Damai itu berakhir sudah

Ini sebuah kisah nyata yang aku alami sendiri.

Dulu kami bisa hidup berdampingan tanpa saling menganggu. Kubiarkan mereka berkeliaran dan menampakkan diri tanpa perlu merasa khawatir. Memang kadang kala ada rasa marah ketika aku terpaksa harus membersihkan kotoran mereka yang selalu dibuang sembarangan. Meski begitu, mereka tetap kuhargai sebagai sesama mahluk yang menikmati hidup.

Aku membicarakan tikus. Tikus rumah, abu-abu, berekor panjang, bulunya halus, bertampang lucu tapi bergigi sangat tajam.

Kebersamaan kami mulai goyah ketika beberapa hari yang lalu, di dalam kabin mobil kutemukan cairan dengan bau menyengat, awalnya kupikir minuman seseorang yang tumpah. Sambil membersihkan kuperiksa setiap sudut, ternyata ada lubang di plastik ventilasi, bolong digerogoti binatang! Disekitarnya ada kotoran-kotoran yang tidak asing lagi, dan baunya tidak mungkin salah, adalah bau mereka, TIKUS! Para tikus masuk mobil, kencing dan buang kotoran seenaknya!!!

Ok, para tikus mulai kelewatan. Sayangnya masih kutemukan fakta yang membela mereka. Seorang temanku (manusia), ternyata secara tak sengaja meninggalkan makanan di dalam kabin, makanya si tikus tertarik dan memaksa masuk. Sejak hari itu kupastikan ruang kabin selalu bersih tanpa ada sisa makanan sedikitpun. Aku dan tikus kembali hidup dengan damai. Aku masih hargai mereka sebagai sesama mahluk yang menikmati hidup.

Sayangnya damai itu tak lama. Kemarin sebagian dari mereka masuk ruang mesin, mereka gigit putus sebuah kabel sehingga klakson pun membisu. Diagnosa teknisi bengkel membenarkan hal itu. Bayangkan bila yang mereka gigit adalah selang minyak rem, tidak langsung putus tetapi hanya bocor, lalu terkuras habis ketika mobil sedang melaju 140Km/Jam?!?

Para tikus yang selalu kuhormati ternyata berusaha mencelakakanku.

Ini sudah keterlaluan. Kini dimataku, para tikus tak lebih dari mahluk tak berbudaya, tanpa akal budi, yang hanya ingin menang sendiri. Sekarang aku nyatakan PERANG!

Maafkan aku, aku hanya bereaksi. Tidak ada jalan lain. Tidak mungkin aku adakan investigasi apalagi negosiasi dengan kalian hanya untuk mendapatkan individu yang bersalah. Persetan kenyataan bahwa pelakunya hanyalah sebagian dari kalian. Akan kubalas perbuatanmu pada seluruh kaum mu. Kalian semua pantas mati. Ibumu, anak-anakmu, kakek-nenekmu, semua pacarmu, teman dan karib kerabatmu akan jadi tumbal atas kelakuanmu!

Pagi ini dua nyawa tikus sudah melayang karena lem, satu masih kecil dan lucu dan satu lagi gendut yang mungkin sedang hamil tua. Si gendut sudah mati ketika kutemukan, mungkin tersedak atau hidungnya tersumbat lem. Yang kecil kubunuh dengan cara yang sangat keji. Kukubur hidup-hidup bersama bangkai si gendut dalam keadaan terhimpit dua papan penuh lem. Kukubur di dasar tempat sampah. Mereka akan hangus pelan-pelan ketika sampah dibakar nanti sore.

Dari jejak yang ada, tampaknya ada satu ekor yang lolos. Tapi tidak akan lama, karena sore ini akan kubeli perangkap model kurungan logam. Semua tawanan yang tertangkap akan ku serahkan pada kebijaksanaan kucing-kucing tetangga.

Semoga saja Tuhan sungguh-sungguh Maha Pengampun.

Amin.

11 Responses to “Damai itu berakhir sudah”


  1. 1 kw 1 Agustus 2006 pukul 3:24 pm

    perang dengan tikus, wajib hukumnya (kali). karena sumber penyakit dan kejengkelan. mengacak-acak sampah, meggerogoti tanah dan bikin bau.

    aku punya teman di kamar kos, beberapa cicak. setiap aku makan roti, aku lemparin dia secuil roti. dia mendekat lalau membawa pergi.

    sampai kini, kedamaian itu tak pernah terusik. :)

  2. 3 uRa 1 Agustus 2006 pukul 7:38 pm

    Semoga Tuhan mengampuni perbuatanmu nak …

  3. 4 wadehel 1 Agustus 2006 pukul 8:12 pm

    @kw:
    Salam untuk cicak2nya. Mereka memang membantu membunuh nyamuk, tapi saya benci bau kotoran mereka yang hitam putih itu. Apalagi kalau jatuh di kasur dan tergilas waktu kita tidur, bangun pagi bau najong, bah!

    @Luthfi:
    Sudah di coba, kadang kami berusaha menghasut kucing2 liar yang mampir supaya mau tinggal bersama. Tapi tak satupun yang betah. Mungkin karena kami jarang masak daging.

    @uRa:
    Amiiinn… lain kali saya cari cara yang lebih sopan lah, gak enak juga membunuh pake cara yang keji. Pengennya sih cari cara supaya kematian mereka terlihat seperti kecelakaan atau takdir tuhan, ada gak ya?

  4. 5 anick 1 Agustus 2006 pukul 8:38 pm

    Harap diberi catatan, bahwa sebutan oknum hanya untuk para manusia, binatang berakal. Jadi penghukuman untuk umat manusia terbatas pada individu yang bersalah.

    So, jangan sekali-sekali menghukum kakek, nenek, teteh, tante, hanya karena kesalahan cucu atawa keponakan mereka.

    :)

  5. 7 indcoup 2 Agustus 2006 pukul 1:56 pm

    Hi dude,

    its good to see another humorous blog out there.

    cheers

    Indcoup

  6. 8 Red War 2 Agustus 2006 pukul 3:38 pm

    Dasar pembunuh binatang….
    Mereka juga punya hak hidup yg sama ma kita

    Cuma gara2 1 ekor tikur lo basmi satu generasi…
    Tidak berperi kebinatangan…

    yg Nyolong satu bunuh satu keturunannya….

    Yg ngebunuh satu bantai satu kampungnya

    Where is the justice…..

  7. 9 wadehel 2 Agustus 2006 pukul 7:07 pm

    @anick:
    Hmmm… menurut saya juga gitu, lebih manusiawi. Tapi gimana dengan YAHUDI terkutuk itu? Entah siapa yang bersalah pada jaman purba dulu, sampai sekarang mereka tetap saja dihukum kutuk, di kitab suci pun masih saja dilaknat Tuhan.

    @Charly Silaban:
    Point? Point yang mana? gak ada yang tersirat kok.
    *hmm, padahal udah di enkrip, eh masih aja ….*

    @indcoup:
    cheer juga… you too have a fuckin good blog, i grab the one about amrozi. Its a shame, the heaven must cancel the welcoming party because of the delayed execution.

    @Red War:
    Bro, kalau cuma nyolong sih masih bisa negosiasi, toh cuma masalah materi. Tapi ini bukan pencurian, mereka -ok, sebagian dari mereka- terbukti melakukan sabotase dan mengancam nyawa manusia. Ini sudah udah usaha pembunuhan!

  8. 10 erik 30 Agustus 2006 pukul 1:53 am

    Caara yang paling bijak memusnahkan tikus peliharalah seekor kucing ,kalo kucing ikut juga punya cara bijak cobalah ganti dengan memelihara seekor anjing kemudian kalo berbagai cara menimbulkan kram otak kembali kepada kodrat manusia dan keterbatasannya .

  9. 11 Nott De Nutt 19 Agustus 2007 pukul 4:26 am

    Coba…

    Tikus diumpamakan dengan Israeli…

    Ato American…

    Ato umat beragama laen…

    Sobs *ngapus aer mata*

    I got your point, Om Hel *taro bunga diatas kuburan*


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




JANGAAAN !!!

Jangan membaca isi blog ini, sebelum memahami semua woro-woro di halaman PERINGATAN.
Unek-uneg, pertanyaan atau komentar yang TIDAK berhubungan dengan posting, silahkan anda sampaikan di Ruang Tamu.
Boleh juga memasukkan kritik dan saran ke dalam kotaknya.
Posting yang tidak pada tempatnya, terlalu OOT atau terlalu kotor, kemungkinan besar akan saya serahkan pada akismet.
Satu lagi, tak perlu kuatir kalau komen anda tak langsung muncul, kadang akismet suka terlalu curiga, saya akan lepaskan begitu saya online :) Terimakasih

Cap Halal

RSS Sumber Inspirasi

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

Kampanye

Petisi Mendukung Pembubaran IPDN

Aku Nggak Korupsi

Kulkas

free hit counter



%d blogger menyukai ini: