarkan latar belakangnya masing-masing :

Seorang teman yang anti Tuhan sekaligus anti pemerintah bilang, “Tuhan emang sudah lama mati, goblooog. Sudahlah, hentikan saja sedu sedan itu,” lalu sambil berbisik berkata “Sudah saatnya revolusi”.

Teman yang doyan teori konspirasi malah bertanya-tanya “Jangan-jangan sejarah pun hanya rekayasa, semua bullshit hasil akal-akalan para perekayasa agama, mungkin sebenarnya Tuhan tak pernah sepowerfull itu.”

Teman-teman rohis yang sangat beriman tetap meyakin-yakinkan diri sambil berkata “Sabar, sabaaar, sabaaaaar…. Ini semua adalah ujian dari Nya. Yakinilah, bahwa kebenaran pada akhirnya akan selalu menang!” tak lupa ditambahi teriakan “Tuhan Maha Besar!!!” sambil mengepalkan tangan ke arah langit.

Lalu Iwan (ini nama sebenarnya lho) yang pemuja syariat itu tak melewatkan kesempatan, dia akan langsung menyatakan “Ini karena kita tidak hidup menggunakan aturan-Nya! Itulah sebabnya Tuhan diam saja dan tidak melakukan apa-apa. Mankanya, ayo kita tegakkan syariat Allah di bumi dan seluruh jagat semesta!!!”

Teman yang doyan buka-buka kitab sambil menyanyikan ayat menjawab “Kan sudah tertulis dengan jelas, Tuhan tidak akan mengubah nasib seseorang bila orang itu tidak mengusahakannya. Jadi bila nasib you belum berubah, berarti you belum cukup berusaha. Paham?” diakhiri dengan mengutip kalimat sakti para pendakwah “Mulailah dari diri sendiri!”

Teman fiktif yang anggota setia Laskar Pembela Tuhan merasa tidak perlu menjawab, daripada harus menggunakan otak (yang mereka haramkan, mungkin karena penggunaannya yang terlalu rumit), mereka lebih suka bersegera sibuk mengasah parang untuk membantai si penanya, dengan tuduhan menghina, menodai dan melecehkan Tuhan, agama dan umatnya sekaligus.

Seorang teman super mesum juga ikut mengigau, “Sesungguhnya Tuhan itu lebih dekat kepadamu daripada kedua biji pelermu, daripada meragukan kesaktiannya, cobalah dengan tulus berbuat sesuatu untuk mengubah dunia, kau akan temui berbagai mukjizat dalam usahamu itu.” Lalu kembali ngorok dalam tidurnya. Mungkin dia kerasukan.

Sedangkan bila saya yang ditanya, akan dengan sok bijak berpendapat “Suka-suka Dia. Mau pensiun kek, Dia memang Maha Berkehendak toh?! Kita kan sudah di anugrahi segala kekuatan, otak dan hati yang luar biasa, maksimalkan aja apa yang ada, untuk semampu kita mengubah diri, mengubah kita dan mengubah dunia. Jangan lupa nikmati prosesnya. Jangan terlalu mengharapkan intervensi Tuhan lah…” Tapi sambil selalu kesal, maki-maki, kelah-keluh dan hujat sana-sini setiap kali tidak mampu berbuat apapun terhadap hal yang tak sesuai dengan nurani.

Jawaban-jawaban sok brilian diatas bagi saya tidak cukup menjawab pertanyaan, beberapa jawaban malah ga cukup nyambung. Dan gema yang sama pun masih sering terngiang, “Tuhan, kemana sih? Kok Diam Saja?”

Btw, orang dengan tingkat kesadaran, keimanan dan intelektual seperti anda, kira-kira akan menjawab bagaimana ya?

Tulisan ini adalah pengembangan bebas dari komentar seseorang yang sepertinya tak ingin blognya dikunjungi.

68 Responses to “Tuhan Kemana? Kok Diam Saja?”


  1. 1 Emanuel Setio Dewo 5 November 2006 pukul 6:25 pm

    Karya Allah setelah Yesus Kristus diteruskan oleh Roh Kudus. Roh Kudus hadir dalam hati kita dan menuntun kita dalam hidup di dunia ini. Hukum Allah (Kasih) telah dituliskan di sanubari manusia. Sayangnya banyak orang yang mengabaikannya.

    Ingin merasakan kasih Allah? Berserahlah kepada Allah. Allah beserta kita

  2. 2 MT 5 November 2006 pukul 10:20 pm

    Aku pernah ngomoning Tuhan di blogMT

    sekarang, sekedar baca omongan teman2 aja deh tentang Tuhan.

  3. 3 wadehel 5 November 2006 pukul 11:33 pm

    @ Dewo
    Wah, wah… saya udah klik itu iklan, tapi kenapa tidak membuka diri untuk komentar? Apa tidak mau menerima kenyataan bahwa ada banyak sekali kekejian di sekitar kita… dan ada banyak sekali pembaca keji yang akan membaca blog anda? :P

    @ MT
    Saya juga udah perbaiki dan klik linknya. Menarik, meski saya sampai tak tahu harus komen apa disitu. Mungkin kapan-kapan saya akan coba memahami tuhan lewat jalan yang sama. Mengandalkan “kata orang” rasanya sudah mulai memuakkan nih!

  4. 4 Emanuel Setio Dewo 6 November 2006 pukul 9:13 am

    Hallo Mas Wadehel,

    Hanya 1 posting aja yg di-lock kok. Itu karena memang untuk “kalangan sendiri”. (** no ofense **)

    BTW, yang lain siap untuk dikomentari.

    Salam.

  5. 5 JuliaPere 6 November 2006 pukul 5:52 pm

    Yah, pertama-tama jawab dulu pertanyaan: Does God even exist?

  6. 6 passya 6 November 2006 pukul 7:52 pm

    Para bangsat, sesat, kafir dan laknat dihancurleburkan secara kaffah dan seketika melalui bencana kehancuran yang selalu dahsyat.

    Tuhan bisa brutal gitu ya? lol

  7. 7 helgeduelbek 6 November 2006 pukul 10:12 pm

    Katanya sebagian sifat Allah SWT ada dalam manusia, jangan2 manusia adalah … Makanya terkesan tidak diketahui dia pergi kemana, dan terkesan diem padahal selalu berulah dan bertingkah.

  8. 8 wadehel 6 November 2006 pukul 10:19 pm

    @ Dewo
    Lho, orang-orang dari “kalangan sendiri” juga tidak bisa beri komentar kan? Jangan-jangan hanya saya yang bisa melihat… hmm… atau… nggghh… humm… atau… mmm.
    *ge er mod*

    @ JuliaPere
    Menurut mbak/mas Jul ada gak? Menurut saya sih ada, harusnya ada… setidaknya dalam pikiran saya saat ini.

    @ Passya
    Hehe… iya ya, kok kesannya brutal banget. Baru ngeh saya. Kok bisa ya? Mungkin memang harus gitu biar orang pada mau nyembah.

  9. 9 redwar 6 November 2006 pukul 10:50 pm

    Tuhan kemana sih?? Koq diem saja???

    Tuhan itu ada. dan keberadaan tuhan itu berbeda dgn keberadaan kita. tuhan diem aja?? Dan diemnya Tuhan itu jg berbeda dgn diemnya manusia. Jgn memanusiakan Tuhan dgn menyamakan sifat2 manusia. Tuhan diem aja, ya Tuhan emang Maha Segalanya. Tuhan itu diluar semua penafsiran kita. Kita cm bs menafsirkan Tuhan lewat kata2 yg sangat terbatas untuk menjelaskan tentang tuhan, karna sebenernya Tuhan itu Tak Terbatas.

  10. 10 wadehel 6 November 2006 pukul 11:22 pm

    @ Helgeduelbek
    Husss!!! sekali lagi husssssss!!! Jo rame rame.
    Nanti bisa terbantai seperti nasibnya… ahsiapaituhyangbilang ana al haq.

    @ Redwar
    Jadi…?
    Ya selama ini juga gitu, dari kecil dicekoki kalau “tuhan itu ada, maha ada, maha berkehendak, maha brutal, maha pengampun, maha segalanya, maha ini itu. Jangan disamakan dengan manusia yang serba terbatas dan serba tidak berdaya.” Kemudian jadi tidak ada pentingnya (bagi Dia) apakah kita menganggapnya ada atau tidak, eh, penting ga sih? (Tuhan… halow?)

    Tapi tentu saja bagi kita sangat amat perlu, karena kita selalu perlu sesuatu yang siap untuk dikambinghitamkan setiap kali kita ditimpa musibah.

    Btw, tulisan diatas dan komentar ini juga termasuk cobaan dari Nya, cobaan terhadap iman kita. Sabar yaa… sabar… sesungguhnya orang sabar disayang Tuhan.

  11. 11 joesatch 7 November 2006 pukul 12:40 am

    Hahaha… terserah Dia aja, kok. Dia udah ngasih aku nyawa yang nggak seberapa ini, jadinya semuanya ya terserah Dia. Yang bisa aku lakukan cuma sebisa mungkin melakukan hal-hal yang nantinya bisa kupertanggungjawabkan kalo aku mati nanti :)

  12. 12 kw 7 November 2006 pukul 11:30 am

    Tuhan diam saja? sangat enggak. DIA hanya tak mau meremehkan ciptaanya sendiri. kita diberikan kebebasan, termasuk untuk “membereskan” kejahatan. nah ketika semua manusia telah gagal membereskan kebobrokan ayng ada, saat itulah Tuhan turun tangan sendiri,

    jadi kenapa Tuhan “seolah” diam saja? karena DIA masih mempercayai kita untuk membereskannya.

    saya tak bermaskud mengajak/ membenarkan pengeboman lho!

  13. 13 manusiasuper 7 November 2006 pukul 1:16 pm

    Saya pernah baca cerita seperti ini:
    Ada seorang tukang cukur yang tidak percaya Tuhan, dia selalu mempertanyakan, dimana Tuhan ketika ada bencana, dimana Tuhan ketika manusia menderita, dimana Tuhan ketika warga Poso diteror, dimana Tuhan ketika namanya dihujan di blog ini seenaknya…
    Lalu suatu hari, ada pa haji / atau pendeta / atau orang sufi (apalah, saya lupa) yang datang ke kios cukurnya untuk memotong rambut tentu.
    Si tukang cukur kembali berkeluh kesah dengan si pa haji / atau pendeta / atau orang sufi (apalah, saya lupa) itu sambil mencukur rambut beliau.
    Si tukang cukur entah bergumam sendiri atau , mempertanyakan, dimana Tuhan ketika ada bencana, dimana Tuhan ketika manusia menderita, dimana Tuhan ketika warga Poso diteror, dimana Tuhan ketika namanya dihujan di blog ini seenaknya…
    Pa haji / atau pendeta / atau orang sufi (apalah, saya lupa)tiba-tiba menunjuk ke jendela kios cukur, tepat ketika seorang laki-laki gondrong, brewok, tak terurus lewat. Dia lalu bergumam “orang itu gondrong, semrawut, brewok, tidak enak dilihat sama sekali… Pasti di sini tidak ada cukang cukur…”
    Tukang cukur kita tercinta tadi langsung heboh, “Siapa bilang pak, bapak gila ya?? Jelas-jelas saya sudah buka kios cukur di sini sejak tahun satu! Bapak saja sudah jadi langganan di sini sejak lahir!”
    pa haji / atau pendeta / atau orang sufi (apalah, saya lupa) itu lalu bertanya “Lalu kenapa orang tadi begitu gondrong, semrawut, brewok, tidak enak dilihat sama sekali..?”
    Dengan sengit si tukang cukur menjawab, “Itu salah dia sendiri, tidak mau mendatangi saya, tidak mau mencari saya…!! Padahal kan dia yang perlu!”
    pa haji / atau pendeta / atau orang sufi (apalah, saya lupa) lalu tersenyum “Lalu kenapa anda mempertanyakan di mana Tuhan…?”

    (Huff, panjang banget comment saya… Awas kalo ada yang ga ngerti!!)

  14. 14 wadehel 7 November 2006 pukul 3:38 pm

    @ Joesatch
    Tuhan hanya akan minta pertanggungjawaban sesudah kita mati ya?
    @ Kw
    Kata siapa tu? Ngarang atau serius nih.
    @ Manusiasuper
    Hehehe… Kemarin ada ustad yang membandingkan perempuan (manusia) dengan donat murahan atau daging umpan kucing, trus banyak yang marah dan tidak terima. Sekarang malah ada yang berani lebih kurang ajar lagi, mengandaikan Tuhan (yang maha besar itu) dengan tukang cukur! hiiiy… tobat lah om, tobaaat… takutlah akan murka Tuhan!
    Beidewei, kasusnya si tukang cukur dan pak sufi kurang mendekati, dan asli saya gak ngerti hubungannya dimana.
    Latar belakang menanyakan kemana tuhan itu kan, karena dulu beliau (tuhan) begitu perkasa, setiap ada kaum yang sesat dengan mudah dan seketika bisa dibikin binasa. Sekarang kok terkesan jadi sabar luar biasa, kenapa orang jahat, sesat, keparat dibiarkan leluasa bermaksiat? Kenapa tidak setegas dan sepowerful dahulu kala?
    Andai harus dianalogikan dengan kisah tukang cukur, sufi, dan si gondrong berantakan, harusnya ceritanya gini:
    Seorang sufi masuk sebuah desa, dimana semua penduduknya gondrong, berantakan dan awut-awutan. Lalu sang sufi pun menyapa salah satu dari mereka…
    Sufi: “Nak, badan ini adalah istana dimana jiwa bertahta, mengapa kau tak menjaga keindahannya?”
    Gondrong: “Hah, maksud lo!?!”
    Sufi: “Kenapa lu gak cukur, goblog?”
    Gondrong: “Oooh, satu-satunya tukang cukur disini sudah ga buka praktek pak, padahal dulu dia yang biasa merapikan rambut seluruh penduduk desa”
    Sufi: “Lho, knapa?”
    Gondrong: “Dia mampus kena flu burung”
    Sufi: “oooo…”
    Dan si sufi pun tercerahkan, ternyata penduduk desa tak ada yang bercukur sejak tukang cukurnya tewas gara-gara burung.
    TAMAT

  15. 17 helgeduelbek 8 November 2006 pukul 8:36 pm

    Weh gayeng tenan kiyek… btw “hYANG” kita omongin kira2 sikapnya bagaimana yah melihat banyak tulisan diblog smacam ini.

  16. 18 redwar 8 November 2006 pukul 10:22 pm

    Eh emang Tuhan zaman dahulu kala sering ngeluarin powernya yg maha dahsyat ke suku/bangsa yang dilaknat???

    kata siapa??? jgn2 itu cm doktrin….

  17. 19 wadehel 9 November 2006 pukul 12:39 am

    @ Kw
    Wah, sepertinya anda tahu banyak tentang Tuhan ya, kapan-kapan sharing gosip terbaru tentangNya dong di blog anda.
    @ Helgeduelbek
    Emangnya udah banyak ya yang mempertanyakan perubahan tabiat Tuhan? Bagi linknya dong pak.
    @ Redwar
    Wah, berarti anda termasuk yang saya sebut sebagai “yang doyan teori konspirasi” dalam tulisan itu :)
    Kalau itu cuma semacam doktrin, apa tujuannya coba, bikin2 cerita kekejaman (atau kebrutalan) Tuhan seperti itu?

  18. 20 Tukangkomentar 9 November 2006 pukul 1:01 am

    Kan setiap agama punya Tuhan-nya masing masing, kepercayaan (=Tuhan) orang lain kan dianggap nggak bener, iya toh?
    Nah, jadi kalau dipikir secara logis, seharusnya ada banyak Tuhan, kan?
    Ini kan jawabannya atas pertanyaan di atas sudah ada, ada beberapa alternatif:
    1. Beliau-beliau itu lagi musyawarah mencari jawaban, kenapa ciptaan mereka kok jadinya nggak bermutu gini. Mungkin mereka lagi sibuk berdebat (Syukur-syukur ada hasilnya yang memuaskan semua pihak).
    2. kemungkinan mereka sedang ribut-ribut sendiri dan sedang sibuk pemilihan, siapa yang paling bener dan patut jadi pemimpin. Mana ada waktu beliau-beliau itu ngurusin cacing-cacing seperti kita-kita ini saat ini. Nanti kalau urusan itu sudah beres, mungkin baru ada kesempatan.?
    3. Atau Beliau-beliau itu sudah putus asa dan memutuskan nunggu aja sampai kita saling memusnahkan sendiri. Iya, toh? Hemat tenaga dan pasti akan terjadi, efektif, kan?
    4. Beliau-beliau sedang asyik ngeblog, jadi nggak ada waktu lagi (dan mungkin juga pikir nggak ada gunanya lagi) ngurus yang dinamakan ciptaanNya.

    La dalah, tapi yang nggak punya/percaya Tuhan (atheis) gimana,ya? Yang terbentuknya dari evolusi? Mungkin nantinya malah yang tertinggal sendiri di dunia ini, kan mereka-mereka ini nggak masuk itungan?

  19. 21 Tukangkomentar 9 November 2006 pukul 4:06 am

    Tuhannya siapa sih yang lagi dibicarakan?
    Tuhannya sini atau Tuhannya situ atau Tuhannya dia?

  20. 22 Odi 9 November 2006 pukul 8:54 am

    Ada sajak dari Sapardi Djoko Damono berjudul ‘Sajak Tafsir’ disitu SDD menuliskan beberapa tafsir tentang Tuhan dalam bentuk monolog.
    Bagian yang saya sukai adalah pada monolog ‘Daun’

    “Aku selembar daun terakhir
    yang mencoba bertahan di ranting
    yang membenci angin
    ….
    Tolong tafsirkan aku
    sebagai daun terakhir
    agar suara yang meninabobokan
    ranting itu padam

    Tolong tafsirkan aku sebagai hasrat
    untuk bisa lebih lama bersamamu
    Tolong ciptakan makna bagiku,
    apa saja-aku selembar daun terakhir
    yang ingin menyaksikanmu bahagia
    ketika sore tiba. ”

    (dikutip dari ‘Ada Berita Apa Hari Ini Den Sastro, hal.24)

  21. 23 manusiasuper 9 November 2006 pukul 11:57 am

    Ampuni kami ya Tuhan…. :))

  22. 24 manusiasuper 9 November 2006 pukul 11:59 am

    Maksud saya mas, mempertanyakan di mana Tuhan, sudah dicari belum…?

  23. 25 Tukangkomentar 10 November 2006 pukul 1:24 am

    Menyambung pertanyaan saya dari tgl. 9 November:
    Kalau kita pikir secara logis, kan seharusnya/sebetulnya Tuhan itu nggak cuma satu. Kan setiap kepercayaan atau agama itu punya Tuhannya masing-masing (Allah, Tuhan, Brahma, Amaterasu, Manitou, Zeus dsb., dsb.). Kan kita-kita yang ngaku taat beragama ini nggak mau/boleh/bisa ngakui agama dan kepercayaan yang lain (sedangkan kepercayaan atau agama itu kan selalu terkait dengan Tuhannya, kan?).
    Nah, pertanyyan tersebut di atas punya beberapa alternatif jawaban:
    1. Mungkin Beliau-beliau itu lagi sibuk berdebat sendiri tentang siapa yang paling benar. jadi nggak ada waktu memperhatikan kita-kita ini.
    2. Versi damainya. Beliau-Beliau itu sedang sibuk bermusyawarah mencari jalan keluar untuk menanggulangi atau menghentikan kekacauan-kekacauan yang terjadi dikalangan ciptaan Mereka (pasti nggak ada yang mau ngaku, bahwa Mereka salah cipta).
    3. Beliau-Beliau itu sudah lama mencapai kata sepakat. Kemungkinan-kemungkinannya:
    – diperhatikan dulu, dipantau dulu, mungkin bisa ditemu-
    kan kesalahan-kesalahan yang bisa diperbaiki (ke-
    mungkinan yang bagus)
    – Mereka keasyikan dan sepakat nonton kita gontok-gon-
    tokan (seperti kita dulu adu jangkrik waktu kecil)
    – Beliau-Beliau itu sudah putus asa dan sepakat:”Ah,
    biarin saja, nanti kan habis sendiri. Kita ciptakan saja
    machluk-machluk yang lebih suka damai di tempat
    lain”.
    4.Mungkin sudah mendekati kesepakatan yang paling menakutkan: Akhiri saja semua teater ini!!!

    Itu kalau dipikir secara “logis” lho. Nah, karena saya nggak mampu mikir logis dan rasional, yah, doa terus saja dah.

  24. 26 manusiasuper 10 November 2006 pukul 10:26 am

    TUHAN itu SATU, saya boleh bingung dengan yang lain, tapi yang ini, saya Yakin!

  25. 27 Tukangkomentar 10 November 2006 pukul 12:50 pm

    Manusia super,
    memang sebetulnya saya juga yakin akan hal itu, tapi maklumlah, kekuatan kepercayaan saya nggak seperti anda punya. Jadi belakangan ini saya agak bingung terpengaruhi konflik-konflik dan kebencian-kebencian antara agama dan interkultural.
    Kalau Tuhan itu hanya satu, kan berarti yang kita ikuti itu ya cuma Dia satu-satunya (apapun namanya: Allah, Manitou dsb, dsb,kan), cuma mungkin kata-kataNya bervariasi (memang kan kalau kita simak, intinya kan sama,ya?).
    Mungkin seperti makanan yang namanya Soto itu. Ada Soto sulung, soto ayam biasa, soto Jepara, soto Kudus dll., tapi kan intinya sama dan enaknya sama. Nah kalau kita nggak suka paling bilang: wah aku nggak suka soto sulung, karena dari daging sapi.
    Dan kita nggak akan agresif terhadap penjual soto sulung itu, kan?
    Eh coba-coba berpikir secara logis lagi, eh, nggak tahunya malah gitu jadinya.

  26. 28 manusiasuper 10 November 2006 pukul 3:59 pm

    @tukangkomentar
    Mungkin Tuhan terlalu AKBAR untuk bisa kita fahami secara logika mas, kadang (katanya) kita perlu diam sejenak, membuka pintu hati untuk sesuatu yang datang langsung dari-Nya, entah itu ilham, wangsit, kebenaran, atau apapun yang entah bagaimana, kita sadari itu benar…

    Beidewei, Nyang punya blog mana neh?? kok membiarkan ‘umat’ berdebat??

  27. 29 distrojablai 10 November 2006 pukul 8:33 pm

    Bukannya ingn menularkan pemikiran, tetapi apakah anda percaya kan tuhan i tu sendiri? dari agama yang ada, mereka selalu membuat versi yang berbeda, dan kita harus memilih salah satu kalo tidak ingin dianggap sebagai seorang ateis, namun hal yang membekas didalam diri saya adalah, belom ada manusia yang berubah karena tuhan.

  28. 30 joesatch 11 November 2006 pukul 10:36 pm

    hueueuehehehehehe…
    yg aku tau (dan aku rasa), sejak nabiku yg terakhir, manusia diberi hak prerogatif untuk memilih dari tuhan. mau gini silahkan, mau gitu silahkan. tanggung jawabnya nanti kalo mati

  29. 31 wadehel 11 November 2006 pukul 11:01 pm

    @ Tukangkomentar
    Tuhan sampeyan punya catatan pernah menghancurkan manusia karena marah tidak? Kalau tidak, ya berarti bukan tuhan yang itu.

    @ Odi
    Saya sudah baca 3 kali, dan masih nggak ngerti… besok saya coba lagi. Kalau ada yang memparafrasekan (istilahnya bener ga ya?) tentu lebih mudah.

    @ Manusiasuper
    Amiiinnn… Amin.
    Saya ndak tau musti nyari dimana. Saya males kalau harus ikut mencari di goa-goa atau berendam di sungai/danau.

    @ Tukangkomentar
    Kalau dilogiskan akhirnya seperti itu, ya mungkin benar kata orang “ignorance is bliss.” Dari pada cape-cape menggunakan otak kiri untuk memahami tuhan, mending ignore it aja deh, lebih bahagia menjadi “bodoh” atau “tidak tahu” akan keberadaan tuhan. Wes, pokoke ada, kita nyembah, ibadah, mati masuk surga, dapat bidadari cantik selalu perawan dan bertelanjang dada… amiiiin.

    @ Manusiasuper
    Lha ini dia contohnya “wis, pokoke YAKIN!” Harus di teladani nih :D

    @ Tukangkomentar
    Banyak sebutan, satu maksudnya, Banyak Nama, semua milikNya.
    Pemahaman yang indah sih. Andai semua orang seperti anda, pasti damai dunia kita. Sayangnya, sesuai petunjuk para pemuka agama, terutama pemuka agama saya, tuhan hanya punya satu nama, dan hanya bisa dicapai melalui satu syariat. Selain itu adalah sesat.

    @ Manusiasuper
    AKBAR itu bukannya orang yang korupsi 40 sekian dan tidak perlu masuk penjara?
    AKBAR juga kalautaksalah dulu sering diteriakkan orang ketika membakar diskotik kan?
    hehe…
    Mohon maaf, bukan maksud saya membiarkan umat berdebat :)) saya memang baru saja pulang dari daerah tak beradab, maksudnya peradabannya tertinggal, tidak ada warnet, tidak ada gprs, sinyal gsm pun tulalit selalu, yang ada hanya sinyal Ceria (cdma) yang saya tak tahu cara menggunakannya untuk akses internet.

    @ Distrojablai
    Berubah karena Tuhan… hmm… sebenarnya banyak sih cerita orang yang mengklaim telah berubah karena Tuhan. Tapi bagi saya kisah-kisahnya mirip dengan kisah sukses para pelaku MLM, sama sekali tidak berguna untuk dibaca, kecuali anda ingin bahan mimpi atau halusinasi.

    @ Joesatch
    Kenapa harus nunggu mati? Ini yang jadi pertanyaan utama tulisan di atas sana. Kenapa Tuhan kini tidak aktif dulu, ada yang melenceng langsung kirim nabi, gak mau nurut langsung dibasmi.
    Kalau memang benar hak prerogatif itu ada, kenapa mahluk sejenis FPI/MMI/MUI masih saja menemukan ayat untuk menyangkal hak itu? Masih ada ayat yang bisa digunakan untuk memaksa orang memilih/menyembah tuhan.

  30. 32 wadehel 12 November 2006 pukul 12:28 am

    @ Tukangkomentar
    Mohon maaf, beberapa komentar anda, entah kenapa tercegat akismet, sekarang sudah saya loloskan. Bahkan komentar saya sendiripun dicegat! Parah juga nih :))

  31. 33 Odi 12 November 2006 pukul 8:41 am

    Bung Wadehel, katanya sih sajak SDD bisa dinikmati dari anak SD sampai taraf sastrawan. Tapi karena taraf saya tampaknya masih dibawah anak SD, saya juga baru bisa menangkap makna dari beberapa sajak dia saja.

    Dalam puisi yang saya kutipkan diatas, saya rasa SDD mengangkat suatu pemikiran dimana antara kita dan Tuhan terdapat simbiosis mutualisme. Eksistensi Tuhan sebagian terdapat juga dalam diri kita sebagai ciptaannya.

  32. 34 wadehel 12 November 2006 pukul 3:52 pm

    @ Odi
    Oooh… itu toh maksudnya. Berarti sama saja seperti anda, saya lebih parah malah, tidak mengerti yang bahkan anak SD bisa mengerti.

    Eksistensi pencipta harusnya juga terdapat di apapun yang diciptakan. Misalnya dengan melihat blog, kita bisa merasakan eksistensi siapa yang menulisnya, bisa juga ikut merasakan ketertarikannya, sifat-sifatnya, dan perasaan penulisnya. Dalam melihat manusia, atau sekalian saja alam semesta, mungkin kita juga bisa mengira-ngira bagaimana sesungguhya keberadaan, sifat, dan kelakuan si pencipta. Mungkin lho.

  33. 35 Diyus Hanafi 13 November 2006 pukul 3:15 pm

    *Garuxz2 kpala*
    Permisi…
    Kalau aku nggak salah, kalian sedang pada sok tau tentang tuhan. Sesuatu (lebih mudah disebut begitu), yang absurd dan sukar dipahami. Nggak terlalu penting kepercyaanku tentang Tuhan, nggak terlalu penting Tuhan itu ada atau nggak, karena yang dikeluhkan pemilik blog ini, semuanya masalah manusia; KORUPSI, PEMERKOSAAN, PENINDASAN, dan kerjahatan atas nama kekuasaan dan/atau pribadi lainnya, atau kejahatan apapun itu.
    Ada atau tidaknya Tuhan menjadi tak terlalu penting, karena, kebutuhan hidup manusia sudah ada. Perangkat pelengkap internal dan ekstrnalnya juga udah ada. Nietzshe bilang “Tuhan udah mati” (Requiem aeternam, Deo=semoga Tuhan beristirahat dalam damai). Memangnya kenapa kalau dia ngomong gitu. Parno’ kalau ada yang merasa itu merendahkan Tuhan. Emangnya kenapa kalau Tuhan direndahkan…???!!! Bukankah dia serba MAHA. Nggak ngaruh lagiii…
    aku khawatir kalau ada yang minder mengginakan rasio, karena itu merupakan anugrah, software plus prosesor super dari apapun yang menciptakan kita (kalau memang ada).
    menurut Karen Amstrong, dalam bukunya Sejarah Tuhan, kepercayaan manusia terhadap Tuhan selalu lahir dalam penindasan dan kesesatan, termasuk sebagian besar nabi-nabi.
    Nabi-nabi (nyaris) selalu lahir di tengah situasi kacau. Ketidakpercayaan terhadap Tuhan atau agama (dua hal beda yang sering diidentikkan) terlahir dari pengatasnamaan Tuhan oleh orang-orang yang berkuasa. Betapa banyak himbauan untuk bersabar di padahal penindasan sudah nggak bisa ditolerir. Di depan hidung kita (kalau boeh kusebut begitu), berulangkali agama digunakan untuk melegitimasi tindakan korup dan culas penguasa. Menaikkan harga BBM dll.
    Khusus untuk yang bangga jadi orang Islam, pernah nggak kau dengar ustasdz2 seleb itu menghimbau tindakan konkret untuk mengkritisi kekuasaan? Perusakan lingkungan, pembakaran hutan, menghambat modal asing. *meludah*
    Aku sedang malu mengaku punya agama, karena orang-orang yang punya agama-lah yang merusak dunia. Tunjukkan padaku seorang atheis yang berbuat munkar.
    Atheis(me), menurut Ali Syari’ati juga agama, karena ia memiliki struktur kepercayaan.
    Mari bicara tentang sejarah yang menurut, (siapa tadi… aku lupa), nggak bisa dimanipulasi. jangan lupa brur, sejarah milik yang menang dan berkuasa. Setahuku, semua agaa dan nabi punya catatan buram dalam sejarah. saranku, ini saran ya… :Hentikan semua diskusi tentang Tuhan. Nggak konkret gitchyu loxz.
    Yang konkret itu kalian dah tahu, aku yakin. Penindasan, manipulasi nilai melalui kekuasaan, pemerkosaan dll.
    Blog bisa jadi alat untuk menyatukan visi. Aku juga nggak sepekat dengan anjrit bernama roy suryo yang tak seberapa itu, bahwa blog hanya tren sesaat. Kalauoun Tuha ada, Dia terlalu berkuasa untuk SEKEDAR mengintervensi hidup manusia. Kalau ada cerita masa kecil dari gurur mengaji atau kebaktian, jangan lupa, sejarah selalu berbicara dalam simbol.
    Kalaupun memang ada Tuhan, manusialah yang kemudian menemukannya, dengan permenungan beralas logika bahwa; SELALU ADA YANG MENCIPTAKAN SESUATU(kupikir, inilah yang menadi batas pengetahuan manusia).

    selamat bertuhan
    aku belum punya blog, kalau mau kontak (ke-ge-eran)
    diyusism@yahoo.com
    akudiyus.multiply.com

  34. 36 manusiasuper 13 November 2006 pukul 8:13 pm

    @wadehel
    Yakin karena memang ada dasarnya mass, bukan asal yakin…
    Aduuh, jadi bingung…
    Pulang ah….

  35. 37 wadehel 13 November 2006 pukul 10:59 pm

    @ Diyus
    Wuih.. sangat panjang dan benar sekali :D harusnya bisa dijadikan konten pertama pada blog anda tuh, kalau memang belum punya.
    Itu multiply bukan termasuk blog?

  36. 38 wadehel 13 November 2006 pukul 11:01 pm

    @ Manusiasuper
    Selamat jalan, hati-hati dijalan. Lain kali main kesini jangan lupa bawa oleh-oleh berupa alasan yang mendasari keyakinan yang luar biasa itu.

  37. 39 Tukangkomentar 14 November 2006 pukul 3:34 am

    Diyus Hanafi:
    memang mungkin yang namanya Tuhan, Manitou, Brahma atau apapun itu nggak konkrit, tetapi kan kebutuhan manusia akan suatu pegangan itu kan suatu hal yang konkrit. Apalagi dalam situasi yang sulit (lihat buku K. Armstrong).
    Nah, yang satu cari pegangannya kepada sesuatu yang nggak konkrit yang disebut Tuhan atau apapun, yang lain cari pegangan pada logika, dan ada pula yang cari pegangan pada kekonkritan. Apa salahnya kalau diskusi/ngobrol tentang Tuhan, kalau caranya damai seperti di blog ini. Nggak ada yang maki-maki secara kasar. Nah, itu kan
    berarti kita sudah mendapat sebuah pegangan baru, yaitu
    kumpulan dari kesabaran, kesadaran, ketenangan, keadaban, toleransi dll (pokoknya yang bagus-bagus dah!).
    Ya betul kan, seperti yang anda bilang, bahwa blog itu bisa menyatukan visi, Tapi yang lebih penting ialah bahwa blog itu bisa membangkitkan pengertian terhadap visi-visi yang berbeda-beda. Ini kan satu langkah ke arah perlawanan terhadap penindasan, manipulasi dl., dll. Apa salahnya kalau percaya kepada sesuatu?Tidak percaya pun kan merupakan bentuk dari kepercayaan?
    Nah, kalau agama atau nama Tuhan disalah gunakan, kan bukan agama atau Tuhan yang salah, tapi oknum-oknumnya yang salah. Iya, kan? Itu seperti pisau,kan? Bisa dipakai untuk memasak di dapur, bisa untuk memotong leher orang. Tergantung yang pegang, kan?
    Kata-kata Nietzsche yang dikutip di atas sering salah dimengerti. Untuk mengerti apa maksudnya, lebih baik baca teksnya si dia itu secara teliti (sulit dimengerti lho! Dan nggak bisa diartikan segampang itu). Btw: Nietzsche sering dianggap sebagai salah seorang ateis terpenting dalam sejarah dunia, berdasarkan kata-katanya:” Whither is God?…..God is dead. God remains dead. And we have killed Him.” (tapi kalau dipikir secara mendalam, sebetulnya ya nggak, kan, kan dia bilang “kita yang membunuh Tuhan”, jadi dia mengakui keberadaan/eksistensi Tuhan, iya to? Karena sebelum dibunuh kan Dia harus ada dulu?).
    Kalau anda mau tahu ateis yang merusak dunia, mungkin anda bisa coba baca sejarah komunisme (Stalin, Mao dsb., dsb). Hitlerpun sering dipandang sebagai seorang ateis. Sulit sih ngomong tentang ateisme (artinya? variasi-variasinya?). Apalagi tentang filosopi. Apalagi buat yang pengetahuannya tentang Nietzsche cuma terbatas, seperti saya ini. Saya sih lebih senang baca filosopi Barata Yuda.

  38. 40 wadehel 14 November 2006 pukul 11:42 am

    @ Tukangkomentar:

    …cari pegangannya…

    Klo ga salah, ada salah satu tuhan yang menganjurkan supaya kita bergantung/berpegang pada buhul yang kuat ya :D

    Nggak ada yang maki-maki secara kasar…

    Berarti nuduh kafir/sesat/murtad kesana kemari masih kurang kasar ya, hehe..

    …agama atau nama Tuhan disalah gunakan…

    Menurut segala konsep dan ajaran2 yang saya terima sejak kecil, agama memang lebih mudah disalahgunakan daripada dibenargunakan, emangnya ada pemuka agama yang taat tapi tetap baik?

    …ateis yang merusak dunia…

    Ateis/atheis? Disini artinya tidak beragama atau tidak bertuhan? Kalau tidak bertuhan, saya rasa mereka masih bertuhan deh, mereka menuhankan kekuasaan, atau ideal-ideal mereka.

  39. 41 Andi 15 November 2006 pukul 10:30 am

    Salam kenal :D
    Tulisannya unik :D
    Tuhan itu ADA ? ha ha ha …
    ====================
    Apakah komputer bisa jalan sendiri tanpa campur tangan penciptanya ?
    ====================
    Apakah manusia bisa jalan sendiri tanpa campur tangan penciptanya ?
    ====================
    Sederhana kan …
    jadi terinspirasi pengen nulis :D

  40. 42 joesatch 15 November 2006 pukul 2:06 pm

    Kenapa harus nunggu mati? Ini yang jadi pertanyaan utama tulisan di atas sana. Kenapa Tuhan kini tidak aktif dulu, ada yang melenceng langsung kirim nabi, gak mau nurut langsung dibasmi.>>>
    Wah, kalo ini balik ke keyakinan, sih. Yang aku yakini, Tuhanku udah janji kalo nabi yg terakhir kemarin itu bakal bener2 yang terakhir. Aku pikir Tuhan juga suka dengan pertunjukan-pertunjukan yang memiliki tingkat ketegangan tinggi. Nggak seru kalo dikit2 Dia langsung turun tangan. Apa gunanya kita diberi kepercayan buat jadi khalifah di bumi ini kalo baru ada sedikit masalah aja udah langsung ngrengek-ngrengek ke Dia minta supaya Dia aja yang mberesin? Hidup jadi nggak seru kalo gitu :)
    ================
    Kalau memang benar hak prerogatif itu ada, kenapa mahluk sejenis FPI/MMI/MUI masih saja menemukan ayat untuk menyangkal hak itu? Masih ada ayat yang bisa digunakan untuk memaksa orang memilih/menyembah tuhan.>>>
    Ya semua orang kan punya keterbatasan dalam memahami suatu hal. Kita nggak bisa donk memaksa mereka supaya jadi sepintar kita2 yang di sini :) Yang aku tau memaksa itu nggak boleh. Yang boleh atau justru wajib itu “menganjurkan”. Perkara orang mau nurut/ga ya itu kembali lagi ke “utkmu agamamu, utkku agamaku”. Tuhanku udah menunjukkan jalan yang lurus ke aku itu kayak apa. Tapi Dia memang cuma sekedar menunjukkan aja. Perkara aku mau melewati jalan itu dengan cara berlari, merangkak, lompat-lompat, improvisasi dikit, atau malah belok dan memilih jalan lain, itu semua terserah akunya. Tanggung jawabku ke Dia ya kalo aku mati nanti.

  41. 43 wadehel 15 November 2006 pukul 3:39 pm

    @ Andi
    Ok, selamat menulis :)

    @ Joesatch
    Hmm… jadi sejak nabi terakhir kemarin itu, tuhan memang sudah berubah sifat ya. Sekarang manusia punya kebebasan lebih besar untuk menjalani hidupnya. Asik juga pendapatnya.

  42. 44 Tukangkomentar 15 November 2006 pukul 11:47 pm

    Andi:
    seorang pencipta komputer atau software kan nggak akan membiarkan ciptaannya di infiltrasi oleh virus-virus atau diserang oleh hacker-hacker.
    Kecuali kalau dia nggak peduli lagi atau nggak cinta pada ciptaannya. Dalam hal ini dia kan nggak akan dihormati/dipuja lagi oleh ciptaannya (eit, lupa, komputer kan sampai saat ini belum bisa mikir sendiri ya? Mungkin saya mikirnya nyelonong ke manusia dan penciptanya).

  43. 45 joesatch 16 November 2006 pukul 2:38 pm

    Tuhanku memang berubah sifat kok (tentu saja ini pendapat yang berdasarkan keterbatasan cara berpikir ala manusia milik kita). Kentara banget perbedaan-perbedaan perintah dan konsekuensinya sejak zamannya Taurat, Zabur, Injil, sampai kitab Yang Terakhir Ini. Karena alasan itulah, Mas, aku memilih agama yang dibawa Nabi terakhir ini. Fleksibel, enteng, dan yang paling penting logis! :) Btw, keyakinanku bukan keyakinan waton lho. Tapi didahului survey , penelitian, dan studi lapangan duluan sebelum bener2 yakin. :)
    Wah, aku mulai ngawur dan kesurupan lagi!

  44. 46 wadehel 16 November 2006 pukul 3:26 pm

    @ Joesatch
    Milih agama dari nabi terakhir? Hehe.. jadi tersanjung saya… *bersemu merah babi*

  45. 47 HD 29 November 2006 pukul 2:11 pm

    Pernahkah anda mempunyai seorang teman baik/sahabat (mudah-mudahan ada) penilaian anda terhadap dirinya pastilah seorang suka membantu,suka memberi hutang (tidak suka menagih kembali),kalau dikecewakan dia tidak memperhitungkannya(walaupun jarang),dsb.
    Tetapi menurut penilaian orang lain terhadap dirinya,belum tentu menganggapnya sebagai sahabat,mungkin menganggapnya sebagai musuh,KENAPA?begitulah kenyataannya.

    Banyak mempunyai komentar tentang SANG pencipta (jika menganggapnya ada),ada yang menganggapnya Maha penyayang,Maha pemurah,dan ada yang anggapan sebaliknya Maha pemusnah…
    Jadi manakah kepribadian SANG pencipta yang benar?(Andalah yang memilihnya).
    Untuk memilihnya ada yang bilang harus bertanya kepada roh nenek moyang/harus berbuat baik/harus berbuat jahat/harus mengikuti orang tuanya/dan ada yang benar-benar lepas dari situasi yaitu harus mengikuti suara hati(hati nurani)…
    Saya menggambarkan hati nurani seperti sebuah pisau,bila anda memakainya dengan benar tentulah sangat berguna (Anonymous).
    N.B(Menurut survei untuk mengerti maksud perkataan seseorang 10%dari perkataanya,30%dari nada suaranya,dan 60%dari bahasa tubuh,jadi bila ada tulisan saya tidak berkenan mohon dimaklumi(jika anda ingin),segala tulisan yang saya tulis,bnar-benar senetralnya,tanpa memihak manapun,bukankah itu tujuan share disini?),terima kasih.

  46. 48 wadehel 1 Desember 2006 pukul 9:21 am

    @ HD
    Mengikuti nurani… setuju sekali :D

    Terimakasih atas komentarnya.

  47. 49 bludru 11 Desember 2006 pukul 11:21 am

    tuhan kemana???
    menurut saya tuh Tuhan nga kemana-mana, -Nya cuma mengamati hambanya yg banyak berbuat kerusakan di muka Bumi ini (apa cuma Bumi yg ada kehidupan???). Mungkin Tuhan sudah bosan dengan ‘tindakan brutalnya” yg ternyata tidak juga membuat manusia ‘ngehh’ bahwa Tuhan itu ada.
    Perlu direnungkan juga nih…Kenapa Tuhan diam aja waktu ada pembantaian di Bosnia, kenapa Tuhan diam saja ketika ada pembantaian di Ambon, Poso, Maroko, India, Irak, Palestina en so on…Why…
    Mungkin Tuhan udah nga hebat lagi kali yach..atau mungkin..dosa2 mereka itu dikumpulin dulu, baru di gibas nanti di HELL

  48. 50 wadehel 11 Desember 2006 pukul 6:48 pm

    @ Bludru
    Bisa juga Dru, mungkin beliau sedang menanti dengan sabar, untuk nanti melampiaskan dendamnya pada para penghuni neraka.

  49. 51 Anwar Rasyid 3 Januari 2007 pukul 3:14 am

    Kenapa pembahasannya mengenai Tuhan agama lain dengan mengacu pada Tuhan agamanya sendiri. Gak nyambong lah!!!

    Bagiku Agamaku, Bagimu Agamamu.

    Anda percaya Tuhan anda? Silakan.
    Saya percaya pada Tuhan saya.

    Jadi jangan ganggu keimanan saya pada Tuhan saya dengan ajaran tentang Tuhan anda. Kecuali anda memang tidak diajarkan untuk tidak boleh saling mengganggu.

  50. 52 Anwar Rasyid 3 Januari 2007 pukul 3:32 am

    @ Dewo
    “Ingin merasakan kasih Allah? Berserahlah kepada Allah.”

    Maksudnya Tuhan kamu? Wah kalau tentang kasih, saya juga merasakannya dari Tuhan saya. Bahkan kasih dan sayang. Karena setiap saat saya selalu mengucap Bismillahhirrohmanirrohim (Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang).

    Kalo saya sih gak neko-neko tentang Tuhan. Kalo di logika pikiran saya bisa menerima Tuhan itu hanya satu (setelah saya baca Al-Qur’an, dan mungkin cuma di Al-Qur’an ada pernyataan seperti itu, singkat, padat dan jelas mengenai hal itu) yaaa saya mempercayai Allah SWT itu sebagai Tuhan saya.

  51. 53 Tukangkomentar 3 Januari 2007 pukul 4:03 am

    Sudah sering dibahas, tapi numpang tanya lagi kepada A. Rasyid:
    kalau menurut anda itu ada berapa sih Tuhan itu?
    Kok anda bilangnya Tuhan kamu, Tuhanku?

  52. 54 wushuang 2 Februari 2007 pukul 2:46 pm

    wah, pada jarang nonton tipi ya, ato sekalinya ngenet, buka situs bokep doang. di musibah Tsunami 2 taon yang lalu, ga ada yang tau ya, kalo ombaknya berputar2 n membentuk tulisan “Allah” dalam tulisan arab. ato kalo belom percaya, lo boleh kirim email ke gw, di venuze_84@yahoo.com. maka akan gw kirimin lo semua bukti2 kebesaran Allah SWT. gratis tis. lo gak perlu gantiin duit gw karena ngenet di warnet. gratis buat lo, supaya lo semua nyadar betapa besarnya kekuasaan Allah SWT sebagai Sang Khalik :) eh ini serius loh

  53. 55 pilmanux 31 Maret 2007 pukul 2:57 am

    Tuhan..Tuhan..Tuhantu..

    Pendapatku Tuhan tidak bisa di

  54. 56 rajaiblis 31 Maret 2007 pukul 7:34 am

    hiks …
    tuhan aNE ada koq …
    dia selalu tersenyum … teramat manis malah !
    bahkan dia selalu menyertai dan kerap memberi pertolongan
    bahkan .. saat aNE masih berusaha “melek” karena mata udah terasa “sepet” hingga pukul 03.20 AM buat ngebaca seluruh isi blog ini … dia selalu ngebisiki “udah … cuci muka … bila perlu mandi … aNE mo ngobrol ma eNTE”
    cuma memang, tadi malem (… jam segitu emang masih malem ya ?) lg asyik sama urusan dunia jadi “teguran” itu terabaikan.
    “gimana kalo malem ini … “meetingnya” dibatalkan saja. lg mau “blogwalking” …
    dan yg terjadi … dia “paksa” aNE untuk tidak keduanya …
    dalam posisi masih “duduk” dia bawa aNE jalan-jalan … fiiuuuccchh … cepetnya minta ampun … cuma bisa pasrah … dan baru “balik” sekitar pukul 05.30 … dalam kondisi masih “jetlag” berusaha mengingat “samar2” kejadian apa barusan …
    eeee … gak taunya malah nyasar ke posting ini … seakan dia cuma mo bilang … “aNE ada coy … kagak kemana-mana … eNTe aja yg nyari kemana-mana … dari dulu hingga detik ini masih tetep aja di sini koq … gak gerak2 … jalan ke sini emang banyak … cuma “yg cepet dan mulus tanpa rintangan” ya cuma satu … eNTE saja yg ngerasa mampu cari jalan sendiri hingga lama sampainya. dan eNTE ngerasa paling bisa nemuin tuch jalan, ya udah … aNE liatin aja … paling kalo dah kesasar … eNTE balik sendiri … itu juga kalo dah nemu jalan yg buntu … bahkan ada yg nafsu banget … dah tau ketemu jalan buntu masih berusaha ngejebol … iiicchhhh … repot-repot amat. bukannya aNE kagak mo nolong … biarin aja … ntar eNTE juga pada capek sendiri !”

    whhoaaaaaaaa … ngantuk … !

  55. 57 gurniwa 2 April 2007 pukul 5:19 pm

    tuhan lebih tahu dan lebih berhak tentang apa yg (akan,mau,tidak mau ,harus,tidak harus)dilakukaNYA dan kamu jangan sok tau tentang itu, apakah kamu akan melarang anakmu untuk bermain sepak bola karna kamu takut anak mu terluka…….?

  56. 58 Dimas 13 April 2007 pukul 1:43 am

    Mas Wadehel…aku seach “Tuhan” di google dan salah satu website yg nongol adalah websitemu…hehehe.Posting dan komennya bagus-bagus.

  57. 59 wadehel 13 April 2007 pukul 8:23 am

    @Anwar Rasyid, itu komentar buat siapa pak? Apakah iman anda terganggu dengan posting saya? Btw, mungkin lebih tepat kalau “konsep tuhanku bagiku, konsep tuhanmu bagimu, meski kita sama2 nyembah konsep, jangan saling ganggu!!!” hehe, gitu ga?
    @Wushuang, kenapa harus kirim email? Kenapa tidak anda pajang saja gambar2 promosi Allah itu di blog anda? Saya takutnya kalo kirim email, balesannya malah tawaran MLM. Maaf lho berburuk sangka, makanya, segera pajang di blog anda!
    @Gurniwa, setuju, sebaiknya memang orang jangan sok tahu tentang tuhan.
    @Dimas, waw, masa sih.

  58. 60 Jabz 17 Desember 2007 pukul 4:22 pm

    Tunggu tanggal mainnya!

  59. 61 TuHanTu 17 Juli 2008 pukul 6:47 pm

    Hehe, lagi pada ngomongin hantu nih yee… visit http://holespirit.ning.com

    Have fun with hantu
    TuHanTu

  60. 62 prayana 15 Agustus 2008 pukul 2:08 pm

    waah, tuhan ya ? ada nih, disini.
    kenapa dia diem aja … emangnya kamu mencari ?

  61. 63 bobby 16 Agustus 2008 pukul 10:05 am

    coba tanyain sama tuhan tuhan loe semua brapa no telponnya….

  62. 64 ROH 8 November 2008 pukul 10:06 pm

    TUHAN TIDAK MENYEBARLUASKAN NO TELPONNYA KARENA ANDA ANDA SEKALIAN NANTI PASTI MENTERORNYA DENGAN TELPON ISENG, TELPON PERMINTAAN,TELPON PENAWARAN, TELPON ANCAMAN,DLL. YANG DIBUKA CUMA HOTLINE 24 JAM NOMER 362 (DOA) LIHAT NO DI TELPMU :P INI SIH GRATIS MO NGOMONG SEPUASNYA SAMPE DOWER JUGA BOLEH CUMA HARAP MAKLUM KARENA INI HUBUNGAN JARAK JAUH BUMI KE SURGA/NIRVANA/??? YA SUARA OPERATOR YANG DISANA MUNGKIN BANGET NGAK KEDENGARAN

  63. 65 antiatheis 22 Januari 2009 pukul 12:34 am

    SEMUANYA EMANG GAK ADA YANG TAU KALO TUHAN ITU ADA…TAPI BUKAN BERARTI TUHAN ITU ENGGA ADA….SEKARANG GW BALIK…MANA BUKTINYA KALO TUHAN ITU GAK ADA? LU GAK TAU JUGA KAN BENER APA ENGGAKNYA KALO TUHAN GAK ADA…LU JUGA CUMAN KIRA-KIRA AJA KAN BERDASARKAN ANALISIS LU SENDIRI…JADI BOLEH DONG ORANG BILANG KALO TUHAN ITU ADA BERDASARKAN APA YANG MEREKA YAKINI…

    ATHEIS DAN AGAMIS SAMA-SAMA GAK TAU KENYATAANNYA SETELAH MATI GIMANA (ADA YANG PERNAH MATI?)SETIDAKNYA MANUSIA YANG HIDUP DENGAN KEYAKINAN LEBIH MULIA DARIPADA MEREKA YANG HIDUP KEPEDEAN TANPA TUHAN…PLISS DEH

  64. 67 Papan Catur 2 Januari 2015 pukul 1:59 pm

    Tuhan ada di hati kita yang paling dalam, coba tanya hati kita yang paling dalam, saat kita punya masalah, pasti hati kita meminta bantuan pada Tuhan, pasti memikirkan Tuhan.


  1. 1 Tuhan Kemana? Kok Diam Saja? « frimitzon Lacak balik pada 2 Desember 2011 pukul 2:49 pm

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




JANGAAAN !!!

Jangan membaca isi blog ini, sebelum memahami semua woro-woro di halaman PERINGATAN.
Unek-uneg, pertanyaan atau komentar yang TIDAK berhubungan dengan posting, silahkan anda sampaikan di Ruang Tamu.
Boleh juga memasukkan kritik dan saran ke dalam kotaknya.
Posting yang tidak pada tempatnya, terlalu OOT atau terlalu kotor, kemungkinan besar akan saya serahkan pada akismet.
Satu lagi, tak perlu kuatir kalau komen anda tak langsung muncul, kadang akismet suka terlalu curiga, saya akan lepaskan begitu saya online :) Terimakasih

Cap Halal

RSS Sumber Inspirasi

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

Kampanye

Petisi Mendukung Pembubaran IPDN

Aku Nggak Korupsi

Kulkas

free hit counter



%d blogger menyukai ini: