Orang Baik yang Menyebalkan

Dari sok ngejudge atas komen, pm dan jumlah hit pada posting-posting yang lalu, saya menemukan berbagai jenis orang menyebalkan. Diantara mereka ada 4 jenis yang paling mencolok. Posting ini dibuat untuk menghargai mereka.

  1. Orang yang tidak berani memilih. Karena, meski pilihan yang ada itu sesuai dengan akal dan nuraninya tapi pilihan itu tidak sesuai dengan cuci otak ajaran “kita yang paling benar” yang mereka terima sejak kecil. Daripada mules harus memilih salah satu, mereka memilih pura-pura tidak pernah tahu dan langsung berlalu.
  2. Orang-orang jenius yang terlalu berpendidikan. Bagi mereka semua tulisan yang tidak sesuai standar baku yang mereka imani adalah sampah. Kalaupun terpaksa komen atau PM, hanyalah untuk menyatakan “Psst… ini posting sampah banget Bung! Ngaji dulu gih!“.
  3. Orang-orang unik yang komentar untuk menyerang dan menghujat penulis, tanpa sedikitpun mengemukakan pendapat yang ada hubungannya dengan topik yang dikomentari. Tidak sembarang orang tua bisa mendidik anak sampai sehebat itu lho.
  4. Orang-orang baik yang sebenarnya punya pendapat, tapi malah memilih diam… Diam… DIAM!

Dan dari empat jenis yang tidak menyenangkan ego itu, yang paling menyebalkan saya adalah orang-orang yang tergolong jenis terakhir. Orang-orang baik yang memilih diam. Semakin menjengkelkan karena orang seperti mereka banyak sekali berkeliaran di Indonesia.

Mereka ini diam ketika perda-perda anti kemanusiaan di lahirkan, ketika para bangsat menyalahgunakan agama untuk tujuan jahat, ketika bangsa di pecah belah oleh ajaran-ajaran kebencian. Bahkan untuk sekedar bersuara melalui tulisan, komentar blog atau sebuah klik di polling sederhana yang mengkritisi hal-hal anti kemanusiaan itu, mereka juga tidak sudi sama sekali. Mereka memilih diam.

kalau gak ngeganggu gw, ya ngapain diributin?

Yang penting kan kita masih bisa cari makan, nyekolahin anak,hidup mapan.

Masalah bangsa dan keutuhannya, biar saja lah diurusin para birokrat korup di atas sana!

Semua punya pembenarannya masing-masing.

Sementara di luar sana, para jahat bisa leluasa main klaim “Lihat tuh… yang ribut gak setuju tuh cuma segelintir orang kafir kemlinthi atau domba tersesat atau murtad laknat! Liat dong yang lain, mayoritas tuh sebenarnya setuja-setuju aja kok!” Padahal yang di maksud dengan mayoritas yang setuja-setuju itu ya termasuk yang membisu meski sebenarnya tidak setuju.

Benar-benar menjengkelkan. Tapi ya itu memang hak mereka. Gimana lagi?

Btw, jika anda termasuk orang suka membisu, mungkin akan ada gunanya baca artikel ini: Kejahatan Akan Menang Bila Orang Baik Diam.

43 Responses to “Orang Baik yang Menyebalkan”


  1. 1 Luthfi 16 Agustus 2006 pukul 5:13 pm

    Kira-kira saya masuk mana ? Saya milih nomor 5 aja deh :-). Kadang, artikel yang terlalu panjang bisa mengaburkan pendapat seseorang pada suatu masalah lho …. Jadi, itu makanya ada yang hanya numpang absen aja, seperti …..

  2. 2 QZoners 16 Agustus 2006 pukul 10:31 pm

    Waah… trus yang kayak gimana dong yang terbaik ?? Jadi bingung juga neh. Kalo ana sih mending dibaca dulu semua, setelah tahu maksudnya dikaji, direnungkan, dan disimpulkan sesuai realita yang ada. :)

  3. 3 SS 17 Agustus 2006 pukul 9:45 pm

    Aih, kalo ngeluarin pendapat, tapi pendapatnya gak penting, gimana Bos? :-”

    *kaboorr*

    Euh, kalo tipe yang milih kaboorr itu masuk nomer berapa ya? :P

  4. 4 goeve 18 Agustus 2006 pukul 2:02 pm

    klo cuma liat doank tp ga baca, gimana tuh? :D

  5. 5 SS 18 Agustus 2006 pukul 2:59 pm

    Kalo yang reply doang, tapi gak baca gimana? Ato yang bermoto, “reply dulu, baru baca”:P

  6. 6 wadehel 18 Agustus 2006 pukul 6:40 pm

    @ goeve:
    Ya gpp, tapi sebaiknya tangan anda tetep berada di tempat yang terlihat dan napas anda tetap teratur, supaya tidak menimbulkan prasangka yang iya-iya.

    @ SS:
    hmmm…. “reply dulu, baru baca” itu kok mengingatkan gw pada sesuatu ya…. he he *mengingat-ingat*

    ah, dari pada pusing, mending belaga amnesia ah

    *kaboorr*

  7. 7 S Setiawan 18 Agustus 2006 pukul 8:14 pm

    Nah, gemana kalo yang memilih kaboorr dibikinin kategori sendiri? ;)

  8. 8 RedWar 19 Agustus 2006 pukul 9:19 am

    Br tau gw klo ada orang bauk yg menyebalkan…..

    Btw penulis artikel kejahatan akan menang klo orang baik dim itu gak tau yah klo diam itu emas….

    klo orang baik itu emang menyebalkan ya lebih baik dia diam aja, biar gak tambah menyebalkan….

  9. 9 wadehel 20 Agustus 2006 pukul 9:24 pm

    @ S Setiawan:
    Ya bikin aja toh, tidak sulit kan? hehe. Tapi kalo suatu hari nanti keluar dari kategori itu dicap murtad ga? :P

    @ Redwar:
    Orang bauk memang menyebalkan :)) harus dikasih sikat besi trus suruh mandi yang bersih!
    Bener juga tu, beberapa orang baik tertentu memang sebaiknya diam. Udah menyebalkan, berisik pula…. *jadi inget anak2 sebelah yang klo ngaji pake megaphone dengan volume max*

  10. 10 S Setiawan 20 Agustus 2006 pukul 9:42 pm

    Wah, bukannya kalo udah kaboorr itu seringnya dianggap murtad? ;)

    Kalo perlu bikin kategori lagi, mungkin udah saatnya situ dimasukkan sebagai anggota kabinet. Mereka kerjaannya bikin kategori-kategori kan? :-” “Kategori Mie Yang Tidak Boleh Dimakan” bla bla.. :-“

  11. 11 manusiasuper 21 Agustus 2006 pukul 9:06 am

    Kan ada pepatah mas, diam tandanya setuju…
    Kebanyakan dipakai saat seorang gadis diam ketika di lamar (Adduuuh, ketauan, bacaan gue masih bersifat pujangga lama…!)

  12. 12 afin 21 Agustus 2006 pukul 11:39 am

    walah kok gitu, aku masuk yang mana ya? btw diam nggak berarti emas juga lho…jangan-jangan mereka cuma numpang lewat thok (kayak aku kali?) : )

  13. 13 leontiev 21 Agustus 2006 pukul 2:10 pm

    ‘diam’ itu konon salah satu strategi dalam social defence untuk social change …

  14. 14 dewo 22 Agustus 2006 pukul 1:57 pm

    Silent is gold (*** Huuuu kunoooo ***)
    BTW, saya sudah ikutan polling lho!

  15. 15 wadehel 23 Agustus 2006 pukul 1:28 pm

    @ Setiawan
    Kaboor dari X memang murtad, tapi kalo setelah itu masuk ke gangster baru yang menghalalkan nyawa murtader, itu sama aja lari dari mulut singa masuk ke mulut ulama, eh, buaya.

    @manusiasuper
    Coba baca yang lain doong, banyak kok yang menarik. Lampu merah atau PlayBoy misalnya. Hoho.

    @afin
    Gak harus masuk mana-mana bung, jadi unik juga menarik kok. Itu kan cuma 4 jenis yang menurut saya paling mencolok.

    @leontiev
    Konon… Konon memang begitu. Tapi hasilnya banyak yang jelek, kan?

    @dewo
    Iya, kuno. Pernah ada olok-olok yang bilang gini:
    Diam itu emas, emas itu kuning, kuning itu partai, eh, maksud saya (maaf) tahi. Jadi Diam itu (maaf lagi) TAHI.

  16. 16 aalinazar 23 Agustus 2006 pukul 2:14 pm

    saya bukan orang baik. Jadi ikut2an berkomentar aja deh, daripada nanti dikira orang baik

  17. 17 S Setiawan 23 Agustus 2006 pukul 4:10 pm

    Eits, ulama atau buaya nih? :D Kalo tulisannya salah, dicoret dunks. Hati-hati menyebut merek dan sebutan, Pak. Ntar ada yang salah paham, berabe.. :-”

    Yang jelas gw gak ikutan dah. Ntar kena acara BAKAR-BAKAR lage.. :P

  18. 18 anick 27 Agustus 2006 pukul 12:07 am

    Kurang ajar wadehel, gw gak ada kategorinya. Semoga dengan komen ini, gw masuk kategori 3….

  19. 19 wadehel 27 Agustus 2006 pukul 8:53 pm

    @ aalinazar
    Silahken… saya percaya dengan pernyataan anda bahwa anda bukan orang baik.

    @ S S
    Sudah diperabiki eh diperbaiki kok.

    @ anick
    Seandainya anda hanya memaki tanpa mengungkit masalah kategori, anda pasti berhasil. Maaf, anda gagal masuk kategori 3.

  20. 20 prambudi 19 September 2006 pukul 4:07 pm

    Yach lebih baik diam dong daripada asal nulis, bisa2 nyakitin hati orang….. dosa ne… hehehehe..
    Klo di solo ada pameo “ojo waton….. ” “jangan asal (bicara,nulis. deelel)”
    klo “waton” ga baik.. mas

    Peace lah…

  21. 21 wadehel 20 September 2006 pukul 12:09 am

    Iya, bener Mas Prambudi, asal bicara dan asal nulis memang bisa menimbulkan sakit hati.

    Cuman kalau harus nunggu ketemu cara menulis/berbicara yang tidak menyakiti hati/ego para produsen perda itu ya keburu indonesia jadi negara agama atuh.

    Jadi sementara menunggu orang yang lebih tau etika menulis/berbicara selesai merangkai kata untuk mengatakan kebenaran tanpa menyakiti hati siapapun, boleh-boleh saja orang-orang yang kurang berpendidikan mencoba bersuara. Supaya kebisuan mereka tidak disalahgunakan.

  22. 22 marten 26 September 2006 pukul 2:36 am

    ya sabar aja toh mas
    inilah hidup teman
    jangan hanya pandainya mengritik orang doank
    kalo lo berani bicara lo harus berani donk melaksanakannya
    kadang orang diam itu karena ada alasan tertentu
    jadi jangan salahkan mereka
    jadi jangan egois kayak gitu deh
    sabar aja yah
    semua udah ada jalannya kok
    tunggu aja deh

  23. 23 marten 26 September 2006 pukul 2:41 am

    TAPI KATA MAS BENAR JUGA TOH
    CONTOHNYA AKU NICH
    WALALU DI MAKI KAYAK APAPUN JUGA , AKU HANYA DIAM KOK
    MALAH DENGAN DIAM AKU MALAH TAMBAH DI MARAHIN
    MALAH SEBALIKNYA KALAU AKU MELAWAN
    MEREKA LANGSUNG BERHENTI DEH MARAHIN AKU
    MAKACIH YAH ATAS SARANNYA

  24. 24 wadehel 26 September 2006 pukul 6:38 pm

    @ Marten
    Diam adalah emas, tidak selalu
    Berbicara saja cukup, sepertinya tidak
    Kalau harus atau tidak harus, itu dia…. jadinya maksa lagi deh.
    (ngomong apa sih gw?)

  25. 25 giffari 17 Oktober 2006 pukul 9:45 pm

    *diam*
    *tak bersuara*
    *…………*

  26. 26 Odi 4 November 2006 pukul 10:16 am

    Rasa-rasanya aku dan banyak orang di sekelilingku banyak yang gabungan no 1 dan no 4.
    Kebanyakan milih jalan tengah soalnya kalau ambil jalan yang terlalu pinggir takut kecebur got :)

  27. 27 wadehel 4 November 2006 pukul 3:57 pm

    @ Odi
    Saya juga sama, tapi dengan teknologi blog, setidaknya saya bisa belajar bersuara :D

    Btw, alamat blog anda mana nih?

  28. 28 Tukangkomentar 4 November 2006 pukul 11:02 pm

    Kalau saya sih milih campuran keemptnya:
    1. Kadang sulit menentukan pilihan kan sering kita alami toh, apalagi kalau seperti hikayat kuno itu (kalau nggak salah: makan bakso bapak mati, makan ayam ibu yang pergi? Atau makan simalakama? Nggak tau deh!). Lagipula kan di dalam diri setiap orang itu ada kepenakutan, kebimbangan dan kenyamanan, kan?
    2.Pingin jadi orang berpendidikan dan jenius. Tpi kalau di dalam dunia nyata nggak bisa mencapai itu, kan se nggak-nggaknya di dunia blog ini bisa sok nyombong dengan pengetahuan dan kejeniusan yang baru di baca beberapa menit yang lalu. Mbok ya maklum sama orang-orang yang gitu. Hayo, mau maklum nggak nih? (sambil melotot secara jenius dan berpendidikan).
    3.Lha kadang-kadang kan kita frustasi ya (dimaki istri atau bos, pacar kabur, goreng telor hangus dll.). nah kalau kita salurkan frustasi itu dalam dunia nyata dan maki-maki orang lewat, wah, bisa-bisa di sikat nih! kan lebih baik ngomel-ngomel dan maki-maki di blog, amannnnn! Di sini juga permintaan saya: kalau saya lagi gitu, harap mohon maklum sebesar-besarnya dan jangan dimaki balik (nanti frustasinya makin serem). Nah, minta maafnya lebaran depan aja, ya?
    4. Nah, ini dia, memangnya saya ini orang baik, pinter dan punya pendapat (yang hebat juga tentunya), karena itu saya kebanyakan diam saja. Takut sih nanti kalau dikutuk orang dan kutukannya kejadian, wah, kan repot. jadi, maaf saja, pendapat-pendapat saya yang baik-baik nggak akan saya masukin ke blog.
    Mungkin ada tambahan satu: Yang suka sok tau. Nah, ini juga seperti saya (wah, kata istri dan anak-anak saya ini orangnya sok tau banget, jadi maaf kalau tulisan-tulisan saya kadang seperti menggurui. Ini minta maafnya nggak usah nunggu lebaran,ya, kan cuma dosa kuecilll sekali!!).

  29. 29 wadehel 5 November 2006 pukul 1:31 am

    @ Tukangkomentar
    Bukan pilihan kok dipilih-pilih lho :P
    Ngemeng-ngemeng, alasan milih nomer 2 itu bener-bener menyindir saya lho, sebagai orang tidak jenius dan kurang berpendidikan, kebanyakan pengetahuan baru yang saya dapat ya dari buku dan internet. Dan apa yang keluar dari pikiran saya yang agak twisted ini ya ga jauh dari hasil dari baca-baca itu. Garbage in garbage out gitu lah. Tapi ada bedanya, saya masih belum juga menemukan cara untuk nyombong menggunakan link-link yang baru didapat beberapa menit yang lalu. Biasanya harus satu malam, kadang malah seminggu supaya saya mengerti apa gunanya :))

  30. 30 Tukangkomentar 5 November 2006 pukul 2:00 am

    Wah, wah, wah, mbok ya jangan salah ngerti. Bukan nyindir Ma Wadeleh maunya. Betul kok.
    saya memenag baru nemu blognya mas Wadeleh ini, tapi sudah kesengsem. Karea isinya bermutu sekali. dan ironinya haluus sekali, sampai ada beberapa rekan yang nggak mudeng lho. Dan sarkasmenya puedess sekali.
    Maksud saya pilihan nomer 2 itu sebetulnya tembakan ke belakang mau nyindir diri sendiri. Kan manusia kadang perlu kritikan dari dirinya sendiri, iya to? Kan kalau kritik dari orang lain sering dianggap seperti gonggongan anjing saja (kafilahnya terus lewat naik onta tanpa nengok).
    Maaf lho, tapi betul bukan nyindir mas Wadeleh.
    Salam.

  31. 31 wadehel 5 November 2006 pukul 11:10 pm

    @ Tukangkomentar
    Hehe, iya deeeh. Sorry kalau terkesan terlalu sensitif, sebenarnya itu juga suatu bentuk kritik diri untuk saya sendiri, sama-sama tembakan kebelakang, tapi lebih berantakan dan tak terarah, siapapun yang baca mungkin juga ikut kecipratan :P

    Terimakasih banyak untuk pujiannya, lain kali langsung ditujukan pada Tuhan saja (tentunya yang anda yakini) karena sudah memberi anda jalan untuk bertemu hal-hal yang anda anggap berguna. Kalau saya yang sering dipuji, malah jadi tidak kreatif dan malas menulis.

  32. 32 preaxz 21 Desember 2006 pukul 4:02 am

    Saya? gmana?

    Saya berteriak meski tidak memilih
    Saya memilih dalam diam
    Saya tidak menghakimi kala menilai
    Saya menghakimi ketika dinilai

    Lalu saya siapa?

    Saya aneh, lebih aneh dari yang paling aneh

    *again, wadehel aim duing hir … ?*

  33. 33 unvoiceable 14 Februari 2008 pukul 11:25 am

    gimana kalo diam-diam menghanyutkan??
    (hehe,,,jadi inget pelajaran bhs. Indo)

  34. 34 mantancadel 6 Agustus 2008 pukul 3:45 pm

    gak selamanya juga orang yang banyak bicara itu
    benar2 berkontribusi. kata seorang penulis yang sy lupa apa bukunya
    dan siapa namanya “untung Tuhan hanya menciptakan satu buah mulut untuk
    manusia, bayangkan kalo dua aja.. betapa bisingnya dunia ini”
    menyatakan pendapat gak selalu dengan mengeluarkan suara kan..yang penting BUKTI! jgn ampe kita kaya para politikus yang kaya tikus ramai bercit-cit ria tapi gak pernah bener omongannya..ya ga?;p

  35. 35 abdul harry saedar gtw 8 Januari 2009 pukul 12:13 pm

    kejahatan bisa menang mungkin juga ketika kejahatan menjadi sesuatu yang minoritas kemudian di kasih angin untuk dan berbuat/berbicara.katanya setiap orang punya kebebasan…tetapi menurut saya bagi bangsa yang amburadul perlu ada standar yang baku untuk kebaikan dan diperjuangkan bahkan bisa dan boleh dipaksakan bagi bangsa yang lemah moral nya………..kasihan bangsa ini lama dalam kebobrokan moral dan sistem…………………………tegak kan syari’at islam saja persiapkan mulai sekarang.

  36. 36 abdul harry saedar gtw 23 Januari 2009 pukul 8:01 pm

    kapan waktunya diam kapan waktunya bicara

  37. 37 dani 15 Februari 2009 pukul 7:48 pm

    aku paling benci dengan yang nomer empat,

    coz, kalo kita punya pendapat, kita harus mengeluarkannya dengan lugas dan tegas, supaya kita tidak dijajah sama yang lain

    ni pengalamanku dulu, dulu aku pendiam gak banyak mengeluarkan pendapat, tapi aku melah semakin dijajah…
    makanya aku sekarang lantang berbicara kepada siapapun supaya aku gak digituin dulu…..

    memang orang baik yang pendiam memang menyebalkan…….!!!!!

    kepada semua orang baik yang pendiam, bersuaralah…..!!!

  38. 38 XXXXXXX 12 Desember 2010 pukul 12:05 pm

    AKU BENAR-BENAR SUDAH MUAK SAMA SEMUA ORANG YANG ADA….
    SAYA RASA ORANG BAIK ADALAH SATWA LANGKA YANG HARUS DILINDUNGI
    KARENA MUNGKIN IA DIAMBANG KEPUNAHAN…
    LIAT AJA TIAP ADA SESEORABNG JALAN, YAN G LAIN PADA NGOMONGIN KEJELEKANNYA, HANYA MAU MEMBANTU ORANG YANG DIANGGAPNYA BISA MEMBANTUNYA, TERJADINYA BULLYING BRENGSEK TERKUTUK DI SETIAP SEKOLAH TANPA ADA SEORANG PUN YANG MEMBELA, TIDAK SUKA MELEMPAR PUJIAN NAMUN SEBALIKNYA…
    LIHAT SAJA SUATU SAAT SAYA AKAN MEMBALAS KALIAN SEMUA DENGAN SAKIT YANG BERIBU KALI LEBIH MENYAKITKAN,,,,
    PADA SAAT ITU KALIAN SEMUA AKAN BERPIKIR MATI ITU LEBIH BAIK UNTUK KALIANN!!!!!!

  39. 39 riko1897 20 Februari 2011 pukul 12:00 pm

    orang baik sekarang sudah limited edition..jd harus dijaga dan diulestarikan …hehe

  40. 40 Semuanya 14 Mei 2011 pukul 7:46 am

    lo ngejunk trus, NGEJUNK, nyampah banget, makanya kalo buat di wordpress yang bermutu dikit dong… BLABLABLABLABLABLABLABLABLABLABLABLABLABLABLABLABLABLABLABLABLABLABLABLABLABALABLABLAB

  41. 41 Semuanya 14 Mei 2011 pukul 7:48 am

    kenapa banyak orang yang milih jadi silent reader?? Lo enak punya wordpres, email, ato yg laennya lah,, minimal bwt ngasih pendapat harus punya E-Mail!! coba liat punya Kompi + Modem tapi gak punya email?? -,-

  42. 42 Semuanya 14 Mei 2011 pukul 7:52 am

    dasar orang indon belagu!


  1. 1 Orang Baik yang Menyebalkan « frimitzon Lacak balik pada 2 Desember 2011 pukul 3:51 am

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




JANGAAAN !!!

Jangan membaca isi blog ini, sebelum memahami semua woro-woro di halaman PERINGATAN.
Unek-uneg, pertanyaan atau komentar yang TIDAK berhubungan dengan posting, silahkan anda sampaikan di Ruang Tamu.
Boleh juga memasukkan kritik dan saran ke dalam kotaknya.
Posting yang tidak pada tempatnya, terlalu OOT atau terlalu kotor, kemungkinan besar akan saya serahkan pada akismet.
Satu lagi, tak perlu kuatir kalau komen anda tak langsung muncul, kadang akismet suka terlalu curiga, saya akan lepaskan begitu saya online :) Terimakasih

Cap Halal

RSS Sumber Inspirasi

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

Kampanye

Petisi Mendukung Pembubaran IPDN

Aku Nggak Korupsi

Kulkas

free hit counter



%d blogger menyukai ini: